Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 354. Sumber Daya Melimpah


__ADS_3

Untuk sesaat, kedua kepala suku mematung di tempat. Dalam hati kecil keduanya harus mengakui, selama ini alasan mereka terus berusaha untuk bertambah kuat adalah untuk mengalahkan satu dengan yang lainnya, lebih tepatnya perang antara mereka lah yang memicu keduanya untuk terus kuat.


“Ini ... kami ...” Baik salah satu atau keduanya tidak ada yang bisa menjawab dengan jelas, dan akhirnya hanya bisa terdiam lama.


Hua Mei kembali tersenyum. “Sekarang bagaimana kalau kalian tidak bermusuhan juga tidak berperang. Tapi, untuk meningkatkan kekuatan kalian juga harus memiliki pelecut dan saling bersaing. Mengadakan kompetisi, misalnya!”


Keduanya terlihat setuju. “Kami patuh pada pengaturan Dewi,” ujar mereka berdua.


“Intinya kalian berjanji padaku, kalian tidak akan saling bertarung dan berperang lagi bukan!?” Hua Mei mempertegas apa yang ingin ia dengar dari keduanya.


“Iya! Kami dapat menjanjikannya.”


Sekarang Hua Mei menarik nafas panjang dan dalam, hal yang tersulit dari dalam percakapan ini harus ia sampaikan. “Lalu bagaimana tanggapan kalian jika kami berdua bukan Dewi seperti yang kalian harapkan?!”


“Hah!” Keduanya terkejut, dan hampir saja mereka berdiri tegak. Namun, kemudian mereka berdua hanya bisa terpaku di tempat, kali ini benar-benar tidak bisa menangapi atau berbicara banyak hal.


“Bukankan ini hampir sama dengan pertanyaan bagaimana jika kami berdua pergi dari tempat ini?” Hua Mei berusaha mengingatkan mereka berdua terkait perkataan mereka terdahulu.


Memang jika dipikir-pikir kembali, dua pertanyaan itu adalah memiliki maksud dan tujuan yang sama, dalam artian sejak awal bahwa Dewi dalam bayangan manusia primitif itu memang bukan Dewi. Yang pergi adalah Dewi dan digantikan dengan manusia biasa di tempat itu.


Hua Mei dan Eira akan tetap tinggal bersama mereka di sana, seraya meningkatkan kekuatan diri dan semua penduduk gurun.


“Kami mengingat janji kami, jika memang para Dewi hanya manusia biasa seperti kami, maka kami akan memperlakukan para Dewi layaknya manusia biasa, kami tidak akan bermusuhan Dewi. Kebaikan dan ketentraman yang para Dewi bawa itu sudah terlihat nyata pada penduduk kami.”


Senyum semakin lebar terpancar di wajah Nyonya Pertama Gou. “Nah, kalian telah berkata seperti itu. Ini sangat lah baik, aku juga akan menceritakan perkara terpenting bagiku pada kalian.”

__ADS_1


Untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan Hua Mei tetap meminta keduanya bersumpah terlebih dahulu. Kemudian dia mulai menceritakan perihal sejak awal kedatangan mereka berdua ke Dunia Kaisar Peri. Hua Mei menceritakan segalanya, tidak ada yang ia tutupi sama sekali.


Saat mendengarkan cerita Hua Mei, kedua kepala suku, kadang terkejut, kadang memperlihatkan wajah tidak percaya, kadang kala mereka tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.


Namun, pada akhirnya mereka tetap mengambil jalan damai dengan Hua Mei dan Eira, yaitu status Hua Mei dan Eira tetap seperti sedia kala bagi masyarakat. Atau dengan kata lain, hanya mereka berdua yang tahu keadaan Hua Mei dan Eira yang sebenarnya, sedangkan bagi masyarakat keduanya tetaplah Dewi.


Walaupun jalan damai didapatkan, permasalahan tetap saja muncul, yaitu; bagaimana cara meningkatkan kultivasi Hua Mei? sumber daya yang dibutuhkan ini sangatlah banyak. Terlebih Kaisar Qi yang telah berhasil dimurnikan Hua Mei masih lima persen.


Pada akhirnya kedua kepala suku hanya bisa menyerahkan permasalah itu pada Hua Mei sendiri.


“Apakah kalian pernah pergi keluar dari area sekitar oasis ini?” Hua Mei sangat membutuhkan berbagai informasi dari keduanya terkait kota-kota terdekat dengan gurun pasir itu.


Keduanya saling pandang sejenak, “Terkait kota-kota terdekat kami tidak tahu, kehidupan kami hanya berkisar di gurun pasir ini Nyonya.”


“Makanan yang Nyonya makan selama ini telah banyak mengubah energi murni dalam tubuh Nyonya kan?–”


“Aku tahu, daging-daging yang kalian sediakan memang sangat bermanfaat dan dapat meningkatkan tenaga dalam.” Hua Mei menyela perkataan mereka, ia juga sangat sadar makan yang disediakan mereka merupakan sumber daya alami, layaknya pil peningkat energi saja. “Tapi ... itu terlalu lambat, selain itu adakah cara kalian mempercepat peningkatan tenaga dalam?”


Mungkin itu adalah barang yang sangat berharga bagi mereka sehingga terlihat sedikit ragu untuk dikeluarkan. Namun, salah satu kepala suku itu memang memiliki sifat yang lebih baik dari yang lain. Dia pula kemudian memperlihatkan kristal berwarna merah pada Hua Mei.


“Batu ini Nyonya ...” Kepala suku itu bahkan menyerahkan kristal berwarna merah terang agar diperhatikan secara jeli oleh Hua Mei.


Hua Mei mengambil dan meneliti kristal tersebut sejenak, ia memang tidak tahu jenis kristal apa itu. “Itu hampir sama dengan esensi kristal siluman.” Eira yang berdiri di depan pintu berkata singkat.


“Dari mana kalian memperoleh batu ini?” tanya Hua Mei.

__ADS_1


“Tidak jauh dari sini ada bukit bebatuan, kami juga bertarung demi bukit itu, tapi kemudian masing-masing berbuat licik, menggali lubang yang memudahkan jalan ke bukit tersebut.” Keduanya saling tatap, dan saling tertawa masam. Kebobrokan yang terbongkar karena Hua Mei membuat mereka berdua malu.


“Sangat bagus, kalau sudah tahu ada bukit yang memiliki batu seperti ini, kenapa kalian tidak menambang-nya?” Hua Mei semakin penasaran dengan bukit yang menghasilkan kristal itu.


Ya, namanya juga penduduk primitif, mereka tidak akan sempat berpikir untuk menambang kristal tersebut dalam jumlah banyak, asal didapatkan untuk kebutuhan peningkatan kekuatan sesaat agar bisa bertarung kembali, bagi mereka itu sudah lebih dari cukup.


Hal lain yang memberatkan mereka menambang kristal tersebut adalah tekanan yang sangat berat dari hawa bukit itu sendiri. Kristal merah terang tersebut adalah jenis kristal kaisar kelas tinggi dengan kepadatan Kaisar Qi tingkat tinggi, oleh sebab itu tekanan yang muncul juga sangat berat.


Untuk menambang-nya, harus membiasakan diri dengan tekanan dari bukit tersebut, bagi suku primitif membiasakan diri dan berdiam di tempat itu sama dengan buang-buang waktu secara percuma. Bagi mereka bertarung lebih penting dari pada berdiam diri di sana.


“Kami lebih suka bertarung dari pada menghabiskan waktu di sana.”


Mendapatkan jawaban seperti itu, Hua Mei tersenyum kecil. “Kalau begitu kalian bisa mengantarkan kami berdua ke sana.”


“Nyonya silahkan ikut dengan kami.” Kedua kepala suku itu bangkit dari duduk, mereka memimpin Hua Mei dan Eira berjalan menuju bukit tersebut.


Menurut perhitungan Hua Mei, perjalanan yang mereka tempuh tidak lama, hanya satu dupa saja. Bukit tersebut memang mengeluarkan tekanan yang sangat berat, karena kultivasi-nya paling rendah di antara mereka semua, tekanan berat lebih dahulu dirasakan Hua Mei.


“Sudah cukup, terima kasih banyak! Aku sudah tahu posisi bukit ini, kalian boleh kembali.” Setelah berkata seperti itu Hua Mei melirik Eira dan mentransmisikan suara, “Aku bisa berkultivasi di sekitar sini sementara waktu agar terbiasa dengan tekanan bukit ini yang sangat berat.”


“Terserah kau saja, tapi saran dariku, kita harus bisa mengolah bukit ini sebaik mungkin, dan menambang kristal ini sebanyak-banyaknya, ini adalah harta yang diidam-idamkan para kultivator,” jawab Eira, ia juga mentransmisikan suara pada Hua Mei.


Dua orang kepala suku menganggukkan kepala, mereka berbalik kembali ke perkampungan.


“Cici Eira, kalau tekanannya tidak terlalu berat bagi dirimu, coba engkau perhatikan lebih dekat kondisi dari bukit itu,” pinta Hua Mei. Ia kemudian melanjutkan perkataannya, “Lagi pula, cepat atau lambat kita harus bekerja sama dengan para penduduk suku primitif mengolah bukit itu.”

__ADS_1


__ADS_2