Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 309. Permulaan Baru


__ADS_3

Berhasil melenyapkan musuh-musuhnya, Gou Long menghela nafas panjang. Tranformasi Roh telah ditariknya, berdiri tenang menatap ke seluruh Lembah Tengkorak. 


Hanya Jin Tengsin dan Zhang Chen yang masih hidup, bersimpuh di atas paha dan lutut yang tertotok. Saat itulah mereka telah mengenali Gou Long.


Orang kejam yang dengan mudah membunuh tiga orang iblis puncak pimpinan Organisasi Ordo Setan Hitam rupanya, si rudin. 


Mereka masih mengingat, pernah menghina si rudin itu. 


Gou Long berjalan perlahan mendekati keduanya, seringai jahat ia perlihatkan. “Sekarang bagaimana tanggapan kalian berdua, saat si rudin ini membalas perlakuan kalian dahulu? Orang rudin ini pernah bersumpah dalam hati kecil akan membalas segala hutang piutang, lengkap dengan bunganya.”


Keringat dingin menetes dari mereka berdua. 


Seringai Gou Long semakin lebar. “Ha ha ha! … Baiklah, si rudin ini akan sedikit berbaik hati pada kalian.”


“Plak!” 


Suara tamparan keras mulai terdengar, itu hampir lima puluh kali, Gou Long menampar mereka berdua masing-masing lebih dari dua puluh kali. Ia terlihat sangat puas dengan buah karya tangannya, wajah lebam merah Jin Tengsin dan Zhang Chen, sudah tidak bisa dikenali lagi.


“Orang rudin ini hanya sedikit mengajar adat pada kalian berdua–kelak jika kita bertemu lagi, mulut kalian berdua harus lebih kalian jaga. Nah, tugas kalian selanjutnya adalah mengumpulkan semua mayat-mayat yang ada di sini, terserah mau kalian bakar atau kubur.” Gou Long memberi tugas pada keduanya.


Dia dengan sengaja sedikit menundukkan kepala. “Aku tidak merusak dantian kalian berdua. Kelak, jika kalian yakin sanggup mengalahkan ku, kalian boleh mencariku guna menuntut balas.” Gou Long berbisik, sangat lirih. Tidak takut akan muncul musuh baru ke depan.


Baru kemudian ia berbalik, menyapa dan berbasa-basi dengan semua orang. Setelah mereka semua mengambil cincin penyimpanan dari setiap lawan yang mereka bunuh. Bersama-sama meninggalkan Lembah Tengkorak.

__ADS_1


Patriark Song mengundang Gou Long berkunjung ke Sekte Naga Langit. Gou Long tidak menolak, ia sangat ingin berjumpa dengan Kakek Awan Putih yang tinggal di bukit Air Mata Naga.


Sementara itu, Hauri telah kembali masuk ke otot deltoid Gou Long dalam bentuk tato pedang. Sedangkan Eira dan Siauw Xiezy juga telah mengecilkan diri, dan masuk ke dalam cincin budak di tangan kedua istri Gou Long. Siauw Xiezy bersama Ding Jia Li, dan Eira bersama Hua Mei.


***


Tiga bulan telah berlalu pasca penumpasan Organisasi Ordo Setan Hitam dan Sekte Lembah Tengkorak.


Ini adalah akhir puncak dari musim gugur. Dedaunan pohon yang telah berjatuhan, beterbangan tertiup angin gunung. Di Lembah Gunung Berkabut, tepat di depan tugu batu, saat ini terlihat beberapa sosok duduk bersila dengan pedang yang memiliki corak sama, diletakkan di atas paha masing-masing.


Mereka semua berjumlah sembilan orang, dan tentu saja mereka saling mengenal satu sama lain.


Sudah sejak pagi tadi, mereka semua menunggu orang terakhir. Dia pula yang mengundang mereka semua ke sini. Itu tepatnya, lima bulan yang lalu saat pesta pernikahan akbar di Paviliun Gunung Teratai dilaksanakan.


Kesembilan orang ini tentu saja para Patriark dari Tujuh Klan Besar dan Enam Sekte Utama Daratan Tengah. 


Namun, orang ini berselisih paham dengan Gou Long, yang mengakibatkan ia terbunuh, serta pedang miliknya dirampas Gou Long.


Saat ini, orang yang mereka tunggu sudah pasti pemuda itu, mantan Master Paviliun Gunung Teratai. Undangan yang dilakukan oleh pemuda tersebut juga secara rahasia, sehingga tidak semua orang mengetahui.


Para Patriark dan Matriark, juga telah mewanti-wanti wakil mereka untuk mengambil alih Klan dan Sekte sementara waktu. Mereka semua tidak menjelaskan secara spesifik, hanya beralasan akan mengambil kultivasi tertutup.


Di sana beberapa orang Patriark yang tidak terlalu mengenal kepribadian Gou Long, atau ikut ke sana karena undangan melalui It Hong Taysu, sudah mulai merasa tidak tenang.

__ADS_1


“Apa bocah itu mempermainkan kita? Sudah sekian lama menunggu ia tidak kunjung muncul.” Patriark Wu, mulai menggerutu. Dia membuka mata, dan bangkit dari duduk bersila, berjalan mondar-mandir di sekitar tugu batu.


“Sancai … sancai … Wu Sicu, bersabar lah sebentar lagi, Gou Sicu bukan orang yang suka tidak menepati janji.” It Hong Taysu coba menenangkan Patriark Wu yang mulai tidak sanggup bersabar.


“Ha ha ha … kau boleh pergi. Tapi, tinggalkan pedangmu di sini, yang kami butuhkan adalah pedang, bukan orang.” Kui Ong Cinjin berkata-kata semaunya, sikap yang tidak pernah berubah dari orang tua itu.


Saat Wu Mofan ingin membantah, empat siluet bayangan manusia telah tiba pula di sana.


“Para Senior sekalian, maafkan keterlambatan Junior, ada satu dua hal selama ini yang sedikit menghambat perjalanan Junior.” Begitu tiba, Gou Long minta maaf tulus, ia mengepalkan tangan di depan dada.


Di sisi Gou Long, dua orang wanita cantik, yang ketika tiba, langsung berlari kecil ke pelukan Matriark Li. Mereka adalah Ding Jia Li dan Hua Mei.


Walaupun Matriark Li, Ibu gurunya Ding Jia Li, akan tetapi Hua Mei telah menganggap dan memperlakukan wanita itu seperti Ding Jia Li perlakukan.


Para Patriark lain, saat itu tidak menanggapi permintaan maaf Gou Long, mereka semua seakan terpaku di tempat. Hanya Li Lan Sian seorang yang belum menyadari keanehan itu.


Bagaimana tidak?! Mereka semua seperti orang bodoh saja, menatap kosong pada sosok lain yang muncul ke tempat itu bersama Gou Long. Dia adalah Song Bu Kek, Patriark generasi ketiga Sekte Naga Langit di daerah Selatan.


Saat itu, bisa dikatakan di antara semua orang yang hadir di Lembah Gunung Berkabut hanya It Hong Taysu dan Kui Ong Cinjin yang paling tua dan dituakan.


Namun, saat kemunculan Patriark Song Bu Kek, kategori paling tua dan dituakan pada mereka berdua runtuh seketika. Orang yang berdiri di depan mereka saat ini jelas lebih tua dari mereka semua.


Bahkan, mereka juga berpikir sama seperti apa yang telah dipikirkan oleh Kakek Zhou atau si Sadis Tua. Bahwa orang tua di depan mereka itu telah lama meninggal dunia.

__ADS_1


Mereka semua mengucek mata beberapa kali, masih tidak percaya pada penglihatan mata sendiri.


Kakek Awan Putih tersenyum lembut. “Halo para bocah sekalian, bagaimana kabar kalian? Ah, salah, salah! Kalian saat ini pastilah telah menjadi Patriark di tempat masing-masing.” Kakek Awan Putih, berkelakar.


__ADS_2