
“Ssstt!” Siluet bayangan Gou Long tiba-tiba muncul di sebelah Penatua Sekte Racun Utara yang berada pada posisi belakang punggung Gou Long, “Apa kau sudah siap untuk mati?”
“Bless!”
“Bhenkk!” Ayunan golok berat Gou Long telak mengenai rusuk kiri Penatua tersebut, padahal begitu ia mendengar bisikan dingin Gou Long di telinganya, sebisa mungkin ia coba mengelak dan menangkis serangan dari si pemuda.
Namun itu telah kasip, sangat disayangkan, Penatua itu menjadi korban pertama dari para Penatua yang lain. Tubuhnya terlempar jauh, lalu meluncur jatuh berdebuk ke atas tanah.
Bayangan Gou Long kembali berkedip-kedip beberapa kali, mengayunkan golok serta melepaskan pukulan. Tapi, setelah melihat satu contoh nyata terjadi di depan hidung mereka semua, para Penatua dan Patriark Fang menjadi lebih awas, serangan dan pukulan Gou Long berhasil mereka elakkan.
Walaupun begitu, serpihan hawa pukulan liar serta gelegar guntur yang menyertai pukulan yang dilepaskan Gou Long tetap membawa kerugian bagi mereka.
“Keparat ini sangat kuat, apa benar ia masih seorang seniman bela diri tingkatan ranah manusia fana?” batin dari para Penatua Sekte Racun Utara.
Patriark Fang yang sejak tadi sudah bertukar beberapa pukulan dengan Gou Long, tahu dalam hati para Penatua Sekte Racun Utara, muncul rasa jerih terhadap lawan yang berpakaian serba hitam itu.
“Buang jauh pikiran itu dalam diri kalian, jumlah kita lebih banyak, semut memang kecil, namun ribuan semut bekerja sama pasti dapat menumbangkan gajah,” ujar Patriark Fang, ia memberi semangat pada rekan-rekannya.
Kata-kata itu sedikit banyak juga menaikkan moralitas dan semangat bertarung dari mereka semua, “Ayuk! Serang bersama-sama! Keparat itu hanya sendirian.” Salah satu diantara tujuh enam orang Penatua yang tersisa tidak mau terus-menerus di ditindas oleh aura Gou Long.
“Bagus! Bagus! Kalian berdua yang terakhir kubinasakan, semangat kalian patut di apresiasikan,” ujar Gou Long dingin, ia melanjutkan mengancam, “Seranglah! Aku menunggu serangan kalian, kalau terlalu lama aku yang akan bergerak lagi.”
Gou Long bergerak sekali, menghilang dari tempat ia melayang sebelumnya, kembali ke tengah-tengah mereka semua.
“Keparat sombong! Mampuslah!” Penatua yang baru saja coba membangkitkan semangat rekan-rekannya yang lain, berteriak geram seraya melepaskan serangan tenaga dalam pada Gou Long.
__ADS_1
“Whusshh!”
Ular jadi-jadian dari pemadatan energi murni dingin meluncur dan meliuk-liuk menyerang Gou Long. Penatua tua itu juga ikut melayang mendekati si pemuda, ia menyertai serangan tenaga dalam tadi dengan serangan tusukan tombak ke arah jantung Gou Long.
Begitu Sang Penatua menyerang, Patriark Fang tidak mau ketinggalan, ia juga melepaskan pukulan telapak, dan melesat ke arah Gou Long dengan tebasan pedang ke arah leher.
Dua orang menyerang, empat jenis serangan cepat datang mengarah ke si pemuda. Ganda tertawa, Gou Long sadar keberanian yang muncul dari dua orang ini, karena perkataannya, akan membunuh mereka di saat paling akhir, di telah dijadikan pegangan oleh keduanya.
Bagi seorang seniman bela diri, setiap perkataan yang diucapkan itu bagaikan janji yang tidak bisa ditarik kembali. Sifat patriotik selalu dinilai dari setiap kata-kata, berani berkata maka akan sangat hina bila berani menelan kembali ludah yang telah dikeluarkan.
Dengan mengayunkan golok besarnya, berputar-putar layaknya titiran kipas besar, dengan badan golok sebagai pusatnya, putaran itu berhasil menghentikan serangan tebasan serta tusukan dari pedang dan tombak lawan.
Sementara tangan kiri Gou Long, digerakkan dalam bentuk tusukan, Jurus Pedang Naga Petir digunakan Gou Long, “Seekor ular dari pemadatan hawa murni? Dan juga jurus yang sama Telapak Racun Es?” meremehkan, Gou Long bertanya.
Lalu dari lengan kirinya, meluncur seekor Naga kecil yang berukuran sebesar lengan pria dewasa, Makhluk jadi-jadian itu juga meliuk-liuk, garang dan sangar, “Bagaimana kalau kedua jurus yang kalian keluarkan diadu dengan makhluk yang muncul dari jurusku ini?”
“Jeddaarr!”
“Dhuuaarr!”
Adu tiga jenis pukulan tersebut, menggetarkan langit dan bumi, serpihan-serpihan dari tenaga dalam yang melebar dan mengenai murid-murid Sekte Racun Utara, lagi-lagi jeritan kematian terdengar, mereka mati di tempat.
Gou Long tetap melayang di tempat semula, sementara dua orang yang menyerang Gou Long terdorong mundur.
Anak muda itu tidak berdiam diri saja, memanfaatkan hiruk-pikuk dari adu pukulan tadi, dia bergerak berpindah-pindah beberapa kali, hanya terdengar tawa dingin yang menyeramkan, tidak sempat mengelak, dalam satu tarikan nafas tiga pukulan kegelapan dilepaskan Gou Long, lalu tanpa sempat mengeluarkan teriakan ataupun suara, tiga orang Penatua yang terkena pukulan kegelapan milik Gou Long, menghilang begitu saja terhisap ke dalam ruang hampa.
__ADS_1
Kejadian itu membuat tiga orang Penatua yang masih tersisa serta Patriark Fang sangat syok dan terkejut, “Iblis! Ba-bagaimana kau menghilangkan mereka begitu saja?” tergagap Patriark Fang bertanya.
Lelehan darah semakin mengental di sela-sela bibirnya setelah mengadu pukulan lagi dengan Gou Long.
“He he he…” terkekeh seram, Gou Long berkata, “Bukan saatnya bagi kalian untuk mempertanyakan teknikku, karena saat ini hanya ada satu pertanyaan yang harus kalian tanyakan, yaitu siapakah berikutnya yang akan mengikuti jejak dari tiga orang tadi?”
Selesai berkata-kata, Gou Long berpindah beberapa kali, dia sengaja tidak menyerang dan tidak melepaskan pukulan seperti tadi, dan hanya berpindah-pindah saja, ini dilakukan pemuda itu untuk terus menekan mental dari lawan-lawannya.
Apa yang dilakukan Gou Long ini terbukti memberikan efek besar dalam pertarungan mereka, empat orang yang tersisa itu menjadi sangat tertekan, “Kemana dia bergerak? Siapa korban selanjutnya dari dia?” mau tidak mau pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul di dalam benak mereka.
Puas menekan mental mereka semua, Gou Long kembali melepaskan dua Pukulan Telapak Hitam Kehampaan. Cara dia memukul kali ini sangat unik, Pemuda itu berpindah cepat dua kali ke belakang lawan, dan memukul tepat di punggung lawan.
Teriakan keras terdengar dua kali.
“Aaaarrrgghh!”
“Aaaarrrgghh!”
Itu panjang, menyeramkan, serta terbesit perasaan yang sangat menyakitkan di dalamnya.
Kemudian, empat potongan tubuh manusia jatuh ke atas tanah setelah berkelonjotan sesaat. Bagian dada sampai ke pinggang menghilang entah kemana.
Efek dari pukulan kegelapan yang tadi dilepaskan Gou Long sangat mengerikan, tubuh bagian dada sampai ke pinggang kedua orang yang terpukul terhisap ke dalam ruang hampa, sementara bagian badan yang tidak terpukul tinggal di sana.
Gou Long sendiri setelah melepaskan pukulan tersebut bergidik ngeri, “Ah! Ini sangat mengerikan, aku tidak membayangkan pukulan tadi akan berefek seperti ini,” batinnya.
__ADS_1
Bau amis darah, daging yang tercacah, serta daging yang terbakar, memenuhi udara memualkan semua seniman bela diri yang ada di sana. Kemudian itu juga bercampur dengan bau racun yang khas dari orang-orang Sekte Racun Utara.
Gou Long menepis kengerian yang tadi muncul di pikirannya, “Nah sekarang giliran kalian berdua.” Seringai setan terlihat di bawah topeng paruh burung elang yang ia pakai. Mendatangkan rasa takut dihati Patriark Fang dan Penatua terakhir yang masih tersisa.