Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 266. Setiap Orang Telah Berkembang


__ADS_3

Eira terkikik, “Hi hi hi… Apa yang harus aku jelaskan?” tanya Eira, bersikap polos dan berusaha menyembunyikan akal liciknya yang terlihat jelas. 


Tiba-tiba kilatan kecil terlintas di pikiran Gou Long, ia seperti telah menyadari sesuatu, terduduk lemas di atas kursi, “Aih! Kalian berdua benar-benar tidak berperasaan, kalian telah mempermainkanku…”


Gou Long menatap tajam, pada Hauri, “Kau bahkan sangat tega, mengetuk kepalaku sampai benjol-benjol seperti ini.” Ia memijit-mijit kepalanya yang berdenyut dan benjol besar yang terlihat kemerahan.


“Aku!” Hauri menunjukkan hidungnya sendiri.


“Kau tidak pantas menyalahkanku, salahkan dirimu sendiri yang selalu sok cerdas dan penuh rasa peduli,” Hauri Kembali membela diri, ia melanjutkan perkataannya, “Kau pikir aku tidak bisa bertahan di ruang hampa, kau khawatir aku akan terkikis di sana?”


“Rasa khawatir dan pola pikir yang salah,” berkata seperti itu, rasa senang juga muncul di hati Hauri sesaat, “Setidaknya ia tetap menunjukkan perasaan khawatir padaku,” pikir Hauri.


Mendengar perkataan Hauri, Gou Long bertanya, “Memangnya kau sanggup bertahan di dalam ruang hampa?”


“Hi hi hi…” Hauri terkikik senang, ini sangat lucu, melihat ekspresi Gou Long yang terlihat seperti orang bodoh, atau seperti penjudi yang kalah banyak lalu dipukuli oleh rentenir, “Memangnya kau pikir memiliki jasad? Sehingga bisa terkikis.” Hauri balas bertanya. Ia tersenyum penuh kemenangan.


Gou Long terbengong-bengong di tempat, mulutnya bahkan terbuka lebar, “Iya! Kenapa aku begitu bodoh! Bukankah ia jiwa yang tidak mungkin terkikis,” batin Gou Long.


“Sudahlah! Aku menjadi bodoh tiap kali berurusan dengan kalian berdua,” ujar Gou Long, ia bangkit dan berjalan ke arah ranjang tidur, “Nikmati waktu kalian berdua di kapal ini, aku akan berkultivasi sejenak.”


Kedua makhluk unik itu terlihat mengangguk, Gou Long tidak mempedulikan keduanya lagi, memberikan ruang kebebasan bagi mereka berdua, ia sendiri kemudian naik ke atas ranjang dan duduk bersila di sana.


***


Banyak hal yang telah terjadi di Daratan Tengah selama tiga tahun itu, yang paling menonjol tentunya nama Paviliun Gunung Teratai yang begitu pesat menanjak naik, seniman bela diri kuat satu persatu terus muncul dari sana.


Katakanlah orang-orang generasi awal yang dianggap tiang-tiang kuat Paviliun itu sendiri, Leng Kun, Duan Hong Ya, Yu Yihua, mereka bertiga mengalami kenaikan pesat pada Ranah Kultivasi, saat ini ketiganya telah berhasil naik ke Ranah Surgawi Tahap Menengah.

__ADS_1


Kemudian, sosok Siluman Kalajengking yang hampir setiap waktu berkeliaran di sana, siluman ini benar-benar mendatangkan rasa takut bagi orang-orang yang tidak tahu kekuatan dari Paviliun Gunung Teratai.


Kultivasi makhluk ini tidak dapat diukur seniman bela diri biasa, hanya beberapa orang-orang tertentu yang tahu dan berpikir mungkin dalam waktu dekat ia bisa saja menembus ranah menjadi Raja siluman.


Namun begitu, pola pikir ini jelas salah, peningkatan kultivasi dari Siluman Kalajengking tersebut bukanlah karena usaha dia sendiri, tapi lebih karena Kultivasi Gou Long yang terus meningkat dan telah menembus Puncak Ranah Surgawi.


Karena ini juga, rasa khawatir orang-orang dari Paviliun Gunung Teratai pada Gou Long tidak pernah muncul, dengan peningkatan kultivasi Siauw Xiezy yang begitu pesat, jelas anak muda yang mereka rindukan itu juga terus meningkat serta dalam keadaan aman sentosa.


Sehingga mereka semua bisa terus berfokus meningkatkan kekuatan dari Paviliun Gunung Teratai.


Kemudian pilar penting lainnya dari Paviliun Gunung Teratai adalah Feng Yueyin, si Gadis berdarah Phoenix Es, kultivasi gadis ini juga meningkat pesat, sekarang ia telah mencapai Puncak Ranah Langit, ia hanya membutuhkan satu pelecut kecil untuk bisa menembus Ranah Surgawi.


Sementara pekerja-pekerja muda yang pernah dilatih cara berkultivasi oleh Gou Long dahulu, mereka juga memilih menetap di Gunung Teratai dan menyatakan sumpah setia pada Paviliun. 


Berlatih ilmu bela diri dan tenaga dalam di sana, dengan aura Langit dan Bumi yang begitu melimpah di Gunung tersebut, dalam tiga tahun saja orang-orang ini, juga telah berhasil melatih dasar-dasar kultivasi sampai pada tingkatan Ranah Langit Tahap Awal.


Itu dari segi kekuatan Gunung Teratai, kemudian dalam hal berbisnis, mereka juga dapat bersaing baik pada pasar sumber daya yang sangat dibutuhkan seniman bela diri, baik itu pada Artefak ataupun Pil yang mereka jual.


Dalam tiga tahun ini, Paviliun Gunung Teratai benar-benar telah menyetarakan diri dengan Tujuh Klan Besar dan Enam Sekte Utama.


Sementara itu turnamen antara Tujuh Klan Besar sejak tiga tahun yang lalu terjadi sedikit perubahan, yaitu ikut berpartisipasinya Enam Klan Utama ke dalamnya, dan ini terus berlanjut sampai dua tahun kemudian.


Selama itu yang menjadi juara, juga terus terjadi pergantian, di tahun menghilangnya Gou Long, Klan Hua berhasil menjadi juara, walau saat itu mereka tampil apa adanya, bahkan Patriark Klan Hua sudah tidak mengharapkan bantuan berupa Pil Kondensat Ranah Surgawi dari Gou Long.


Namun saat-saat terakhir menjelang kompetisi, Orang tua unik, Kakek Zhou berhasil melecut dua orang gadis yang ia didik dan menembus Ranah Surgawi. Hua Mei dan Murong Qiu tampil di turnamen itu sebagai dua orang kontestan dengan tingkat Kultivasi Ranah Surgawi, sementara kontestan lain hanya pada tingkatan Puncak Ranah Langit.


Saat kompetisi terjadi yang menjadi kompetitor mereka hanyalah Ding Jia Li, gadis itu berhasil merangsek tampil memukau dan menjadi pesaing sengit dari dua gadis yang lain.

__ADS_1


Sehingga saat akhir kompetisi tahun itu, Hua Mei berhasil menjadi generasi muda peringkat pertama, Murong Qiu mendapatkan tempat kedua, dan Ding Jia Li di tempat ketiga.


Karena hal inilah, Patriark Hua kembali tidak mempermasalahkan dan mengungkit perjanjian yang ia buat dengan Gou Long pada Paviliun Gunung Teratai. Ia sangat puas dengan pencapaian yang diperoleh Klan Hua pada kompetisi itu.


Mengambil pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, dua tahun kompetisi selanjutnya, Sekte-sekte utama dan Klan besar lain menambah porsi latihan murid-murid mereka agar berlatih keras. Lalu usaha mereka pun membuahkan hasil. Selama itu, murid Kuil Budha Emas, Huan Tay Seng juga berhasil menjadi juara, kemudian di tahun ketiga murid Kui Ong Cinjin, Gak In liang yang menjadi juara.


***


Sore hari menjelang malam, di emperan warung sederhana Kota Tian Yu Daratan Tengah, warung yang ramai walaupun sederhana, yang dikelola sendiri oleh keluarga pemilik warung itu, baik dari pelayan, kasir dan juru masaknya.(Ch.118-119)


Dua orang pemuda terlihat duduk di salah satu meja dan kursi yang disediakan di emperan itu. Keduanya sedang menunggu makanan yang mereka pesan.


Yang satu terlihat lebih pendiam, dan yang satunya lagi tidak bisa menutup mulutnya, ada saja yang ingin dia bicarakan.


Tingkat kultivasi keduanya juga lumayan tinggi, mereka sudah berhasil menembus Ranah Surgawi, padahal usia keduanya tidak lebih dari dua puluh satu atau dua puluh dua tahun.


Orang-orang yang melihat keduanya pasti akan berpikir mereka itu adalah murid-murid dari Tujuh Klan Besar dan Enam Sekte Utama. Namun itu tidak benar, kedua orang itu jelas pendatang baru di Daratan Tengah.


“Senior He! Menurut pesan Patriark kita harus berjumpa dengan Penatua Zhou terlebih dahulu,” si Pemuda yang suka berbicara kembali membuka percakapan, lalu ia menggoda, “Senior He! Apakah Senior merindukan Junior Murong?” 


Terus-menerus diajak bicara, orang yang disapa dengan Senior He ini walaupun berusaha sabar, ia menjadi sedikit lebih ketus, “Ia aku merindukannya, apa Junior Ye merasa cemburu? Makanya menjadi seorang laki-laki itu harus elegan. Jangan terlalu banyak berbicara yang tidak perlu…” ketus, ia mengejek dan menasihati di saat bersamaan.


“Asal Junior Ye pahami, para gadis tidak suka dengan pria-pria yang terlalu banyak berbicara, mereka sendiri makhluk yang banyak berbicara, saat berjumpa dengan laki-laki yang terlalu banyak berbicara, ruang gerak mereka untuk berbicara menjadi terbatas…”


“Mulai sekarang, belajarlah menjadi pendengar yang baik, maka bukan tidak mungkin akan ada satu, dua orang gadis dari Daratan Tengah yang akan menyukaimu Junior Ye…” Orang yang disapa Senior He mengakhiri perkataannya, ia kemudian menyeruput lagi teh yang telah ia tuangkan ke dalam cangkir sambil berbicara tadi.


Mereka berdua ini adalah He Fei dan Ye Xuan, setelah tiga tahun masuk ke dalam Hutan Seribu Ilusi di Sekte Naga Langit, lima bulan yang lalu mereka berhasil keluar. 

__ADS_1


Dengan tingkat kultivasi mereka, Patriark Song lantas mengangkat keduanya sebagai pengurus muda. 


Kehadiran mereka di Daratan Tengah, tak lain karena mereka berdua juga ingin menambah pengalaman di Dunia Persilatan, percuma saja memiliki tingkat kultivasi tinggi kalau tidak benar-benar mencobanya di dalam pertarungan nyata Dunia Persilatan.


__ADS_2