
Tatapan dari Hua Mei yang penuh dengan kebencian juga tidak luput dari pandangan Hua Yan Ran yang lantas melanjutkan ucapannya, “Mei ‘er! Kau sangat membenci Cici? Hal ini tidak dapat menyalahkan mu, sikap Cici selalu kejam padamu sejak dulu. Bukankah sudah saatnya melupakan perkara-perkara yang telah berlalu? Sekarang Cici hanya ingin mencoba level kekuatanmu.”
“Kalau selama bertahun-tahun masih di bawah Cici, mungkin akan seperti ini selamanya. Bersiaplah Cici tidak akan berlaku ringan.” Hua Yan Ran mengakhiri ucapan.
Hua Mei terlihat geram pada sang Cici. akhirnya ikut buka suara. “Aku sudah lama melupakan hal yang pernah terjadi. Aku tidak ingin Cici selalu hadir dalam hidupku. Hidupku lebih nyaman seperti ini, kita lekas bertarung saja. Ke depan cici tidak perlu hadir di depanku lagi.”
Semua orang yang hadir dapat mengetahui ucapan itu hanya bentuk pelarian, melupakan perkara dahulu?Terlihat jelas dari sorot mata yang penuh kebencian, belum bisa melupakan itu, ini seperti trauma yang berkepanjangan.
Hua Mei kemudian mengeluarkan pedang pendek pemberian Gou Long, Eira yang berada di atas bahu segera turun dan naik ke atas salah satu dahan pohon.
“Tidak hadir di depanmu kemudian hari?! Itu tergantung kemampuan mu hari ini adikku yang manis. Bersiaplah! Cici akan menyerang.”
Begitu ucapannya selesai, Hua Yan Ran langsung bergerak indah dan akurat, tidak ada senjata yang dipakai. Hanya menggunakan telapak. Namun, pada telapak tangannya tersemat sarung tangan yang terbuat dari sutra dilapisi dengan jaring-jaring emas.
Itu adalah jenis artefak Ranah Surgawi, yang sangat efektif untuk digunakan ketika menggunakan jurus telapak dan jurus-jurus cengkraman. Telapak tangan Hua Yan Ran bergerak indah bagaikan sayap kupu-kupu, gerakan tapaknya terlihat mata tapi tidak bisa diprediksi.
Hua Mei yang melihat sarung tangan itu terlihat kerepotan, dia berusaha agar pedang pendek tidak tertangkap oleh telapak tangan Hua Yan Ran. Sebagai seorang Cici, walau tidak berjumpa selama bertahun-tahun. Namun, Hua Yan Ran seakan sangat mengetahui semua jurus-jurus yang dimainkan Hua Mei.
Setelah tadi malam menerobos Ranah Langit, tenaga dalam Hua Mei jelas masih belum memiliki pondasi kuat seperti pondasi tenaga dalam Cicinya. Kalah dalam tenaga dalam dapat dirasakan Hua Mei, lantas ia merubah strategi bertarung.
__ADS_1
Hua Mei mulai menggunakan Jurus Walet Menunggang Angin yang diajarkan Gou Long. Perbedaan segera terlihat di kancah pertarungan, gerakan Hua Mei menjadi lebih cepat, dia dapat dengan mudah berkelit dari serangan dan cengkraman telapak Cicinya.
“Hebat! Baru hari ini aku tau dia sudah berkembang sejauh ini, ilmu meringankan tubuh ini juga belum pernah kulihat sebelumnya, seingat ku kakek tidak memiliki ilmu meringankan tubuh ini, entah siapa yang mengajarinya,” pikir Hua Yan Ran
“Aiyaaa! Gadis kecil Cici sudah sangat hebat, bergerak bagai burung saja. Cici sungguh kerepotan menangkap mu. Hati-hatilah! Cici akan menambah intensitas serangan.” Hua Yan Ran memperingatkan selagi masih menyerang dengan jurus-jurus telapak.
Jurus-jurus telapak Hua Yan Ran semakin kuat dan cepat, telapak yang sebelumnya terlihat, sekarang hanya tampak seperti bayang-bayang emas. Membawa kesiur angin pukulan kuat dan akurat.
Hua Mei semakin terdesak, dia sudah berusaha bertahan sekuat tenaga. Namun, tepat di gerakan ke seratus dia tak sanggup bertahan lagi, pukulan telapak dengan tepak mengenai pundaknya. Pedang pemberian Gou Long terkena cengkeram dan dipatahkan oleh Hua Yan Ran.
Ujung patahan pedang melesat ke arah penonton, hampir saja mengenai wajah Murong Qiu yang menonton dari samping. Hua Mei melesat ke belakang, keluar dari pertarungan. Sorot mata kebencian terlihat semakin jelas ditujukan pada Hua Yan Ran.
“Ini adalah kemenangan dari pihak kami. Sekarang, saatnya kalian menyerahkan apa yang menjadi bagian dari taruhan kita,” ucap Hua Yan Ran pada He Fei.
“Terima kasih! Nona sudah berlaku lembut pada adik kecil nona. Yang menjadi sarana dari taruhan kita ada di sini,” jawab He Fei sambil melemparkan cincin penyimpanan pada Hua Yan Ran.
“Ha ha ha! Ups! Maafkan Cici yang sudah mematahkan pedangmu. Di dalam cincin ini ada beberapa barang yang bisa memperbaiki dan menguatkan tingkat Artefak. Sampai jumpa lagi, semoga pedangmu telah menjadi lebih kuat lain kali.” Sambil mengejek Hua Yan Ran melemparkan cincin penyimpanan ke arah Hua Mei yang kemudian disambut oleh Murong Qiu.
Hua Yan Ran dan kawan-kawannya segera berlalu dari situ setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
Perasaan Hua Mei campur aduk, marah, geram, kesal, benci dan sedih. Dia merasa sangat tidak berdaya di depan Cicinya. Setelah pedang pemberian Gou Long patah, ingin rasanya dia menangis. Namun, itu sangat tidak pantas. Rasa nelangsa dan kerinduan tiba-tiba membuncah di hatinya.
Karena terlalu berat memendam berbagai perasaan yang meluap, dada terasa sesak dan lidah yang kelu, serta asin karena darah naik ke dalam mulut. Hua Mei memuntahkan darah sebesar kepalan tangan, tekanan hati yang berat membuat dia pingsan setelah memuntahkan darah.
Dengan sigap Murong Qiu segera merawat Hua Mei. He Fei dan Ye Xuan hanya menonton dari samping, hari ini mereka kalah. Dalam hati mereka bertekad akan membalas lagi kekalahan hari ini.
He Fei memutuskan untuk menetap di situ sehari lagi, baru esoknya mereka akan melanjutkan seperti apa yang telah mereka rencanakan.
***
Sudah seharian Gou Long berkultivasi pemulihan diri di ngarai sepi. Hauri yang dalam dua hari ini terus menemani Gou Long juga ikut berkultivasi. Namun, dia tetap tidak mengurangi kewaspadaan. Pertarungan di Hutan Hujan Salju sangat menguras energi mereka berdua.
Kemudian pencegatan yang dilakukan beberapa murid ketika mereka berdua baru keluar dari hutan tersebut juga menunda kesempatan berkultivasi, walau itu terjadi hanya beberapa saat.
Ini merupakan kultivasi pemulihan diri terlama yang pernah mereka berdua lakukan. Bahkan, sebelum berkultivasi Gou Long mengeluarkan tiga kristal esensi siluman kelas ketiga untuk mempercepat pemulihan diri dan pengisian kembali tenaga dalam.
Tepat menjelang sore hari Gou Long sudah selesai berkultivasi, sekarang hawa murni dalam tubuh terasa sangat penuh. Dia bangkit berdiri dan berkata pada Hauri. “Bagaimana kalau kita terus menelusuri Lantai Ketiga Pagoda Dimensi Lain selama beberapa hari lagi? Kita bergerak di malam hari dan berkultivasi di siang harinya.”
Hauri yang sedang berkultivasi membuka mata, dia memperhatikan Gou Long sebentar kemudian berkata, “Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau tidak melanjutkan kultivasi dan menyerap Roh Iblis Salju? Tapi, malah mau keluyuran tidak jelas, terserah kau saja, aku malas dan mau tidur di tempat biasa.”
__ADS_1
Selesai berkata seperti itu dia langsung menghilang dan berubah ke bentuk tato pedang di lengan Gou Long, hanya meninggalkan Gou Long yang berdiri sendirian di ngarai itu dalam kesepian.