
Setelah membereskan semua kekacauan yang dia buat di ruangan itu, Gou Long kemudian kembali ke lantai atas dan mulai meneliti satu persatu pola segel yang terdapat di 12 pintu ruangan lain.
Salah satu dari segel pintu-pintu ini dapat dipecahkan Gou Long, begitu masuk ke dalam Gou Long menemukan berbagai pola Array api penyulingan Alkimia dan Artefak, ini adalah ruang penyulingan.
Masuk ke ruangan ini membuat Gou Long teringat akan pil yang masih ada di dalam pot Alkimia miliknya sendiri. Setelah tertunda 3 hari, Gou Long mengeluarkan kembali pot Alkimia itu.
Memasukkan tangan ke dalam pot dan mengambil keluar pil yang ada di dalamnya, pil yang tidak berbau. Gou Long memperhatikan lebih jelas pil tersebut, itu adalah Pil Super Semesta yang sama dengan sebelumnya, namun ada yang berbeda dari pil ini.
Yang membedakan bukanlah nadi pil, karena memang tidak ada nadi pil pada pil tersebut. Di sekeliling pil itu terdapat kabut awan pil, inilah pil sebenarnya yang diberkahi langit dan bumi, pil yang memiliki kabut awan.
Energi yang terlihat di dalam pil tersebut meledak-ledak, berputar-putar disertai guntur kilatan kecil berkedip-kedip di dalamnya.
Gou Long pernah membaca catatan kecil tentang pil yang memiliki kabut awan pil, ini mengandung energi yang tidak akan bisa ditahan tubuh Kultivator Ranah Surgawi, dan belum pernah ada Alkemis yang berhasil meracik pil tersebut.
Catatan kecil ini pun ditulis oleh Dewa Obat Tangan Sakti di pojok-pojok kitabnya, berdasarkan penelitian panjang tentang Alkimia, bahkan dia menjelaskan sendiri belum pernah melihat pil yang memiliki kabut awan.
Teringat akan catatan tersebut dia memilih menyimpan saja pil itu ke dalam botol giok, ini terlalu berbahaya untuk dikonsumsi sekarang, suatu saat pil ini pasti akan berguna.
***
Saat itu sudah memasuki minggu kedua tepat 10 hari perjalanan para seniman bela diri yang masuk ke dalam Tanah Suci Para Pendekar.
Setiap daerah di sini memiliki keunikan tersendiri, ini adalah daerah reruntuhan dari Ras Iblis Kuno. Sisa energi Iblis yang memenuhi tempat ini masih sangat terasa, itu dingin dan merindingkan beberapa helai bulu di tubuh.
__ADS_1
Daerah ini awalnya juga tersegel dengan beberapa pola aneh, namun saat ini keramaian terlihat.
Di sana tidak hanya satu atau dua orang, tapi ada berkelompok-kelompok orang, yang sebagian besar terdiri dari 3-4 orang. Kalau dihitung secara kasat mata orang-orang yang berkumpul di sana mencapai ratusan orang.
Ada yang duduk berkultivasi, ada yang berdiri mencari-cari tempat duduk, ada yang berniat merebut tempat orang lain. Semua bergantung pada tingkatan kultivasi masing-masing.
Sebagian seniman bela diri dengan tingkat kultivasi Ranah Langit tahap awal yang terlanjur memilih tempat kultivasi, sadar diri dan mengalah, kemudian memberikan posisinya pada orang yang memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi.
Sebagian lain ada yang memaksakan tempat dengan pertarungan, lagi pula siapa yang peduli, masing-masing lebih peduli pada diri sendiri daripada orang lain.
Dari jauh mendatangi tiga siluet bayangan manusia lain ke tempat tersebut, itu adalah tiga sosok gadis muda. Dua dari mereka, semua seniman bela diri pernah melihat mereka di rombongan Klan Hua.
Sementara yang seorang lainnya, terlihat misterius karena cadar tebal menutupi wajah, sehingga tidak ada yang mengenalnya.
Begitu datang, yang bercadar dan terlihat lebih dewasa dari bentuk postur tubuhnya, menghampiri orang-orang yang sedang mencari-cari tempat untuk berkultivasi, “Senior! Apa yang terjadi di tempat ini? Kenapa sangat banyak seniman bela diri berkumpul di sini?” tanya Gadis bercadar.
Orang ini adalah seorang yang berusia 43 tahun, raut wajahnya terlihat bersahabat. Dia sengaja mencari keramaian karena tugas menyebarkan berita, namun malah ikut terjerat di sini serta sedang mencari-cari tempat untuk berkultivasi.
Orang tua ini sudah pasti, orang yang di bodohi Gou Long, Duan Hong Ya.
“Sepuluh tahun lalu, saat aku masih di Ranah Langit tahap awal, aku juga ikut ke Tanah Suci Para Pendekar ini, dan menurut cerita sudah ratusan tahun daerah ini masih tersegel,” lanjutnya.
“Sekarang saat aku berhasil mencapai Puncak Ranah Langit masih berkesempatan masuk ke Tanah Suci Para Pendekar sekali lagi,”
__ADS_1
“Dan ini merupakan keberuntungan, karena pada kesempatan ini ada yang berhasil membuka area ini, coba kau rasakan energi di sini sangat padat dan melimpah,”
“Semakin dekat ke tengah sana, semakin tebal energinya.” Orang tua itu mengakhiri cerita.
Gadis tersebut berbalik, melihat dua kawannya, rasa antusias tak dapat disembunyikan terlihat dari wajah kedua kawannya, “Kita akan melihat-lihat saja dulu, perasaan dan instingku mengatakan ada yang tidak beres di tempat ini!” menyampaikan isi hatinya.
“Karena Saudari Qiau berkata seperti itu, aku dan Mei ‘er akan ikut petunjuk saudari saja.” Ujar gadis berpakaian merah setelah melihat gadis yang berpakaian ungu mengangguk setuju.
Mereka adalah Hua Mei dan Murong Qiu yang berjalan terpisah dengan anggota Klan Hua, dua hari bepergian di tanah ini, mereka berjumpa dengan gadis bercadar yang bepergian sendirian.
Gadis dengan cadar tebal ini memperkenalkan diri pada mereka berdua dengan nama Qiau Qinsi.
Selama bepergian dengan Qiau Qinsi, setiap apa yang dikerjakan Qiau Qinsi sangat misterius, baik itu saat makan dan saat membersihkan diri, dan lainnya. Qiau Qinsi seperti tidak mau wajahnya terlihat.
Namun, baik Murong Qiu ataupun Hua Mei tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, wajar orang-orang dunia persilatan berkelakuan aneh, malah kalau tidak berkelakuan aneh itu sendiri yang akan dianggap aneh.
Qiau Qinsi memimpin Hau Mei dan Murong Qiu berputar-putar di sana, setelah melihat dan berputar sekian lama Qiau Qinsi mengetahui sumber hawa murni yang sangat tebal di sini berasal dari Altar yang ada di tengah-tengah pola segel array.
“Jangan berkultivasi! Kalian tunggu di sini, aku perlu memastikan sesuatu.” Ujar Qiau Qinsi pada Murong Qiu dan Hua Mei, nadanya tegas dan khawatir.
Memang selama perjalanan mereka, gadis yang bernama Qiau Qinsi itu lebih berpengalaman jika dibandingkan Murong Qiu atau Hua Mei, setiap tindakannya selalu mengutamakan kehati-hatian tingkat tinggi.
Dia seperti orang yang selalu berada dalam bahaya besar setiap saat, kewaspadaan yang diperlihat dan daya pikir terhadap apa yang akan dihadapi seperti terstimulasi ribuan kali dalam pikirannya.
__ADS_1
Murong Qiu dan Hua Mei mendengar nada kekhawatiran pada ucapan Qiau Qinsi, mereka dengan patuh mengiyakan, “saudari Qiau boleh berlega hati, kami juga akan tidak sembarangan bertindak.” Ujar Murong Qiu.
“Iya... Cici Qiau tenang saja, setelah bergaul dengan Cici Qiau delapan hari, junior semakin mengerti pentingnya kehati-hatian di setiap waktu.” Hua Mei menambahkan.