Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 209. Tiga Jenis Ular Berbisa


__ADS_3

Ding Jia Li tahu, ada orang lain yang datang dan menampar preman tersebut, itu dapat dirasakan aura kehadirannya yang tidak disembunyikan sama sekali, aura itu adalah para kultivator Puncak Ranah Langit.


Preman-preman yang mengganggu Ding Jia Li tadi terkejut dengan kehadiran orang yang menampar rekan mereka, walau dalam keadaan mabuk mereka dapat mengenali, orang-orang yang menampar rekan mereka tadi adalah anaknya Tuan Penguasa Kota beserta dua orang rekan sejawatnya.


Kehadiran pemuda itu sontak membuat para preman takut, “Ampun Tuan Muda! Kami tidak akan berani lagi!” ujar salah satu dari para preman tersebut.


“Baik! Tinggalkan kompensasi dari kalian untuk Nona ini!” ujar salah satu rekan dari orang yang disapa Tuan Muda oleh para preman itu.


Para preman itu mengeluarkan kantung kulit yang berisi kepingan, entah emas entah perakkah di dalamnya, hanya para preman tersebut yang mengetahuinya.


Salah satu dari mereka berjalan mengambil semua kantung kulit, lalu menyerahkannya pada Tuan Muda itu, sedangkan yang lainnya memapah kawan mereka yang terpelanting, dengan perasaan takut mereka meninggalkan tempat tersebut.


Tuan Muda tersebut memasukkan semua biaya kompensasi ke dalam cincin penyimpanan, berjalan mendekati Ding Jia Li, “Ini semua kompensasi dari mereka untuk Nona! Maafkan sikap kurang ajar penduduk Kota ini pada Nona! Kalau boleh saya ingin mengundang Nona untuk sekedar bersantap pagi dan mengenal satu sama lain...” Putra Penguasa Kota Lan Lianhua mengutarakan maksud hati yang sebenarnya.


“Saya adalah Tuan Muda Ge Kim, putra Dari Penguasa Kota Lan Lianhua Ge Yizing, mereka berdua... Yang ini Meng Wuzi dan yang ini adalah Gwa Teng Kie.” Lanjut Tuan Muda Ge memperkenalkan kedua orang pengikutnya.


Ding Jia Li menoleh, “Terima kasih atas bantuan Saudara Ge! Untuk kompensasi... Saya tidak membutuhkannya, Saudara Ge boleh mengambil kompensasi itu untuk Saudara sendiri...”


Mengambil jeda sesaat berpikir kata terbaik untuk sebuah penolakan, “Undangan Saudara Ge terpaksa tidak dapat saya terima, untuk alasan yang tidak bisa saya ungkapkan, dalam hal ini saya mohon maaf!” lanjut Ding Jia Li, berusaha berkata-kata sesopan mungkin.


Untuk sesaat ketiga orang itu terpesona, walau Ding Jia Li memakai penutup wajah tipis, namun itu tidak dapat menutupi pesona dan kecantikannya secara menyeluruh, dengan pembawaannya yang memakai setelan pakaian biru, berdiri di jalanan yang dipenuhi salju, orang-orang akan menyamakan dia dengan Dewi Teratai Biru yang ada dalam dongeng-dongeng penduduk Kota.

__ADS_1


“Maaf Nona! Tuan Muda Ge tidak terbiasa menerima penolakan.” Orang yang bernama Gwa Teng Kie berkata, jelas sekali gerak-gerik orang ini sedang mencari muka pada Tuan Muda Ge.


“Tepat sekali, selama orang bermarga Meng ini tinggal di Kota Lan Lianhua, Meng yang ini belum pernah melihat ada orang yang menolak undangan dari Tuan Muda Ge Kim.” Pengikutnya yang satu lagi ikut menimpali, tidak mau kalah mencari muka pada Tuan Muda itu, seakan ucapan ‘kalau boleh’ yang di ucapkan Tuan Muda Ge sebelumnya itu adalah perintah, bukanlah permintaan.


Tuan Muda Ge Kim sendiri, hanya tersenyum, menanggapi ucapan kedua orang pengikutnya.


Ding Jia Li sesaat memperhatikan ketiganya, gaya berpakaian ketiganya terlihat perlente, jelas sekali, mereka juga termasuk pada kategori para pembesar atau hartawan Kota ini.


Sebagai hartawan dan juga memiliki tingkat kultivasi Ranah Langit Tahap Puncak, merasa superior di Kota Lan Lianhua menjadi hal biasa, apalagi setelah melihat seorang wanita pelajar yang cantik dan lemah lembut, menerima penolakan dari wanita seperti ini merupakan sebuah kehinaan bagi mereka, padahal baru saja mereka menolong wanita itu dari gangguan preman pasar.


Sudut mata yang meruncing menandakan ia tersenyum lembut, Ding Jia Li berkata, “Yaa! Walau Tuan Muda Ge tidak terbiasa menerima penolakan, saya tetap akan menolaknya...” Suara telapak kuda berderap ringan di atas salju memotong ucapan Ding Jia Li, memalingkan wajah sedikit, dia melihat Gou Long telah mendatangi dengan membawa dua ekor kuda putih, di sisinya berjalan juga si penjual kuda.


“Iya! Jia Li ‘er,” Gou Long menyerahkan tali kekang kuda pada penjual, “Mari Gege bantu Jia Li ‘er menaikinya.” Sedikit hentakan saat memapah, Ding Jia Li langsung terduduk manis di atas salah satu kuda putih.


Sikap yang ditunjukkan kedua orang itu mengabaikan orang lain yang ada di sekeliling mereka, seakan-akan dunia ini hanya milik mereka berdua.


Berang dengan sikap tersebut, Ge Kim juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dalam pikirannya ini hanyalah permainan drama, benar sang pemuda terlihat tampan, namun pakaian pemuda itu masih kalah jauh jika dibandingkan dengan apa yang ia pakai.


“Nona sangat pandai bersandiwara, demi menghindari undanganku, kacung Nona sendiri berani Nona sapa dengan panggilan ‘Suamiku!’ Ha ha ha!...” Saat mengucapkan kata ‘Suamiku!’ Ge Kim dengan sengaja melirihkan nada suara dan intonasi, bermaksud mengejek sandiwara tersebut.


“Ha ha ha!...” ucapan itu mendapat sambutan tawa riuh dari kedua orang pengikut Tuan Muda Ge Kim.

__ADS_1


Gou Long memandang ketiga orang itu dengan tajam, tersenyum simpul, berjalan perlahan serta menekan dengan Domain Ranah Surgawi yang membuat ketiga orang itu tidak bisa bergerak, gemetaran di tempat masing-masing.


“Kalian tahu ujaran yang sangat terkenal dalam dunia persilatan? Ahh! Kuyakin kalian hanya anak manja yang tidak pernah keluar dari Kota ini, mana mungkin tahu ujaran itu...” satu persatu ditatap Gou Long ketiga orang tersebut, “Hemm! Kalian bertiga, ini sangat cocok, ingatlah dengan sebaik mungkin sebagai pembelajaran...”


Menepuk ringan di atas bahu Tuan Muda Ge Kim, tepukan itu jelas dengan pengerahan tenaga dalam, Tuan Muda Ge Kim tidak sanggup bertahan, ia terjatuh dan bersimpuh di atas lututnya, “Pertama; Orang Tua Lemah baik itu perempuan atau laki-laki...” merendahkan tubuhnya sedikit, Gou Long berbisik pada Tuan Muda Ge Kim, “Jangan berani bangkit, bangkit mati!” ancamnya.


Kemudian melakukan hal yang sama pada Meng Wuzi dan Gwa Teng Kie, “Kedua; Pengemis rudin yang tidak memiliki sekeping tembaga pun untuk makan, dan Ketiga; Pemuda/pemudi pelajar atau sastrawan yang terlihat lemah...”


Keringat sebesar biji jagung mulai keluar di dahi ketiganya, Gou Long sengaja mengetuk kepala mereka dengan tiada pengerahan tenaga dalam, “Apa kalian sudah mengingat ketiga kategori ini?” tanyanya.


Terbata-bata, serempak ketiga pemuda itu menjawabnya, “Ka-kami me-mengingatnya!” ketakutan tampak jelas dari mereka bertiga.


Penduduk Kota Lan Lianhua yang sedang berlalu lalang jelas melihat kejadian ini, namun, baik Gou Long ataupun Ding Jia Li yang duduk di atas kuda tidak peduli, si Penjual kuda juga terlihat sangat gemetaran, baru dia sadari orang yang membeli kuda terbaik ini adalah pendekar persilatan yang tidak boleh di provokasi.


“Baik sekali kalau kalian sudah mengingatnya, tiga jenis ini adalah ular berbisa yang tidak boleh kalian anggap remeh, kalian pegang ekornya makanya tangan kalian akan tergigit!”


Gou Long kemudian memperseni mereka bertiga tamparan keras, “Dan inilah gigitan ringan dari ular berbisa itu! He he he!...” terkekeh senang, “Barang siapa yang memainkan ular ditangannya, maka sepantasnya ia tidak takut tergigit ular itu.” Selesai berkata demikian, ia meloncat ringan ke atas kuda putih lainnya.


“Mari Jia Li ‘er!” memaju kudanya, segera diikuti oleh Ding Jia Li, meninggalkan tatapan heran pada penduduk Kota Lan Lianhua.


“Sungguh pemuda yang sangat berani, tanpa memikirkan apa pun telah membuat malu Putra Penguasa Kota.” Pikir penduduk yang melihat kejadian tersebut.

__ADS_1


__ADS_2