Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 348. Bertarung Dengan Raksasa II


__ADS_3

Pembawaan anak muda itu saat ini lebih mendatangkan rasa seram bagi Bei Cheung jika dibandingkan dengan kerasnya teriakan dari raksasa yang menjadi lawan mereka.


Gou Long menarik nafas dalam. Saat itu, si raksasa dalam keadaan bersimpuh dengan satu kaki, karena betis kiri yang hancur. Begitu kalapnya, dengan tangan kiri yang masih bisa digerakkan, raksasa itu kembali menampar Gou Long.


Namun, itu jelas sekali tidak sama dengan tamparan saat pertarungan mereka terdahulu. Gou Long telah berpindah ke belakangnya si raksasa. 


Kali ini, palu hitam berat dipukul keras dengan tepat di tengkuk si raksasa. Darah mengucur deras dan membasahi seluruh wajah serta baju Gou Lang. Tulang tengkuk hancur, nyawa si raksasa melayang sudah seiring dengan terkulainya kepala besar serta tubuh yang ambruk ke atas tanah. Itu masih sempat menggelepar dan mengenai jimat peledak yang dipasang oleh Bei Cheung.


“Dhuaarr! ….”


Bunyi ledakan terdengar tiada henti. Saat ledakan itu benar-benar telah berakhir, mayat raksasa terlihat hancur belubang, dan memperlihatkan tulang besar dari tubuhnya.


“Tinggalkan mayat ini! Saudara Bei bergabung dengan Huo Twako. Sedangkan aku akan bergabung dengan Saudara Ang dan Saudara Lau.” Gou Long langsung bergerak melesat lima puluh tombak ke gelanggang pertarungan lain. 


“Swosshh! ….”


Sambil bergerak, Gou Long terlebih dahulu melemparkan palu berat dan besarnya ke arah raksasa jauh di sana. 


Lesatan cepat palu membelah udara. Menciptakan penglihatan yang indah seiring dengan suara kesiur angin keras.


“Saudara Lau, Saudara Ang! Aku akan bergabung dengan kalian.” Gou Long telah berada di gelanggang pertempuran. 


Raksasa yang diserang Ang Cong dan Lau Ming merasakan gelagat yang tidak baik dari arah belakang, saat ia berbalik. Palu hitam lemparan Gou Long hampir tiba, lalu dengan pukulan bilah angin ia coba memperkecil laju dari kecepatan palu lemparan Gou Long.


“Braakkk!” Bilah angin yang ia ciptakan hancur. Palu itu memang melambat, bahkan itu bisa ditangkapnya. 


Apa yang diperbuat oleh raksasa tersebut, memang seperti yang diinginkan Gou Long. “Sekarang! Kesempatan terbuka!” teriak si pemuda.

__ADS_1


Seiring dengan aba-aba itu, serangan tiga sisi segara saja menuju raksasa itu dengan cepat. Dua orang terdahulu saja sudah sangat merepotkan, sekarang bertambah kurcaci lainnya.


Namun, raksasa tersebut sadar, bahwa pendatang baru ini lebih berbahaya dari yang dua sebelumnya. Apalagi, ia telah menyadari kematian salah satu rekannya.


“Manusia-manusia kerdil hina, kalian akan aku buat setengah mampus!” geram raksasa itu. Perkataan yang sudah pasti tidak dipahami Gou Long, Lau Ming, dan Ang Cong.


Dia memutar tubuh dengan gila-gilaan, coba mengantisipasi serangan tiga sisi. 


Satu ayunan kaki dan satu pukulan tabokan, dan satu pukulan dengan palu berat milik Gou Long. Tapi ketiganya dengan mudah berkelit, terlebih lagi si pendatang baru. Dia benar-benar telah menghilang dari pandangan mata raksasa tersebut.


“Manusia gede! Kembalikan palu ku …” Dengungan suara yang tidak dapat ia paham terdengar di telinga. 


Lalu bayangan Gou Long yang tadi menghilang, tiba-tiba muncul dan menebas tangan raksasa dengan pedang berwarna biru cerah tapi memiliki hawa yang mengindikkan. 


“Crasshh!” 


Lengan dan palu jatuh dan melesak ke dalam tanah, darah menyembur bagai air mancur dari lengan yang telah kuntung tepat di siku.


“Aaarrrgghhh! ….” 


Tak jauh berbeda dengan raksasa sebelumnya, yang ini juga berteriak keras.


Tapi di gelanggang pertempuran, tidak ada waktu untuk berteriak atau terkesima. Gou Long bergerak cepat dan berpindah-pindah beberapa kali. Di mana tubuhnya muncul, di situ ia memberikan tusukan dan sayatan dalam. 


Keberadaan anak muda itu benar-benar tidak bisa ditebak oleh si raksasa, dengan kalap ia melampiaskan pada Lau Ming dan Ang Cong.


Namun, dua orang ini telah berhasil melangkah ke Ranah Kaisar Tahap Menengah. Ketika Gou Long belum masuk membantu saja, sudah sangat susah memberikan pukulan pada keduanya.

__ADS_1


Saat ini, terluka, tertusuk, dan tertebas salah satu lengan, bagaimana mungkin bisa menyerang dua orang itu. Serangan kalap raksasa tersebut, hanya menghancurkan dirinya sendiri, setelah sekian banyak tebasan dan tusukan yang ia peroleh, daya tahan dan keuletan menjadi alasan terkuat kekalahan raksasa itu.


Satu tebasan ganas Gou Long dengan Jurus Pedang Petir Membelah Langit, menebas dan menjatuhkan kepala raksasa itu ke atas tanah. Dasarnya, darah dan daya tahan yang sudah banyak berkurang, begitu terjatuh. Itu hampir tidak ada gerakan menggelepar sama sekali. Raksasa itu benar-benar telah tewas.


Dua telah tumbang, hanya bersisa satu yang masih bertahan dan bertarung sengit dengan Huo Cin Lam, Bei Cheung, dan Du Hiong.


Dengan Pedang Peri Ilusi masih di tangan kanan, Gou Long berjalan dan mengambil palu hitam berat serta menyimpannya ke dalam cincin penyimpanan.


Pedang Peri Ilusi masih terus tergenggam, sesaat fokus Gou Long tertuju pada pedang. 


Saat ini ia teringat pada jiwa Hauri yang sudah ia masukkan ke dalam botol giok. Ada sedikit kerinduan pada sikap judes yang sering ditunjukkan si peri padanya. Lagipula Gou Long paham dan tahu, itu adalah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan Hauri padanya dengan cara yang berbeda.


“Gou Laote!” Sapaan yang memecah lamunan Gou Long terdengar. “Bagaimana menurutmu? Apakah kita juga akan bergabung dengan mereka, agar pertarungan mereka segera cepat berakhir?” Ang Cong berjalan dan menepuk bahu Gou Long yang penuh dengan darah.


Gou Long mengalihkan pandangan pada pertarungan di kejauhan sana, kemudian ia juga melihat pada dua orang lain yang menjaga Jiang Huzi. Ketiganya terlihat nyaman dan tidak khawatir ada gangguan sama sekali.


“Tidak perlu, mari kita bersihkan diri. Aku rasa pertarungan Huo Twako dan yang lainnya juga segera akan berakhir.” Gou Long menghela nafas panjang. “Walau kita tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi aku rasa mereka tidak jauh berbeda dengan kita–”


“Maksud Gou Laote mental yang satu lagi juga telah jatuh karena kematian dua rekannya?” Lau Ming menegas, ia tidak mau salah mengira.


“Pada satu sisi, itu benar seperti yang Saudara Lau pikirkan, dan pada sisi lain. Kekuatan tempur dan gerakan berpindah-pindah yang dimainkan Hou Twako sangat menyusahkan raksasa itu,” jawab Gou Long.


Lau Ming dan Ang Cong menoleh dan memperhatikan pertarungan di sana. Benar seperti apa yang dijelaskan Gou Long, gerakan Huo Cin Lam memang sangat luar biasa. Kemudian serangan senjata rahasia dari Du Hiong juga sangat efektif. 


Apalagi saat itu di sana, jimat yang dipasang oleh Bei Cheung kian merepotkan saja.


Lau Ming dan Ang Cong mengangguk pelan. “Iya, mari kita pergi membersihkan diri.” 

__ADS_1


Ketiganya segera melesat pergi mencari sungai kecil yang bisa dijadikan tempat untuk membersihkan diri. Namun sebelum itu mereka telah terlebih dahulu berpesan pada Liu Changhai, agar orang-orang yang bertarung tidak khawatir saat pertarungan mereka telah usai nanti.


__ADS_2