
Pemuda yang berpakaian lusuh itu sudah sejak pagi tadi berkultivasi di dalam gua Lembah Gunung Petir. Di sampingnya juga duduk bersila seorang gadis yang sangat cantik dari Ras yang berbeda, gadis itu juga berkultivasi dan menjagai si pemuda dari bahaya yang tidak terduga.
Hari sudah siang ketika pemuda itu membuka matanya dan terbangun dari kultivasi pemulihan diri. Sambil tersenyum dia berkata, “Terima kasih telah menjagaiku selama kultivasi tadi...”
“Tenang saja, itu hal yang mudah. Bukankan aku juga selalu menjagamu? Bahkan aku pernah menjagamu selama 70 tahun lebih, apakah kau sudah lupa?” jawab gadis itu sambil tersenyum indah, juga bercanda dengan menyindir Gou Long yang pernah terjebak ilusinya selama 2 bulan lebih.
Mendapatkan jawaban seperti itu dalam hati Gou Long berujar.
“Untung tadi pagi sebelum berkultivasi, aku memasakinya makanan yang enak. Kalau tidak, dia pasti akan marah-marah dan ngambek lagi seharian penuh.”
“Hei! Kau pasti sedang mengataiku dalam hati kan?” lanjut Hauri yang mendapati Gou Long belum menanggapi perkataannya setelah sekian lama.
“Hah! Tidak... bukan begitu, aku hanya terpesona dengan senyumanmu yang berbeda dengan senyuman Ras manusia,” Jawab Gou Long berbohong.
“Hauri! Rasanya aku akan menyusahkanmu lagi nanti, setelah banyaknya pertarungan yang kulalui saat ini, gejolak hawa murniku meningkat dan seperti meminta pengakuan dari langit dan bumi. Ini seperti akan ada peningkatan kultivasi ke Ranah Langit tahap menengah,”
“Nanti malam akan kucoba untuk menerobos ranah, bunuh apa saja yang mendekat dan mengganggu!” Tutur Gou Long tegas.
“Kau beristirahatlah! Aku ingin meracik beberapa pil penyembuh, persediaan pilku berkurang banyak setelah hampir setiap saat bertarung.” Lanjut Gou Long sambil menyengir.
“Hal itu juga sangat baik, lagi pula aku juga sangat kelelahan.” Jawab Hauri yang langsung menghilang ke tempat biasa.
Gou Long yang ditinggal sendirian, mengeluarkan pot alkimia lalu dia terfokus sepenuhnya pada peracikan pil.
Malam itu, pembawaan Gunung Petir yang biasanya selalu penuh dengan petir tanpa henti, dengan suaranya yang menggelegar. Sehingga memberikan perasaan ngeri bagi penduduk di bawah kaki Gunung Petir, tampaknya lebih mengerikan lagi dibandingkan malam-malam lainnya.
Hal ini tidak terlepas dari hawa langit dan bumi yang terus memadat, karena kehadiran Gou Long di Lembah Gunung Petir. Benar seperti yang di katakan Gou Long kepada Hauri, saat ini dia akan menerima pengakuan dari langit dan bumi atas hawa keberadaan kultivasinya di Ranah Langit tahap menengah.
__ADS_1
Petir, badai besar, serta topan berkumpul semuanya di langit puncak Gunung Petir. Prahara mala petaka langit dan bumi itu saling bergumul serta membelit satu dengan yang lainnya. Ini seperti makhluk dari Roh Suci, Naga dan Phonix yang sedang bertarung dengan sengit sehingga mengacaukan dunia manusia.
Pemadatan energi serta hawa murni dari langit dan bumi yang bergejolak ini jelas lebih besar dari saat Gou Long menerobos ranah di Hutan Seribu Ilusi tempo hari. Namun, kondisi tubuh dan semangat serta pondasi tenaga dalam Gou Long yang sangat memadai, penerobosan ranah ini sukses besar.
Walaupun ketika penerobosan tadi Gou Long harus menerima 2 kali sambaran dari petir hitam dan 2 kali badai salju, namun keempat malapetaka ini berhasil di serap Gou Long dan dipadatkannya menjadi hawa tenaga dalam.
Pada penerobosan ranah kali ini, keanehan dari ketiga dantian utama Gou Long kembali terjadi. Masing-masing dari dantian itu membangun wadah baru di dalamnya. Wadah tersebut dapat dirasakan Gou Long sebagai roda gerigi yang terus menyeimbangkan perputaran hawa panas dan hawa dingin secara merata.
Artinya, itu bukanlah keanehan yang tercipta dengan sendirinya. Itu bentuk dari usaha Gou Long yang terus mencoba untuk menyeimbangkan hawa dingin dari Roh Iblis Salju dengan hawa panas petir yang sudah duluan memenuhi ketiga dantian utamanya.
Setelah berhasil menerobos ranah dan terus menstabilkan pondasi dari Ranah Langit tahap menengah yang dilakukan selama semalaman penuh. Gou Long membuka kedua matanya lalu bangkit seraya menggerak-gerakkan anggota tubuhnya.
Gou Long dapat merasakan sensasi yang berbeda dari ketika masih berada di Ranah Langit tahap awal, hawa murninya terasa meluap dan stabil. Dia sangat yakin saat ini, kekuatan daya tempurnya sudah setara dengan Penatua Mu Yuan dari Sekte Naga Langit.
Sensasi berbeda ini segera berakhir dengan bunyi perut kosong yang mulai minta di isi. Begitulah adanya manusia, sekuat apa pun manusia bertahan dari serangan luar, maka serangan dari dalam diri sendiri tidak ada yang bisa melawannya.
“Ha ha ha!....” Hauri tertawa renyah mendengar perkataan Gou Long
“Bualanmu kali ini sangat tidak masuk akal, bagaimana orang bisa memasak tanpa kuali? Kalau kau berkata ‘memanggang’ masih bisa diterima akal,” Jawab Hauri sambil menertawakan Gou Long.
“Tapi... Aku juga penasaran dengan bualanmu itu, apa mungkin bisa?” lanjutnya.
“Baiklah!... Kau perhatikan saja apa yang kukerjakan.”
Gou Long segera mengelupas cangkang besar dan keras dari udang itu dengan tanpa merusaknya, dia lalu membersihkan ketiga udang tersebut sampai bau amisnya menghilang.
Cangkang udang tersebut juga dicuci bersih oleh Gou Long, kemudian dia memasukkan kembali daging besar udang ke dalam cangkangnya, tidak lupa juga dimasukkan berbagai bumbu dan daun-daun penyedap rasa ke dalam cangkang tersebut.
__ADS_1
Setelah semua bumbunya yang dimasukkan sesuai dengan kebutuhan bumbu untuk udang sebesar itu, Gou Long mengikat cangkang udang ini dengan kuat sehingga bumbu dan udang di dalam cangkang tidak bisa dikeluarkan, dan juga tidak akan tercemar oleh kotoran-kotoran dari luar.
Semua yang dikerjakan Gou Long dari awal sampai saat ini tidak ada yang luput dari perhatian Hauri, bahkan tidak ada detail yang dilewatkannya.
Hauri sempat bertanya, “Kenapa kau masukkan lagi udangnya ke dalam cangkang, dan kenapa pula itu kau ikat sampai udara pun tidak bisa masuk?”
“Perhatikan saja!” Jawab Gou Long, yang sedang sibuk menyusun kayu untuk perapian. Bagaimanapun ceritanya, dalam urusan masak-memasak menggunakan api yang dihasilkan alam akan lebih menambah cita rasa dari pada menggunakan api dari hawa murni.
Gou Long lalu membungkus ketiga udang tersebut dengan tanah liat yang ada di sisi sungai. Bungkusannya setebal satu sendi jari tangan
“Sudah siap! Sekarang kita akan memasaknya.” Ucap Gou Long
Dia langsung memasukkan ketiga udang yang terbungkus tanah liat itu ke dalam perapian.
Tidak perlu menunggu lama, tepat ketika tanah liat yang terbakar mulai terlihat ada retakan-retakan kecil serta berwarna kemerahan, Gou Long mengeluarkannya dari perapian.
Gou Long mengetuk beberapa kali di atas tanah liat yang membungkusi udang itu, tanah liat tersebut retak sepenuhnya serta ikut mengelupaskan cangkang keras udang bersamanya, bau harum dari daging udang yang berwarna kemerahan matang tercium memenuhi udara dan menggugah selera Hauri.
“Wow, ini luas biasa!... Bau harum dan dagingnya sangat enak!” Ujar Hauri takjub.
Mereka berdua segera makan dengan sangat lahap.
“Eira pasti akan sangat menyesal mengikat kontrak jiwa denganmu, namun belum sempat makan udang yang kau masak seperti ini.” Lanjut Hauri sambil menikmati udang tersebut, dia tiba-tiba teringat Eira.
“Iya.. Baiklah! segera selesaikan makanmu, kita akan menjemput Eira di bukit serigala...” ujar Gou Long menanggapi, dia berhenti sejenak dan terlihat sedang berpikir.
“Sebenarnya saat ini aku ingin pergi ke utara, menurut apa yang kudengar dari Pengurus Bai tempo hari, kedua orang tuaku berasal dari utara. Aku ingin melihat kampung halaman mereka, juga kampung halamanku. Namun akan kudengar pendapat kalian berdua terlebih dahulu nanti.” Gou Long menjelaskan maksud hatinya pada Hauri.
__ADS_1
“Iya, mari kita jemput Eira terlebih dahulu.” Jawab Hauri singkat.