
Saat orang-orang terus berdatangan, hantaman petir ganas baptisan Ranah Surgawi Tahap Awal yang diterima Ding Jia Li terjadi. Benarlah seperti apa yang diyakini Gou Long, gadis itu mengalami dua kali kenaikan ranah.
Begitu baptisan pertama berakhir, aura Langit dan Bumi di sana tidak kunjung menyurut. “Teruslah bersikap seperti itu, dirimu akan mengalami dua kali peningkatan ranah, Jia Li ‘er!” Gou Long berteriak, memberi peringatan pada Ding Jia Li.
Gadis itu, mendengar peringatan Gou Long, sedikit tergesa, ia coba menstabilkan gejolak hawa murni yang tidak beraturan pasca baptisan pertama. Energi murni keemasan yang keluar dari kristal di dantiannya semakin pekat.
Energi itu, berlaku layaknya tameng sakti yang menghalau dan meringankan petaka Langit dan Bumi yang diterima si Gadis.
Siauw Xiezy dan Eira juga telah mendatangi puncak tempat baptisan terjadi. Selama pesta siang hari tadi, Keduanya terlihat menghilang dari Gunung Teratai. Ya! Saat itu kedua makhluk ini, memang diminta Gou Long sebagai petugas registrasi dan penyambut tamu di aula bawah.
“Istri kedua mu sangat beruntung! Saat orang lain merasakan siksaan tak terhingga dari baptisan Langit dan Bumi, dia malah memiliki tameng indah seperti itu, bahkan bisa menembus dua ranah sekaligus.” Siauw Xiezy, tiba-tiba berkata memuji dan cemburu terhadap keberuntungan Ding Jia Li.
Gou Long menoleh ke arah asal suara. “Kenapa kau cemburu? Bukankah kalian, kau dan Eira lebih mudah lagi?! Semua petaka Langit dan Bumi yang seharusnya kalian terima, malah aku yang menanggungnya, sedangkan kalian … bisa dengan mudah mendapatkan kenaikan ranah.”
Siauw Xiezy, menyadari kebenaran dari perkataan Gou Long, dia hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata.
Eira hanya tersenyum mendengar ucapan bodoh Siauw Xiezy. Dia tahu, ini adalah bentuk pelampiasan karena mereka berdua dijadikan sebagai tokoh penyambut tamu saja.
Periode penerobosan ranah Ding Jia Li yang kedua segera terjadi, petir ganas keemasan menghantam telak, aura dari petir emas itu mendatangkan perasaan ngeri bagi orang yang melihat. Namun, sekali lagi tameng emas dari energi kristalisasi kultivasi ganda memainkan peran dengan sempurna.
Saat itu terjadi, orang-orang yang menonton, menahan nafas sesak, tapi setelah terjadi, benar-benar tidak seperti yang mereka khawatirkan.
Begitu, periode petir kesengsaraan berakhir, Gou Long melesat ke sisi Ding Jia Li, sambil menggandeng tangan Hua Mei. “Kita kembali ke kamar Mei ‘er.”
“Eum.” Hua Mei mengangguk ringan.
Gou Long menunduk dan membopong Ding Jia Li yang masih duduk bersila, menstabilkan tenaga dalam pasca kenaikan ranah. “Teruslah seperti ini, Gege yang akan membopongmu,” bisik Gou Long mesra.
__ADS_1
Hati Ding Jia Li berdebar tidak karuan, suaminya ini sangat berani menampilkan kemesraan begitu saja.
Anak muda itu, tanpa basa-basi dan benar-benar tidak peduli dengan tatapan cemburu banyak pasang mata terhadap kemesraan yang diperlihatkannya pada Sang Istri.
Membopong Ding Jia Li dalam pelukannya, Gou Long melesat ke kamar Putri pertama; Hua Mei.
Hua Mei sendiri mengikuti pemuda itu di sisinya.
Setelah tokoh utama dari huru-hara Langit dan Bumi malam itu, menghilang dibawa oleh si Suami, satu persatu orang-orang kembali ke kamar masing-masing, kecuali beberapa orang yang berhasil mendapatkan ilham dari proses penerobosan ranah tadi.
Mereka tetap di puncak tersebut, duduk bersila dan terus mencerna kembali ilham yang didapatkan.
Gou Long, begitu tiba di dalam kamar Hua Mei, langsung mendudukkan Ding Jia Li di atas kasur. “Mei ‘er! Duduk bersila juga di depan Gege.”
Hua Mei mengerti, Gou Long ingin mereka bertiga saling menempelkan telapak, dan membantu tenaga dalam satu sama lain. Ini sangat lah bermanfaat, bukan saja tenaga dalam Ding Jia Li menjadi cepat stabil, bahkan fondasi tenaga dalam mereka bertiga dengan cepat meningkat pesat.
“Ge … untuk saat ini jangan coba-coba berpikiran nakal.” Hua Mei mengingatkan, dia sadar sifat nakal Sang Suami bisa muncul kapan saja.
Tersenyum nakal, Gou Long menggelitik telapak tangan Hua Mei. Saat gadis itu mengerang lembut, didapatnya Gou Long telah bersila dan fokus dengan penyaluran tenaga dalam.
“Cih, dia sangat pandai menggoda, dasar suami nakal,” Hua Mei mengutuk dalam hati, kemudian berfokus saling menempelkan telapak tangan bertiga.
Kultivasi tiga serangkai terjadi di dalam kamar tersebut hingga fajar datang.
***
Ini adalah siang hari, seperti yang telah Gou Long perintahkan kemarin, ratusan murid Paviliun Gunung Teratai dari berbagai aula telah berkumpul dan membentuk kelompok barisan di sana.
__ADS_1
Sementara itu, para Kepala Aula; Leng Kun, Feng Yueyin, Duan Hong Ya, dan Yu Yihua, duduk di kursi megah Platform atas.
Orang-orang dari Klan Gou, Sekte Teratai Biru, dan Klan Hua yang masih berada di Gunung Teratai juga turut hadir ke platform utama, sudah barang tentu, He Fei dan Ye Xuan juga termasuk bersama mereka semua.
Semua orang sedang menunggu kedatangan Gou Long, mereka tidak tahu apa yang ingin disampaikan pemuda itu.
Tiga raut wajah berseri, penuh dengan kebahagiaan mendatangi tempat tersebut. Gou Long telah kembali memakai hanfu yang paling ia sukai, berwarna putih dengan garis-garis kebiruan menghiasi kerah dan ujung lengan hanfu.
Ding Jia Li dan Hua Mei, terlihat bak bidadari, dasar keduanya memang cantik, saat ini fendai pasca riasan pernikahan belum sepenuhnya luntur, jelas saja hal ini mengundang sesak nafas bagi yang melihat kecantikan mereka.
“Hormat pada Master Paviliun!” Suara bergema para murid menyambut Gou Long.
“Tidak perlu penghormatan.” Gou Long juga memancarkan suara keras, agar semua murid bisa mendengarnya.
Anak muda itu, melesat ke platform utama tempat ia melangsungkan resepsi pernikahan kemarin, meja altar pernikahan telah disingkirkan dari platform.
Berdiri tenang, Gou Long menatap semua murid pelan. Matanya terus bergerak menatap, He Fei, Ye Xuan, Murong Qiu, dan Kakek Zhou. Kemudian melemparkan senyum pada orang-orang tersebut.
“....” semua orang menantikan apa yang akan diucapkan Gou Long, suasana hening, bahkan helaan nafas kecil di pojok ujung terdengar.
“Apakah kalian merindukan daerah Selatan? Ku mohon agar kalian tidak turut campur pada setiap perkataan ku.” Gou Long mentransmisikan suara pada He Fei, Ye Xuan, dan Murong Qiu.
Sekilas pandang, ia melihat anggukan ringan dari mereka.
Gou Long telah menetapkan keputusan hati. “Para murid Paviliun Gunung Teratai!” teriak Gou Long, memecah keheningan.
“Kemarin kalian telah bersumpah setia pada Master Paviliun ini, kalian juga akan patuh pada setiap keputusan Master ini … sekarang Aku sebagai Master Paviliun menuntut kesetiaan kalian–”
__ADS_1
Leng Kun merasakan gelagat lain, ada hal yang disembunyikan Gou Long. “Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Leng Kun dengan transmisi suara pada Gou Long.