Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 228. Berkunjung Ke Klan Hua


__ADS_3

Siluet bayangan mendatangi, “Duan Tua menghadap Master Paviliun!” orang tua itu mengepalkan tangannya di depan dada. Padahal Gou Long baru saja bertanya tentang dia pada Feng Yueyin, namun orang ini tiba-tiba datang sendiri menghadap.


Gou Long yakin ada sesuatu yang akan dimintai oleh Duan Hong Ya, “Saudara Tua! Mari kita melakukan perjalanan menuju Klan Hua. Keperluan Saudara Tua bisa kita bicarakan sambil jalan…” Potong Gou Long cepat, walaupun Duan Hong Ya belum menjelaskan apa yang ingin disampaikan.


“Silahkan Saudara Tua yang memimpin, Saudara Tua merupakan penduduk lama Daratan Tengah ini, perjalanan menuju Klan Hua Saudara Tua lebih tahu jalannya.” Lanjut Gou Long.


“Baik Master Paviliun! Apa kita bepergian layaknya para Pendekar atau… Haruskah Duan Tua ini menyewa kereta kuda?”


“Tidak perlu! Perjalanan para Pendekar lebih menghemat waktu, apalagi dalam tiga belas hari ke depan Paviliun ini akan segera kita resmikan.” Jawab Gou Long.


Saat kedua akan beranjak pergi, dua siluet bayangan kembali mendatangi, Leng Kun dan Yu Yihua adanya.


Menghentikan gerakannya, “Nona Yu! Bagaimana kehidupanmu di Gunung ini?” tanya Gou Long.


“Kehidupan di sini sangat menyenangkan, tapi Junior ini ingin minta izin dari Master Paviliun, bolehkah Junior merekrut beberapa orang yang berbakat dalam Alkimia untuk membantu Junior dalam perawatan kebun herbal dan membantu meracik pil?”


“Sama seperti halnya Leng Twako! Nona Yu bebas merekrut sesuka Nona Yu, merupakan hal wajar Kepala Bagian Divisi memiliki bawahan yang hebat juga…” Jawab Gou Long, tersenyum cerah.


“Nah, seperti itu saja, kami akan keluar beberapa hari, Leng Twako! Seperti biasa, nona-nona cantik ini kutitip di bawah penjagaanmu.” 


“Ha ha ha…” Gou Long langsung melesat meninggalkan mereka di sana, gerakannya itu diikuti oleh Duan Hong Ya.


Leng Kun hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak muda itu, batinnya berkata, “Mungkin sudah naluri Master Paviliun yang tidak bisa menetap di satu tempat, dia akan terus berkelana seperti itu.” 


***


Hua Mei dan Murong Qiu sedang berlatih keras di bawah bimbingan Kakek Zhou, semenjak keluar dari Tanah Suci Para Pendekar, kemajuan pesat diperoleh Hua Mei, ia berhasil menembus Puncak Ranah Langit, saat ini kultivasi gadis itu sudah setara dengan Murong Qiu.

__ADS_1


“Cici aku akan kembali menyerang! Berhati-hatilah!” teriak Hua Mei.


Dengan Jurus Telapak Keluarga Hua, ia menyerang Murong Qiu yang selalu mengandalkan Jurus Ilmu Pedang Tetesan Embun.


“Whoossh!”


“Plaaakk!”


“Traannkk!”


Bunyi pukulan telapak dan tangkisan pedang tiada henti terdengar mengiringi setiap gerakan jurus yang dikembangkan keduanya.


Perkembangan Hua Mei memang sangat pesat, dalam hal gerakan jurus dan pengalaman bertarung pun ia telah menyamai Murong Qiu. Pertarungan besar saat melawan seniman bela diri yang terpapar energi Iblis memberikan mereka berdua manfaat yang nyata dalam peningkatan ini.


“Mei ‘er! Apa hanya segini saja gerakan serangan mu? Ini bahkan belum bisa menembus pertahanan Jurus Pedang Tetesan Embun milik Cici.” Balas Murong Qiu. 


“Baik, Cici coba bertahan lagi, kecepatan tangan dan kaki Mei ‘er akan lebih cepat dan  berbeda dari sebelumnya.” Hua Mei mempercepat gerakan tangannya, ia juga menggabungkan dengan Jurus Walet Mengunggang Angin.


“Bagus! Peningkatan kalian berdua membuat orang tua ini sangat takjub… Sudah cukup! Hentikan latihan kalian.” Kakek Zhou tiba-tiba menyuruh mereka menghentikan latihan.


Kedua gadis itu patuh, sama-sama menyurut mundur ke belakang, namun Hua Mei tidak dapat menahan diri untuk bertanya, “Kenapa Kakek minta berhenti? Padahal hampir saja bisa mengalahkan Qiu Cici.” Hua Mei merasa tanggung karena ia belum benar-benar mengalahkan Murong Qiu.


“Kita kedatangan tamu.” Jawab Kakek Zhou.


Kemudian, suara telapak kaki terdengar mendatangi, menyusul munculnya siluet bayangan dari pengurus rumah tangga Klan Hua yang tampak datang dengan tergesa-gesa.


“Tuan! Kedua Nona muda! Pesan Patriark ada tamu dari Kota Tian Yu datang. Hamba hanya dimintai Patriark untuk menyampaikan kabar ini pada Tuan dan Nona muda.” tertunduk-tunduk pengurus itu berkata-kata.

__ADS_1


“Baik! Kami akan mendatangi sesaat lagi.” Kakek Zhou melambaikan tangannya, menyuruh pengurus itu untuk segera berlalu dari sana.


Menghadapkan wajah pada kedua gadis itu, “Sana! Kalian berdua berbenahlah.” 


Keduanya menganggukkan kepala, melesat ke kamar masing-masing.


Kakek Zhou melihat kepergian kedua Gadis itu, sambil menunggu keduanya, ia kembali duduk di kursi dan meja batu yang ada di halaman tersebut, menikmati tehnya.


Ia sudah menebak, ini pastilah Gou Long yang berkunjung.


Tidak lama menunggu, Hua Mei telah muncul kembali, gadis itu telah mandi dan berganti pakaian, itu terlihat dari raut wajahnya yang terlihat lebih segar, kemudian Murong Qiu juga muncul, gadis ini juga telah berganti pakaian, namun ina tampil apa adanya, walaupun begitu kecantikannya yang alami tetap saja terlihat nyata.


“Ha ha ha… Tak kusangka kedua muridku ini sangat cantik. Mari kita ke aula utama Klan Hua!” ajak Kakek Zhou berjalan santai dan tidak tergesa-gesa, mengikuti di belakangnya kedua gadis itu.


Tiba di aula utama, Patriark Klan Hua sudah menunggu di sana beserta beberapa orang Penatua lain, di sebelah kanan aula duduk bersisian seorang pemuda dan laki-laki yang sudah menginjak usia tua.


Murong Qiu dan Hua Mei mengenal, orang tua itu adalah Duan Hong Ya, orang yang bertarung bahu membahu dengan mereka saat di Tanah Suci Para Pendekar. Sedangkan yang ada di sisi Duan Hong Ya, adalah pendekar kita, si Pengendara Petir Gou Long.


Kakek Zhou tidak beramah tamah lagi, ia langsung duduk di sisi kiri aula, Murong Qiu dan Hua Mei berdiri, mengepalkan tangan di depan dada, keduanya menghadap semua orang.


“Salam Patriark! Salam para Penatua! Salam Penatua Gou!” Murong Qiu mewakili, memberi salam pada semuanya. Yang dibalas dengan anggukan ringan oleh para Patriark dan para Penatua.


Gou Long, bangkit melakukan hal yang sama, “Selamat bertemu kembali Nona Murong dan Nona Hua!” kemudian ia duduk kembali.


Murong Qiu dan Hua Mei berjalan, duduk di sisi Kakek Zhou.


Patriark Klan Hua membuka percakapan, “Sekarang orang-orang yang bersangkutan telah hadir semua, kami sebagai Tuan Rumah mempersilahkan Penatua Gou menyampaikan maksud kunjungan ke Klan kami ini.”

__ADS_1


Gou Long tidak langsung berkata-kata, ia terlebih dahulu menenangkan hatinya, “Patriark Klan Hua sangat blak-blakan, padahal ada beberapa hal yang lain juga ingin Junior ini bicarakan dengan Patriark. Ini di luar hubungan antara Junior ini dengan salah satu Nona Klan Hua.” 


“Owh! Ada hal lain juga yang ingin Penatua Gou bicarakan? Kalau begini, Patriark ini juga akan mengajukan satu syarat pada Penatua Gou…” Patriark Klan Hua menuangkan teh ke dalam cangkir dan meneguknya.


__ADS_2