
Pagi hari itu, setelah Gou Long buka mata dari kultivasi dan membereskan segala keperluan, dia kembali mengulangi kelakuan aneh seperti kemarin.
Gou long masih setia dengan kitab bacaan yang sama, serta gerakan yang sama secara berulang-ulang. Kegiatan aneh Gou Long terus berlanjut sampai dua hari kemudian, bedanya hari itu kitab yang dibaca sudah berbeda dengan dua hari yang lalu.
Gou Long, sudah sepenuhnya menguasai, Kitab Tiga Belas Pukulan Penghancur Tulang, baik dari cara memukul maupun macam-macam bentuk perubahan. Hari ini, di tangan Gou Long terlihat jilid Kitab lain yang bernama, Kitab Delapan Belas Telapak Penakluk Naga.
Delapan Belas Telapak Penakluk Naga, merupakan jurus gubahan dari pengemis sakti, Ang chit Kong pada Zaman Pendekar Besar Kwee Cing di dimensi dunia yang berbeda. Entah bagaimana pukulan itu bisa sampai ke dimensi Dunia ini. (Authornya yang bawa _^)
Gou Long, dalam beberapa hari ini seperti kecanduan ilmu silat. Kembali pikirannya terbenam dalam setiap jurus-jurus yang sedang dipelajari. Kitab ini, lebih mudah dipahami Gou Long, selain karena bahasa yang tidak rumit juga dalam setiap jurus ada gambar-gambar orang bergerak dalam jurus tersebut.
Setelah membaca dan mencoba gerakan-gerakan jurus tersebut beberapa kali. Gou Long mulai mengerti, sebenarnya kitab ini kategori Ilmu Pukulan tingkat tinggi, sama seperti kasus sebelumnya, harus punya landasan tenaga dalam yang sangat kuat, baru bisa menjadi Pukulan Penakluk Naga.
Kalau cuma mengandalkan tenaga dalam rendah, maka hanya akan menjadi Pukulan Penakluk Kucing. Gou Long seperti berhasil mencapai ranah pemahaman baru dalam ilmu silat.
Pengalaman bertarung, beberapa kitab ilmu silat yang dia baca, juga Kisah Inspiratif dari si Pisau Kilat menjadikan pemahaman ilmu silatnya lebih sempurna dan mendalam.
Bukan jurus pukulan atau ilmu pedangnya yang lemah, tapi si pengguna yang lemah. Di tangan seorang ahli, daun bisa menjadi senjata rahasia. Di tangan seorang ahli, pedang kayu bisa mematahkan pedang besi.
Gou Long yang berhasil mencapai ranah pemahaman seperti itu menjadi sangat bahagia, dia berjingkrak-jingkrak, kegirangan.
__ADS_1
Saat itu, Gou Long sedang berjalan memasuki daerah pengunungan yang tumbuh banyak pepohonan besar dan lebat. Masyarakat setempat menamai bukit ini dengan, Bukit Serigala. Saat malam hari, akan banyak serigala berkeliaran di bukit ini.
Gou Long, dapat merasakan bahwa sejak tadi ada yang terus mengikutinya. Gerakan orang tersebut sangat halus, seakan-akan dia kenal dengan medan Bukit Serigala.
Gou Long lantas tersenyum semakin lebar, senyuman yang membuat Eira sangat penasaran semenjak empat hari yang lalu. Kemudian, Gou Long mulai mengembangkan ilmu meringankan tubuh, dengan sengaja dia bergerak tidak terlalu cepat.
Perasaan Gou Long akan adanya si Penguntit semakin nyata, ketika bayangan si Penguntit terlihat samar di belakang. Gou Long berlari semakin kencang, dan si Penguntit itu pun ikut mengejar dengan lincah.
Merasa kelincahan Gou Long tidak terkejar si penguntit itu berteriak keras. “Aaauuu!”
Kemudian dari dalam hutan itu menyahuti dengan suara yang sama. “Aaauuuu! Aaauuuu!” ....
Gou Long segera berhenti, dan berbalik ke arah si Penguntit. Sosok yang mengikuti Gou Long itu seorang pria dengan raut wajah seperti tikus serta dua gigi depan yang sedikit lebih besar menyempurnakan bentuk wajah tikusnya, usia orang itu berkisar tiga puluh tahun.
Dia menggunakan setelan baju tanpa lengan seperti para pemburu. Orang ini sejenis perampok tunggal yang mengandalkan serigala peliharaan yang sudah dididik serta patuh pada setiap arahannya.
Gou Long lalu berkata, “Kawan, sudah sejak pagi ku tahu kau terus menguntit ku, hanya saja aku membiarkanmu melakukan itu. Menurut tebakanku, kau si Pemulung yang suka membunuh orang yang lewat di daerah pengunungan ini demi merampas apa saja milik mereka, benarkah begitu?”
“He he he ... kalau sudah tahu, kenapa tidak berusaha kabur dari tadi pagi? Kau tidak takut, aku akan membunuhmu dan mengambil emas milikmu?” Si Muka Tikus balas bertanya dengan nada mengancam.
__ADS_1
“Aku sudah menguji budidaya dan tenaga tempur mu, tidak heran kau bisa sangat merajalela. Dengan Ranah Langit Tahap Awal, serta segerombolan serigala yang siap membantumu kapan saja ....”
“Aku juga tahu, emas tidak terlalu menarik bagimu, karena otakmu yang cerdas itu pasti berpikir para pengelana adalah orang-orang miskin, yang menarik bagimu adalah ini ...” Gou Long melanjutkan, sambil mengapit tiga jilid kitab ilmu silat di jari-jari tangan.
“Bocah, kau sungguh cerdas! Aku ingin tahu dari mana analisa mu itu berasal? Kemudian, baru aku akan membunuhmu. Aku punya banyak waktu untuk mendengarkannya,” tutur si Wajah Tikus, lalu dia terus meletakkan pantat di atas tanah lembab, serta menunjukan sikap ingin mendengarkan.
“Baiklah, kalau itu mau mu. Aku juga tidak keberatan menunda kematian mu sedikit lebih lama,” jawab Gou Long, Kemudian dia mulai menjelaskan. “Beberapa hari yang lalu, aku melihatmu di toko Nona Lan. Secara tidak sengaja ketika Nona Lan menyerahkan cincin penyimpanan, dia menyebutkan kata-kata. ‘Setiap kitab seharga lima keping emas.’ saat itulah aku melihatmu, raut wajahmu tampak gembira ....”
“Nah, hal itu masih menyamarkan sedikit ingatanku. Namun, tiga hari yang lalu samar-samar aku ingat, pernah melihat dirimu di Pelelangan Kota Xia Yu, kau sudah tentu tidak melihatku karena aku duduk di tempat VIP ....”
Gou Long lalu mengeluarkan jilid kitab lain, itu adalah kitab jurus, Ilmu Pedang Angin dan Petir. “Kau pasti mengenal kitab ini, karena kau lah yang menjualnya ke pelelangan. Ha ha ha ... kau pasti tidak pernah mengira, aku melewati pengunungan ini empat hari yang lalu, saat aku berjalan ke arah berlawanan dari pegunungan ini ....”
“Aku, sengaja berjalan sangat lambat agar tidak terlalu cepat sampai ke sini, sehingga ketika aku sampai ke sini, kau sudah siap untuk menguntit ku. Aku juga tidak lupa memasang perangkap yang sangat kau gemari, perangkap kitab ilmu silat ....”
“Bukankah lebih menguntungkan menjual kitab ilmu silat, dari pada menjarah harta para pengelana yang tidak seberapa? Sayang sekali, kali ini kau masuk ke dalam perangkap ku. Semenjak aku memenangkan kitab ini di pelelangan tempo hari, aku sudah bersumpah akan membereskan orang yang membunuh saudara perguruan ku.” Gou Long menutup penjelasannya dengan nada datar, tapi sorot mata memperlihatkan tekad yang kuat.
Si Wajah Tikus, bangkit dari duduknya lalu dia berkata, “Analisa, rencana, dan perangkap mu sudah sangat sempurna, lantas kau ingin membunuhku? Apa kau yakin punya kemampuan? Lihatlah, makhluk-makhluk yang kelaparan di belakangmu Bukankah sepantasnya aku yang bertanya, apakah kau sudah siap mati bocah?”
“Ha ha ha ....”
__ADS_1
Nada suara tertawa si Muka Tikus menggema di hutan itu.