Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 123. Buah Dari Kesombongan


__ADS_3

Sambil mengeram keras, dia berteriak, “Bocah keparat! Sekarang kesempatanku untuk membalasmu!” kesombongannya telah hilang dan tergantikan dengan kemarahan.


Tan Koai melesat cepat ke arah Gou Long dengan menggunakan tinjunya sebagai media penyerangan.


“Kau sudah tidak memiliki kesempatan!” ujar Gou Long sengit, sambil membalas dengan 10 pukulan Telapak Arhat menggunakan hawa tenaga dalam yang saling bergantian petir dan es. Itu adalah hasil latihan dan pengembangan yang diperoleh Gou Long setelah mempelajari kitab peninggalan Pendeta Sesat.


Tan Koai yang sedang melesat ke arah Gou Long tidak sempat menghentikan gerak tubuhnya, dia terpaksa menyongsong 10 Pukulan Telapak Arhat yang dilepaskan Gou Long.


Empat pukulan pertama dapat dibuyarkannya, enam pukulan lain yang menyusul di belakangnya dengan telak kena di tubuh Tan Koi, orang tua sombong ini terbang bagaikan layang-layang putus, setelah terhempas dalam jarak 20 tombak tubuh jatuh bergedebruk ke atas tanah tak bernyawa.


Inilah buah dari kesombongannya sendiri yang menyebabkan dia mati penasaran akan kehebatan lawan mudanya.


Ajal menjemput bahkan sebelum dia sempat menyentuh lawan walau hanya sedikit dari lengan baju. Gou Long melesat ke arah mayat Tan Koai, mengambil cincin penyimpanan orang tersebut, lalu memerintahkan salah satu dari pekerja untuk mengubur mayat Tan Koai.


***


Hua Yan Ran masih mengingat dengan jelas, bahwa tahun ini akan dibuka kembali Tanah Suci Para Pendekar yang ada di Daratan Tengah, bahkan setahunya Klan Hua juga termasuk salah satu dari para pemegang  kunci Tanah Suci Para Pendekar.


Dia segera mengajak dua orang teman terdekatnya Ying Susu dan Qiau Lien kembali ke Daratan Tengah, mereka berdua juga anggota 7 Klan besar di Daratan Tengah yaitu dari Klan Qiau dan Klan Ying, keberangkatan Hua Yan Ran dan dua orang kawannya terjadi tepat setelah 3 hari keberangkatan Kakek Zhou, Hua Mei dan Murong Qiu.


Hua Yan Ran yang sudah terbiasa hidup bebas, melakukan perjalanan seperti kaum persilatan umumnya. Gaya hidupnya memang berbeda dengan anggota Klan Hua yang lain, semenjak berhasil menipu sebagian besar anggota Klan Hua, Hua Yan Ran sering berkunjung dan berlatih dengan sahabat-sahabatnya dari Klan Ying dan Qiau yang berposisi tidak terlalu jauh dengan Kota Zhenzu.

__ADS_1


Dia sangat jarang ada di area Klan Hua, ketika di area Klan pun sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam perpustakaan Klan. Hua Yan Ran dapat merasakannya, bahwa anggota Klan Hua seperti mengucilkannya. Sehingga Hua Yan Ran juga tidak ingin bergantung pada Klan.


Setelah 6 tahun kehidupan seperti itu dijalaninya di Klan Hua, dengan mengajak Ying Susu dan Qiau Lien mereka bertiga pergi berkelana dalam usia yang baru beranjak 18 tahun.


Hua Yan Ran sudah pasti pergi dari Klan Hua tidak dengan tangan kosong, hari-hari yang dihabiskannya di perpustakaan digunakan untuk membaca dan menyalin beberapa Kitab Ilmu Silat yang dimiliki Klan Hua, baik itu Ilmu Pedang atau Ilmu Telapak, yang sangat dia sayangkan adalah Kitab Jurus Telapak Keluarga Hua yang ada di perpustakaan hanya berisi setengah dari Kitab aslinya, atau setengah dari Jurus Telapak Yang akan diajarkan oleh para Tetua Klan.


Mungkin karena hati kecil Hua Yan Ran yang merindukan adiknya Hua Mei, setelah 5 bulan berkelana mereka bertiga malah bergabung dengan Sekte Naga Langit di Daerah Selatan, dan hanya dalam jangka waktu 5 bulan berada di Sekte ketiganya berhasil menjadi Murid Inti Sekte. Walau kemudian dia tidak bertemu Hua Mei secara langsung, namun ia sering melihat Hua Mei berlatih secara sembunyi-sembunyi.


Keberangkatan mereka bertiga sudah terlebih dahulu meminta izin pada petugas administrasi sekte, sehingga tidak dianggap kabur dari sekte. Karena perjalanan ini dilakukan seperti para pendekar yang berkelana serta tidak menggunakan kereta kuda. Perjalanan mereka menjadi lebih cepat dari pada perjalanan Kakek Zhou, Hua Mei dan Murong Qiu.


Sebulan kemudian mereka telah sampai kembali di Daratan Tengah. Hua Yan Ran memutuskan untuk tidak kembali ke Klan Hua, “Susu! Bagaimana kalau aku menetap di kediamanmu untuk sementara ini? Aku belum berpikir untuk kembali ke Klan Hua!”


“Aku juga akan ikut bersama kalian! Sebentar! akan kukirim berita pada ayahku, bahwa aku tidak akan kembali ke Klan sementara waktu!” Qiau Lien tidak mau ketinggalan dan berpisah dengan kawan-kawannya berkata cepat sebelum Ying Susu menjawab perkataan Hua Yan Ran.


“Ayo! Sebaiknya kita bergegas menuju Klan Ying.” Lanjut Ying Susu.


Mereka bertiga segera melesat cepat menuju Klan Ying.


Begitulah adanya hubungan antara setiap anggota Klan Besar ini, ada yang berteman baik dan ada yang saling bermusuhan, bahkan harus saling membunuh.


Namun setiap kepentingan pribadi anggota Klan akan terlepas dari tanggung jawab Klan, ketika perkelahian antara anggota Klan terjadi dan bahkan harus dengan risiko kehilangan nyawa. Ini menjadi semacam hukum tidak tertulis, Klan tidak akan turut campur, keluarga terdekat harus bisa merelakan, atau dia bisa turun tangan sendiri membalas kekalahan putranya atau putrinya.

__ADS_1


Peperangan besar antara sesama Klan dapat merusak keseimbangan dari Daratan Tengah ini, sehingga memicu perang antara Klan akan sangat tabu bagi mereka.


***


Gou Long yang telah membunuh Tan Koai serta mengambil cincin penyimpanannya kembali ke ruangan pribadi. Dia mengecek isi dalam cincin penyimpanan Tan Koai, plakat kelima segera ditemukan Gou Long di dalamnya.


Ia juga menemukan 1000 keping emas, beserta beberapa Artefak Ranah Langit, kemudian sejilid kitab dan beberapa potong pakaian, isi cincin ini sangat berharga, Tan Koai seperti orang yang siap akan membangun sekte kecil saja.


Gou Long mengeluarkan Kitab tersebut. tidak ada penjelasan nama kitab di lembaran kulit kitab itu, penasaran Gou Long segera membukanya.


“Kitab ini adalah gubahanku sendiri, ini merupakan trik kecil untuk bisa terbang setelah seseorang berhasil mencapai Ranah Surgawi...”


Setelah membaca beberapa saat Gou Long segera memahami, orang ini memang memiliki ambisi tinggi dan mungkin saja ingin membesarkan namanya sendiri di Daratan Tengah.


Karena tidak ada manfaat yang diperoleh dari kitab tersebut, Gou Long lantas menyimpannya kembali, dan mulai mengecek lebih lanjut isi cincin penyimpanan Tan Koai. Indra spiritual Gou Long dapat melihat dibalik beberapa setel pakaian Tan Koai tersembunyi sebuah cincin penyimpanan lainnya.


“Apa yang dia lakukan ini sama seperti apa yang kulakukan, menyimpan cincin lain di dalam cincin penyimpanan! Dia pasti menyembunyikan rahasia lain di dalamnya.” Pikir Gou Long.


Dia segera saja mengeluarkan cincin tersebut dan mengeceknya, isi dari cincin ini segera saja membuat Gou Long terpaku di tempat untuk sesaat, kemudian dia tertawa keras dan bahkan sampai menggetarkan Gunung Teratai.


“Ha ha ha!”

__ADS_1


“Ini benar-benar sebuah berkah surgawi, dengan ini ikan besar akan sangat mudah didapatkan!” pikir Gou Long setelah puas tertawa.


__ADS_2