
Tenang bagaikan air telaga yang sangat dalam, Huo Cin Lam memforsir Kaisar Qi di dalam tubuh secara gila.
Aura keemasan pucat keluar dari tubuhnya. Saat pukulan keras dan ganas dari Kiat Cu Pat meledak dahsyat dan bisa membinasakan apa saja yang terkena pukulan itu.
Huo Cin Lam menghilang dari pandangan mata, hanya Gou Long yang tahu posisi dari pemburu baik hati itu.
Ya, bisa dikatakan saat itu Huo Cin Lam langsung mengembangkan Teknik Memindah Jasad yang baru saja ia pelajari dari Gou Long. Teknik itu sangat unik, saat pertama kali mempelajarinya Gou Long hanya berpikir bahwa ini hanya terkait posisi kaki dan cara kontrol tenaga dalam halus dan dikeluarkan melalui telapak secara terus-menerus.
Namun, setelah hampir setiap saat menggunakan teknik tersebut, Gou Long menyadari adanya langkah-langkah kaki yang sangat rumit dan berpola pada pemahaman Feng Shui oktagonal/pat kwa/pola delapan sisi.
Setiap kali berpindah posisi maka akan muncul pola okatagonal yang baru. Sehingga ketika pemahaman ini digabungkan dengan teknik meringankan tubuh. Maka, terciptalah Teknik Memindah Jasad.
Hanya orang yang pernah mempelajari rahasia itu akan tau arah mana perpindahan tubuh dari Huo Cin Lam.
Kiat Cu Pat terlihat sangat senang saat ia mengira Huo Cin Lam akan menjadi perkedel setelah terkena pukulan darinya. Tapi, kemudian saat ia melihat bayangan dari Huo Cin Lam telah keluar dari area pukulan dan masih dalam keadaan baik-baik saja, Kiat Cu Pat menjadi sangat terkejut dan bertambah murka.
“Bagaimana? Bagaimana cara keparat itu mengelak? Seingatku kecepatan yang ia perlihatkan tidak seperti ini sebelumnya.” Kiat Cu Pat heran dan bercampur penasaran. Namun, keheranan dalam hatinya jelas tidak akan pernah terjawab.
Tapi kemudian, mulutnya tetap memuji, “Gerakan yang bagus, kau boleh merasa senang karena berhasil mengelak pukulan pertama.” Kiat Cu Pat coba menyembunyikan keterkejutan.
Huo Cin Lam terlihat acuh. “Orang yang akan mati pasti akan selalu lebih banyak berbicara dari pada orang lain.”
__ADS_1
Berkata seperti itu, tombak panjang terlihat muncul dalam genggaman tangan Huo Cin Lam. Kali ini, dia langsung bergerak menyerang–Jurus Tombak Naga Menyongsong Awan. Pembukaan serangan dari orang ini telah berkembang banyak.
Setelah berhasil menguasai Teknik Memindah Jasad, tubuh yang berpindah-pindah tanpa bisa dapat ditebak arah tujuannya. Membuat Kiat Cu Pat sangat kebingungan, orang yang tersebut nama terakhir tidak mau terkena serangan tombak begitu saja.
Kiat Cu Pat juga telah mengeluarkan pedang panjang. Setiap kali ujung mata tombak hampir mengenai tubuh, Kiat Cu Pat selalu berhasil menangkis dengan pedang bahkan coba balas menebas Huo Cin Lam yang bergerak parah arah tak pernah menentu.
Bunyi dentingan pedang dan ujung tombak yang terus beradu menambah keseruan dari pertarungan itu.
Kemudian Hawa pukulan yang berwarna kuning keemasan memenuhi hampir di seluruh arena pertarungan hidup dan mati, serta dentuman besar kecil tiap kali pukulan tangan mereka saling beradu mendatangkan perasaan tegang dalam hati setiap penonton.
Di kursi penonton, ketegangan juga tidak kalah dengan arena pertarungan hidup dan mati.
Setelah beberapa kali melihat Huo Cin Lam terus berhasil mengelak dari tebasan pedang serta pukulan yang dilakukan oleh Kiat Cu Pat, rasa khawatir mulai muncul di dalam hati mereka.
Yang para penonton khawatirkan bukanlah kematian dari Kiat Cu Pat. Akan tetapi, mereka lebih mengkhawatirkan kepada kristal kaisar yang telah dijadikan bahan pertaruhan pada pertarungan hidup dan mati. Satu berbanding tiga bukanlah jumlah yang kecil, andai kalah mereka pasti akan membayar sebesar tiga bagian lain ke pihak penyelenggara taruhan.
Sementara itu di kelompok Huo Cin Lam, raut keterkejutan juga tidak dapat disembunyikan oleh bawahan Pemburu Huo dan Xiao Ziyan.
“Apakah ini bagian dari rencana yang engkau katakan akan menguras harta mereka semua?” Orang yang sebelumnya pernah bertanya pada Xiao Ziyan kembali mengulang pertanyaan. Dia juga menyesalkan akan diri sendiri karena tidak ikut bertaruh. “Kenapa Nona Ziyan tidak mengajak kami ikut bertaruh, padahal Nona Ziyan telah mengetahui kemenangan yang akan diperoleh Huo Twako.”
Dicerca dengan berbagai pertanyaan dan tuntutan, Xiao Ziyan menjawab secara jujur, “Sebenarnya, aku juga tidak yakin dengan taruhan yang tadi ku pasang. Pada kenyataannya, ini semua adalah akal dari Pemburu Gou. Dialah yang telah memintaku untuk memasang taruhan.”
__ADS_1
“Owh! ...” Hanya itu tanggapan dari orang yang bertanya. Sorot mata pemburu tersebut jelas memperlihatkan kekecewaan. Melihat ke arah Gou Long, “Kenapa Pemburu Gou tidak menjelaskan rencana licik ini pada kami?” tanya orang tersebut, kecewa.
Saat Gou Long ingin menjawab ....
Tapi kemudian ucapan dari Xiao Ziyan, membuat tujuh orang pemburu lainnya di sana sumringah, bahagia akan kebaikan hati Xiao Ziyan.
“Rekan pemburu sekalian tidak perlu berkecil hati, saat Pemburu Gou memintaku untuk memasang taruhan, walau dalam hati kecil muncul sedikit keragu-raguan. Namun, aku juga bertaruh atas nama kalian bertujuh.”
Xiao Ziyan tersenyum jahat, matanya melihat kepada seluruh penonton di arena hidup dan mati. “Orang-orang itu memasang taruhan satu banding tiga. Tapi aku bertaruh atas nama kalian sebanyak satu berbanding lima.”
“Bagaimana menurut kalian apa aku kurang banyak menguras harta mereka?”
Dasar para pemburu ini bukanlah orang-orang yang tamak, sehingga berbanding lima saja sudah cukup membuat mereka senang. Mereka tidak menjawab pertanyaan dari Xiao Ziyan, walaupun begitu raut wajah dan sorot mata mereka jelas memperlihatkan rasa terima kasih yang besar.
Sementara itu pertarungan di arena hidup dan mati sudah berlangsung hampir setengah dupa. Sumber Kaisar Qi yang dimiliki Kiat Cu Pat memang lebih banyak beberapa tingkatan jika dibandingkan dengan Huo Cin Lam.
Itu sebenarnya bisa saja menjadi kartu as bagi Kiat Cu Pat. Namun karena gerakan Huo Cin Lam yang sangat cepat, pertarungan menjadi sangat berimbang. Beruntungnya kedua orang pemburu itu sama-sama belum terluka.
Kiat Cu Pat sudah tidak bisa menahan diri, ia menjadi sangat marah karena setiap pukulan dan tebasan pedang tidak pernah mengenai lawan. Kutuk serapah tiada henti terdengar dari mulutnya. “Keparat! Pengecut! Anjing licik! Apa kau sangat pengecut? Kenapa terus menghindar?”
Huo Cin Lam benar-benar menebalkan daun telinga, ia tidak peduli sama sekali pada kutuk serapah yang dikeluarkan oleh Kiat Cu Pat. Otak dan pikiran Huo Cin Lam seratus persen ia fokuskan pada gerakan–Jurus Tombak Naga Menyongsong Awan.
__ADS_1
Ada beberapa hal yang dirasakan oleh Huo Cin Lam pada jurus tersebut kurang sempurna, ketika digabungkan dengan Teknik Memindah Jasad. Pemburu ini dengan sengaja mengulur waktu dan memperlambat pertarungan, karena tujuan menguras Kaisar Qi di dalam tubuh lawan, serta mengembangkan kekurangan yang ada di dalam teknik serangannya.