
Eira dan Siauw Xiezy tidak membantah, keduanya melesat cepat terjun ke dalam gelanggang pertempuran Hua Mei dan Ding Jia Li.
Salah satu dari dua lawan Hua Mei, adalah si Nomor Urut Sepuluh yang sebelumnya sempat mengejek Gou Long, guna menjatuhkan mentalnya, anak muda itu mencibir keras, “Bagaimana? Apa kau sudah mencobanya? … Ha ha ha, bukankah sekarang pihak aku menjadi lebih kuat jika dibandingkan saat pertama tadi?!”
Sudah pasti jawaban tidak akan didapatkan oleh si Pemuda, akan tetapi efek dari perkataannya itu terlihat nyata di gelanggang pertempuran. Nyali si Nomor Urut Sepuluh menjadi semakin menciut.
Sejak turunnya Eira dan Siauw Xiezy, pertarungan cepat kembali terjadi. Bagi keduanya, tiga orang lawan saja sangat mudah untuk ditaklukan, sedangkan saat ini, hanya dua orang lawan yang kualitasnya jelas di bawah tiga orang tadi.
Itu tidak jauh berbeda dengan kematian enam orang sebelumnya, Eira mencubit dan menghancurkan leher lawan, sedangkan Siauw Xiezy dengan serangan jarum-jarum halus beracun membunuh cepat.
Pihak Gou Long tidak ada kerugian sama sekali, sementara pihak Organisasi Ordo Setan Hitam, hanya menyisakan tiga pimpinan utama dan beberapa orang murid yang masih terus bertahan sengit coba mencari jalan hidup.
Penatua Yang Chen yang bertarung dengan empat orang gadis cantik pelayan dari Nyonya Dong juga sudah berakhir sejak tadi, keempat gadis cantik itu menemui kematian cepat. Penatua Yang Chen awalnya bertarung sendirian, tapi kemudian beberapa orang murid elite Sekte Naga Langit turun mengambil satu lawan.
Dari orang yang dikeroyok, Penatua Yang Chen dan empat murid Sekte Naga Langit malah berbalik mengeroyok keempat gadis pelayan tersebut.
Dikeroyok lima, membuat empat orang itu tertekan hebat, hingga akhirnya mereka satu persatu tumbang, ada yang terpotong kepala, tertusuk tepat di jantung dan ada yang terkena pukulan telapak, yang dengan segera menghancurkan organ dalam.
Sementara itu di sudut lain ….
Pertarungan antara Murong Qiu dan tiga Patriark Keluarga Utama Kota Xia Yu juga sudah sampai pada puncaknya.
Jin Tengsin dan Zhang Ceng yang ikut menemani ayah mereka ke Lembah Tengkorak, berniat membantu orang tua mereka.
Akan tetapi, saat mereka melesat dengan pedang di tangan coba menyerang Murong Qiu, Gou Long melepaskan totokan dari jarak jauh dengan pengerahan tenaga dalam. Totokan itu, tepat mengenai otot paha dan betis keduanya.
Mereka tidak bisa bergerak, keduanya bersimpuh di atas lutut kaku, hanya memperlihatkan bola mata yang bergerak liar dan kepakan bulu-bulu mata, geram tiba-tiba tertotok begitu saja.
Gou Long masih mengingat dengan jelas, merekalah empat tahun yang lalu telah menghinanya, saat Festival Alkimia di Kota Xia Yu.
Setelah melancarkan serangan totokan jarak jauh, Gou Long berkata, “Kalian duduk dan nikmati saja pertarungan itu, kalau kalian mempunyai kepandaian kelak kalian boleh menuntut balas padaku. Anggap saja ini adalah kebaikanku dalam membalas penghinaan kalian dahulu.”
__ADS_1
Kemudian dia berbalik menatap tajam ke arah tiga orang iblis pimpinan Organisasi Ordo Setan Hitam. “Kalian, boleh memulihkan tenaga dalam untuk sementara waktu, aku punya banyak waktu dan bersedia menunggu kalian dalam kondisi prima.”
Sepasang Iblis Hitam dan Putih, Nyonya Dong memperhatikan ke sekeliling. Ketiganya sadar, tidak ada jalan lari lagi, sekarang mereka telah dikepung ketat, murid-murid mereka terus berjatuhan satu persatu.
Murid-murid Sekte Naga Langit juga tidak kalah banyak yang sudah jatuh dan tewas.
Di sekeliling mereka, membentuk lingkaran besar orang-orang dari pihak si Pemuda yang telah menyelesaikan pertarungan masing-masing.
Siauw Xiezy, Eira, Ding Jia Li, Hua Mei, He Fei, Ye Xuan, Patriark Song dan semua Penatua Sekte Naga Langit, juga masih duduk dengan santai di langit perempuan berpakaian serba hijau yang tidak mempedulikan apapun.
Fakta yang terpampang di depan hidung ini, membuat ketiga orang iblis tersebut mengambil kesempatan yang diberikan Gou Long.
Lantas, ketiganya duduk bersila menghirup hawa murni yang terkandung di tempat tersebut. Lebih baik bertarung dalam kondisi prima, daripada menonton tanpa melakukan apapun.
Murong Qiu bertarung dengan gagah berani, ia menggunakan jurus ilmu pedang milik keluarga Murong.
“Baiklah para Paman sekalian, biar keponakan yang tidak berbakti ini memperlihatkan Jurus Ilmu Pedang Hujan Embun pada Paman sekalian,” Murong Qiu jelas mengejek ketiga Paman yang dulu dianggap keluarga. “Hati-hati, permainan pedang keponakan lebih ganas jika dibandingkan mendiang ayah yang memainkan.”
Dasar mereka yang sudah sangat kelelahan setelah bertarung dengan Murong Qiu hampir dua ratus gerakan. Mereka masih berusaha membujuk dan memberikan alasan.
“K-keponakan M-murong! D-dengarkan penjelasan kami d-dulu–” terbata-bata Patriark Peng coba beralasan.
Murong Qiu tertawa riang, permainan pedang terus dikembangkan. Ia memotong cepat perkataan dan alasan yang dikemukakan oleh Patriark Peng. “Keponakan memang sejak tadi telah mendengar penjelasan dari Paman sekalian. Tapi–” Murong Qiu menahan ucapan, sedangkan tangannya terus bergerak.
“Kraass!” sebelah lengan dari Patriark Jin tertebas kuntung.
“Tapi, tangan Keponakan yang bersilat ilmu pedang tidak punya telinga. Dia tidak mau berhenti menyerang para Paman sekalian.”
“Krasss!”
“Krasss!”
__ADS_1
Sekarang giliran kaki kiri Patriark Peng dan tangan kanan dari Patriark Zhang yang ditebas Nona Murong.
“Lenganku ….”
“Kakiku ….”
“Aaarrgghh! ….”
Raungan kesedihan dan rasa sakit yang menimpa keduanya, sesaat membuat mereka lupa, bahwa mereka sedang dalam arena pertarungan.
Murong Qiu menikmati rasa sakit yang diterima para Paman kerabat ayahnya dahulu, kembali ia mengejek, “Nah, kan! Tangan keponakan benar-benar tidak memiliki mata dan telinga, dia bergerak sendiri dan tidak mau berhenti.”
“Keparat! Tidak perlu kau mempermainkan kami, mau bunuh lekas bunuh, jangan menyiksa kami dengan satu-satu tebasan seperti ini.” Patriark Jin yang paling berangasan di antara ketiganya membentak kesal, saat lengan terpotong orang ini juga tidak mengeluarkan teriakan ataupun jeritan.
Dia terus menangkis dan berusaha mengimbangi Ilmu Pedang Murong Qiu. “Kalian berdua! Jangan bertingkah seperti anak kecil, kematian sudah pasti kita dapatkan, tapi … kita juga harus berhasil memberikan luka fatal pada budak sombong ini.”
Patriark Jin coba membangkitkan kembali semangat dari Patriark Peng dan Patriark Zhang.
Untuk sesaat, memang semangat keduanya kembali terbangkit, setelah menotok dan menghentikan pendarahan di paha serta lengan masing-masing yang putus.
Ketiganya kembali dengan sengit melakukan perlawanan keras pada Murong Qiu.
Sambil menyambut serangan ganas dari tiga orang Patriark tersebut. “Baik, karena paman sekalian sudah meminta kematian, maka Keponakan akan memenuhi permintaan para Paman sekalian.”
Murong Qiu mengubah permainan ilmu silatnya, tangan kanan bergerak dalam jurus Ilmu Pedang Hujan Embun, tangan kiri bergerak dalam jurus Telapak Keluarga Hua, sedangkan langkah kakinya digerakkan berdasarkan langkah ajaib Jurus Walet Menunggang Angin.
Perpaduan tiga jurus ini sangat hebat, tubuh Murong Qiu layaknya kupu-kupu, bergerak pelan tapi tidak bisa ditangkap dan tidak bisa di jangkau pukulan atau tusukan pedang.
Sedangkan dia sendiri dengan mudah melakukan tepukan keras di dada tiga orang lawannya, setelah melakukan tepukan, tiga kali tusukan beruntun tepat di jantung, mengirim ketiga orang tersebut menghadap Raja Neraka.
Gadis itu berdiri gontai setelah berhasil membunuh ketiganya. “Ayah … anak telah menuntut balas … semoga arwah ayah tenang di alam sana …” ucapan yang dikeluarkan dengan nada sendu.
__ADS_1
Bulir-bulir kristal bening terlihat menetes pelan di pipi gadis itu.