Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 51. Patriak Generasi Ketiga


__ADS_3

Setelah benar-benar memahami konsep dasar Teknik Terbang, Gou Long terus berlatih dan akhirnya berhasil memperhalus tenaga murni yang dikeluarkan sekaligus menghilangkan daya hancur yang berlebihan.


Kejeniusan Gou Long dalam hal ilmu bela diri berdampak nyata pada hasil latihannya pagi ini, dia seperti orang yang sambil menyelam minum susu.


Tidak hanya berhasil melatih Teknik Memindah Jasad, akan tetapi dia juga telah memahami rahasia Teknik Terbang dan seperangkat jurus original Gou Long, “Tendangan Selaksa Telapak Raksasa.” yang memiliki daya hancur sangat besar.


Setengah hari penuh Gou Long berlatih, namun dia belum puas dengan mainan baru. Pada akhirnya dia memutuskan untuk mengajak Kakek Awan Putih adu daya tahan.


“Kakek, orang-orang menyebutmu dengan Awan Putih. Pasti daya tahan terbangmu seperti Awan, tidal perlu turun. Bagaimana kalau kita berlomba? Kakek temani aku berlatih daya tahan terbang, kalau Kakek bisa bertahan lebih lama ... akan ku masak makanan terenak nanti malam. Kalau kakek kalah, kita tidak akan makan, menahan lapar semalaman.”


Gou Long, memprovokasi Kakek Awan Putih, dan itu terbukti ampuh, manusia mana yang mampu melawan rasa untuk terus bertahan dari kekurangan kebutuhan perut dan bawah perut. Begitulah Kakek Awan Putih yang sudah cocok dengan rasa dari masakan Gou Long, dia tidak bisa menahan, walau hanya satu waktu.


Tanpa pikir panjang Kakek Awan Putih, menyetujui permintaan Gou.


“Baiklah, dan kau bocah bersiaplah untuk menyiapkan masakan yang banyak guna memenuhi selera besar orang tua ini nanti. Orang tua ini tidak akan memberimu sedikit keringanan.” Kakek Awan Putih, langsung melesat terbang tinggi.


Tidak mau terlihat lemah, Gou Long lantas menyusul terbang. Mereka bermain-main di langit tinggi, hanya terlihat dua titik kecil yang melesat adu kecepatan dan adu pukulan.


Hari itu, terlewati dengan adu daya tahan yang berakhir dengan kekalahan Gou Long, dia pun harus menyiapkan masakan, hukuman dari kekalahan taruhan.


***


Dua bayangan manusia bergerak cepat menuju Sekte Naga Langit, dalam penglihatan setiap orang yang mereka lewati, kedua manusia itu berjalan dengan santai. Namun, anehnya tidak ada yang dapat melihat bagaimana mereka berdua melangkah, sampai bisa menempuh jarak ratusan meter dalam sekali langkah.

__ADS_1


Kedua manusia ini, sudah tentu Gou Long. Di atas bahu, dengan imut duduk anak rubah dewasa, yang dengan nyaman menepuk-tepuk leher Gou Long dengan ekornya. Yang seorang lagi, Kakek Awan Putih yang menemani dan membimbing Gou Long selama perjalanan.


“Bocah! Di Sekte Naga Langit, bukit manakah kau tinggal? bawa aku ke sana.” Kakek Awan Putih bertanya pada Gou Long.


“Arah sana, Kek. Bukit yang ada sungainya, Kek.” Gou Long terus melesat, sambil menunjuk bukit yang dari kejauhan sudah tampak.


“Oo ... bukit air mata Naga,” ujar Kakek Awan Putih, yang samar-samar didengar Gou Long.


“Mari kita bergegas ke sana!” lanjut Kakek Awan Putih. Lantas, mereka berdua segera melesat lebih cepat ke arah bukit tersebut.


Dari jarak sejauh itu, Gou Long telah melihat ada enam sosok manusia, sedang asik makan di bukit tersebut. Gou Long juga melihat bangunan rumah baru, sedikit lebih besar dari gubuk yang ia tempati dahulu.


Gou Long mengenali lima orang yang ada di bukit tersebut, yaitu Kakek Zhou dan murid-muridnya. Sementara, seorang laki-laki paruh baya yang sedang bersama mereka tidak dikenali oleh Gou Long.


“Salam Penatua, murid telah kembali, murid sadar telah berlaku sembrono serta memancing keributan di perpustakaan. Murid sadar, pantas dihukum untuk kesalahan tersebut.”


Semua orang yang hadir di tempat itu terpaku di tempat untuk sesaat, baru kemudian kegembiraan terlihat dari raut wajah semua orang.


“Bocah ... bangkitlah! Suatu kebanggaan besar bagi kami dengan kembalinya dirimu dari Hutan Seribu Ilusi, jangan kau ungkit-ungkit lagi kesalahanmu yang tidak seberapa itu. Rasa khawatir dan sesal dari kami di sini lebih besar dari rasa penyesalan mu.” Kakek Zhou langsung menanggapi penghormatan yang di berikan muridnya itu, serta menyuruhnya berdiri.


“Sadis Tua! Inikah murid yang tadi kau sebut-sebut?” Laki-laki paruh baya yang tak dikenal Gou Long angkat bicara, laki-laki itu terus mendekati Gou Long dan menepuk-nepuk bahu Gou Long.


“Bocah baik ... bocah Baik,” ucap laki-laki itu, dalam setiap tepukan disertai dengan tenaga dalam yang menekan tubuh Gou Long, dia sedang menguji kedalaman fondasi hawa murni Gou Long.

__ADS_1


Gou Long merasakan hawa tekanan yang sebesar Gunung menekannya, keras. Lantas, dia menahan dan melawan hawa tekanan itu sambil berkata, “Paman ini?” Gou Long melirik ke arah Penatua Zhou, meminta jawaban dari beliau.


Mendapat perlawanan dari Gou Long, laki-laki paruh baya tersebut sekilas seperti orang yang terkejut. Namun, kemudian dia tersenyum semakin lebar.


“Dia adalah Patriark Sekte Naga Langit kita, Patriark Song adanya ...” jawab Penatua Zhou.


Gou Long segera memberi penghormatan pada Patriark Song. “Salam Patriark, maafkan murid yang punya mata tapi tidak melihat tingginya Gunung Naga,” ucap Gou Long.


“Anak baik, tidak perlu banyak adat, kita merupakan orang sendiri. Mari kita lanjutkan makan dan minum saja,” ajak Patriark Song, kemudian dia langsung kembali ke kursi tempat duduknya semula.


Belum sempat orang-orang yang berada di bukit ini menghilangkan perasaan terkejut, serta melepaskan rasa rindu yang sudah sangat lama terpendam dalam hati. Mereka terkejut oleh sebait gelombang suara yang dipancarkan oleh siluet bayangan putih lain yang hadir di tempat tersebut.


“Bocah! Kau sungguh tega meninggalkan Kakek di belakang, apa kau tidak ingat tulang-tulang tua ini akan keropos kalau terus-menerus menyaingi kecepatan mu.” Kakek Awan Putih, hadir di tempat itu juga sambil menggerutu karena Gou Long tiba-tiba meninggalkannya.


“Maafkan aku, Kek. Aku hanya sedikit terbawa perasaan karena orang-orang yang paling baik dalam hidupku semua ada di sini,” jawab Gou Long singkat.


Kehadiran Kakek Awan Putih di tempat tersebut, membuat Kakek Zhou dan Patriark Song memucat di tempat. Mulut terbuka lebar, tanpa sadar mereka berdua serentak berkata, “P-patriark Generasi Ketiga, Song Bu kek.”


“Salam Patriark ...” ucap Penatua Zhou dan Patriark generasi kelima; Song Ki secara bersamaan.


Tidak pernah terbayang, dalam hidup mereka berdua, bahwa Patriark Generasi Ketiga masih hidup di Dunia ini.


“Hai, bocah sadis ... hai, Song kecil ...” Kakek Awan Putih, menyapa Kakek Zhou dan Patriark Song dengan sangat santai, seperti orang tua yang sedang menyapa anak-anaknya yang nakal.

__ADS_1


__ADS_2