
Gou Long membuka mata, bangkit berdiri lalu menggerak-gerakan otot kaku karena kultivasi yang dilakukan memakan waktu berhari-hari. Dia dapat merasakan tenaga dalam yang luas, dan melimpah tapi sangat tenang, tidak ada desakan maupun hambatan dalam perputarannya.
Perasaan senang meluap dalam hati Gou Long, akan tetapi perut terasa lapar karena belum mengisi selama beberapa hari. Dia melihat token teleportasi. Sisa murid yang berpartisipasi dalam pra kompetisi ini hanya lima puluh orang saja, termasuk di dalamnya keempat sahabat Gou Long.
Gou Long segera melesat dari tempat itu pergi mencari sesuatu yang bisa dimakan. Setelah beberapa saat, dia telah kembali dengan membawa dua ekor ikan besar. Gou Long langsung memanggang kedua ikan itu, kemudian memanggil Hauri. Dia meminta Hauri untuk mematikan api ketika ikan tersebut berbau harum.
Sementara, Gou Long sendiri bergerak menjauh sepuluh tombak dari area itu dan mulai memainkan jurus-jurus silat. Gou Long merasa penasaran dengan tingkat tenaga dalamnya sendiri, yang dipilih dalam berlatih yaitu jurus paling umum, “Pukulan Telapak Arhat.”
Pada percobaan pertama Gou Long menggunakan elemen petir. Bayangan telapak berwarna perak pekat melesat di udara menghantam sebongkah batu berukuran gajah.
“Booooom!”
“Duuuaaaarrr!”
Batu itu hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan bubuk debu yang mengepul di udara.
Gou Long menjulurkan lidah setelah melihat hasil pukulannya sendiri. Mengulangi hal yang sama, Gou Long mulai memasang kuda-kuda Pukulan Telapak Arhat.
Sekali lagi pukulan dilepaskan Gou Long, bayangan telapak berwarna putih kebiru-biruan tercetak di udara, hawa dingin menyertai pukulan telapak ini.
Yang menjadi sasaran sebatang pohon besar. “Cesssss!” Pohon besar itu membeku seluruhnya, setelah beberapa saat mengering dan mati masih dalam keadaan beku.
“Ini sungguh mengerikan, level yang tidak boleh sembarangan terkena manusia, padahal gabungan antara dua jenis tenaga dalam dan juga bentuk tranformasi belum aku manfaatkan. Entah berada di tingkatan mana jenis kekuatan gabungan itu?” Hati kecil Gou Long bermonolog.
__ADS_1
Bunyi hiruk-pikuk akibat dari kedua pukulan yang dilepaskan Gou Long terdengar sampai lima ratus tombak dari luar ngarai sepi. Lantas saja dengan segera mengundang perhatian lima orang yang baru saja lewat dari tempat tersebut.
“Ranran! Apa kau mendengar bunyi ledakan tenaga dalam lima ratus tombak dari arah kanan kita?” tanya salah seorang gadis dari kelompok itu.
Lima orang yang baru saja melewati ngarai tersebut adalah kelompok yang dipimpin oleh Hua Yan Ran. Mereka semua jelas mendengarkan bunyi ledakan tenaga dalam yang dilepaskan Gou Long.
“Iya, ini terdengar jelas dan sangat dekat, mari kita melihatnya,” ajak gadis yang dipanggil dengan Ranran.
Dia langsung melesat ke arah ngarai, dan diikuti oleh kawan-kawannya yang lain, mereka sengaja menyembunyikan hawa keberadaan serta menahan nafas, lalu melesat ke balik gundukan tanah dan batu besar.
Gou Long yang sedang berlatih mendengar gerakan lima orang sedang mendekat ke arahnya, langsung menghentikan latihan. Gerakan yang dikeluarkan oleh kelima orang ini tidak dapat menipu pendengaran Gou Long yang telah meningkat semenjak berhasil menyerap Roh Iblis Salju.
“Siapa di sana? Silahkan keluar, kalau tidak akan aku hancurkan batu dan gundukan tanah, berikut juga kalian semua,” ancam Gou Long.
Hua Yan Ran lantas berkata, “Hebat! Padahal jarak persembunyian kami lumayan jauh, tapi kau dapat mendengar nafas kami dengan mudah.” Perasaan kagum jelas diperlihatkan dalam nada ucapan itu.
Mereka saling terkejut ketika masing-masing dapat melihat gambaran wajah satu sama lain.
“Ka-kau! Bukankah kau yang selalu berada di sisi Mei ‘er saat di depan portal masuk ke Lantai ketiga dari Pagoda ini?” Hua Yan Ran yang bertanya duluan.
“Apa pedang yang dipakai Mei 'er juga pemberianmu?” lanjut Hua Yan Ran.
“Tidak ada yang salah, bahkan sangat tepat. Nona sendiri, apakah nona cici-nya Mei 'er?” Gou Long balas bertanya.
__ADS_1
Sebelum menjawab pertanyaan Gou Long. Hua Yan Ran terlebih dahulu menghadap ke arah kawan-kawannya yang lain dan berkata, “Kalian menjauh lah sebentar, aku ingin bercakap-cakap hal yang akan selalu menjadi rahasiaku dengan dia.”
Keempat kawan Hua Yan Ran dengan patuh segera menjauhi tempat tersebut sementara waktu.
Hua Yan Ran menghadap kembali ke arah Gou Long. Sambil tersenyum lantas dia berkata, “Tidak ada yang salah, aku memang cici-nya Mei 'er. Namaku Hua Yan Ran, aku tidak akan berbicara hal yang tidak penting, maukah kau memenuhi satu permintaanku?” Wajah Hua Yan Ran terlihat sedih ketika membuat permintaan.
“Aku bernama Gou Long, Cici boleh menyampaikannya, akan kudengarkan terlebih dahulu,” jawab Gou Long. Setelah melihat raut wajah Hua Yan Ran yang terlihat sedih, Gou Long akan mempertimbangkan dulu permintaan apa yang akan diajukan Hua Yan Ran.
“Bagus sekali, kalau begitu ini hanya sebentar, sebelum aku ajukan permintaan dariku, akan aku ceritakan padamu beberapa point pentingnya terlebih dahulu.” Hua Yan Ran mulai menjelaskan point-point pentingnya.
“Saat ini, dan mungkin untuk selamanya Mei ‘er akan selalu membenciku. Aku ingin ini tetap menjadi rahasia kita berdua. Sebenarnya, aku sangat menyayangi Mei ‘er, namun aku sengaja membuatnya membenciku. Aku juga yang meminta kakek untuk membawa Mei ‘er pergi bersama kakek, dan itu menjadi rahasia antara aku dengan kakek.”
“Nah, itu point penting yang harus kau ketahui terlebih dahulu, oiya! Baru-baru ini aku mematahkan pedang Mei ‘er yang diperoleh dari pemberianmu. Pada saat itu, kulihat dia sangat terpukul dan sedih, aku juga sangat sedih karena dia sedih. Kau tau rasa sayangku pada Mei 'er lebih besar dari siapapun—” Hua Yan Ran berhenti sejenak.
Gambaran kesedihan jelas terlihat dari wajah Hua Yan Ran, di balik bola matanya terlihat linangan air mata yang hampir mengalir dan tetap di tahan. Kemudian, Hua Yan Ran melemparkan cincin penyimpanan ke arah Gou Long.
“Itu adalah pemberianku padanya, terserah padamu kisah apa yang akan kau ceritakan pada Mei ‘er ketika kau menyerahkan itu padanya, yang terpenting jangan beri tau Mei ‘er itu pemberianku. Aku percaya padamu maka aku minta padamu untuk menyerahkan cincin itu pada Mei ‘er.”
“Kau tidak bertanya isinya saja sudah menunjukkan kejujuranmu, baiklah aku akan memberi tahu padamu apa isinya. Itu adalah seperangkat ilmu silat, Jurus Telapak Keluarga Hua dan sepasang sarung tangan sutra emas artefak Ranah Surgawi.”
“Hanya itu yang aku minta darimu, tolong ini hanya menjadi rahasia kita berdua. Terima Kasih adik ipar yang tampan! Sampai jumpa lagi di lain waktu.” Hua Yan Ran tidak menunggu jawaban Gou Long, dia langsung melesat ke arah kawan-kawannya yang lain, dan mengajak mereka berlalu dari ngarai tersebut.
Gou Long terpaku di tempat sambil menghela nafas panjang. “Ah, dunia ini memang penuh dengan misteri, baik dari sikap manusia itu sendiri atau kejadian alam yang tak dapat di prediksi oleh manusia itu sendiri. Aku juga bagian dari misteri ini.”
__ADS_1