Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 272. Saingan


__ADS_3

Setelah Kakek Man menghentikan elusan lembut di kepalanya, Gou Long menjadi linglung terhadap keadaan yang terpampang di depan matanya saat ini. Ia sendiri tak kurang terkejut dan sedih sama halnya dengan Kakek Man, setelah mendengarkan perkataan terakhir dari Kakek Man tadi.


Segala sesuatu tentang Ayah-Bunda bagi Gou Long semua serba samar. Sejak kecil, ia hanya tahu keluarga mereka tinggal di Lembah Gunung Petir, dan hidup bertani serta berburu.


Ketika Pengurus Bei dari Sekte Naga Langit mengatakan ayahnya seorang pendekar dari daerah Utara, itu masih satu tabir yang sangat kecil terbuka, bisa dikatakan hanyalah titik awal.


Saat ini, muncul tiga orang yang bahkan menurut mereka bertiga, Ayahnya seorang Patriark Muda dari Klan yang bermarga sama dengannya, Klan Gou. Informasi ini bahkan sama seperti meloncati dari tangga pertama terus melampaui beberapa anak tangga, hingga menuju penghujung tangga.


Kenyataan ini, sedikit banyak telah membuka tabir niat Gou Long yang ingin mengetahui seluk beluk keluarganya, walau apa yang ia ketahui masih sangat sedikit.


“Rupanya Ayah dahulu merupakan Patriark Muda Klan Gou,” batin Gou Long.


“Lantas bagaimana dengan Ibu?” Gou Long bertanya-tanya pada diri sendiri.


“Merujuk dari perkataan Kakek Man, bahwa ayah meninggalkan Klan dengan cara kabur dari Klan. Apakah ini terkait dengan Ibu?” lanjut batin Gou Long.


Keempat orang itu terus hanyut dalam pikiran masing-masing.


“Kakek Man!” sapaan dari Gou Chen, mengurangi suasana yang sendu tersebut, saat Kakek Man melihat ke arahnya, Gou Chen berkata, “Jadi! Saudara Gou ini, sepupu kami kah?” bertanya ingin memastikan kembali apa yang telah ia dengar tadi.


Kesedihan yang sempat mampir di hati Kakek Man mulai berkurang banyak, hatinya yang goyah telah dapat ia kontrol, “Menurut apa yang Long ‘er jelaskan sebelumnya, bahwa Ayahnya bernama Gou Han, sedangkan Ibunya yang bernama Su Lan. Bukankah selama ini Paman Han yang terus kalian cari itu, ayahnya?”

__ADS_1


Kakek Man sudah membahasakan sapaan akrab pada Gou Long.


“Kemudian, wajahnya, gerak tubuh, serta keakraban yang kalian rasakan saat bersamanya, bukankah ini seperti bernostalgia dengan keluarga terdekat kalian?” Kakek Man menegaskan kembali setiap fakta-fakta yang ada pada diri Gou Long.


Gou Chen dan Gou Ing-ing menyadari kebenaran dari setiap perkataan Kakek Man. Raut mata mereka berdua berbinar semakin terang, tapi kemudian saat teringat Paman Han telah meninggal dunia, raut wajah itu kembali terlihat murung.


“Kakek Patriark terkena racun dari musuh kuat, dan jatuh sakit selama bertahun-tahun, mungkin ini adalah tahun-tahun terakhir dari masa hidupnya, sampai saat ini hanya satu yang terus ia rindukan, yaitu kepulangan dari Paman Han…” batin Gou Chen, ia menggelengkan kepalanya pelan, teringat akan kehidupan yang dipermainkan oleh nasib.


“Haaaah!” tanpa sadar Gou Chen menghela nafas panjang.


Suasana di sekitar tempat mereka berdiri dan bercakap-cakap ini memang ribut, namun bagi keempat orang ini, saat itu terasa hening, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Gou Ing-ing, masih terpaku di tempat, mungkin saja apa yang ia pikirkan sama dengan apa yang dipikirkan Gou Chen, ia telah sepenuhnya bisa mencerna setiap percakapan yang baru saja terjadi antara Gou Chen, Kakek Man dan Gou Long. Akal sehat lebih dahulu mendatangi pikiran dari gadis itu, ia lebih cepat tersadar dari lamunan.


Gou Chen tersadar, setelah mendengar perkataan dari Gou Ing-ing, kebetulan saja saat itu keduanya saling melihat satu dan yang lainnya, Gou Chen mengangguk ringan, pertanda agar Gou Ing-ing melanjutkan ucapannya.


“Kakek Man! Gou Twako berdua! Terkait hal ini lebih kita bicarakan panjang lebar di Klan saja, lagi pula ini menyangkut kebijakan Klan sejak lama, berbicara tentang segala sesuatu di keramaian seperti di sini hanya akan menambah kejelekan dan mencoreng nama baik Klan Gou di daerah Utara…”


Kakek Man dan Gou Chen, setuju terhadap apa yang diucapkan Gou Ing-ing, nama Klan Gou memang sudah sempat tercoreng dahulu, saat Gou Han meninggalkan Klan begitu saja, padahal ia seorang calon Patriark generasi selanjutnya.


Sekarang setelah Patriark besar diracuni orang lain, nama Klan Gou semakin tenggelam saja.

__ADS_1


Gou Long juga sangat setuju dengan pendapat Gou Ing-ing, apalagi dengan keyakinan yang diperlihatkan Kakek Man saat menatap dan berbicara tentangnya, Gou Chen dan Gou Ing-ing, telah menegaskan ia sebagai bagian penting dari Klan Gou.


Tapi, pergi begitu saja dan tidak berkunjung ke Pemandian Air Spiritual, rasanya akan sia-sia datang ke sini.


Saat Gou Long ingin menyampaikan apa yang ia pikirkan, suara lain menegur terdengar penuh dengan ejekan, “Wah! Nona muda,  Tuan muda, dan Pengurus Tua Klan Gou kembali terlihat di sini…”


“Ha ha ha…” tertawa mengejek, suara itu melanjutkan, “Bagaimana kalau Nona muda Klan Gou mengulang lagi sejarah yang pernah terjadi dahulu… Nona Gou kawin lari dan kabur dari daerah Utara ini bersamaku.”


Itu jelas bukan hanya sindiran kecil, tapi ejekan keras yang bisa didengar semua orang. Sehingga kelompok empat orang Klan Gou ini dalam sekejap saja, menjadi sorotan tajam semua mata orang-orang yang pergi ke Kota Air Spiritual, sebelum orang-orang itu kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.


Tidak mau mengambil sikap yang mencolok, Gou Long coba menganalisa keadaan terlebih dahulu, ejekan tadi jelas sangat menghina, serta sangat menyakitkan hati yang mendengarnya, “Kawin lari!” kata-kata ini benarlah sebentuk aib yang akan sangat memalukan bagi keluarga, dan mungkin saja ini adalah perbuatan Ayahnya dahulu.


Namun, bagi Gou Chen dan Gou Ing-ing ini akan menjadi hal yang berbeda, mereka jelas sangat marah, walau ejekan-ejekan seperti ini sudah sangat sering mereka dengar di mulut orang-orang daerah Utara, terlebih mereka yang tinggal di Kota Air Spiritual dan sekitarnya.


Tapi tetap saja, kata-kata yang merendahkan martabat dari Gou Ing-ing lah yang menjadi sumber dari rasa marah yang meluap-luap.


Kakek Man sendiri juga sangat marah, ubun-ubun mereka bertiga terasa panas, seakan-akan mau meledak saja.


Ketiganya menoleh ke arah asal suara, mereka mengenali, yang berteriak dan mengejek itu adalah saingan dari Klan Gou, yaitu salah satu anggota dari Klan Lau. Orang-orang dari Klan Gou juga meyakini Patriark tua mereka diracuni oleh suruhan Klan Lau.


Dengan tatapan mata berapi-api, Gou Ing-ing menyahut ketus, “Sampah Klan Lau! Siapa yang tidak tahu di sana berkumpul orang-orang licik, culas dan menghalalkan segala cara hanya untuk kesenangan kalian…”

__ADS_1


“Orang macammu di mataku, jangankan untuk dinikahi, untuk menjadi babuku saja kau tidak pantas…” 


Gou Ing-ing sangat marah, teriakannya keras, bahkan makiannya itu membuat orang-orang yang berlalu-lalang berhenti dan melihat ke arah mereka, serta memutuskan untuk menonton kericuhan kecil ini.


__ADS_2