
Awal bulan, menjelang 12 hari dibukanya Tanah Suci Para Pendekar, Klan Hua dikejutkan dengan kembalinya Nona termuda anak dari Patriak generasi sebelumnya yang dikabarkan telah meninggal dunia.
Sembilan tahun yang lalu kabar kematian dari Nona Muda ini dibawa oleh kakaknya sendiri, yaitu Hua Yan Ran yang yang bercerita sambil menangis serta membawa pakaian adiknya yang berlumuran darah.
Tanpa sepengetahuan siapa pun dibalik kisah sedih ini, Hua Yan Ran dan Kakek Zhou/Zhou Yun lah yang menjadi aktor utamanya, Tepat di hari kesepuluh setelah kematian ayahnya/Patriak Klan Hua generasi sebelumnya, Hua Yan Ran secara tidak sengaja mendengar pembicaraan tersembunyi antara Tetua Klan.
Hua Yan Ran mendengar bahwa adik yang paling dia sayangi akan dijodohkan dengan seorang anggota Klan Ouyang tepat di hari ulang tahun ke-7 adiknya.
Demi meningkatkan pamor Klan, Tetua ingin mengorbankan adiknya Hua Mei, ya! Itu adalah Hua Mei. Terlebih lagi Hua Yan Ran sangat mengenal calon yang akan di jodohkan dengan Hua Mei, yaitu Ouyang Shilin, anak yang lebih tua 5 tahun dari pada Hua Mei.
Ouyang Shilin sering berkunjung ke Klan Hua ikut dengan ayahnya, dan sering bermain bersama dengan Hua Yan Ran beserta anak-anak lain dari Klan Hua. Namun begitulah anak perempuan, di usianya yang sama dengan anak laki-laki mereka lebih cepat dewasa serta memiliki daya pikir yang lebih luas dibandingkan dengan anak laki-laki.
Selama bermain dengan Ouyang Shilin, Hua Yan Ran dapat merasakan banyaknya sifat yang tidak baik diperlihatkan oleh anak itu, Ouyang Shilin tidak segan memukul dengan keras anak-anak lain dari Klan Hua yang tidak sesuai dengan seleranya.
Hua Yan Ran juga pernah beberapa kali menjumpai Ouyang Shilin yang mencuri-curi intip kamar mandi perempuan dari keluarga Hua, akan tetapi memang Ouyang Shilin anak yang licik, pandai menyembunyikan maksud hati dan tentu saja kuat dalam ilmu bela diri, sehingga Hua Yan Ran tidak berani mengadu perilaku jahatnya pada para Tetua karena kekurangan bukti juga karena takut dipukuli oleh anak tersebut.
Dan beberapa tahun selanjutnya terbukti benar apa yang dikhawatirkan Hua Yan Ran, Ouyang Shilin dari seorang anak yang sangat hebat dalam ilmu silat dan Kultivasi, karena sifatnya yang mata keranjang juga hampir setiap malam dia bermain perempuan di rumah pelisir, fondasi kultivasinya menurun drastis, ilmu silatnya terabaikan.
__ADS_1
Hal ini juga yang membuat Klan Hua selalu memenangi pertarungan antara klan, jenius dari klan Ouyang terlalu lalai dan mabuk perempuan.
Sembilan tahun lalu ketika Hua Yan Ran mengetahui perjodohan itu, cara terbaik agar Hua Mei bisa terhindar dari perjodohan tersebut yaitu membuat dia pergi dari Klan serta kemudian memalsukan kematiannya.
Dan masalah terbesar yang dihadapi Hua Yan Ran, adalah Hua Mei yang telah di tinggal ibundanya saat dia dilahirkan terlalu lengket dengan Hua Yan Ran, serta tidak mau berpisah darinya yang merupakan seorang kakak.
Lalu dengan berat hati dan linangan air mata yang dikeluarkan setiap malam Hua Yan Ran mulai mencari-cari alasan supaya Hua Mei meninggalkan Klan Hua, serta tidak pernah berpikir untuk kembali ke Klan ketika dia sudah besar kelak.
Setelah terlebih dahulu menyampaikan keluh kesahnya pada Kakek Zhou dan juga meminta Kakek Zhou membawa pergi Hua Mei dari Klan Hua 5 bulan ke depan, Hua Yan Ran mulai menjalankan rencananya.
Hanya dalam beberapa hari saja dia sudah berhasil menipu Hua Mei dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba. Di depan anggota klan yang lain dia bersikap lembut dan baik pada Hua Mei, namun di lain waktu dia akan bersikap judes dan menjadi orang yang paling jahat pada Hua Mei.
Hua Mei anak yang baru berusia 6 tahun, yang hanya memiliki seorang kakak yang sangat dekat dengannya, tidak memiliki orang terdekat dengan Klan Hua, sekalipun ayahnya merupakan patriak generasi terdahulu. Kakak yang sangat dia sayangi tiba-tiba mengubah sikapnya, membencinya, memakinya, mengutuknya, luka ini sangat membekas di hatinya, ingin rasanya dia mati saja.
Hua Yan Ran walau merasakan sakit dan perih, namun luka seperti ini lebih membekas dalam pada Hua Mei, dia mendapatkan hinaan seperti itu selama lima bulan, beruntungnya dia masih memiliki Kakek Zhou sebagai orang yang dijadikan sandaran dan selalu menjaganya.
Setelah perlakuan seperti itu 5 bulan berjalan. Hua Mei mulai tidak tahan, akhirnya dia memilih meninggalkan Klan Hua dan ikut dengan Kakek Zhou ke Sekte Naga Langit di Daerah Selatan.
__ADS_1
Hua Yan Ran kembali memainkan perannya, dia mengambil sepotong pakaian Hua Mei, merobek-robek pakaian tersebut serta melumurinya dengan darah dari anjing yang dia bunuh. Sambil menangis dengan pakaian berdarah di dalam pelukannya dia mulai mengarang cerita versi lain agar tetua Klan percaya pada ucapannya.
Dia bercerita bahwa Hua Mei sejak pagi pergi ke Bukit di belakang rumah berlatih, sampai hari menjelang siang dia belum kembali, kemudian Hua Yan Ran datang melihat apa yang menjadi penyebab Hua Mei belum kembali, di sana terlihat bekas pertarungan, darah, cakar dan telapak harimau di beberapa batang pohon, juga sepotong pakaian yang sudah robek-robek dan berlumuran darah.
Tetua pergi dan melihat langsung bukti serta tempat kejadian, mau tidak mau juga mempercayai semua cerita Hua Yan Ran, walau mereka merasa dibalik cerita ini sedikit rancu, yaitu bersama Hua Mei ikut menghilang Kakek Zhou, namun mengingat Kakek Zhou yang aneh dan esentrik mereka membenarkan cerita Hua Yan Ran serta tidak mengusutnya lebih lanjut.
Apa yang dilakukan Hua Yang Ran ini memang berhasil. Namun, dia telah menyakiti dirinya serta adiknya sendiri, demi kebahagiaan adiknya dia tetap menjalankan rencana yang menyakiti dua sisi ini.
Kisah ini masih dirahasiakan Hua Yan Ran, bahkan dia meminta Kakek Zhou bersumpah untuk tidak pernah menceritakan kisah ini pada Hua Mei.
***
Kembalinya Hua Mei bersama Kakek Zhou serta membawa bersama mereka seorang gadis cantik masuk ke dalam Mansion Utama Klan Hua, seperti membuka luka lama bagi para Tetua Klan, saat mereka mengingat kembali apa yang mereka rencanakan dahulu, mereka ikut merinding.
Perbuatan mereka seperti menyuguhkan daging angsa ke dalam mulut buaya. Bagusnya, dahulu berita kematian Hua Mei sudah terlebih dahulu menyebar di Klan Hua sehingga rencana mereka tidak terealisasi.
Kemudian, kembalinya gadis itu juga bertepatan dengan dibukanya Tanah Suci Para Pendekar, sehingga mereka bisa lebih fokus pada partisipasi di Tanah Suci tersebut dibandingkan kehebohan Hua Mei yang kembali ke sana.
__ADS_1
Kesempatan ini juga sebagai bentuk perbaikan diri dari Patriak serta Tetua Klan Hua untuk memperbaiki kembali kesalahan mereka terdahulu, mereka secara khusus menyiapkan posisi lain untuk Hua Mei dan Murong Qiu yang sudah dianggap kakak oleh Hua Mei, serta memberikan mereka berdua Artefak terbaik yang dapat digunakan di sana nantinya.
Sikap seperti itu pasti akan menimbulkan kecemburuan sosial lainnya di Klan Hua, apalagi anak yang telah dianggap mati, ketika kembali langsung diistimewakan.