
Bahkan nada helaan nafas pun tidak terdengar sama sekali dari mulut pemuda ini. “Tanpa beban,” itulah ungkapan yang cocok disematkan pada ekspresi Gou Long di sana.
Ekspresi yang diperlihatkan Gou Long ketika berbalik, sangat berbeda dengan apa yang orang lain pikirkan. Patriark Shi, kedua wakilnya dan para tetua, semua berpikir akan melihat sebuah raut wajah penuh kekhawatiran dari pemuda itu.
Namun, penilaian mereka terhadap pemuda ini benar-benar telah salah sepenuhnya, tidak ada penyesalan sama sekali terhadap apa yang telah dilakukannya tadi.
Di aula pertemuan tersebut hanya beberapa orang yang tidak mengerti apa yang telah Gou Long lakukan, itu seperti Yu Jiang, Yu Yihua, dan Suma Xiulan(mungkin juga reader ini; berharap Gou Long bunuh saja itu tiga orang).
Gou Long tetap tersenyum walau telah memakan racun, racun yang dia racik sendiri. Racun ini berupa balas dendam dari Sekte Awan Berkabut kelak, berada pada posisi Gou Long tadi menjadi serba salah. Tapi itu akan menjadi lebih salah kalau dia membunuh tiga orang kate tersebut.
Andai ia membunuh ketiga orang tersebut, maka apa yang dikerjakannya sejak awal, termasuk meminta Yu Yihua menjadi bagian dari paviliunnya menjadi tidak berguna sama sekali.
“Penatua Gou! Hari ini Asosiasi Alkemis berhutang budi yang sangat besar pada Penatua Gou, orang tua ini tidak akan bisa membalas apa yang telah Penatua Gou lakukan,” ujar Patriark Shi setelah mendapatkan senyuman tanpa kekhawatiran dari Gou Long.
“Ha ha ha! ...” tertawa lepas, Gou Long berkata, “Karena Patriark Shi terlalu sungkan, maka apa yang kuperbuat kali ini, kelak pasti akan aku minta kompensasinya dari Asosiasi Alkemis, kompensasi yang bisa membuat Asosiasi Alkemis bangkrut.” Senyum licik ikut menyertai ucapan ini.
Patriark Shi tahu, Gou Long berkata seperti itu bukanlah sesuatu yang serius, ini hanya berupa candaan karena ia tidak mau terikat dengan budi dan juga tidak mau orang lain mengasihinya. Gou Long punya cara sendiri untuk berhadapan dengan orang-orang Sekte Awan Berkabut kelak.
“Terserah Penatua Gou saja,” balas Patriark Shi singkat.
Gou Long menghadap ke arah Yu Jiang dan Yu Yihua. “Baik sekali, kalau begitu! He he he ...” puas terkekeh, ujarnya seraya menunjuk Yu Yihua dan Yu Jiang. “Setelah upacara pelantikanku sebagai Penatua Luar, maka kompensasi pertama yang akan kuangkut adalah mereka berdua, mereka akan kuangkut ke Gunung Teratai ....”
Patriark Shi sekilas melihat ke arah kedua bersaudara itu, lalu dia mendekati Gou Long dan menjitaknya dengan keras.
“Tuk!”
__ADS_1
“Penatua Gila! Tadi kau berkata ‘kelak’ lalu kenapa kau ambil terus ‘sekarang’ dua permata dari Asosiasi Alkemisku, kau hanya boleh membawa salah satu dari mereka!” gerutu Patriark Shi.
Suasana di aula pertemuan yang sempat mencekam dan penuh dengan kekhawatiran, mencair dan meledak dengan tawa karena kelakar kedua orang tersebut.
***
Pembunuh bayaran yang diutus Klan Ouyang telah bergerak selama tiga hari, namun sampai saat ini, mereka belum bisa menjalankan misi tersebut. Apalagi menurut informasi yang mereka peroleh dari mata-mata, orang yang menjadi target mereka sampai saat ini masih mengeram di Asosiasi Alkemis.
Sehingga dengan terpaksa mereka menunda terlebih dahulu misi tersebut. kemudian orang yang memberikan misi itu malah mengajak mereka untuk berbaur dan meramaikan acara pelantikan dari Penatua Luar Asosiasi Alkemis, yang akan di selenggarakan tiga hari ke depan.
Patriark Ouyang, begitu melihat nama Penatua Luar Asosiasi Alkemis yang tertera di surat undangan perihal tentang pelantikan tersebut tertawa senang.
“Akan kubuat pemuda itu merasakan tekanan jiwa dan mental, baru kemudian akan kusiksa fisiknya, akan sangat menyenangkan melihat pemuda itu mati mengenaskan,” pikir Patriark Ouyang.
“Ha ha ha! ...” Patriak Ouyang, tertawa memikirkan segala rencana yang ada dalam otaknya.
“Keparat! Bukan aku saja yang akan menuntut balas padamu, berita yang kudengar Patriark Sekte Phoenix Suci juga akan bergerak karena kau membunuh tiga tetua mereka, ha ha ha ...” gumam Patriark Ouyang, lalu tertawa puas.
Memang tepat seperti yang dipikirkan Patriark Ouyang, saat ini yang berniat mengacaukan proses penobatan Gou Long sebagai Penatua Luar Asosiasi Alkemis termasuk Patriark Sekte Phoenix Suci dan Patriark Sekte Awan Berkabut.
Ketiga kubu tersebut jelas tidak akan merasa segan untuk berbuat demikian, mereka juga akan mempertanyakan kebijakan Asosiasi Alkemis yang mengangkat seorang Penatua dengan cakupan usia yang masih sangat muda, layakkah itu?
***
Semenjak keluar dari Tanah Suci Para Pendekar, sikap yang ditunjukkan Ding Jia Li sangat berbeda dari kebiasaannya, namun tidak tampak tanda-tanda kemurungan dalam dirinya.
__ADS_1
Hanya saja, sikapnya sebagai seorang murid tertua menjadi lebih ramah pada adik-adik perguruan, nada suaranya juga menjadi lebih lembut, kedewasaan yang diperlihatkan Ding Jia Li seperti orang yang telah bertambah usia beberapa tahun.
Perubahan lain yang terjadi pada Ding Jia Li adalah kultivasinya yang meningkat secara drastis. Sekalipun belum terjadi penerobosan ranah, tapi tanda-tanda akan terjadi penerobosan ranah sudah semakin terlihat.
Dalam hal ini Gurunya Li Lan Sian, mengetahui dengan jelas perubahan-perubahan yang ditunjukkan Ding Jia Li. Saat berlatih, kadang kala Ding Jia Li melepaskan tekanan Domain yang dimiliki oleh seniman bela diri Ranah Surgawi secara tidak sadar.
Li Lan Sian sangat senang melihat muridnya itu menunjukkan tanda-tanda penerobosan ranah, akan tetapi seminggu menunggu, apa yang diharapkannya tidak pernah benar-benar terjadi.
Kultivasi Ding Jia Li malah mentok, di Ranah Semi Surgawi. ini adalah keanehan lain dari kultivasi, karena hanya Ding Jia Li yang berada di ranah tersebut. tidak pernah ada Kultivator yang berada di Ranah tersebut.
Ranah Semi Surgawi yaitu ranah di antara Puncak Ranah Langit dan Awal Ranah Surgawi.
Ding Jia Li sendiri tidak pernah memikirkan hal tersebut, dia tetap berlatih seperti biasa, hingga selebaran undangan tentang penobatan Gou Long sebagai Penatua datang ke Sekte Teratai Biru.
Kegembiraan yang ditunjukkan Ding Jia Li terlihat nyata, dan ini tidak dapat membohongi penglihatan mata Li Lan Sian yang berpengalaman.
Sore itu, setelah Ding Jia Li selesai memimpin latihan adik-adik perguruannya, secara khusus Li Lan Sian meminta Ding Jia Li menghadap ke ruang pribadinya.
“Murid menghadap Guru!” ucap Ding Jia Li begitu ia tiba di ruang pribadi Li Lan Sian seraya mengambil sikap sembah guru dan murid.
“Jia Li ‘er! Bangkitlah! Menurutmu? Bagaimana perkembangan dari latihan adik-adik perguruanmu saat ini?” tanya Li Lan Sian, membuka percakapan setelah melihat Ding Jia Li masuk dan mengambil sikap sembah murid pada gurunya.
“Akhir-akhir ini, semua adik perguruan mengalami peningkatan yang sangat pesat, pemahaman mereka terhadap penjelasan dari Jia Li ‘er pun sangat cepat dan mudah mereka pahami,” lapor Ding Jia Li.
“Hmm! Lalu bagaimana dengan perkembangan kultivasi dirimu sendiri? Apakah Jia Li ‘er menyadari adanya hambatan?” tanya Li Lan Sian lembut. Dia ingin berbicara dari hati ke hati dengan muridnya.
__ADS_1