Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 71. Hua Yan Ran


__ADS_3

Gou Long dan Hauri tidak sadar dengan beberapa pasang mata yang terus mengintip pergerakan mereka sejak awal pertarungan tadi, keduanya segera meninggalkan tempat pertarungan itu.


Setelah berpikir sejenak, Gou Long memutuskan untuk terbang, arah yang dia tuju yaitu kembali ke ngarai sunyi. Ngarai itu memang tempat yang sangat cocok untuk digunakan sebagai tempat memulihkan kondisi, dan menyerap Roh Iblis Salju.


Melihat kepergian Gou Long, orang-orang yang sejak tadi melihat kejadian tersebut segera keluar. Mereka meneliti tempat pertarungan itu, termasuk menggali kembali mayat yang sudah dikubur oleh Gou Long.


Puas dengan apa yang mereka perhatikan di tempat tersebut, senyuman lebar terlihat lebih jelas pada raut wajah orang yang memimpin kelompok itu. Setelah mendapatkan aba-aba dari orang ini, kelompok itu juga meninggalkan tempat tersebut.


***


Hua Mei yang sudah berhasil melewati pembaptisan dari langit dan bumi bangkit dan berdiri. Eira yang selalu berada di sisi Hua Mei juga sudah kembali naik ke atas bahu. Hua Mei tidak bertanya kemana Gou Long pergi, selama proses penerobosan ranah tadi dia bisa mendengar semua kejadian di tempat ini.


“Senior He, Senior Ye, dan Qiu Cici, selamat bertemu kembali!” sapa Hua Mei dengan memperlihatkan senyum indah.


“Selamat Mei ‘er, berhasil menerobos ke Ranah Langit, tadi malapetaka langit dan bumi yang muncul lumayan besar. Lebih besar dari ketika kami bertiga menerobos Ranah,” He Fei menatap Hua Mei ngeri, ia teringat pembabtisan yang diterima Hua Mei tadi.


“Oiyaa! ... Saudara Long berkata kita tidak perlu mencari lagi kristal esensi, sebenarnya kami juga sudah mendapatkan tiga kristal itu. Jadi, sekarang apa yang akan kita lakukan? Apa kita langsung saja ke depan portal pintu keluar menunggu di sana?” Ye Xuan yang tidak tahan untuk berkata-kata, langsung bertanya.


Seperti tersadar sesuatu kemudian dia melanjutkan, “Maaf Mei ‘er! terlalu buru-buru sampai lupa aku ucapkan selamat padamu. Selamat untuk Mei ‘er, telah berhasil menerobos Ranah Langit! Ha ha ha.” Dia tertawa, menutupi rasa malu karena terburu-buru.


Tidak ketinggalan Murong Qiu juga ikut memberikan selamat pada Hua Mei, kemudian dia juga memberikan pendapat sekaligus jawaban terhadap apa yang ditanyakan Ye Xuan.

__ADS_1


“Sebaiknya, malam ini kita di sini saja dulu, apalagi di sini sudah aman sejak Saudara Gou berhasil mengalihkan para murid ke arah lain. Mei ‘er juga sebaiknya menstabilkan hawa murni yang kacau setelah berhasil menerobos ranah. Untuk hal lain, besok pagi kita bicarakan lagi. Bagaimana menurut pendapat Fei Gege?"


“Benar apa yang dikatakan Qiu ‘er, alangkah baik kalau malam ini kita tetap di sini saja, besok pagi kita bicarakan lagi apa yang akan kita lakukan selanjutnya,” jawab He Fei, menguatkan pendapat dari Murong Qiu.


“Kalian berdua, selalu saja saling menguatkan begitu. Orang lagi kasmaran apa memang begitu semua? Ha ha ha,” ucap Ye Xuan, meledek mereka berdua.


Saat sesama saudara seperguruan ini saling bercanda tawa dengan lepas, kegembiraan mereka terhenti oleh ucapan wanita lain yang telah hadir juga di depan pohon tersebut.


“Waaah! Adik kecil, kita memang selalu berjodoh. Walau sejak kecil jarang berjumpa, dari kejauhan Cici melihat pemadatan energi alam, juga malapetaka langit dan bumi yang kuat. Cici pikir siapa yang menerobos ke Ranah Langit. Tak disangka rupanya adik kecilku! ... Hi hi hi.”


Begitu kata-kata itu terdengar orangnya juga ikut muncul, bersamanya juga muncul beberapa orang gadis lain.


Mendengar isi dari ucapan si gadis. Mereka dapat mengambil kesimpulan, bahwa gadis ini memiliki hubungan dekat dengan Hua Mei. Dari cara panggilan gadis itu, besar kemungkinan Hua Mei merupakan adik dari gadis tersebut. Walau mungkin hubungan mereka tidak terlalu searah, dan sejalan, atau bahkan bisa saja bermusuhan.


“Ranran! Adik kecilmu hebat juga, sempat-sempatnya dia menerobos ranah di dunia unik ini. Kalau orang lain akan berusaha untuk menghindari hal ini terjadi. Apa dia tidak takut dengan kehadiran orang lain yang mengganggu prosesnya! ....”


Salah seorang dari teman Ranran meledek Hua Mei.


“Susu! Kau janganlah berkata seperti itu, bukankah kau sangat mengenal bagaimana hebat diriku ini. Wajar saja, bakat aku yang hebat sedikit menurun pada adik terkecil keluargaku.” Gadis yang disapa Ranran menanggapi ucapan kawannya.


He Fei merasakan gelagat kurang baik, dia dapat melihat raut wajah Hua Mei yang mulai terlihat geram, lantas dia mendekati Hua Mei dan berbisik, “Siapa mereka ini Mei ‘er? Tenanglah, jangan terlalu khawatir! Serahkan saja permasalahan ini pada kami bertiga.”

__ADS_1


“Dia adalah Cici ku, namanya Hua Yan Ran. Namun, kami sejak kecil selalu tidak pernah akur, oleh sebab itu aku sudah ikut kakek dari kecil. Aku terlalu malas kalau harus berhadapan dengan Cici ku yang cerewet itu. Kakak tertua hati-hati, Cici ku sangat licik dan kuat tentunya,” Hua Mei menjelaskan.


Mendapatkan penjelasan dari Hua Mei, sedikit banyak He Fei bisa menerka-reka bagaimana hubungan antara sesama saudari kandung itu.


“Terima kasih aku ucapkan pada saudari Ranran yang turut berbahagia terhadap junior kami setelah ia berhasil menerobos ke Ranah Langit. Maaf aku tidak terbiasa bersilat lidah dan berputar ke sana-kemari dalam berbicara. Saudari Ranran dapat mengatakan secara jelas apa niat kedatangan saudari ke sini.” He Fei memotong ucapan sindir-menyindir dari kelompok didepannya dengan kata-kata yang tegas.


Dengan sifat dan gerik anggun yang menggoda Hua Yan Ran berujar, “Aku hanya rindu dan ingin bercakap-cakap dengan adik kecilku yang sudah sangat lama tidak berjumpa. Apalagi dia sudah berhasil menerobos ke Ranah Langit, bukankan tidak salah kalau nanti kami bertukar beberapa jurus?”


“Kalian tenang saja, aku juga tidak tergesa-gesa, akan ku tunggu sampai dia berhasil menstabilkan tenaga dalam dulu.”


“Hemm, tadi aku mendengar kalian memiliki tiga kristal yang dijadikan syarat kelulusan dari pra kompetisi, bagaimana kalau kita membuat taruhan.”


Pada akhir dari ucapannya, Hua Yan Ran memperlihatkan niat utama dari kedatangan mereka ke tempat itu.


Ye Xuan yang berkepribadian heboh, sangat menyukai hal-hal yang mendatangkan kesenangan seperti itu, tanpa menunggu ucapan He Fei lantas dia berkata, “Ini pasti akan sangat menggembirakan. Baik, coba kau jelaskan taruhan yang bagaimanakah akan kita lakukan?”


“Kami berlima sedangkan kalian berempat, kalian kekurangan satu orang, agar taruhan benar-benar adil. Bagaimana kalau kita bertukar beberapa jurus dalam tiga babak. Kalian boleh memilih siapapun di antara kalian, dua orang peserta lain, kalau sudah menang dua babak berturut-turut, babak ketiga tidak perlu dilanjutkan lagi.”


“Orang kalah harus menyerahkan kristal esensi siluman yang sudah ditandai oleh Patriak sekte, kita tidak harus menghancurkan token teleportasi. Setidaknya yang kalah masih memiliki beberapa hari lagi untuk terus mencari kristal tersebut, bagaimana?” jawab Hua Yan Ran memaparkan taruhan yang diajukan.


“Karena saudari sudah memikirkan sampai sejauh itu, kami akan mengikuti saja pemainan ini,” jawab He Fei.

__ADS_1


__ADS_2