Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 208. Kota Lan Lianhua


__ADS_3

Tak ingin berspekulasi, “Pedang Peri Ilusi!” panggilnya, sebatang pedang muncul di tangan Gou Long, kemudian langsung ditusukkannya ke dalam lubang tersebut, itu masuk persis seperti masuknya pedang ke dalam sarungnya.


Belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dia lihat, Gou long mencabut pedang tersebut, “Hauri!” lirihnya, begitu sosok gadis peri itu muncul, “Kau periksa sendiri semua lubang pedang yang ada di tugu ini, apa benar semua ini yang kau maksud!” perintah Gou Long lembut.


“Eum!...” Bayangan Hauri, langsung melesat ke setiap lubang-lubang pedang yang ada di tugu tersebut, dan memeriksanya satu persatu.


Hanya menunggu sepuluh menit, bayangan Hauri telah kembali ke hadapan Gou Long, “Tepat! Inilah tugu portal tersebut,” ujarnya, pasti dan penuh keyakinan.


“Hei! Kenapa kau melamun?” Hauri melihat sosok Ding Jia Li yang terpaku dengan sorot mata yang berbinar.


“Aku tidak melamun, hanya sedang menatap terpesona pada Cici, Cici sangat cantik, berapa kali pun aku melihatnya, Cici tetap terlihat cantik, apalagi di bawah hamparan bunga-bunga salju seperti ini, entah berapa banyak laki-laki yang tergoda dengan Cici di negeri Cici sana.” Ujar Ding Jia Li jujur dan tidak menutupinya.


“Hi hi hi!...” Hauri tertawa cekikan, lalu menghilang kembali ke bentuk tato pedang di otot deltoid Gou Long.


Gou Long menatap Ding Jia Li sesaat, “Jia Li ‘er juga sangat cantik, kalau membandingkan kalian bertiga, rasanya tidak ada yang kalah cantik, kalian bertiga mempunyai keunikan tersendiri.” Ucapnya, mencoba menaikkan kepercayaan diri Ding Jia Li.


“Apa Gege juga tergoda pada Cici Hauri?”


“Itu tidak mungkin! Gege sudah memiliki kalian berdua... Lagi pula Ras dia dengan Ras kita sangat berbeda,” Jawab Gou Long cepat, membuat gerakan tangan penolakan.


“Sudahlah! Mari kita lanjutkan perjalanan!” sedikit bingung, Gou Long menatap ke berbagai arah, “Arah mana menuju Sekte Teratai Biru?” tanya Gou Long memastikan.


“Arah utara Gege! Itu hampir mendekati perbatasan Daratan Tengah dengan Daerah Utara.” Jawab Ding Jia Li.


Mendapatkan kepastian arah, Gou Long kembali membopong Ding Jia Li, melesat cepat menuju Arah Utara.

__ADS_1


***


Sekte Teratai Biru terletak di kota Teratai Biru/Lan Lianhua, itu terletak hampir di penghujung Daratan Tengah, Kota Lan Lianhua sebagian besar dipenuhi dengan perairan dan sungai-sungai indah yang di dalamnya penuh ditumbuhi dengan bunga-bunga teratai biru.


Kota ini sangat cocok dijadikan sebagai kota untuk melancong bagi pasangan muda atau pun keluarga kaya raya dan juga hartawan yang ingin menikmati keindahan alam. Terkenal dengan keindahannya yang tiada tara, kota ini juga sangat ramai baik itu di musim panas, musim semi, musim gugur ataupun musim dingin seperti ini.


Terlebih lagi karena Kota Lan Lianhua berdekatan dengan perbatasan Daerah Utara juga dikarenakan topografi Kota tersebut hampir mirip-mirip dengan Daerah Utara, sehingga banyak penduduk utara yang sering bepergian ke Kota tersebut.


Pagi itu, di lantai dua sebuah warung makan terlihat pasangan muda yang mencolok perhatian, rona kelelahan terlihat dari mereka berdua.


Yang laki-laki terlihat sangat tampan sedangkan yang perempuan juga terlihat sangat cantik, dari cara mereka berpakaian tidak terlihat tanda-tanda orang persilatan dari mereka berdua, mereka berdua seperti pasangan pelajar yang ingin melancong dan menikmati keindahan Kota Lan Lianhua.


Sontak pasangan itu menarik perhatian sebagian besar pengunjung warung. Penduduk lokal yang biasa menawarkan jasa pemandu, mulai mendekati pasangan ini mencoba menawarkan jasa bantuan pemandu jalan pada mereka.


Namun itu di tolak halus oleh si perempuan, Ya! Wajar saja, mereka adalah Gou Long dan Ding Jia Li, setelah menempuh perjalanan selama empat hari akhirnya mereka tiba di Kota Lan Lianhua, guna memulihkan stamina yang terkuras, mereka tidak langsung kembali ke Sekte Teratai Biru, tapi terlebih dahulu menginap di Kota Terdekat.


Menurut rencana mereka, setelah beristirahat semalam mereka dan akan melanjutkan perjalanan menuju Sekte Teratai Biru pagi ini.


Puas dengan waktu istirahat dan makan mereka pagi itu, Gou Long dan Ding Jia Li bangkit bergerak ke tempat pemilik warung makan, dan meletak Dua puluh keping perak sebagai pembayaran biaya makan, minum dan menginap mereka berdua,


Jumlah tersebut dirasa Gou Long sudah lebih dari cukup, mengingat tempat ini juga tidak terlalu mewah jika dibandingkan dengan rumah penginapan lain yang terlihat lebih mewah di kota itu.


“Paman! Apa ada penjual kuda di sekitar sini?” tanya Gou Long pada pemilik penginapan.


Karena perjalanan menuju Sekte Teratai Biru membutuhkan waktu sekitar dua jam, berkuda rasanya lebih menyenangkan, pilihan ini didukung dengan cuaca musim salju yang tidak turun sejak semalam, sehingga mentari pagi terlihat samar-samar muncul di balik awan.

__ADS_1


“Pasar kuda ada di depan sana tuan muda, itu tidaklah terlalu jauh, dua puluh tombak dari jalanan ini.” Pemilik penginapan menunjukkan arahnya pada Gou Long.


“Terima kasih paman.” Ujar Gou Long, mengepalkan tangannya di depan dada.


Dia dan Ding Jia Li segera melesat dengan ilmu meringankan tubuh menuju arah yang ditunjuk pemilik penginapan tersebut, baru saat itu orang-orang mengetahui kedua orang itu merupakan orang-orang dunia persilatan.


Tiba dipasar kuda, salah seorang penjual kuda datang menghampiri Gou Long, “Tuan Muda! Silahkan dilihat-lihat dulu! Kami memiliki kuda-kuda terbaik di Kota Lianhua yang dijual di sini.” Ujarnya berbasa-basi.


“Tidak perlu melihat-lihat, tunjukkan saja padaku kuda-kuda terbaik yang kalian miliki.”


“Mari Tuan Muda!” penjual kuda memimpin, Gou Long mengikuti di belakangnya.


Mereka tiba di kandang kuda, di dalam sana hanya ada empat ekor kuda terbaik, yang dua berwarna putih dan yang dua lagi berwarna hitam.


Melihat-lihat sejenak, yang berwarna putih lebih menarik di mata Gou Long, di saat musim salju seperti ini terlihat lebih elegan.


Gou Long memilih dua kuda terbaik, berwarna putih dengan bulu-bulu putih kekuningan tebal di tengkuk, serta otot-otot kaki kuat terlihat nyata. Kemudian meminta si penjual untuk memasangkan pelana pada kedua kuda tersebut.


Kuda-kuda itu dihargai dua puluh keping emas. Tawar menawar sengit sempat terjadi, namun pada akhirnya mereka bersepakat dengan harga tujuh belas keping emas untuk masing-masing satu kuda.


Sementara Ding Jia Li tidak ikut masuk ke dalam kawasan pasar kuda, dia berdiri di jalanan hanya melihat saja apa yang sedang di lakukan Gou Long di dalam kawasan pasar kuda tersebut, ketika tiba-tiba beberapa orang preman pasar datang menggodanya.


Dalam keadaan mabuk berat preman-preman tersebut datang menghampiri Ding Jia Li, “Nona Cantik! Bagaimana kalau nona menemani kami minum untuk malam nanti! Di mana kami bisa menjemput Nona malam nanti?” salah satu dari mereka bertanya.


Ding Jia Li mengabaikan mereka, menatap ke tempat Gou Long sedang membeli kuda.

__ADS_1


Tidak mendapatkan jawaban, salah satu dari preman-preman tersebut mendekati dan coba menarik tangan Ding Jia Li agar gadis itu menghadap ke arah mereka.


“Plak!” tamparan keras terdengar, preman itu terpelanting keras di atas tanah bersalju, rajah cap lima jari tertera di pipinya, berikut hamburan salju yang sudah memenuhi hampir seluruh tubuh preman tersebut.


__ADS_2