
“Gadis Ras Manusia ini ... jika Patriark tidak ingin kehilangan nyawanya, maka dia belum boleh untuk dibuat tersadar.” Tabib dari Klan Shu meletakkan Ding Jia Li di atas lantai, dan berjalan ke arah Siauw Xiezy. “Kalau untuk siluman ini, bukanlah satu masalah besar. Dia juga sedang meregenerasi dan memulihkan setiap luka secara perlahan.”
Keputusan cepat Patriark Klan Shu menurunkan perintah bunuh sebelumnya tidak disangka berubah menjadi seperti ini. Sekarang Patriark Klan Shu atau Shu Qin, sangat ingin mendengar langsung maksud dari perkataan Siauw Xiezy terakhir kali sebelum ia pingsan.
Tabib Klan Shu mengempos hawa siluman pada dirinya ke dalam Siauw Xiezy, setelah tiga tarikan nafas ia menghentikannya. “Siluman ini akan terbangun setengah dupa lagi.” Dia berjalan kembali ke tempat ia meletakkan Ding Jia Li sebelumnya, berjongkok dan memangku si gadis. “Untuk saat ini, gadis Ras Manusia ini akan aku bawa ke tempatku.”
Si tabib benar-benar tidak menunggu persetujuan dari Patriark Klan Shu ataupun dari Tetua Shu Cang, dia langsung keluar dari ruang tahan dan menghilang dari padangan mata semua siluman lain dengan gerakan cepatnya.
Memang begitulah adanya para tabib dan Alkemis, baik dari Ras Peri, Ras Manusia, dan Ras Siluman sekalipun, mereka memiliki keunikan tersendiri serta egoisme tinggi yang tidak bisa disinggung oleh siapa pun. Tidak terikat oleh orang lain, juga tidak di bawah yurisdiksi tertentu. Ini seperti telah ada hukum tidak tertulis larangan untuk menyinggung para alkemis.
Bahkan Patriark Klan saja harus berpikir ribuan kali jika ingin menegur para Alkemis.
Ding Jia Li dibawa oleh si tabib ke tempatnya, tebing tinggi sebagai gerbang masuk utama, dan di balik tebing itu terlihatlah lembah yang sangat luar biasa, tanaman herbal obat yang dirawat dalam bentuk formasi. Setelah melewati kebun herbal dengan formasi, lubang goa besar terlihat di sana.
Si tabib langsung masuk ke dalam goa dan meletakkan Ding Jia Li di atas pembaringan. Aroma obat dan hawa siluman tercium sangat pekat dalam ruang goa itu. “Gadis Manusia ... Anggaplah kali ini keselamatan mu sebagai bentuk balas budi pada salah satu manusia yang dulu sekali telah menyelamatkan ku.” Tabib dari Ras Siluman Pohon menghela nafas panjang. “Semoga saja Patriark tidak akan tahu, aku telah membohonginya,” gumam si tabib.
Keluar dari goa, Shu Hong mengeluarkan suara lengkingan yang sangat keras dan tinggi. Itu bahkan menggetarkan tebing-tebing dari lembah tersebut. Lengkingan itu adalah sebentuk panggilan khusus bagi murid-murid Tabib Shu Hong. Sebenarnya bukan murid, tapi pelayan yang telah merawat kebunnya sepanjang waktu. Mereka juga belajar teknik-teknik alkimia pada Tabib Shu Hong.
__ADS_1
Tiga siluet bayangan siluman pohon telah muncul di depan Tabib Shu Hong. “Kalian bertiga sekarang carikan tiga bahan herbal langka yang paling bagus, Ginseng Rambut Dewa, Jamur Madu Siluman, dan Teratai Sembilan Meridian.”
“Dalam ingatanku, ketiga herbal ini pernah aku tanam, di perbukitan ujung selatan dari kebun ini.” Shu Hong Berbalik dan kembali ke tempat ia membaringkan Ding Jia Li.
Sementara itu, setengah dupa telah berlalu. Di dalam ruang tahanan Siauw Xiezy telah sadar, ia mendapatkan seluruh badan yang terasa sangat menyakitkan, tulang-tulang yang patah masih terus menyambung dengan sendirinya. Tapi itu terasa sangat menyakitkan, dan masih belum bisa digerakkan sama sekali.
Siauw Xiezy belum melihat ke sekeliling ia masih coba merasakan setiap inci dari tubuh sendiri, sesaat kemudian bayangan terakhir yang diingat Siauw Xiezy adalah pertarungan kemari. “Nyonya! ... bagaimana kabar Nyonya ...” itu adalah hal yang pertama sekali di ingat Siauw Xiezy.
Dia mengedarkan padangan ke seluruh ruangan. Siauw Xiezy mendapatkan siluman yang bertarung dengannya kemarin dan satu siluman lain dengan hawa siluman yang lebih mengindikkan dari siluman satu lagi, tidak ada Nyonya sama sekali. Pikiran dan hati Siauw Xiezy menjadi panik.
“Keparat! Aku juga akan membunuh kalian semua,” teriak dan kutuk keluar begitu saja dari mulut siluman kalajengking itu.
Satu ayunan lembut tangan Patriark Shu Qin, cap segel pola pengunci hawa dan energi siluman tercetak di tubuh Siauw Xiezy. Karena hal itu, niat Siauw Xiezy meledakkan diri, terhentikan begitu saja.
“Apa yang kau lakukan?!” teriak Siauw Xiezy semakin berang.
“He he he! ...” Shu Cang tertawa mengejek. “Kenapa kau begitu panik saat kehilangan wanita Ras Manusia itu. Memangnya dia itu, siapa bagi dirimu?”
__ADS_1
Sudah menjadi hal yang sangat wajar saat siluman memahami bahasa para siluman, sehingga mereka tidak memerlukan teknik khusus hanya agar bisa berkomunikasi dan saling mengerti.
Siauw Xiezy melihat ke arah asal suara, dan yang mengejeknya adalah siluman yang bertarung dengannya kemarin. Ia tidak menjawab hanya berdiam diri, dan menatap Shu Cang dengan pandangan mata berapi-api penuh dengan dendam.
Patriark Shu Qin menjadi sedikit lebih bijaksana, walau ia siluman tapi saat melihat Siauw Xiezy yang tidak bersahabat sama sekali, hal ini menandakan ada hal yang tidak disukai siluman itu dari mereka, dan itu sudah jelas adalah gadis dari Ras Manusia.
“Apa indentitas dari gadis Ras Manusia itu, kenapa siluman ini begitu setia?” Patriark Shu Qin menjadi tidak habis mengerti. Pada satu sisi ia telah mendengar ucapan dari Shu Cang, kata-kata, “Tuan Pemilik Jiwa Roh Suci Siluman Rubah Ekor Sembilan dan Phoenix Es.” Namun, patriark Shu ingin mendapat keterangan yang lebih valid langsung dari mulut Siauw Xiezy.
“Bocah siluman Ras Kalajengking, tahan amarahmu.” Patriark Shu langsung mengetahui usia Siauw Xiezy yang sebenarnya tidaklah setua kultivasi Siauw Xiezy, dengan ranah kultivasi siluman kelas kesatu, seharusnya usia Siauw Xiezy sudah menjadi siluman dewasa. Namun, kali ini sangat berkebalikan. Ada gap dan ketidaksesuaian antara kultivasi dan usia yang sebenarnya.
Hal tersebut juga mendatang rasa tidak percaya dan penasaran dalam diri Patriark Shu.
Siauw Xiezy masih belum berkata-kata, ia mengalihkan pandangan pada siluman yang telah mengunci hawa siluman dalam tubuhnya dengan tatapan mata yang sama.
“Ha ha ha! ... kenapa kau menatapku dengan tatapan yang begitu kejam dan mengerikan, kita masih dari Ras Bangsa Siluman. Seharusnya kita tidak perlu saling bermusuhan.” Setelah memperlihatkan senyum kecil, Patriark Chu melanjutkan perkataannya, “Gadis dari Ras Manusia itu baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkannya.”
Sekarang, tatapan mata Siauw Xiezy berubah, keterkejutan, keheranan, kebencian dan perasaan tidak percaya. Semuanya menjadi campur aduk dalam tatapan tersebut.
__ADS_1
Namun, itu segera kembali dipecahkan oleh ucapan Patriark Shu. “Bocah Siluman Kalajengking, coba kau ulangi lagi ucapan yang kau keluarkan sesaat sebelum engkau tidak sadarkan diri kemarin. Aku ingin mendengar dan memahami maksud dari perkataan mu.”
Kemarahan dan sifat impulsif yang muncul dalam diri Siauw Xiezy berkurang banyak.