
Terperangkap dalam lubang, tidak lantas membuat Gou Long putus asa. Ia meneliti lubang sumur tua itu terlebih dahulu.
“Ini sudah sangat lama, lumutnya saja sangat tebal, toko ini benarlah baru mereka buka, namun gedung dan lahan jelas telah lama mereka beli atau bisa saja ini memang tempat persembunyian sepasang Iblis Hitam dan Putih.” Pikir Gou Long.
Lubang sumur tua ini sangat gelap, dengan pancaran tenaga dalam petir berwarna kebiruan Gou Long bisa menelusuri setiap sudut dari sumur tua itu, lubang sumur tua terlihat cukup besar, dengan luas sebesar kamar penginapan, bahkan lebih seperti penjara bawah tanah.
“Ini sudah berjalan hampir setengah jam, namun tidak tampak tanda-tanda dinding yang bisa ditembus dengan tenaga dalam. Aku yakin mereka juga memasang Array pertahanan lain pada dinding perangkap ini.” Gumamnya.
Beberapa kali Gou Long coba melepaskan pukulan yang menggetarkan dinding, “Bheenkk!” namun, apa yang diperoleh Gou Long hanyalah gema suara yang memekakkan telinga.
Lelah dengan uji coba berkali-kali yang berujung dengan kegagalan, Gou Long duduk bersila berkultivasi.
Lama… menurut perkiraan Gou long, ia telah berkultivasi selama sehari lebih, ini hanya bersisa empat hari lagi menjelang peresmian Paviliun Gunung Teratai, akan sangat lucu jika Master Paviliun tidak hadir saat peresmian berlangsung.
Hari ini Gou Long kembali mengulang, dan mencoba memecah dinding tebal sumur tua tersebut, itu tetap saja sia-sia, yang muncul hanya lelah, haus dan lapar. Beruntungnya, Gou Long masih memiliki beberapa potong roti kering dan arak.
“Metode yang dikerjakan Iblis itu sungguh keji, mengurung orang di sini dengan tujuan agar mati kehausan dan kelaparan.” Pikir Gou Long.
Lelah! Ia merebahkan diri berbaring begitu saja di atas lantai, pakaian menjadi kotor dihiraukannya, saat itulah Gou Long mendengar suara dengung bagaikan nyamuk yang berbisik di telinga.
“Bocah! Hentikan keributan yang kau buat di dalam sumur tua ini, kalau kau memang memiliki kekuatan lain, lebih baik kau turun lebih dalam ke sini…”
“Siapa yang berbicara?” tanya Gou Long, memastikan pendengarannya.
__ADS_1
“Di bawah sini bocah! Ada lantai lain.” Dengung itu kembali terdengar menjawab.
Gou Long bangkit dan duduk berjongkok, ia mengetuk-ketuk lantai sumur tua tersebut, “Ah! Ada lantai lain di bawahnya, pantas saja tidak ada air di lantai ini.” Batinnya.
Satu tarikan nafas dalam, “Bruukkk!” Gou Long membobol hancur lantai tersebut, “Byrruurr!” Gou Long dan pecahan lantai jatuh ke dalam sumber mata air.
Mengalirkan tenaga dalam elemen petirnya, ruangan bawah itu sedikit lebih bercahaya, Gou Long melihat ke setiap sudut dari lantai paling bawah sumur tua ini, air hanya sebatas dadanya, di sisi depan Gou Long, terdapat lantai batu dan tidak tergenang air yang hanya berjarak setengah tombak.
Di depan lantai batu itu, pemandangan yang mengidikkan bulu kuduk terpampang. Seorang kakek yang sangat kurus, hanya menyisakan kulit sebagai pembungkus tulang, rongga mata kosong layaknya setan gentayangan. Kakek itu bukanlah setan, ia seorang manusia.
Kedua tangan dan kakinya terpaku di dinding sumur, begitu juga dengan tubuhnya, terlilit rantai besar yang juga dipaku ke dalam dinding. Rambut putih yang memanjang menutupi sebagian besar wajah, rongga mata kosong itu adalah bekas penyiksaan, mata yang buta karena dicongkel secara paksa.
Ia terpaku di dinding dalam keadaan tanpa baju, hanya celana pendek yang menutupi bagian bawah tubuh. Namun, yang paling luar biasa dari kakek ini yaitu kulit tipis itu terlihat bening seputih giok.
Gou Long bergegas melepaskan kakek tersebut dari dinding, memutuskan rantai yang mengikat serta mencabut paku pasak di tangan dan kaki kakek tersebut, kemudian ia mendudukkan kakek itu di atas lantai.
Saat itu Gou Long menyadari kakek ini walau memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi, namun masa hidupnya hanya menghitung hari.
Lantas Gou Long juga duduk menjeplok di sisi si Kakek.
Entah berapa puluh tahun ia telah menjalani siksaan hidup seperti ini, yang paling parah seluruh jalur meridian di kedua kaki dan tangannya telah dihancurkan, percuma saja memiliki tenaga dalam tinggi kalau tidak bisa menyalurkannya, penyiksaan seperti ini hanya Iblis yang tega melakukannya.
“Terima kasih bocah, kau sangat tanggap dalam bertindak. Dari nafas dan kulit tanganmu yang terasa saat menyentuhku, usiamu masih belasan tahun, dan kau bahkan bisa menembus Ranah Surgawi, benar-benar bakat yang jarang ada selama ratusan tahun.” Ujar Kakek itu.
__ADS_1
Ia tidak peduli dengan kondisinya, Kakek ini lebih seperti orang tua yang membutuhkan kawan untuk bercakap-cakap sebelum ajal menjemputnya.
“Lupakan saja Kek! Lagi pula kita sama-sama terperangkap di sini, menanti ajal dan memiliki teman bercakap-cakap lebih baik dari mati dalam kesepian.” Ucap Gou Long, dia tidak berbicara secara formal dengan si Kakek, karena Kakek itu juga tidak berbicara dengan menggunakan Senior-Junior.
“He he he… Bocah! Ajal yang akan datang hanya berlaku bagiku, sedangkan bagimu masih jauh dari kata tersebut.” Kakek itu terkekeh senang mendapatkan kawan berbicara.
Gou Long menarik nafas panjang, “Baiklah! Karena Kakek melarangku ikut mati, maka aku juga akan enggan mati dan tentu saja aku akan berusaha keluar dari lubang ini kelak. Ha ha ha…” Luar biasa kedua orang ini bersenda gurau tentang kematian seenak jidat mereka.
“Bocah! Aku ingin bertanya! Kenapa kau terjatuh dalam lubang ini? Apakah kau menyinggung mereka bertiga?... Tapi rasanya tidak mungkin, ketiga orang itu sudah tentu sangat tua saat ini, sedangkan kau masih sangat muda…” Si kakek bertanya dan bergumam menjawab sendiri pertanyaannya.
“Bukan begitu Kek!” jawab Gou Long, berpikir sejenak Gou Long melanjutkan, “Kalau diceritakan ini akan sangat panjang…”
“Sudah tidak usah diceritakan, katakan yang penting-penting saja.” Potong si Kakek cepat.
“...” Gou Long tidak langsung menceritakan, ada hal yang sedikit membingungkannya dari perkataan si Kakek, “Sebentar Kek! Aku tidak bisa menjawab karena bingung dengan ucapan Kakek…”
“Mereka bertiga? Maksud Kakek siapakah? Dan Kakek sendiri siapa?” tanya Gou Long.
“Bocah! Bocah! Orang tua yang hampir mati ini masih saja kau renteti dengan banyaknya pertanyaan… He he he…” Kakek tersebut menggerutu, namun juga terkekeh senang, ia balas bertanya, “Siapa gurumu agar aku mudah menjawab pertanyaanmu?”
“Guruku yang pertama sekali yaitu Kakek Zhou atau Zhou Yun si Pendekar Sadis, namun kemudian aku juga memperoleh sedikit pencerahan dari Kakek Awan Putih, Song Bu Kek.”
“Ha ha ha…” tawa si Kakek meledak.
__ADS_1
“Tak kusangka, ratusan tahun telah terlampaui, namun si Tua Bangka Song itu masih hidup, lalu kau juga berkata si Sadis Kecil itu sebagai gurumu… Ha ha ha… Ini akan lebih mudah untuk bercerita.” Ucapnya.