Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 153. Menuju Ke Kebun Herbal


__ADS_3

Gou Long tidak menunggu lebih lama, ia melesat melayang tinggi ke langit, ketika siluet sosoknya kembali turun ke bawah, “Di arah barat terdapat sebuah hutan lebat, kemudian setelahnya akan ada padang pasir luas...”


“Jasad Cici Ranran kita bakar di hutan itu saja, mari kita berangkat!” ujar Gou Long.


Dia langsung saja memanggul Hua Yan Ran di pundaknya, “Mari Mei ‘er, dan Saudari Qiu!” lanjut Gou Long lalu bergerak memimpin di depan, Murong Qiu dan Hua Mei lantas juga segera mengikuti Gou Long.


Tidak ada kata-kata dari mereka bertiga, kesedihan yang masih menyelimuti hati membuat suasana perjalanan ini terasa sepi.


“Mei ‘er! Bagaimana perkembangan ilmu meringankan tubuhmu?” akhirnya Gou Long membuka suara, dan mencoba mengalihkan kesedihan Hua Mei.


Tak ada jawaban yang didengar Gou Long, sekilas ia melihat Hua Mei, Gadis itu terus mengikuti di belakangnya, tapi ia terlihat termenung mungkin masih memikirkan hidup dari Cicinya yang sangat menderita.


Gou Long menghela nafas panjang, dan terus memimpin di depan.


Dalam keadaan seperti itu Gou Long malah bernyanyi kecil dalam bait-bait nasehat kehidupan.


“Apa itu hidup... Apa itu mati... Lahir kita menangis... Mati kita ditangisi... Apa yang kita tangisi... Apa yang ditangisi... mengapa kita menangisi orang yang sudah mati... Apakah kita menangis karena sayang pada yang telah mati... atau kita sayang pada diri sendiri yang ditinggal pergi...”


Gou Long terus mengulang-ulang nyanyiannya ini dengan sesekali bersiul-siul kecil. Sampai akhirnya mereka tiba di tempat yang mereka tuju.


Dia meletakkan jasad Hua Yan Ran kemudian bergerak cepat menebang beberapa pohon besar. Hanya butuh waktu 30 menit Gou Long telah mengatur kayu tempat pembakaran di sana, sementara pakaian di jasad Hua Yan Ran dapat dilihat Gou Long telah diganti dengan pakaian baru oleh Hua Mei.


Murong Qiu dan Hua Mei juga telah mengganti pakaian mereka, ketenangan telah kembali pada mereka berdua, memang obat paling mujarab untuk orang bersedih bukanlah dengan mengasihaninya, tapi sindiran halus yang di ucapkan secara tidak langsung sebagai pengingat baginya.


Mereka kemudian membakar jasad Hua Yan Ran, semua pekerjaan ini dilakukan oleh Hua Mei sendiri.


***

__ADS_1


Seminggu telah berlalu, dan mereka menetap sementara di hutan tempat pembakaran jasad Hu Yan Ran, selama seminggu itu berangsur-angsur pikiran Hua Mei menjadi tenang dan ceria kembali.


Di sana Gou Long sengaja membangun sebuah gubuk sederhana dengan daun-daun sebagai atapnya, gubuk ini digunakan untuk tinggal sementara. Guna menambah fondasi kultivasi Hua Mei dan Murong Qiu, Gou Long juga memberi masing-masing mereka 7 kristal esensi siluman kelas ke-2.


Sehingga dalam jangka waktu seminggu saja, fondasi kultivasi keduanya seperti seniman bela diri yang telah berkultivasi selama 140 tahun. Bahkan keduanya telah berhasil menerobos ke Ranah Langit tahap menengah.


Sangat aneh! Penerobosan ranah mereka juga sama seperti Gou Long serta tidak terjadi baptisan dari langit bumi, lain halnya dengan Gou Long yang banyak menghabiskan waktu membaca kitab-kitab peri.


Kitab-kitab itu lebih banyak berisi falsafah-falsafah kehidupan, yang membuat Gou Long menjadi lebih bijak dalam bersikap. Walau kadang kemudian sifat kekanak-kanakannya tetap saja muncul.


Gou Long menjadi sangat menyukai kitab-kitab falsafah ini karena dibalik setiap falsafah itu seperti ada semacam jurus silat, namun tidak diketahui Gou Long rahasianya.


Walaupun masing-masing sibuk dengan kegiatan sendiri, namun percakapan-percakapan kecil selalu terjaga di antara mereka.


Seperti kemarin, konsentrasi Gou Long yang sedang membaca salah satu kitab, dipecahkan Hue Mei yang tiba-tiba duduk di sisinya, “Apa yang Long Gege lakukan selama ini, setelah pergi dari Sekte Naga Langit?”


“Tidak banyak, hanya melarikan diri dari Daerah Selatan secepatnya, bertemu beberapa Alkemis, dan... Ya begitulah! Tidak ada yang menarik...” jawab Gou Long sekenanya saja.


“Selamat Saudara Gou sudah menjadi Master Paviliun! Kelak Saudara Gou harus meresmikan Paviliun itu, harus bersamaan dengan hari bahagia kalian berdua!” Murong Qiu yang mendatangi dan duduk di sisi Hua Mei berkata menggoda kedua orang itu.


“...” Gou Long tidak bisa menjawab kelakar dari Murong Qiu, dia teringat akan kejadian yang terjadi di Makam Panglima Peri.


Dia harus memikirkan cara yang terbaik kelak untuk menyatukan kedua gadis tersebut, walau saat ini belum dapat mengetahui apakah mereka akan saling cemburu.


Di mana ada cinta, di sana pasti ada rasa cemburu.


Melihat pada Hua Mei yang duduk di sisinya, terlihat wajahnya memerah seperti tomat masak. “Hemmm... Itu bisa kita bicarakan lagi kelak, kalau sudah keluar dari sini...”

__ADS_1


“Kalian! Kenapa bisa berada di Daratan Tengah ini?” tanya Gou Long mengalihkan percakapan.


“Mei ‘er dan Kakek telah memutuskan untuk kembali ke Klan Hua.” Jawab Hua Mei lirih, dia tidak melanjutkan, menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, mereka kembali ke Klan Hua karena Hua Mei ingin menyusul Gou Long.


“Apa benar begitu?...” Goda Murong Qiu.


“...” Tidak ada kata-kata dari Hua Mei, wajahnya semakin memerah.


“Kalau memang kalian tinggal di Klan Hua ini juga suatu keberuntungan lain, mungkin nanti Gege memiliki sedikit permasalahan yang harus dibahas dengan Patriak Klan Hua, tapi ini harus Gege pastikan terlebih dahulu...” ujar Gou Long, perkataan yang menyelamatkan wajah Hua Mei dari rasa malunya.


“Mei ‘er tidak akan pindah ke Paviliun Gege, Gege harus berani menjemput Mei ‘er di Klan Hua kelak!” Tantangan ini di ucapkan oleh Murong Qiu.


Dia sengaja membahasakan diri sebagai Hua Mei, sambil berkata dia menarik Hua Mei yang sudah semakin memerah wajahnya lalu pergi menjauh dari Gou Long sambil tertawa cekikan.


Begitulah, setelah tujuh hari menetap sementara di sana keceriaan telah kembali pada mereka semua, dan di hari ini mereka akan berangkat dari sana serta melanjutkan penelusuran di Tanah Suci Para Pendekar ini, masih ada 13 hari lagi sebelum tanah suci ditutup, kemudian baru dibuka kembali 10 tahun ke depan.


Tujuan mereka hari ini adalah Kebun Herbal.


Dari peta pemberian Hauri, yang menjadi bahan penasaran Gou Long adalah Makam Panglima Peri dan Kebun Herbal, dia sangat penasaran bagaimana bisa ada Kebun Herbal di sini, dan jenis tanaman apa saja yang ada di sana.


Dan yang bukan menjadi rahasia bagi kalangan Alkemis adalah cara penanaman Herbal itu sendiri, setiap Alkemis memiliki pola Array tertentu dalam pengaturan kebun herbalnya.


Itu tidak bisa sembarangan menanam begitu saja, bahkan sebagian Alkemis sengaja menyewa ahli pola Array untuk mengatur tata letak kebun yang dapat meningkatkan jumlah produksi herbal setiap tahunnya.


Kebun Herbal itu akan terlihat setelah melalui gurun pasir luas selama 2 hari pejalan kaki, dan 1 hari bagi para kultivator yang terbiasa menggunakan ilmu meringankan tubuh.


___________

__ADS_1


Ramaikan dengan Komentar, like, dan Votenya. jujur sih komentar kalian selalu menambah semangat ngetik..


Satu dulu yaa! Ngantuk banget, hari selasa dan kamis sering bnget lembur di tempat kerja wah pulangnya telat banget sudah...


__ADS_2