
Saat Kapal Perahu tiba di Kota Air Spiritual, Gou Long langsung bergegas keluar dari Kapal, Hauri sudah kembali masuk ke dalam bentuk tato pedang, sedangkan Eira juga masuk ke dalam jubah Gou Long.
Kota ini memang sangat ramai, persis seperti yang dijelaskan Patriark Pan, seniman bela diri daerah Utara berduyun-duyun ke Kota itu hanya sekedar untuk meningkatkan kekuatan Kesadaran Spiritual.
Gou Long yang turun dari Kapal Perahu langsung melesat ke pusat keramaian, di mana tempat orang-orang yang menyediakan jasa penunjuk arah, lebih cepat masuk ke tempat tersebut maka akan lebih menghemat waktu yang ia habiskan di daerah Utara.
Ia sangat tertarik dengan air spiritual ini, terlebih lagi kesadaran spiritual memang jarang ia latih.
Bergerak di antara keramaian, tangannya terasa ada yang memegangi secara tiba-tiba. Gou Long berbalik dan menghadap ke arah orang yang memegangnya, ia melihat itu adalah sosok orang tua, dengan gerak tubuh anggun, pembawaan seorang petugas rumah tangga tua/pelayan tua yang sudah sangat elegan dan berpengalaman.
Mata orang tua itu terlihat berkaca-kaca, menatap Gou Long sangat lama.
“Maaf, Paman mengenalku?” tanya Gou Long sopan.
Tangan yang bergetar keras, diangkat dan mengusap lembut pipi Gou Long, pelayan itu seperti sedang bernostalgia dengan kenalan lamanya.
Terbata-bata ia berkata, “T-tuan Muda, baru sekarang anda kembali, ini entah sudah berapa tahun berlalu, Tuan besar sangat merindukan anda, beliau sakit parah beberapa tahun ini, terkena racun yang sampai sekarang belum ada yang bisa menyembuhkan.” Mata yang berlinang air, terlihat kentara dan menyedihkan dari Pelayan tua tersebut.
“Maaf Paman! Maksud Paman apa? Mungkin Paman salah mengenali orang.” Gou Long berkata lembut, seraya menepis tangan tua yang masih terus mengelus-elus pipinya.
__ADS_1
Sang pengurus rumah tangga ingin menjawab perkataan Gou Long, namun niatnya itu terhentikan tatkala dua orang muda-mudi mendatangi. Keduanya mengepalkan tangan di depan dada, “Maafkan pelayan tua kami Tuan, walau pelayan tua kami terlihat seperti orang yang masih berusia lima puluh tahun, akan tetapi pada kenyataannya, beliau saat ini sudah berusia hampir seratus sepuluh tahun,” ujar si Pemuda, menjelaskan kondisi dari pelayan tua mereka.
Sementara itu si Pemudi setelah mengepalkan tangan di depan dada, menghadap ke arah pelayan tua itu, menariknya sedikit agak jauh dari Gou Long dan Kakaknya, dia berbisik pelan pada pengurus rumah tangga itu, “Kakek Man! Kakek salah mengenali orang lagi kah? Ing-ing tebak, Kakek kembali merindukan Paman Han, sehingga salah mengenali orang lagi kan?”
“...” Orang tua itu tidak menjawab, dia terus menatap wajah Gou Long, lama dan akrab.
Melihat kedua muda-mudi itu, Gou Long segera mengenali mereka berdua, “Dunia ini sangat sempit, baru dua hari yang lalu aku bertemu dengan kalian, hari ini kita kembali berjumpa, ini merupakan jodoh yang diatur langit,” ujarnya, tersenyum kecil.
Timbul rasa keakraban dan ingin berteman dengan mereka berdua dalam hati Gou Long, “Terkait Paman tua ini, lupakan saja, aku tidak memasukkannya ke dalam hati,” lanjutnya sambil mengepalkan tangan di dada dan menghadap ke arah orang tua tersebut.
Berjarak satu langkah di depan sana, Gou Long melihat gadis yang menyapa dirinya sendiri dengan Ing-ing terus berbisik-bisik dengan orang yang ia sapa dengan sebutan Kakek Man.
“Paman tua tidak perlu minta maaf! Terkait perkenalan, Junior ini memang berniat berkenalan dengan Senior dan kedua sahabat sebaya ini.” Gou Long tersenyum simpul, lanjutnya, “Sebelumnya Junior juga belum sempat berkenalan dengan kedua sahabat sebaya ini.”
Si pemuda dan pemudi yang sempat dibayarkan biaya Kapal Perahu oleh Gou Long, merasa malu karena belum sempat menanyakan nama dari pemuda di hadapan mereka ini.
Mewakili adik perempuannya, “Aku Gou Chen, ini adik sepupuku, Gou Ing-ing dan ini Kakek Man Kiang, pengurus rumah tangga Klan kami.” Si Pemuda memperkenalkan mereka semua pada Gou Long.
“Ah!...” terkejut, lalu tersenyum sumringah, “Ini benarlah jodoh yang diatur langit,” ujar Gou Long, lanjutnya, “Aku juga bermarga Gou, namaku Gou Long.”
__ADS_1
Setiap untaian kata yang diucapkan Gou Long juga mendatangkan rasa kejut di hati ketiga orang itu, terlebih lagi si Kakek Man. Ia menatap Gou Long berbinar, “Paras wajahmu mengingatkan orang tua ini akan seseorang,” gumam Kakek Man.
Tak ingin kesempatan hilang begitu saja, Kakek Man kembali bertanya pada Gou Long, “Anak muda! bolehkah orang tua ini mengetahui nama dari Ayahmu? sejujurnya, sejak awal kita berjumpa, saat Kakek menarik tanganmu sebelumnya, itu karena segala sesuatu dari dirimu sangat mirip dengan orang yang selalu orang tua ini asuh dulu...”
“Cara jalan, raut wajah, cara engkau tersenyum, semua sangat mirip...” Kakek Man terlihat sedih saat mengingat sosok tersebut.
Gou Chen dan Gou Ing-ing menjadi sangat tertarik, tatapan mata mereka berdua tidak kalah antusias jika dibandingkan dengan Kakek Man, ada sedikit harapan yang tidak pernah terbayangkan oleh Gou Long juga dalam tatapan mata mereka.
Ya! itu adalah harapan dari pencarian bertahun-tahun yang telah dilakukan oleh Klan Gou di daerah Utara ini. pencarian akan sosok Patriark Muda Klan Gou yang telah lari dari Klan sejak dua puluh tiga tahun yang lalu.
Gou Long sendiri, mendapatkan pertanyaan seperti itu, ia terlihat sendu, namun ditahannya sebisa mungkin, “Haaaah!” setelah menghela nafas panjang, baru ia berkata, “Terkait kedua orang tua Junior ini, Keduanya telah meninggal dunia sejak sembilan tahun yang lalu, sangat tidak baik untuk membicarakan orang-orang yang telah meninggal, namun kalau hanya sebatas nama, Junior ini tidak keberatan untuk memberitahu pada Kakek...”
“Ayah bernama Gou Han, sedangkan Ibu bernama Su Lan.” Gou Long mengakhiri perkataannya, ia tertunduk dengan mulut terlihat komat-kamit.
Kakek Man, Gou Chen dan Gou Ing-ing mendengar perkataan dari Gou Long, merasa seperti ada petir ganas menyambar kepala mereka. Bertahun-tahun mencari, saat setitik harapan telah muncul, namun kabar yang mereka peroleh hanyalah sebentuk kedukaan.
Namun begitu, hal ini masih lebih baik, setidaknya keturunan dari Patriark muda ada di hadapan mereka saat ini.
Perlahan-lahan mata Kakek Man, kian berlinang dengan air mata, lalu tangisnya pecah, “A-ayahmu, a-aku m-merawatnya seperti anakku sendiri,” terbata-bata ia berkata, “S-sepantasnya kau adalah cucu bagiku.”
__ADS_1
lemah karena sedih, tangan Kakek Man kembali digerakkan kali ini mengelus lembut kepala Gou Long.