Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 275. Rasa Jeri


__ADS_3

Dua persen hawa murni kekacauan yang di masukkan Gou Long ke dalam dantian kedua orang tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka berdua merasakan penderitaan seperti yang terlihat. 


Dantian dan Meridian rusak parah, mereka tersiksa bagaikan ribuan semut api masuk, kemudian menggigit setiap jalur dari hawa murni yang mengalirkan energi di dalam tubuh.


Namun itu hanyalah permulaan, bagi seniman bela diri, hal yang paling mereka takutkan adalah membuyarnya hawa murni yang telah mereka latih selama bertahun-tahun. 


Setelah berusaha sangat keras, menghabiskan banyak waktu dan sumber daya, hasil akhir yang mereka peroleh hanyalah kesia-siaan. Bagaimana tidak! Membuyanya hawa murni dan tidak bisa mengumpulkan energi kembali, nasib keduanya saat ini seperti masyarakat biasa yang tidak berlatih atau tidak bisa berlatih sama sekali. 


Bagi seniman bela diri, terjerumus ke dalam nasib seperti itu lebih celaka daripada mendapatkan hukuman mati.


“Long Twako! Apa yang telah engkau perbuat pada mereka berdua?” penasaran, dan juga perasaan tidak tega terlihat dari wajah Gou Ing-ing. Gadis ini masih terlalu muda untuk melihat penderitaan yang dirasakan kedua orang itu. Padahal sumber penderitaan kedua orang itu sebelumnya bermula dari mulut kotor yang mengejeknya.


Gou Long belum menjawab, Kakek Man telah terlebih dahulu menjelaskan pada Gou Ing-ing, orang tua ini walau belum menembus Ranah Surgawi di usianya yang sudah sangat tua, namun penglihatan mata tua serta pengalamannya yang lebih banyak, segera mengetahui bahwa hawa murni kedua orang anggota Klan Lau telah membuyar.


Kakek Man menggelengkan kepala, “Aihh! Sangat disayangkan, mereka berdua sudah tidak bisa berlatih sama sekali, dantian serta meridian telah rusak, hawa murni sudah tidak bisa dikumpulkan lagi.” meskipun orang-orang itu musuh dan saingan dari Klan Gou, Kakek Man tetap menyesalkan nasib yang menimpa keduanya.


Ucapan Kakek Man lirih, namun semua orang yang menonton mendengar ucapan itu. Orang-orang ini mencuri-curi lirik ke arah Gou Long, perasaan jerih terpancarkan dari mereka semua.


Penderitaan dan teriakan dari Lau Tianfa dan Lau Kian juga telah berhenti, keduanya duduk menjeplok di atas salju, kelelahan.

__ADS_1


Hukuman hidup sebagai manusia yang tidak berguna sungguh sangat membuat mereka menderita.


Gou Long cuek dengan keadaan sekelilingnya, ia tidak peduli pendapat orang lain terhadap apa yang telah ia kerjakan. Menoleh ke arah Kakek Man, Gou Ing-ing dan Gou Chen, ia berkata lembut, “Mari kita menikmati dan berkultivasi di pemandian Air Spiritual.”


Secara tidak langsung orang-orang yang menonton kericuhan itu membuka jalan yang lebar pada Gou Long dan ketiga orang Klan Gou lainnya. 


Semua orang jelas masih jeri pada Gou Long, andai mereka tidak melihat tingkat kekuatan, kecepatan, serta cara turun tangan yang tanpa ampun dari pemuda kerempeng itu sebelumnya, bisa saja mereka akan terus merendahkan orang-orang dari Klan Gou, kemudian bernasib sama seperti Lau Tianfa dan Lau Kian.


“Chen Twako! Tunjukkan jalan ke sana!” pinta Gou Long pada Gou Chen.


“Mari Adik Long!” Gou Chen memimpin jalan, wajah anak muda itu terlihat sangat pucat. Gou Long, Kakek Man dan Gou Ing-ing mengikuti di belakangnya.


Sekilas, Gou Long melirik ke wajah Kakek Man dan Gou Ing-ing, keduanya juga memperlihatkan raut wajah yang tidak jauh berbeda dengan Gou Chen.


Kakek Man, Gou Chen dan Ing-ing saat itu sedang bertarung dengan pikiran masing-masing, ketiganya berpikir sama, mereka seperti makan buah simalakama, sedikit melukai dua orang Klan Lau, masih merupakan hal biasa dan sering terjadi di antara kedua anggota Klan yang bersaing.


Malahan, Klan Gou lebih sering berada pada posisi tidak menguntungkan, tapi kali ini Gou Long telah menghancurkan basis kultivasi dan memusnahkan ilmu bela diri dua orang anggota Klan Lau. Ini pasti akan berbuntut panjang.


Kalaupun Gou Long membunuh keduanya, itu juga akan sama saja.

__ADS_1


Untuk bertarung langsung dengan Klan Lau, Klan Gou belum memiliki kekuatan yang setimpal dengan itu, apalagi saat ini Patriark besar, keracunan parah. Berpikir seperti itu, hati ketiganya merasa tertekan.


Padahal, andai mereka sedikit saja menjelaskan apa yang mereka pikirkan ini pada Gou Long, perasaan tertekan itu tidak perlu mereka rasakan.


Perlahan keramaian karena perkelahian kecil itu juga mulai bubar dengan kepergian Gou Long dan yang lainnya, hanya meninggalkan dua orang anggota Klan Lau yang masih duduk menjeplok di atas salju, keduanya menyesali sikap congkak dan mulut kotor telah mengejek Gou Ing-ing.


Keduanya berpikir, nasib mereka karena Gadis tersebut, tapi kenyataannya sangat berbeda dengan yang mereka pikirkan, mulut kotor keduanya sejak awal telah menyindir Gou Long secara tidak langsung.


Anak muda itu memang sangat perasa, terlebih terkait ayah bundanya, di luar ia memperlihatkan raut wajah yang biasa saja, seakan-akan menganalisa keadaan terlebih dahulu. Di dalam hatinya sejak awal ia ingin membinasakan keduanya, tapi ia menunggu kesempatan dan alasan yang tepat saja. 


Hingga kesempatan yang ditunggu-tunggu terhidang sendiri di depan mata Gou Long, tidak menunggu itu menghilang, dia langsung turun tangan, dan akhirnya nasib naas harus diterima kedua marga Lau tersebut.


Gou Chen memimpin mereka ke rumah pemandian, itu seperti tempat pemandian air panas yang ada di daerah Selatan atau Daratan Tengah. Tempat itu tidak terlalu jauh jaraknya dengan tempat di mana keributan kecil terjadi sesaat yang lalu, hanya berjarak seratus tiga puluh tombak


Tiba di tempat tersebut, pengelola rumah pemandian datang menyambut, orang ini juga telah melihat keseluruhan dan hasil akhir dari keributan itu, belum sempat Gou Chen bertanya biaya yang harus mereka keluarkan untuk berkultivasi di sana, pengelola rumah pemandian langsung mempersilahkan keempatnya masuk begitu saja.


“Tuan-tuan sekalian silahkan masuk saja, hari ini kami terbuka untuk umum, tanpa memungut biaya sepeserpun…”


Alasan yang dibuat-buat terasa sangat kentara, alasan yang sebenarnya, orang ini hanya sedang berusaha mencari pahala, atau lebih tepatnya perasaan jeri pada Gou Long juga muncul di hatinya, dia benar-benar tidak mau menyinggung Gou Long, walaupun itu berupa upah atas pengelolaan Rumah Pemandian Air Spiritual.

__ADS_1


“Harta, kekuasaan dan kekuatan memang tiga hal yang sangat ampuh untuk mempercepat segala macam urusan.” Gou Long bergumam lirih, menyindir sikap dari pengelola tempat itu. Langsung saja ia berjalan masuk melewati si Pengelola, tidak peduli pada senyum masam yang terlihat di wajah orang tersebut.


Kakek Man, Gou Chen dan Gou Ing-ing lantas saja menyusul Gou Long, mereka tersenyum kecil, di antara wajah-wajah pucat memikirkan nasib Klan kelak.


__ADS_2