Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 186. Ho Peng Kalah


__ADS_3

Nada Alkimia Legendaris terus berbunyi hampir satu jam lamanya, Gou Long membuka matanya, dia telah mendengar semua nada tersebut. Bangkit dari berkultivasi, dia memukul keras Pot Alkimia.


“Denggg!”


Kali ini penutup terbuka, dan menerbangkan lima butir pil ke udara, dengan sigap Gou Long melesat dan menangkap kelima pil tersebut.


Melihat ke sekeliling sesaat, Gou Long berjalan menghampiri Ho Peng yang berdiri linglung, dan memukul pundak Ho Peng ringan, “Peng Tua! Pertandingan sudah usai, mari kita menilai pil hasil racikan kita masing-masing!” ujar Gou Long.


Tepukan dan perkataan itu menyadarkan Ho Peng dari linglungnya, “Khuk!” tak dapat bertahan, dia memuntahkan sekepal darah. Andai Gou Long tidak menepuk, orang ini akan terjadi penurunan ranah yang sangat drastis dari Ilmu Alkimianya.


Tersadar, “Su-sudahlah! Pe-penatua Gou sudah menang, ta-tak perlu melihat dan menilai lagi pil hasil racikan kita!” lemah dan terbata-bata, Ho Peng melesat turun, langsung menuju ke tempat Patriak Sekte Awan berkabut berada.


“Memang tepatlah apa yang diceritakan guru dahulu itu. Ketika seorang Ahli Alkimia memfokuskan segala kelebihannya itu dalam Alkimia, baik dari segi bahan yang berkualitas atau dari tingkat konsentrasinya yang tinggi, maka orang itu dapat memicu dua hal legendaris dari Ilmu Alkimia,”


“Pertama; Pil yang diberkahi Langit dan Bumi, Kedua; Nada Alkimia Legendaris...” Gumam Ho Peng, yang didengar oleh Patriak Sekte Awan berkabut.


Ho Peng memang telah lama tinggal di Sekte Awan Berkabut, sejak pertama kali terusir dari Asosiasi Alkemis dia merantau ke barat, dan membuat nama besar di sana, saat kembali ke Daratan Tengah, yang cocok dengannya hanya orang-orang dari Sekte Awan Berkabut dengan spesialisasi Ilmu Ilusi mereka.


Menjadi Ahli Alkimia di sekte tersebut, lalu dengan adanya insiden Tubuh Tungku Abadi serta acara penobatan Penatua Luar, ini menjadi kesempatan baginya untuk membalas perlakuan Asosiasi Alkemis yang sudah menjadi racun hati dalam tubuh Ho Peng.


Gou Long menggelengkan kepalanya, Dia tahu Ho Peng selama beberapa tahun ke depan tidak akan bisa meracik Pil Ranah Surgawi lagi. Ho Peng telah mengalami kemunduran dalam Ilmu Alkimia.


Orang-orang yang berkultivasi di bawah sana, satu persatu juga mulai membuka mata mereka, bangkit dan menatap Gou Long takjub serta penuh dengan rasa terima kasih.

__ADS_1


Karena Gou Long telah memicu munculnya Nada Alkimia Legendaris, mereka memperoleh pencerahan yang sangat diimpikan oleh semua Ahli Alkimia, inilah bentuk kebaikan yang tidak bisa mereka balas walau dengan nyawa mereka kelak, bahkan secara tidak langsung mereka harus memanggil Gou Long sebagai Maha Guru Alkimia.


Sementara itu beberapa orang telah terlebih dahulu sakit hati, tidak memedulikan kejadian yang baru saja berakhir, tidak dapat menghancurkan Gou Long dengan Ilmu Alkimia, maka ini hanya bisa diselesaikan dengan Ilmu Bela Diri.


Tiga sosok tubuh terlihat melesat naik ke atas platform tempat Gou Long masih berdiri.


Mereka adalah Patriak Sekte Awan Berkabut, Tong Kak San. Patriak Sekte Phoenix Suci, Bok Tong Wa. Dan Patriak Klan Ouyang, Ouyang Sikuan.


Si Kate Patriak dari Sekte Awan Berkabut buka suara, “Penatua Gou, sebelumnya kau menghalangi urusan kami, utusan dan termasuk putraku kau lukai, aku dapat melupakan apa yang telah terjadi dahulu itu...” dia tersenyum, menutupi maksud yang sebenarnya.


“Tapi karena statusmu sebagai Penatua Luar belum teruji dengan Ilmu Bela Diri, orang tua ini sangat ingin menguji Ilmu Silatmu.” Dengan alasan menguji, Tong Kak San menyembunyikan maksud hatinya untuk melukai Gou Long.


“Tong Kak San! Urusanmu bisa kau tunda, keparat ini masih memiliki beberapa hutang nyawa denganku. Dia telah membunuh putraku dan kedua pengawalnya!” nimbrung Patriak Klan Ouyang, dia tidak mau Tong Kak San mengambil mangsa yang sangat ingin dibunuhnya sendiri.


Para hadirin di sana sangat terkejut begitu Ouyang Sikuan mengatakan anaknya dibunuh oleh Gou Long, sekarang mereka sangat menyayangkan Gou Long, orang-orang yakin bahwa tidak akan ada yang bisa menyelamatkan Gou Long kali ini dari amukan Ouyang Sikuan.


“Ouyang Sikuan! Bukan kau saja yang punya urusan dengan bocah ini, urusanku dengannya juga tidak kalah penting!” Bok Tong Wa ikut menyatakan permusuhan dengan Gou Long, “Bocah! Hutang tiga nyawa, bagaimana kau akan melunasinya?” tanya Bok Tong Wa pada Gou Long.


Pemuda ini masih ademnya berdiri di depan tiga orang Patriak Sekte dan Klan Besar, “Ha ha ha! Ka..” ucapan Gou Long terpotong begitu saja.


“Huh! Ouyang Sikuan! Kau kesalahan menuntut balas, Putra sampahmu berani mengganggu cucuku! Sudah sepantasnya dia mati, kalau kau berani menuntut balas dan menyentuh seujung rambut saja dari cucu mantuku! Klan Ouyang tidak akan ada lagi di Daratan Tengah ini!”


Teriakan keras berikut munculnya siluet bayangan Kakek Zhou berdiri di samping Gou Long.

__ADS_1


Patriak Ouyang ini jelas tidak berani terhadap Kakek Zhou, orang ini sangat terkenal dengan julukan Pendekar Sadis, sekali dia berkata akan memusnahkan Klan Ouyang, maka dia pasti akan menepati apa yang diucapkannya.


Sementara di bawah sana, Ding Jia Li terlihat memucat, rasa kelu dilidah tiba-tiba muncul, hatinya terasa hancur remuk redam, kata-kata “cucu mantuku!” terus terngiang-ngiang di telinganya, dia bahkan tidak mendengar kata-kata lain setelah itu.


Li Lan Sian menyadari kondisi dari muridnya yang bergetar keras sambil duduk, dia menggeser sedikit posisi duduknya, dan memeluk erat muridnya tersebut, “Apa yang kau risaukan, ucapan dari si Tua Sadis itu kan belum tentu semuanya benar, kita bisa bertanya langsung pada bocah Gou itu nanti,” ujar Li Lan Sian, menenangkan dan menabahkan hati muridnya.


Li Lan Sian melanjutkan, “Lagi pula, seorang seniman bela diri memiliki dua atau tiga orang pendamping hidup itu merupakan hal biasa, namun Guru tetap akan mendukung apa pun keputusanmu kelak.”


“...” Ding Jia Li hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya saja, dia belum sanggup untuk berkata-kata.


Hal berbeda terlihat dari raut wajah Hua Mei yang terlihat memerah di tengah dinginnya cuaca musim salju, dia sangat senang mendengar ucapan kakeknya tadi, secara tidak langsung kakeknya telah mengumumkan pada khalayak ramai adanya ikatan khusus antara dirinya dengan Gou Long.


Di atas Platform, Patriak Klan Ouyang yang mendapatkan ancaman dari Kakek Zhou untuk sesaat tidak bisa berkata-kata. Dia sangat menyadari ancaman ini bukan sekedar ancaman kosong belaka, dia jelas tidak mau Klan Ouyang hancur saat ia menjadi Patriak.


Mengingat akan hal itu, kepalanya menjadi lebih dingin, “lebih baik mengutus para pembunuh bayaran kembali kelak untuk berurusan dengan bocah keparat itu,” pikirnya.


“Huft!...” mendengus panjang, Patriak Ouyang melesat turun.


“Ha ha ha!... Tidak anak, tidak bapak, sama-sama sampah!” ejek Tong Kak San. Dia sangat percaya diri niatnya tidak akan ada yang menghalangi, karena alasan yang dikemukakan berbeda dengan dua orang lainnya.


Gou Long tidak memedulikan Tong Kak San, dia menghadap ke arah Bok Tong Wa, “Tiga nyawa dari pihakmu, salah mereka sendiri, dengan alasan mengundang malah memaksa, bagiku itu perbuatan provokasi, dan hanya nyawa sebagai imbalannya! Kau mau apa?” ucapnya sengit dan penuh tantangan.


“Aku mau nyawa anjingmu!” jawab Bok Tong Wa dan bersiap langsung menyerang Gou Long.

__ADS_1


“Ha ha ha!...” Suara tawa keras lain kembali terdengar.


__ADS_2