Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 221. Perang Gerilya


__ADS_3

“Ha ha ha!...” tidak mau kalah, Tong Kak San tertawa keras, ia sudah sangat mengenal Suara Gou Long, juga karena Gou Long langsung memperkenalkan diri sebagai Penguasa Gunung Teratai.


“Setelah kami menunggu hampir empat hari akhirnya kau berani menunjuk diri. Dasar anak kura-kura yang tidak mengenal tingginya langit, bersiaplah, kami akan mengantar nyawamu.” Tenaga dalam Tong Kak San dipancarkan kuat, bahkan terasa menekan para seniman bela diri lainnya.


Tidak mau keduluan, “Keparat bermarga Gou! Hutang nyawa dari putraku harus kutuntaskan hari ini juga. Nyawamu, aku sendiri yang akan mencabutnya!” keras suara teriakan Patriark Klan Ouyang, dia tidak bisa menahan amarahnya saat mendengar teriakan Gou Long tadi.


Patriark Ouyang tidak menunggu lebih lama langsung masuk ke dalam Array yang sudah terbuka, teriakan keras Gou Long tadi persis seperti pancingan, orangnya belum tampak, Array yang sudah terbuka, berduyun-duyun ketiga kubu yang berniat jahat pada Paviliun Gunung Teratai masuk ke dalam.


Kabut ilusi yang diciptakan Hauri semakin tebal saja, walau belum menjebak pikiran seniman bela diri itu, setidaknya penglihatan mata mereka sangat terbatas.


“Arrgghh!” teriakan kematian terdengar, tidak ada yang tahu siapa yang telah mati, guna mencegah agar tidak ada dari pihaknya mati, Bok Tong Wa berteriak keras, “Tingkatkan kesadaran spiritual kalian, kabut di dalam sini lebih tebal dari yang terlihat.” Namun, ia masih tidak menyadari ini adalah kabut ilusi.


“Baru sekarang kalian menyadarinya, ha ha ha…” Suara Gou Long terdengar bagai dibawa angin tidak ada yang tahu dimana posisi dia, padahal mereka semua sudah mengedarkan kesadaran spiritual, “Bersiaplah untuk mati!”


Itulah hebatnya kabut ilusi ciptaan Hauri dia bisa menyamarkan posis Gou Long, namun bagi Tong Kak San walau secara samar, ia dapat merasakan dimana keberadaan Gou Long, “Bocah keparat! Di sini rupanya kau.”


Tong Kak San menyerang Gou Long dengan jurus tinju dan tendangannya, tangan dan kaki yang bisa memanjang.


“Tak!” serangan itu dipatahkan Gou Long dengan ayunan golok papan besi, dia bahkan mengejek Tong Kak San, “Sayang sekali! Pertarungan ini juga akan berakhir sama seperti saat terakhir kali, kematianmu dapat kupastikan, kau akan mampus dengan mayat utuh.”


“Whoosshh!”


“Whoosshh!”

__ADS_1


Dua hawa panas pukulan telapak meluncur deras menyerang Gou Long, Bok Tong Wa dan Ouyang Sikuan ikut terjun ke dalam kancah pertarungan, “Ha ha ha… Keparat bermarga Gou! Aku tidak akan keberatan mengeroyokmu, hutang nyawa putraku harus segera kita tuntaskan.”


“Tepat sekali! Aku juga tidak akan keberatan, lebih cepat kau mampus lebih baik.” Bok Tong Wa kembali menyerang, orang ini adalah jenis petarung tangan kosong, setiap pukulannya membawa hawa panas yang menyengat, api berwarna merah pekat terlihat dari setiap gesekan udara pukulannya.


Dua orang petarung tangan kosong dan satu orang petarung pedang mengeroyok Gou Long dari tiga sisi, Ouyang Sikuan sangat bernafsu menumbangkan Gou Long, ia menyerang dengan pedang, kadang kala tangan kirinya juga melepaskan pukulan-pukulan tangan kosong.


Mereka bertiga terlihat sangat kompak menyerang Gou Long, padahal ketiganya tidak terikat perguruan, namun serangan mereka saling melengkapi dan saling melindungi.


“Bagus! Bagus! Tiga orang Patriark turun tangan bersama hanya untuk nyawaku. Ha ha ha…” bertarung dan tertawa keras, Gou Long mengembangkan teknik memindah jasad, hebat! Gerak tubuh Gou Long tidak pernah bisa ditebak.


Perpaduan tenaga dalam khas elemen petirnya dengan Teknik Memindah Jasad memperlihatkan kelas yang berbeda. Golok papan besi ditangan Gou Long membawa deru dan kesiur angin keras pada setiap ayunannya.


Tangan kiri Gou Long juga tidak mau kalah dengan Ouyang Sikuan, dia selalu melepaskan pukulan-pukulan. Beberapa kali berkedip Memindah Jasad, Pukulan Gou Long diarahkan pada Bok Tong Wa, “Coba kau rasakan salah satu dari Tiga Belas Pukulan Penghancur Tulang milikku.”


Dia masih teringat saat terakhir kali jadi permainan, di bawah puluhan pukulan golok tersebut.


Gerakan Gou Long masih terus berlanjut, kembali dia melepaskan pukulan dengan hawa sangat dingin pada Ouyang Sikuan, ketiga Patriark itu berhasil menghindar dari serangan beruntun Gou Long, kelonggaran tercipta dari sana.


Memanfaatkan situasi tersebut, Gou Long mengembangkan Teknik Memindah Jasad, ia menghilang dari serangan mereka bertiga.


Gebrakan pertarungan itu berakhir, setelah bertukar serang dalam lima belas gerakan.


“Aaarrghh!” teriak kematian lain kembali terdengar, ketiga Patriark yang kehilangan Gou Long saling menatap heran, “Apa yang terjadi?” tanya Ouyang Sikuan, “Apa mungkin bocah itu dapat bergerak secepat ini dan telah membunuh dua orang dari kita.” Lanjutnya, tatapannya ditujukan pada Tong Kak San.

__ADS_1


Ouyang Sikuan paham, hanya Tong Kak San yang bisa melacak keberadaan Gou Long.


“Tidak mungkin! Gerakan bocah itu walau cepat dia tidak akan mungkin bisa membunuh orang-orang Puncak Ranah Surgawi dalam satu gerakan.” Mata Tong Kak San terlihat menajam, ia sedang memfokuskan diri mencari keberadaan Gou Long.


Memang pada saat itu Eira juga telah bergerak, ia berkolaborasi dengan baik bersama Siauw Xiezy, Eira menyerang dari atas dan Siauw Xiezy menyerang secara acak dari bawah, saat lawan mereka melemah, Siauw Xiezy langsung menyeret mereka ke dalam lubang tanah yang sudah ia gali.


Dengan Ranah Kultivasi kedua siluman itu, sangat mudah bagi mereka menyerang dan membunuh para Penatua dengan tingkat kultivasi yang relatif sama dengan keduanya, namun sekali lagi, fondasi dan landasan kultivasi kedua siluman itu jelas lebih mantap dan lama.


Feng Yueyin juga melakukan gerakan, walau sebelumnya tidak pernah diperintahkan Gou Long, ia tetap mengaktifkan pola serangan dari Array tersebut, kadang kala pukulan pemadatan hawa murni muncul seperti sebongkah bola, menyerang acak setiap titik hitam yang dilihat Feng Yueyin dari hologram.


“Booomm!” ledakan serangan acak dari Feng Yueyin mengacaukan fokus lawan.


“Ha ha ha…” Suara tawa Gou Long terdengar.


“Apa kalian merasakan ketakutan? Mana kepercayaan diri yang sebelumnya kalian tunjukkan?” seiring dengan perkataan itu, ketiga Patriark merasa seperti ada sesuatu yang meluncur ke arah mereka.


“Whooshh!”


Patriark Sekte Phoenix Suci, Bok Tong Wa menyongsong dengan pukulan panasnya, padahal ia belum tahu apa yang melesat ke arah mereka.


“Buukk!” itu meledak di udara yang berkabut, “Khuk! Khuk! Khuk!” Bok Tong Wa terbatuk-batuk, mengedarkan hawa murni, ia merasakan beberapa meridian tersumbat.


“Selamat tinggal Patriark Bok! Selamat menunggu dua Patriark lain di gerbang Neraka…” suara pancaran tenaga dalam disampaikan kepadanya, dan hanya ia yang bisa mendengar suara tersebut.

__ADS_1


Penasaran dengan apa yang terjadi pada Patriark Bok, Ouyang Sikuan mendekat, “Apa yang terjadi pada dirimu Patriark Bok?” lengan Ouyang Sikuan memegang bahu Bok Tong Wa.


__ADS_2