Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 43. Kisah Inspiratif


__ADS_3

Setelah keluar dari Toko Mantan Pendekar, Gou Long bergegas ke warung arak yang menyediakan jasa penginapan. Selama perjalanan ini, pikiran Gou Long terus memikirkan Manager Lan.


Rasanya, ada yang terlewatkan entah apa itu, ada rasa familiar. Tapi semakin Gou Long memikirkan, pikiran Gou Long terasa semakin buntu. Menghela nafas panjang, Gou Long akhirnya berusaha melupakan sosok Manager Lan.


Gou Long masuk ke warung arak tersebut. Sesaat, Gou Long memperhatikan suasana dalam warung, mencari tempat yang nyaman, ketika bunyi suara panggilan terdengar. “Bocah! Ke sini temani kami minum.” Yang memanggilnya adalah Pengurus Bai.


Gou long tidak tahu, sejak kapan Pengurus Bai sampai ke kota ini! Lagipula, dia memang tidak memikirkannya. Tapi, mengingat Pengurus Bai merupakan Senior dari Sekte Naga Langit, lantas dia memenuhi ajakan Pengurus Bai.


Bersama Pengurus Bai, juga turut hadir beberapa orang murid dari Sekte Naga Langit. Ketika Gou Long menghampiri Pengurus Bai, mereka ikut bangkit lalu memberi hormat pada Gou Long.


“Salam Saudara perguruan!” ucap mereka serentak.


Gou Long hanya dengan anggukan kepala, tergesa-gesa Gou Long segera duduk di meja yang sama dengan Pengurus Bai, dia bertanya, “Kenapa Senior membantu dan menguatkan penjelasan ku tadi malam? Bukankah murid-murid Biro Penegak Hukum, membenci kami murid-murid Biro Perpustakaan?”


“Santai bocah! Jangan terbawa emosi! Di dalam sekte kita boleh bersaing, di luar sekte kita bersaudara. Itulah makna dari sekte. Sekte lah yang mengikat persaudaraan sesama kita.” Pengurus Bai menjelaskan secara singkat.


“Lagipula, sebelumnya aku ke sini bersama Penatua Mu Yuan, tapi setelah beberapa hari melihat, beliau menyadari, semacam ada keanehan. Hanya berpesan padaku untuk terus memantau kejadian di Gunung Petir, kelanjutannya kau sendiri sudah mengerti.” Lanjut Pengurus Bai menutupi ucapannya.


“Kalau begitu, Junior mengucapkan terima kasih pada Senior,” jawab Gou Long, dia berdiri dan memberi hormat pada Pengurus Bai.


Siang itu, mereka makan bersama di warung arak Kota Qing Mu, yang diiringi canda tawa sesama murid Sekte Naga Langit. Baru hari ini, Gou Long melihat sisi lain dari Pengurus Bai yang unik. Sisi baiknya yang mudah mengakrabkan diri dengan orang lain.


Setelah hampir satu jam duduk makan dan minum bersama di warung tersebut, Pengurus Bai berkata, “Bocah! Apa kau akan kembali ke sekte sekarang? Atau ada urusan yang masih kau kerjakan? Kalau tidak ada urusan, kita kembali ke sekte bersama-sama, bagaimana?!”

__ADS_1


“Senior bisa melanjutkan perjalanan bersama saudara-saudara yang lain. Junior masih ada beberapa urusan yang akan dikerjakan.” Gou Long menolak ajakan itu dengan sopan.


Dengan sedikit basa-basi rombongan Sekte Naga Langit saling berpamitan pada Gou Long. Tidak lupa Pengurus Bai berpesan pada si Pemuda agar kembali ke sekte sesegera mungkin. Karena dua bulan ke depan akan ada turnamen antara murid, yang bertujuan perangkingan murid-murid terkuat sekte.


***


Di dalam kamar penginapan, Gou Long mengeluarkan cincin penyimpanan yang diberikan oleh Manager Lan, dia tidak mengecek jumlah emas yang ada dalam cincin itu, Gou Long lebih terfokus pada buku ilmu silat yang dibelinya dari toko tersebut.


Dikeluarkannya salah satu buku silat secara acak, judul kitab itu. “Jurus Pisau Kilat.” Sedikit rasa penasaran, Gou Long bergegas membaca kitab itu, isinya segera membuat Gou Long naik darah.


“Jurus Pisau Kilat, terdiri dari satu jurus. Ambil pisau lalu lemparkan ke arah tujuan secara akurat. Cara berlatih, tidak ada cara khusus hanya, arahkan selalu akurasi dan perhitungan jarak dengan tepat.”


Halaman pertama, kitab itu cuma berisi penjelasan jurus secara sangat singkat seperti tersebut. Halaman kedua, juga berisi dengan lembaran kosong. Dalam amarah yang meluap, dilemparkannya kitab itu ke lantai.


Menarik nafas panjang, Gou Long berusaha untuk menenangkan diri. Kitab setebal itu tidak mungkin cuma berisi satu lembar, Gou Long kembali mengambil kitab tersebut, lalu membuka halaman ketiga.


Halaman ketiga, dan seterusnya juga tidak berisi penjelasan jurus, namun terdapat sebuah kisah yang sangat menarik hati Gou Long.


“Kisah Si Pisau Kilat.”


Diceritakan, bahwa dahulu kala seorang terdapat lah Pendekar yang tidak bisa mengunakan jurus apapun, dia hanya bisa melakukan gerakan dasar biasa, menangkis, menendang, memukul dan menampar.


Kelebihannya di Dunia Persilatan, hanyalah tenaga dalam yang sangat kuat dan tidak ada yang bisa menandingi sumber tenaga dalamnya yang luas. Tentu saja Pisau kilatnya yang tidak pernah meleset.

__ADS_1


Singkat cerita, Pendekar ini berkelakuan aneh, ia memiliki hobi minum arak dan memahat patung, Kualitas patung hasil pahatannya sangat indah, bahkan seperti hidup. Kenapa begitu?


Pada akhir cerita, seluruh Dunia Persilatan tahu rahasia akurasi dan lembutnya tangan Pendekar ini melempar pisau, karena setiap hari dia berlatih akurasi dengan cara memahat patung. Patung yang dalam pandangan orang lain sudah sempurna, dalam jari-jari dan kelenturan pahatan Pendekar itu masih sangat kasar. Kesempurnaan lemparan pisau seperti sempurna pahatan patung.


“....”


Selesai melahap Kisah Pendekar Pisau Kilat, Gou Long akhirnya mengambil kesimpulan, apapun bentuk jurusnya kalau dilandasi tenaga dalam tingkat tinggi efektifitasnya lebih baik dari jurus tingkat tinggi yang berlandaskan tenaga dalam rendah.


Lantas, dia mengeluarkan kristal esensi siluman kelas ketiga. Gou long mulai berkultivasi menyerap energi yang terkandung di dalamnya.


Siluman kelas ketiga membutuhkan waktu seratus tahun kultivasi untuk membentuk kristal esensi. Umumnya, menyerap kristal esensi siluman kelas ketiga sama dengan berkultivasi tenaga dalam manusia selama sepuluh tahun.


Namun, kasus Gou Long berbeda, semenjak menerobos Ranah Langit Tahap Awal, dantian dan meridiannya telah melebar dan membesar. Asupan tenaga saat kultivasi harus lebih banyak diserap, bahkan melebihi orang lain pada umumnya. Sehingga asupan tenaga dalam yang diperoleh sama seperti Gou Long berkultivasi setahun penuh tanpa henti.


Untungnya, ada banyak kristal esensi siluman dalam cincin penyimpanan, Gou Long masih memiliki empat puluh kristal esensi siluman kelas ketiga, dan delapan belas kristal esensi siluman kelas kedua. Jumlah ini, cukup untuk asupan tenaga dalamnya dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan, bahkan cukup untuk menerobos ranah kelak.


Namun demikian, Gou Long tidak tergesa-gesa dalam memadatkan fondasi tenaga dalam. Penyerapan tenaga dalam secara berlebihan akan meledakan dantian dan meridian.


Selama tiga jam lebih, Gou Long berkultivasi hingga kristal esensi siluman terserap secara menyeluruh. Dia bangkit, keluar dari jendela dan melesat di kegelapan malam. Tujuannya kembali ke arah Toko Mantan Pendekar, ada rasa penasaran dan sesuatu yang mengganjal di hati Gou Long.


Melewati beberapa rumah, Gou Long melesat ke atas sebatang pohon, dekat dengan Toko Mantan Pendekar.


“Eira! Bisakah kau memantau toko ini secara detail? Kau bisa menjelaskan segala sesuatunya kelak,” pinta Gou Long, pada Eira.

__ADS_1


“Bocah! Selera mu sangat tinggi, kau tergoda dengan Nona Lan yang jelita ya! Sampai tak bisa tidur dan tak selera makan ... hi hi hi ...” Eira terkikik geli, mengolok-olok Gou Long. Namun, matanya mulai terfokus pada Toko Mantan Pendekar.


__ADS_2