
Proses ujian baptisan dari langit dan bumi yang diterima Gou Long ini terjadi sangat mendadak, bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa ini bisa terjadi.
Prahara dan huru-hara yang muncul semakin dahsyat saja, tenda-tenda yang didirikan di sana terbang terbawa pusaran angin dan badai dahsyat.
Kilatan-kilatan petir semakin banyak saja, itu tidak hanya petir emas, namun juga petir perak dan hitam. Perpaduan ketiganya yang menyambar tiada henti mencetak bianglala indah tersendiri di langit malam.
Melihat proses penerobosan ranah yang diterima Gou Long, banyak seniman bela diri yang saat itu berada pada tingkat Puncak Ranah Langit juga ikut duduk bersila dan berkultivasi, mereka mencoba memahami rahasia dari Ranah Surgawi melalui proses ujian Gou Long.
Ujian kesengsaraan yang diterima Gou Long kali ini menjadi kesengsaraan terbanyak yang diperoleh oleh seorang kultivator, ini mencapai 12 kali sambaran, 3 kali sambaran badai salju, dan 9 kali sambaran petir dengan warna yang berbeda.
Proses ini menghabiskan waktu 12 jam lamanya, banyak kultivator melihat proses tersebut hanya bisa menggelengkan kepala, “sangat disayangkan langit dan bumi tidak mau menerimanya, ujian ini terlalu berat untuk bocah dengan usia seperti dia, dia pasti akan mati.” Begitulah orang-orang berpikir.
Pola pikir seperti itu juga muncul dalam benak para Patriak Klan dan Sekte-Sekte Besar. 12 kali sambaran terlalu banyak, terlalu mengerikan serta terlalu hebat, saat kultivator lain hanya mendapatkan 1 kali sambaran setiap kali melakukan proses kenaikan tingkat.
Akan tetapi semua yang diperkirakan orang lain, benar-benar tidak pernah terjadi. Gou Long berhasil melewati 12 kali ujian kesengsaraan tersebut dengan selamat. yang mengalami nasib malang malah sebaliknya, yaitu sebagian dari seniman bela diri yang sejak tadi sedang berkultivasi dan terus memperhatikan proses penerobosan ranah Gou Long.
Itu adalah sebagian kecil dari orang-orang tersebut, mengalami penurunan ranah secara drastis, dan ada yang tiba-tiba mati sambil berkultivasi, miris dan sangat disayangkan. Berharap memperoleh pencerahan, malah salah langkah dan mencelakakan diri.
Itu terjadi karena tekad mereka kalah, “Hah! Proses ini terlalu menakutkan, apa mungkin aku bisa melewatinya saat proses tersebut terjadi pada diriku?” ketika kata-kata seperti itu terbesit dihati, mereka telah mempertanyakan jalan bela diri yang mereka pilih.
Itu adalah hal yang tabu bagi seniman bela diri, terjebak dengan tekad yang lemah, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka, dalam hal ini orang-orang tersebut juga salah dalam memilih objek.
__ADS_1
Mereka memilih proses penerobosan ranah Gou Long sebagai bahan pembelajaran, andai mereka memilih objek lain, bisa saja tekad bela diri mereka masih sama, sehingga malapetaka bagi diri sendiri dapat dihindarkan.
Sementara itu seniman bela diri yang selamat dan keluar dari Tanah Suci Para Pendekar terus bertambah satu persatu, itu termasuk orang-orang yang mengintip pertarungan kemarin, juga orang-orang yang dijumpai Gou Long di Kebun Herbal.
Begitu keluar dari sana, dan melihat apa yang terjadi di Lembah Gunung berkabut, dengan mengabaikan kondisi di sana, orang-orang ini melesat jauh meninggalkan tempat tersebut setelah terlebih dahulu melepaskan serangan amgi yang berisi pesan tersembunyi kepada rombongan Klan Ouyang, mereka terlampau kesal terhadap apa yang dilakukan Gou Long saat di Kebun Herbal.
“Kami melihat putra kesayangan Patriak kalian seminggu yang lalu bertarung dengan pemuda yang sedang melakukan proses penerobosan ranah.”
Begitu juga dengan rombongan Sekte Phoenix Suci yang mendapatkan pesan sama, tapi isi pesan bagi Sekte Phoenix Suci lebih kepada menonjolkan Sekte Pedang Suci sebagai tersangka utama.
Mendapatkan pesan tersembunyi seperti itu, kedua rombongan tersebut memilih untuk tidak percaya sepenuhnya, mencerna dulu dan menunggu putra masing-masing keluar dari Tanah Suci Para Pendekar sampai hari terakhir.
Baru kemudian melayang turun, “Terima kasih pada para Senior sekalian yang menjagai Junior, budi ini akan selalu Junior ingat!” Gou Long menangkupkan tangannya di depan dada, sambil menghadap empat orang yang berdiri di empat sisinya.
“Selamat Sicu Muda telah berhasil melangkah ke Ranah Surgawi!”
“Selamat Master Paviliun Gou, dengan ini Paviliun Gunung Teratai harus segera diresmikan! He he he...” ujar Kui Ong Cinjin terkekeh, menimpali ucapan It Hong Taysu.
“Mari kita kembali ke sana!” Kui Ong Cinjing mengajak Gou Long dan It Hong Taysu kembali ke rombongan mereka.
“Terima kasih Taysu! Terima kasih Cinjin! Sebentar, junior ingin berbicara dengan para senior di sana.” Jawab Gou Long, dia telah melihat Kakek Zhou dan Patriak Klan Hua, keduanya seperti ingin mengatakan sesuatu padanya.
__ADS_1
Lantas Gou Long mendekati keduanya, “Salam Guru! Sekali guru, seumur hidup guru, satu kata memperoleh pengajaran seumur hidup menjadi murid. Maafkan kelakuan murid yang selalu sembrono dan pergi meninggalkan Sekte begitu saja.” Ujar Gou Long, bersimpuh di depan Kakek Zhou.
“Bocah baik! Bocah baik! Kau selalu mengingat setiap budi dan dendam, bangkitlah! Hal yang lalu sudah berlalu, jangan diungkit lagi, itu hanya akan membuat orang tua ini tambah malu, kalau mengingat apa yang terus-menerus dilakukan sekte padamu!” ujar Kakek Zhou sambil mengangkat bangkit Gou Long.
“Selamat! Kau berhasil melangkah ke Ranah Surgawi, tak perlu aku bertanya kabar dan hal-hal lain, kondisimu saat ini sudah menjelaskannya, He he he...” Kakek Zhou terkekeh, “Pesanku, kau harus mengunjungi kami kelak di Klan Hua!” lanjutnya, kemudian melesat pergi begitu saja, kepribadiannya yang esentrik sudah mendarah daging.
Dia berkata apa yang dia suka dan pergi sesuka hatinya. Bahkan Gou Long belum sempat menjawab sama sekali, dan tidak sempat menahan gerakannya.
“Guru jaga diri dengan baik!” teriak Gou Long ke arah Kakek Zhou melesat.
Gou Long kemudian menghadap ke arah Patriak Klan Hua, lelaki paruh baya itu juga terlihat sedang menelitinya.
Patriak Klan Hua, Hua Cu Sian meneliti setiap sudut dari tubuh Gou Long, “Masih sangat muda, gagah, tampan dan berbudi. Pilihan Mei ‘er sangat tepat,” gumamnya.
“Bocah! Tak perlu banyak peradatan, aku juga tidak terlalu mengenalmu, namun karena permintaan gadis kecil keluargaku, aku membantumu kali ini. Pesanku sama seperti pesan gurumu, kami menunggu kedatanganmu di Klan Hua!” lanjut Hua Cu Sian.
“Terima kasih banyak Senior! Pesan Senior akan selalu Junior ingat.”
“Baik sekali! Sampai jumpa lagi bocah.” Ujar Hua Cu Sian, kemudian dia juga berlalu dari sana.
Dengan kepergian dua orang tersebut Gou Long berbalik lalu mengikuti Kui Ong Cinjin dan It Hong Taysu yang sudah menunggunya sejak tadi, mereka bersama-sama kembali ke rombongan Kuil Budha Emas dan Sekte Pedang Suci.
__ADS_1