Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 10


__ADS_3

"Mama toloooooong.... " Kinan teringat kembali mimpinya tadi malam. Dia mempunyai anak perempuan yang sedang meminta pertolongannya.


Ya Tuhan apakah ini petunjuk dari MU. Melihat tubuh mungil ini tersiksa seperti ini hatiku rasanya sangat sakit. Bayi mungil ini tidak mendapatkan kasih sayang dari Ibunya. Kini dia harus berjuang sendiri untuk hidupnya. Apakah aku egois jika bersikeras menolak menikah dengan Papanya? Batin Kinan bergejolak.


Bayi perempuan mungil itu tiba - tiba menangis. Mungkin dia sedang bermimpi dalam tidurnya.


Kinan langsung mengangkat dan menggendongnya. Naluri keibuannya langsung menggoyangkan tubuhnya secara alami dan dia berdendang dengan bershalawat. Tak lama kemudian bayi mungil itu terdiam.


Semua perbuatan Kinan saat itu diperhatikan oleh Refan, Mama Refan, Mama dan Papa Kinan. Kini Refan dan Mamanya saling pandang.


Tatapan Mama Refan seolah mengatakan inilah saat yang tepat untuk menagih janji Kinan. Refan hanya diam karena dia tidak mau memaksa Kinan untuk menerima dia dan Putrinya.


Melihat cara Kinan menggendong putrinya dengan penuh kasih sayang menyadarkannya kalau putrinya memang sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu.


"Kinan" panggil Suci, Namanya Refan.


"Ya Tante" jawab Kinan sambil terus memandangi wajah mungil bayinya Refan.


"A.. apakah kamu mau menerimanya sebagai putri kamu?" tanya Mama Refan dengan terbata - bata.


Mama dan Papa Kinan saling memandang. Mereka juga sedang menunggu jawaban dari Kinan.


Kinan bertanya lagi pada hatinya dan dia menemukan jawabnya.


Bismillah.. dengan izinMU ya Allah, ridhoilah jalan yang aku pilih ini. Ucapnya dalam hati.


"Bismillah..Iya Tante, Kinan bersedia menjadi Mamanya bayi cantik ini" Kinan mengelus lembut pipi bayi mungil itu.


"Alhamdulillah" ucap Mama Refan, Mama dan Papa Kinan.


Alhamdulillah.. ucap Refan dalam hati.


"Kamu yakin Kinan?" tanya Refan. Dia tak ingin Kinan menyesali keputusannya barusan.


"InsyaAllah aku yakin. Aku mau ijab kabulnya malam ini saja, karena saat ini putri kamu sedang di rawat lebih baik di rumah sakit saja ijab kabulnya secara sederhana. Agar setelah itu aku bisa dengan bebas mengurus dan merawat bayi mungil ini. Bolehkan aku tau siapa nama kamu sayang?" tanya Kinan pada bayi mungil itu.

__ADS_1


"Namanya Naila Refanita Adinata" jawab Refan.


"Artinya?" tanya Kinan.


"Naila artinya Anugerah dan kesuksesan, sedangkan Refanita artinya gabungan dari namaku dan nama Renita. Bagiku dia adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepadaku karena sudah sangat lama menantikan kehadirannya di dunia ini" ungkap Refan.


"Hay... nama kamu Naila ya.. salam kenal Naila" oceh Kinan kepada bayi yang ada dalam buaiannya.


Bayi mungil itu tersenyum simpul.


"Heiii dia tersenyum, aku rasa dia sangat bahagia dengan apa yang terjadi di sini. Bagaimana Refan, Mas dengan permintaan Kinan tadi" tanya Mama Refan.


"Pada dasarnya apapun keputusan Kinan kami akan mendukungnya. Tapi kabar gembira ini sebaiknya kita kabarkan kepada keluarga dekat dan para tetangga. Agar tidak ada fitnah" jawab Papa Kinan.


"Kamu Refan?" tanya Mama Refan.


"Aku setuju Ma dengan keputusan Kinan" jawab Refan.


"Bagaimana kalau ijab kabulnya saja di rumah sakit nanti malam. Setelah Naila sembuh dan sehat baru kita adakan syukuran atas pernikahan mereka" usul Mama Kinan.


"Aku setuju" sambung Refan.


"Baiklah, kalau begitu Papa akan segera mencari dan memanggil kadi nikah. Papa akan mengundang Om kamu untuk saksi pernikahan dari keluarga kami" ucap Papa Kinan.


"Saya juga akan memanggil adik saya Mas, untuk saksi dari keluarga kami" sambut Mama Refan.


"Kalau begitu lebih baik Kinan dan Refan pulang dulu untuk mempersiapkan diri kalian. Nanti setah Isya baru kita langsungkan ijab kabulnya. Biar Mama kamu dan Mama Kinan yang jaga Naila di rumah sakit" ucap Papa Kinan.


"Baiklah Om" jawab Refan.


"Sini sayang Naila Mama gendong. Kamu pulang dan dandan yang cantik ya. Malam ini adalah pernikahan kalian" ujar Mama Refan.


Kinan menyerahkan bayi mungil itu kepada Mama Refan.


Semoga ini keputusan yang terbaik ya Allah. Kinan tidak berhenti berdoa dan meminta kekuatan untuk dirinya.

__ADS_1


Sementara Refan diam - diam mencuri pandang ke arah Kinan. Dia ingin melihat apakah ada wajah penyesalan dari Kinan. Ternyata tidak, sepertinya Kinan sudah sangat yakin. Harusnya Refan mengucapkan terimakasih kepada Kinan karena mau menerima lamaran dari keluarganya walau alasannya agar dia bisa mengurus putri Refan.


Karena waktunya sangat singkat, baik Kinan, Refan dan Papa Kinan langsung pergi menuju ketempat tujuan mereka masing-masing.


Refan sebelum pulang terlebih dahulu singgah ke rumah Omnya dan menyampaikan berita rencana pernikahannya nanti malam dan meminta Omnya untuk datang ke Rumah Sakit sebagai saksi atas pernikahannya.


Sedangkan Papa Kinan segera mencari kadi nikah yang nantinya akan mensyahkan akad nikah Refan dan Kinan nanti malam. Setelah itu dia segera menghubungi adiknya untuk menjadi saksi pernikahan Kinan nanti.


Kinan kembali ke rumahnya dengan perasaan yang sangat sulit di lukiskan. Sungguh dia tidak pernah membayangkan ataupun merencanakan pernikahan ini sebelumnya. Semua keluar begitu saja dari mulutnya karena hatinya sangat tersentuh melihat bayi mungil tadi.


Tak tega rasanya menolaknya dan entah mengapa dia merasa sangat egois jika menolak pernikahan ini. Mudah - mudah ini memang jalan tebaik bagi dia, putranya, Refan dan putrinya.


Sesampainya di rumah Kinan menceritakan semuanya kepada Bik Ijah dan meminta Bik Ijah malam ini ikut ke Rumah Sakit sekalian untuk menjaga Salman di rumah sakit nanti.


Bik Ijah langsung mempersiapkan semua keperluan Salman untuk bepergian. Nanti malam Salman akan tidur di rumah Mamanya Kinan karena malam ini Kinan akan tidur di Rumah Sakit untuk menjaga dan mengurus Naila. Mulai malam ini Naila akan menjadi putrinya, sebagai seorang Ibu dia tentu saja akan merawat anaknya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.


Malam sudah tiba, setelah shalat maghrib Kinan bersiap untuk berangkat ke Rumah Sakit. Kinan berdiri di depan lemari pakaiannya. Mencoba mencari pakaian apa yang pantas untuk dia pakai malam ini. Malam ini statusnya akan berubah kembali menjadi seorang istri dan Ibu bagi Naila.


Matanya tertuju pada gaun putih yang baru beberapa minggu lalu dia beli. Entah mengapa saat itu dia sangat suka melihat gaun itu, walau dia tidak tau kapan dan dalam acara apa dia harus memakainya. Ternyata malam inilah dia pantas memakainya.


Kinan memakai gaun putih itu, berdandan sedikit kemudian keluar dari kamarnya dan segera berangkat menuju Rumah Sakit bersama Bik Ijah dan Salman putra Kinan.


Sebelum Adzan Isya mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Ada beberap keluarga yang sudah menunggu di sana. Walau terbatas karena ini adalah Rumah Sakit tidak boleh banyak tamu yang datang.


Saat adzan Isya semua pergi ke mushola Rumah sakit untuk shalat berjamaah. Naila sementara di jaga oleh adik perempuannya Refan di kamar rawat inapnya.


Akad nikah dilaksankan di mushola Rumah Sakit. Acara ijab kabul akan segera di laksankan


"Bagaimana saksi?" tanya kadi nikah.


"Saaaah"....


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2