Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 240


__ADS_3

Karena Kinan melahirkan dengan normal dan sangat sehat. Kedua bayinya juga lahir dengan sehat membuat mereka tidak perlu berlama - lama menginap di rumah sakit.


Tiga hari setelah Kinan melahirkan mereka sudah bisa kembali pulang membawa kedua bayi kembar mereka yang sangat menggemaskan siapapun yang melihatnya.


"Ya Allah Non... cantik sekali adiknya Salman ini" puji Bik Nah.


"Yang ini juga ganteng lho Nah" sambut Bik Mar.


"Den Salman siapa nama adeknya?" tanya Bik Nah.


"Khalid dan Khansa Bik" jawab Salman bijak.


"Duh bagus banget namanya. Jadi ini adek Khansa ya sayang" ujar Bik Nah.


"Dan ini adek Khalid" sambut Bik Mar.


"Ayo Bik kita bawa mereka ke kamar" ajak Kinan.


Khalid dan Khansa di bawa ke kamar anak - anak mereka yang terletak di samping kamar Kinan. Sebelumnya kamar itu adalah kamarnya Salman tapi karena kamarnya sangat besar dan Salman juga masih kecil jadilah ketiga anak - anak itu tidur dalam satu kamar.


Salman tidur di tempat tidurnya sedangkan Khalid dan Khansa tidur di box mereka masing-masing. Hal ini sengaja Kinan lakukan agar dia dengan mudah bisa mengasuh ketiga anak - anaknya dengan baik.


Refan menyetujui usul Kinan, lagian anak - anak mereka memang masih kecil. Nanti kalau mereka sudah besar, mereka bisa menempati kamar - kamar mereka yang sudah direncakan Refan dan Kinan di lantai dua rumahnya.


"Kak Salman bobok bareng adek dulu ya sayang" ujar Kinan.


"Iya Mama" jawab Salman patuh.


"Gak apa - apa ya Kak? Lagian kan enak kamarnya jadi rame. Kalau sendirian kan sepi" sambut Reni.


"Iya Tante" jawab Salman.


Kedua anak kembar Kinan sedang tidur lelap, sedangkan Kinan mulai memompa ASI untuk stok. Cuti melahirkannya hanya sampai tiga bulan setelah itu anak - anaknya butuh ASI yang akan di masukkan ke dalam dodot untuk mereka minum.


Bersyukur ASI Kinan banyak selain dia suka makan sayur dokter juga memberikan suplement untuk ibu menyusui karena anak Kinan kembar, butuh ASI yang banyak.


Sementara di luar ada Bela, Reni, Bimo dan Refan. Papa dan Mama Kinan sedang pulang sebentar ke rumah mereka bersama Bu Suci untuk melihat rumah mereka yang sudah lama di tinggalkan.


"Gimana kerjaan kamu Bel?" tanya Reni.


"Alhamdulillah aku sudah mulai menguasai semuanya Ren. Sudah tidak telalu keteter. Untung saja Mas Aril sabar dan pengertian. Kalau tidak mungkin aku udah lama di pecat" ujar Bela.


"Aril emang baik kok Bel" sambut Refan.


"Baik karena ada maunya" potong Reni.

__ADS_1


"Kamu gak boleh gitu ah, aslinya Aril itu emang baik. Apalagi dalam hal membantu orang lain. Dengan sahabat dia juga gak pernah hitung - hitungan. Contohnya dulu dia sampai mau cari informasi ke rumah Bapak dan Ibu di Surabaya" jawab Refan.


"Benar, Aril gak pelit lagi" sambung Bimo.


"Kalau itu memang benar Mas, aku aja dibeliin ponsel baru sama dia" ucap Reni senang.


"Oh ya, enak sekali kamu Ren" sambut Bela.


"Kamu mau? Nanti aku bilangin Mas Aril ya" ujar Reni tersenyum.


"Ha.. gak usah Ren, gak enak. Lagian belum butuh kok" tolak Bela.


Tak lama terdengar suara tangisan bayi dari kamar anak - anak Refan.


"Sebentar ya aku mau bantuin Kinan dulu" ujar Refan.


Refan segera berlari ke arah kamar anak - anaknya. Bela ke dapur hendak mengambil minum. Tinggal Reni dan Bimo berdua. Sudah lama mereka tidak berada dalam situasi seperti ini.


"Pa kabar Ren. Sejak Mas pindah jarang banget lihat kamu. Sepertinya sibuk terus?" tanya Bimo.


"Alhamdulillah sehat Mas, iya sejak aku diangkat jari karyawan pekerjaanku bertambah Mas jadi sering pulang telat" elak Reni.


"Wah udah jadi karyawan tetap sekarang? Selamat ya... kok gak ada perayaannya. Mau donk dapat traktiran gaji pertama. Minum es krim lagi" ungkap Bimo..


"Serius Mas Bimo pengen minum es krim lagi?" tanya Reni.


Bimo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Boleh, kapan maunya?" tanya Reni sambil tersenyum.


Padahal mau jual mahal tapi Mas Bimo ngajak minum es krim. Mana bisa aku nolak. Batin Reni.


"Bagaimana kalau besok siang aku jemput ke kantor?" Bimo menawarkan diri.


"Boleh, oke besok siang ya" jawab Reni senang.


"Iya" sambut Bimo masih dengan senyuman tipis.


Jujur selama dua bulan tidak melihat Reni lagi rasanya rindu. Hatinya mulai mencari - cari. Setiap ada kesempatan ke rumah Refan dia tidak pernah bertemu Reni lagi.


Bahkan pernah sekali rindunya sudah menggunung, dia bahkan sampai bela - belain datang ke rumah ini dengan alasan pengen main dengan Salman, harus pulang dengan kekecewaan karena ternyata Reni pergi ke luar kota bareng teman - teman kantornya.


Kemarin waktu melihat Reni di Rumah sakit ketika Kinan hendak melahirkan hati Bimo sangat senang sekali. Dia sering mencuri - curi pandang melirik ke arah Reni untuk melepaskan kerinduan.


Tapi saat itu Reni ikutan panik menunggu Kinan lahiran di Rumah Sakit. Mungkin karena pengalaman Refan dulu dengan istri pertama yang berakhir menghembuskan nafas terakhirnya di ruang persalinan membuat Reni jadi ikut - ikutan tegang menunggu anak Refan lahir.

__ADS_1


Ingin rasanya saat itu dia memeluk Reni dan memenangkannya. Tapi apa daya saat itu sangat ramai sekali yang datang tak mungkin Bimo melakukannya. Sehingga Bimo harus mengurungkan niatnya.


Bimo merindukan senyuman Reni yang seperti ini. Lesung pipi yang sangat dalam di pipinya ingin rasanya Bimo meletakkan jarinya di situ.


Akh... ada apa denganku? Mengapa aku jadi seperti ini saat melihat Reni. Apakah dia sudah berhasil masuk ke dalam hatiku dan menguasainya sendiri sehingga aku tak bisa mengendalikannya lagi. Tanya Bimo dalam hati.


"Ehm.. lagi ngomongin apa nih kok kyaknya senang banget jadi penasaran pengen ikutan" ucap Bela yang tiba - tiba datang dari arah dapur.


"Sibuk banget sih mau tau aja apa yang diomongin orang" jawab Bimo.


Reni mendapat ide baru


"Kamu besok siang ada waktu?" tanya Reni antusias.


Seketika wajah Bimo berubah. Dia menatap mata adiknya dan menggelengkan kepalanya sedikit memberi isyarat agar Bela menolaknya.


Untung saja Bela pintar dan cepat mengerti keadaan.


"Mmm.. besok siang aku sepertinya ada janji temani si Bos meeting di luar" jawab Bela.


Itu bukan hanya alasan tapi memang benar kenyataannya.


"Yah sayang deh gak bisa ikut" sambut Reni.


"Emang mau kemana?" tanya Bela penasaran.


"Mau makan es krim sama Mas Bimo" jawab Reni.


"Makan es krim sama Mas Bimo? Sejak kapan Mas Bimo... " kata - kata Bela terpotong karena Bimo mengangkat jari tangannya ke dekat bibir.


"Sayang banget ya aku gak bisa ikut. Kain kali aja ya Ren kita janjian lagi" sambung Bela.


"Tuh kan Ren, Bela gak bisa besok. Ya sudah kita pergi berdua saja" ujar Bimo.


"Ya sudah kalau begitu besok Mas jemput ya ke kantor baru kita minum es krim" sambut Reni.


Bela tersenyum penuh arti ke arah Kakaknya.


Mas Bimo awas kamu nanti ya di rumah. Aku akan korek isi hati kamu sampai tuntas. Aku mencium sesuatu yang mencurigakan di sini. Batin Bela.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2