
"Bimo dan Reni pergi bareng? Ngapain mereka dan mau kemana?" tanya pria yang tak lain adalah Refan.
Refan juga hendak pulang dan mau menjemput Kinan ke kantornya. Tak lama mobil Refan sudah ada di depan loby dibawa supir dari basement. Refan segera masuk ke dalam mobil dan melaju menuju ke kantor Kinan.
Reni dan Bimo sedang dalam perjalanan menuju tempat yang akan mereka tuju.
"Tadi sudah dapat Mas rumah yang di cari?" tanya Reni sambil merapikan jilbabnya.
"Ada beberapa perumahan tapi belum ada yang suka. Mas masih belum sreg" jawab Bimo sambil serius menyetir mobilnya.
"Ooo... mudah - mudahan rumah yang ini cocok ya" ujar Reni.
"Aamiin... " jawab Bimo.
"Mas lewat perumahan Mas Refan ya sedikit" perintah Reni.
"Baik Dek Reni" jawab Bimo.
Bimo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju arah rumah Refan. Kini mereka sudah melewati komplek rumah Refan kira - kira satu kilometer dari komplek rumah Refan.
"Mas masuk ke komplek itu" Reni menunjuk ke arah gapura.
Bimo membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah komplek perumahan mewah. Dan mobil berhenti di depan sebuah rumah yang dijadikan rumah contoh.
"Yuk Mas kita turun" ajak Reni.
Bimo mematikan mesin mobilnya dan turun menyusul Reni kemudian berjalan masuk ke dalam rumah contoh.
"Hai Ren" sapa seorang pria kepada Reni.
"Hai Gery" balas Reni.
Mereka berjabat tangan ala anak muda. Bimo memperhatikan interaksi mereka dan dia bisa melihat kedekatan Reni dengan pria itu.
"Suami?" tanya Gery menunjuk ke arah Bimo.
Bimo langsung tersenyum sedangkan Reni salah tingkah.
Bukan hanya kamu yang berkata seperti itu tapi sudah dua orang sebelum kamu berkata begitu, kamu itu yang ketiga. Dan katanya kalau sudah tiga kali ucapan itu akan terkabul. Mitos apa fakta ya? Batin Bimo.
"Bu.. bukan Ger, ini saudara aku. Mas Bimo kenalin ini dia teman aku Gery" jawab Reni.
Bimo dan Gery saling berjabat tangan.
"Bimo"
"Gery. Maaf ya Mas aku salah ucap. Aku kira kalian suami istri dan saat ini sedang mencari rumah impian kalian" ujar Gery.
__ADS_1
Reni dan Bimo saling lirik. Bimo tersenyum tipis sedangkan Reni langsung buang muka ke arah lain.
"Aku mau cari rumah yah kalau nanti punya istri mudah - mudahan dia juga suka" jawab Bimo.
Reni langsung tertunduk malu dan pipinya merah merona.
"Aamiin... mudah - mudahan Mas suka. Mari masuk ke dalam dan dilihat rumahnya" ajak Gery.
Gery mengajak Bimo dan Reni berkeliling rumah. Rumah yang tak kalah megah dengan rumah Refan hanya saja rumah ini sedikit lebih kecil.
Rumah yang terbuat dua lantai dimana di lantai satu terdapat dua kamar tidur, di belakang ada satu kamar tidur buat asisten rumah tangga. Dan di lantai dua terdapat dua kamar tidur dimana semua kamar mempunyai kamar mandi di dalamnya.
"Gimana Mas, suka?" tanya Reni.
"Mmm.. suka. Di lantai satu bisa untuk kamar aku dan kamar tamu. Jadi kalau Bapak sama Ibu datang mereka bisa tidur di lantai bawah. Kasihan sudah tua harus naik turun tangga. Di atas nanti kamar Bela dan yang satunya bisa dijadikan ruang olahraga. Nanti kalau aku menikah kamar yang di atas bisa untuk kamar anak - anak kalau mereka sudah besar" jawab Bimo.
Entah mengapa mendengar impian Bimo tentang masa depan membuat Reni ikutan tersipu malu.
Duh ada apa dengan aku ya.. kenapa aku jadi seperti ini, jantungku kembali berdetak kencang. Batin Reni.
"Gimana Mas?" tanya Gery.
"Bagus, sejauh ini saya suka. Hanya saja kalau nanti saya memilih rumah ini bisa sekalian pesan dengan perabotannya tidak?" tanya Bimo.
"Bisa Mas, nanti kami akan kirimkan proposal dan gambar - gambar furniturenya dan Mas Bimo bisa memilihnya" jelas Gery.
"Bisa.. Bisa Mas nanti kami gambar letak ruangnya ya sekalian perabotan di dalamnya" jawab Gery dengan sigap.
"Sekalian dengan taman dan kolam renangnya di belakang saya ingin di tata secantik dan senyaman mungkin. Sehingga kalau keluarga atau teman - teman berkumpul mereka jadi lebih betah berlama-lama di rumah ini" pinta Bimo.
"Siap Mas, kami bisa siapkan" jawab Gery semangat.
"Kalau begitu saya jadi untuk ambil rumah ini" ujar Bimo yakin.
Mata Reni langsung melotot tak percaya.
"Serius Mas?" tanya Reni bingung.
"Serius donk Ren, masak beli rumah main - main" jawab Bimo.
"Kalau begitu ayo Mas kita ke kantor dan bicarakan tentang administrasinya. Mas mau cash atau kredit?" tanya Gery.
"Cash aja" jawab Bimo tegas.
Gery melirik ke arah Reni. Bimo tiba - tiba mendapat telepon dan pamit untuk menerima telepon sebentar.
"Sebentar ya saya terima telepon dulu" ujar Bimo.
__ADS_1
"Oke Mas silahkan" jawab Gery.
Bimo berjalan menjauh dari Reni dan Gery
"Ren gila tuh cowok tajir amat. Mau beli rumah mewah begini langsung cash" puji Gery.
"Ya namanya juga orang kaya. Kamu gak lihat mobil yang dia bawa ke sini" sambut Reni.
"Iya.. iya.. aku percaya. Siapa sih cowok i j Ren. Kamu gak naksir sama dia? Ganteng lho, kaya lagi. Sempurna banget untuk dijadikan suami" ujar Gery.
Reni melirik kearah Bimo yang sedang sibuk berbicara lewat telepon.
"Tapi umurnya udah tua Ger.. Mungkin umur kami beda sepuluh tahunan" elak Reni.
"Ya gak masalah, kamu apa gak pernah dengan sebuah kata bijak. Gak tau siapa yang mengeluarkan kebijakan seperti itu. Semakin tua usia seorang pria semakin menunjukkan kematangannya. Katanya semakin tua semakin berminyak Ren. Tuh lihat masih ganteng, kuat dan kaya. Gak sayang tuh cowok berpotensi gitu di gebet cewek lain?" tanya Gery.
"Ish.. kamu. Dia itu saudaranya kakak ipar aku" jawab Reni.
"Ya gak masalah, kan boleh nikah. Bukan saudara dekat juga. Sayang Reeen.. jangan lewatkan, pepet terus jangan kasih kendor" desak Gery.
"Hahaha.. kamu udah kayak biro jodoh. Mau jual produk atau mau ngejodohin orang nih?" tanya Reni.
"Kalau bisa dua - duanya lah, kalau sahabat aku suka kenapa nggak. Kalau kamu jadi istrinya rumah ini nantinya akan jadi rumah kamu juga Ren. Keren kan?" jawab Gery.
"Aku belum kepikiran sampai sejauh itu Ger. Kamu ini ada - ada saja" elak Reni.
"Yah siapa tau kamu emang ada perasaan sama tuh Mamas.. Biar rumahnya nanti aku isi pelet - pelet cinta" goda Gery.
"Ada ya produk begituan?" tanya Reni.
"Ya ada khusus untuk kamu hahaha" jawab Gery.
Setelah selesai bertelepon Bimo memperhatikan interaksi Reni dengan Gery. Mereka tampak sangat akrab dan bisa tertawa lepas.
Mengapa aku merasa tidak suka melihat mereka seperti itu. Ada apa dengan diriku? Apa Reni juga menyukai rumah ini? Duh kenapa aku bertanya begitu. Apa coba hubungannya rumah ini dengan tanggapan Reni. Kayaknya gak penting - penting amat deh. Rumah ini memang bagus, aku suka. Bukan karena Reni yang membawa ke sini. Batin Bimo.
Bimo kembali menghampiri Reni dan Gery.
"Gimana Mas kita udah bisa membicarakan tentang administrasinya?" tanya Gery.
"Bisa yuk" sambut Bimo.
Mereka langsung berjalan menuju kantor developer yang terletak di depan rumah contoh dan langsung membahas administrasi untuk memiliki rumah tadi.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG