
"Mas aku pergi ya, titip anak - anak" ucap Kinan sebagai kata perpisahan.
"Iya, kamu hati - hati ya. Jangan lupa kasih kabar" balas Refan.
Kinan ikut bergabung dengan teman - temannya.
"Mari Pak Refan, kami pergi dulu bawa istrinya ya" ucap salah satu tim Kinan.
Refan hanya membalasnya dengan senyumannya.
Rombongan Kinan pergi meninggalkan Refan yang terus menatap mereka dari kejauhan. Begini rasanya melepas kepergian istri ya. Biasanya Renita pergi dari rumah seperti pergi kerja biasanya. Refan tidak pernah mengantarnya karena mobil dari perusahaan yang antar jemput Renita ke rumah.
Mungkin karena terlalu lama pacaran sejak mereka duduk di bangku SMU, Renita dan Refan hubungannya seperti berteman. Renita tidak pernah melakukan hal - hal yang Kinan lakukan seperti tadi.
Refan balik badan dan melanjutkan perjalanannya menuju kantornya. Tapi mengapa hatinya gelisah ya..
Refan mengingat - ingat apakah ada yang dia lupakan atau dia abaikan tapi rasanya tidak ada. Apakah ada yang membahayakan? Mudah - mudahan tidak ada apa - apa.
Refan melajukan mobilnya menuju kantornya hari ini sampai seminggu ke depan dia berencana akan pulang lebih awal dari hari biasanya karena Kinan tidak ada di rumah. Walau Mamanya menginap di rumahnya selama Kinan tidak ada Refan merasa tidak enak hati jika membiarkan Mamanya mengurus dua anaknya. Anak Refan dengan Renita dan anak Kinan dengan suaminya.
Tanpa terasa seharian sudah dia bekerja di kantor. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Refan bersiap hendak pulang ke rumah. Jam lima sore Refan sudah sampai di rumahnya.
"Assalamu'alaikum Ma" ucap Refan ketika masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam" jawab Suci.
Refan mendengar suara Salman menangis. Gak biasanya Salman rewel seperti ini. Apakah karena Kinan pergi? Tapi sepertinya bukan kali ini saja Kinan meninggalkan Salman.
"Salman kenapa Ma, kok nangis?" tanya Refan.
"Salman demam Fan" jawab Suci.
"Salman demam? Sejak kapan?" tanya Refan.
"Tadi siang dia masih sehat, terus dia tidur siang. Waktu bangun Mama pegang badannya sudah panas. Mama gak tau yang mama obat Salman" ujar Suci.
"Bik Nah, Bik Mar" panggil Refan.
"Ya Den" Bik Mar keluar dari arah dapur.
"Bik Mar tau gak obat Salman?" tanya Refan.
"Wah gak tau Den" jawab Bik Mar.
"Kalau Bik Nah?" tanya Refan kepada Bik Nah.
"Bibik juga gak tau Den. Salman kan baru kali ini sakit. Non Kinan gak pernah kasih dia obat" jawab Bik Nah.
"Duh gimana ini?" Refan terlihat panik.
__ADS_1
Refan segera ke kamarnya untuk meletakkan tas kerjanya dan meraih ponselnya. Dia segera menghubungi Kinan.
Tuuut..... Tuuuuuuutttttt...
Panggilan tidak di jawab.
Jam segini kan seharusnya dia sudah sampai. Mengapa dia tidak mengangkat teleponnya? Apakah dia sibuk? Refan kembali menghubungi Kinan. Tapi lagi - lagi Kinan tidak mengangkat telepon Refan.
Refan keluar dari kamarnya dan menemui Mamanya kembali.
"Ma, Kinan gak jawab teleponku" ucap Refan.
Refan panik karena dia belum mempunyai pengalaman mengasuh anak sakit. Dulu waktu Naila sakit Mamanya yang menjaga membawa Naila ke Rumah Sakit. Refan saat ini masih di kantor. Refan mendekati Salman.
"Apa yang sakit Sal?" tanya Refan.
"Kepala aku pusing Pa" jawab Salman dengan wajah meringis.
"Gimana ini Ma?" tanya Refan lagi.
"Coba hubungi Dhisti" Suci menyuruh Refan menghubungi mertuanya.
"Oh iya aku lupa, sebentar" Refan segera meraih ponselnya dan mencari nomor mertuanya kemudian menghubunginya.
"Assalamu'alaikum Ma" ucap Refan cepat.
"Wa'alaikumsalam Fan, ada apa?" tanya Dhisti.
"Lho Kinan mana? Kok kamu yang telepon?" tanya Dhisti bingung.
"Kinan lagi tugas ke luar kota selama seminggu Ma dan tadi pagi baru berangkatnya" jawab Refan.
"Duh Kinan anak sakit kenapa di tinggal sih" ucap Dhisti.
"Tadi pagi Salman masih baik - baik saja Ma. Kata Mamaku sore ini setelah bangun siang baru badan Salman panas" balas Refan.
"Kamu sudah hubungi Kinan?" tanya Dhisti lagi.
"Sudah Ma tapi gak di angkat teleponnya, mungkin dia lagi sibuk kali Ma" jawab Refan.
"Kinan ini gimana sih, tinggalin suami dan anak yang lagi sakit ke luar kota mana telepon gak di jawab lagi" omel Dhisti.
"Ya sudah Fan, kamu kompres aja dulu Salman. Mama akan datang ke rumah kamu bawa obat Salman sekalian Mama akan nginap di sana aja buat jagain Salman" ujar Dhisti.
"Iya Ma, terimakasih ya Ma" balas Refan.
"Jangan panik Fan, anak sakit itu biasa" ujar Dhisti mencoba menenangkan Refan.
"Iya Ma. Udah dulu ya Ma. Aku mau kompres Salman dulu. Assalamu'alaikum" Refan menutup ponselnya.
__ADS_1
Tak lama Refan mencoba menemui Bik Nah.
"Bik ambilkan kompres untuk Salman. Aku mau kompres kepalanya" perintah Refan.
"Baik Den" jawab Bik Nah.
Suci memperhatikan semua perlakuan Refan pada Salman putranya Kinan. Ternyata Refan menyayangi anak itu. Buktinya dia terlihat sangat khawatir melihat keadaan Salman saat ini.
"Papa... sakit Pa... Papa Bima.. aku kangeeen" ucap Salman sambil meringis.
Refan terkejut mendengar Salman memanggil nama Papanya. Dia melirik ke arah Mamanya.
"Mungkin dia kangen Papanya Fan. Kasihan anak ini" Suci mengelus lembut kepala Salman.
"Tenang ya nak, Papa di sini. Kamu cepat sembuh, nanti kalau Mama sudah pulang dan kamu sudah sembuh kita akan temui Papa kamu" jawab Refan pada Salman.
"Mama.. kepalaku sakit Maaaa" Salman mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
Duh aku gak tega melihat Salman meringis seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? tanya Refan dalam hati
"Ma kita bawa aja Salman ke Rumah Sakit ya. Nanti takut dia kenapa-kenapa" ucap Refan semakin panik.
"Demamnya baru kok Fan, biasa itu pada anak - anak. Kita tunggu saja Dhisti datang ya" bujuk Suci.
Refan kembali mencoba menghubungi Kinan, dia berharap kalau Salman mendengar suara Kinan mungkin rasa sakitnya sedikit terobati. Tapi lagi - lagi teleponnya gak di jawab.
Kinaaaaan... kamu ngapain sih? ucapnya dalam hati.
Refan mengirim pesan kepada Kinan.
Refan
Nan, Salman sakit. Angkat teleponnya, aku mau bicara?
Pesan kemudian terkirim, tapi setelah menunggu lama pesannya juga tidak berbalas. Refan semakin kesal dan panik.
Beberapa waktu berselang Dhisti sudah sampai di rumah Refan dengan membawa tas pakaian untuk bekal dia menginap di rumah Refan. Dhisti juga menenteng satu bungkusan yang berisikan obat - obatan.
"Gimana keadaan Salman?" tanya Dhisti yang langsung datang ke kamar Salman.
"Badannya masih panas Ma dan kepalanya pusing katanya" jawab Refan panik.
"Oh sayang cucu Oma.. Pusing kepalanya ya sayang.. sini Oma kasih minum obat" bujuk Dhisti.
"Mama Omaaa... aku mau Mamaaaa" tangis Salman pecah begitu Dhisti memeluknya.
Sontak Refan merasa tidak enak hati pada mertuanya. Dia sangat takut kalau Dhisti menuduhnya tidak bisa menjaga anaknya Kinan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG