Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 89


__ADS_3

"Bosnya Nan? Bosnya Renita? Apakah dia salah satu dari dua pria yang datang ke makam?" tanya Refan tiba - tiba.


"Mas kamu yakin?" tanya Kinan tak percaya.


"Menurut penjaga makam kedua pria itu mempunyai ciri - ciri tubuh seperti aku hanya saja yang satu kulitnya lebih hitam dariku sedangkan yang satu lagi putih. Aku baru ingat kalau bosnya Renita kulitnya lebih gelap dariku" jawab Refan yakin.


Yah dia kini sangat yakin. Untuk saat ini kemungkinan besar Renita sering pergi bareng Bosnya Renita ke luar kota bahkan ke luar negeri.


Bodohnya Refan, mengapa dulu sedikitpun dia tidak pernah mencurigai mereka. Refan percaya seratus persen kepada Renita. Percaya berhitung saja kalau Renita akan menjaga cinta mereka. Menjaga hatinya dan harga dirinya sebagai seorang istri.


Tapi kini Refan benar - benar kecolongan. Akibat rasa percayanya itu kini dia menuai hasilnya. Naila yang dia kita hasil dari buah cinta kasih mereka ternyata bukan anak Refan. Renita benar - benar sudah membohonginya. Bahkan sampai Renita menghembuskan nafas dia tidak mengatakan apapun tentang Naila.


Ya Tuhaaan sebesar apa dosa yang telah Renita lakukan? Dia sudah berzina, sudah berbohong dan mengkhianati suaminya. Batin Refan.


Tiba - tiba Refan merinding mengingat apa yang sudah Renita lakukan.


Walaupun aku sangat marah dan kecewa bahkan terluka tapi sebagai suaminya aku juga punya tanggung jawab ya Allah. Aku tidak bisa mendidik istriku dengan baik sehingga dia berbuat di luar batas. Ampunkan dosanya dan juga dosaku ya Allah... doa Refan dalam hati.


"Mas hati - hati jangan menuduh orang sembarangan. Aku takut jadinya fitnah. Mas harus cari bukti - bukti nyata yang menunjukkan kalau memang dialah orang yang Mas curigai" ujar Kinan mengingatkan.


"Mulai besok aku akan mencari bukti - buktinya Nan" sambut Refan.


"Eh kamu tadi jadi bawa nasi goreng nya Mas?" tanya Kinan.


"Jadi, tuh aku letak di meja" Refan menunjuk ke arah meja makan.


"Sebentar ya Mas" Kinan segera berjalan menuju meja makan dan menyiapkan alat makan untuk Refan kemudian dia membuka bungkusan nasi goreng kambing.


"Mmm... wangi banget Mas" ujar Kinan sambil mencium dalam aroma nasi goreng yang di beli Refan tadi. Wajahnya tampak tersenyum senang.


Refan memperhatikan tingkah Kinan, dia tersenyum bahagia.


Wanita sederhana, hanya hidangan sederhana seperti ini saja sudah bisa membuat kamu bahagia. Dalam keadaan seperti ini kamu masih memikirkan aku, menyiapkan dan menghidangkan makanan untukku. Coba Renita dulu, aku tidak akan pernah mendapatkan seperti ini. Batin Refan.


Sepintas Refan kembali teringat almarhumah istrinya dulu dan membandingkannya dengan Kinan.


"Udah selesai Mas" ujar Kinan.


Kinan menghampiri meja disamping tempat tidur. Kinan membuat susu di botol dodotnya Naila setelah itu dia menggendong Naila dan memberikan Naila susu.


"Kamu gak makan?" tanya Refan.


"Mas aja dulu, aku mau kasih Naila susu setelah itu baru Naila di tidurkan. Baru aku makan setelahnya" jawab Kinan.

__ADS_1


Refan mendekati Kinan yang sedang menggendong Naila. Dia membawa piring yang berisikan nasi goreng.


"Aaa... " ujar Refan.


"Ngapain?" tanya Kinan.


"Aaa... biar aku suapin" jawab Kinan.


"Udah gak apa - apa Mas. Mas makan aja dulu nanti setelah Naila tidur baru aku makan" tolak Kinan halus.


Refan mengangkat tangannya yang memegang sendok dan menyodorkannya ke arah Kinan.


"cepetan... " ujar Refan lagi.


"Nanti Mas gak kenyang kalau makannya kongsi.


Refan meletakkan kembali sendok ke atas piring.


"Kamu ini bawel ya ternyata" Refan menarik manja hidung Kinan. Membuat wajah Kinan bersemu manja.


Refan kembali mengangkat sendok dan menyodorkannya ke arah Kinan.


"Aaaa... ayo cepetan. Kalau gak cukup kan masih ada satu bungkus lagi" ujar Refan.


Akhirnya Kinan membuka mulutnya dan menerima suapan tangan Refan. Mereka bergantian makan dari satu sendok yang sama.


Saat ini kamulah pengobat lukaku Nan. Senyuman kamu sudah membuat hatiku dingin, kata - kata kamu membangkitkan semangatku. Tatapan mata kamu meneduhkan perasaanku yang saat ini panas. Perhatian kamu mengusir rasa sepiku dan membuat aku merasa sangat berharga sebagai seorang suami. Batin Refan.


Tak lama Naila tertidur, pelan - pelan Kinan meletakkan Naila di atas tempat tidur. Dia tidur dengan nyenyak.


Kini mereka duduk di sofa, Refan membuka nasi bungkus yang satu lagi karena yang sebelumnya sudah habis mereka makan.


"Sekarang gantian donk" ucap Refan sedikit manja. Dia memberikan piring dan sendoknya kepada Kinan. Kinan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Refan.


"Sepertinya bukan hanya Naila saja anak kecil di ruangan ini. Ada baby hui juga rupanya" sindir Kinan sambil tersenyum.


"Lho adil kan? Tadi satu bungkus kan udah aku yang suapin, sekarang giliran kamu" jawab Refan sambil balas tersenyum.


"Iya deeeeh" Kinan mulai menyodorkan sendok ke arah Refan. Dengan semangat Refan menyambut dan melahap nasi gorengnya.


Secara bergiliran mereka makan dari suapan Kinan hingga sampai suapan terakhir. Dua bungkus nasi goreng kambing habis mereka makan berdua.


"Nan telepon Salman donk, aku kangen" perintah Refan.

__ADS_1


Kinan segera meraih ponselnya dan melakukan panggilan video call ke ponselnya Bik Nah.


"Assalamu'alaikum Non" sapa Bik Nah.


"Wa'alaikumsalam Bik. Salman sudah tidur?" tanya Kinan.


"Belum Non, sebentar ya.. Salmaaan ini Mamanya telepon" panggil Bik Nah.


Refan segera mendekat dan duduk di samping Kinan. Jarak mereka sangat dekat hingga Refan bisa mencium wangi tubuh Kinan.


Hemmm... wanita solehahku wangi surga. Puji Refan dalam hati.


"Assalamu'alaikum Mama... " Ucap Salman dengan ceria.


"Wa'alaikumsalam sayaaang" balas Kinan.


"Hai anak soleeh" sapa Refan semangat.


"Papa... adek Naila mana Ma, Pa?" tanya Salman.


"Adeknya Nailanya sudah tidur sayang" jawab Kinan.


"Kamu sudah makan?" tanya Refan.


"Sudah Pa tadi makannya bareng Bik Nah dan Bik Mar" Jawab Salman.


"Kamu gak apa - apa kan tidur dengan bibik malam ini?" tanya Refan. Kini ponsel Kinan diambil alih oleh Refan.


Refan terlihat yang paling bersemangat untuk ngobrol dengan Salman. Membuat hati Kinan adem melihatnya. Ternyata Refan sudah menyayangi putranya dengan tulus. Kinan tersenyum melihat interaksi suami dengan anaknya.


"Gak apa - apa Pa" jawab Salman.


"Kalau Kakak Salman hari ini bisa tidur tanpa Papa dan Mama di rumah besok Papa akan jemput Kakak Salman dan bawa Kakak ke rumah sakit untuk melihat adek, gimana?" tantang Refan sambil tersenyum.


"Benar Pa? Janji?" tanya Salman ingin meyakinkan.


"Benar sayang, Papa janji. Besok Kak Salman makan yang banyak, setelah itu mandi dan wangi. Papa akan datang untuk jemput Kakak di rumah, okey" ujar Refan lagi meyakinkan.


"Asiiiiik.... besok aku akan jenguk adek.. aku jenguk adek ke rumah sakit horeeeee" teriak Salman girang sambil melompat - lompat.


Refan dan Kinan tertawa melihat aksi anak mereka dari layar handphone Kinan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2