
Bimo dan rombongan sudah sampai di rumah Refan. Kinan dan Refan menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.
"Akhirnya kamu tinggal di Jakarta juga ya Bel? Dulu kan emang seperti itu cita - cita Kamu" ucap Kinan saat berpelukan menyambut kedatangan Bela.
"Iya Mbak, untung Bos aku baik. Gak perlu nunggu ijazah langsung terima" sambung Bela.
"Wong ada maunya" gumam Refan.
Bimo tersenyum mendengar ucapan Refan sedangkan Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal karena salah tingkah.
"Ini siapa?" tanya Refan kepada Ela.
"Mm..anu Mas, aku Ela temannya Bela" jawab Ela.
Mereka saling berjabat tangan.
"Mau cari kerja di sini juga Mas? Ada referensi gak?" tanya Reni.
"Nanti aku tanya Romi, Riko atau Bagus ya" jawab Refan ramah.
"Yuk masuk, kita langsung makan siang" ajak Kinan.
Bimo dan yang lainnya langsung berjalan menuju ruang makan. Disana sudah menunggu Papa dan Mama Kinan, Salman juga Mamanya Refan.
"Gimana jalan - jalannya disana?" tanya Bu Suci pada putri bungsunya.
"Seru Bu, kami sempat ke Bromo" jawab Reni senang.
"Enak banget" sambut Bu Suci.
"Bapak, Ibu sehat Bel?" tanya Bu Dhisti.
"Alhamdulillah sehat Bu" jawab Bela.
Bik Mar dan Bik Nah dengan sigap dan cekatan menghidangkan menu makan siang mereka bersama.
"Kamar kalian di atas ya" ujar Kinan.
"Mbak aku dan Ela sekamar aja. Gak usah repot" balas Bela.
"Iya Mbak, muat kok kalau kamu tidur sekarang" sambut Ela sungkan.
"Ya sudah nanti di kamar yang ada disamping kamar Mas Bimo" perintah Kinan.
"Iya Mbak, makasih" balas Bela.
"Yang semangat ya makannya, jangan sungkan" ujar Bu Suci.
"Iya Bu" jawab Bela dan Ela berbarengan.
"Tante Bela gak bawa oleh - oleh untuk Salman?" tanya Salman.
"Ada donk sayang, untuk ponakan tante tersayang pasti donk tante bawain oleh - oleh yang buaaanyaaaak" jawab Bela.
__ADS_1
"Asiiiiik... " teriak Salman senang.
Setelah makan siang mereka kembali duduk di ruang keluarga. Bela dan Ela sudah naik ke lantai dua dan masuk ke kamar mereka untuk berbenah dan istirahat.
Kinan, Reni, Bu Suci dan Bu Dhisti juga masuk ke kamar mereka untuk istirahat. Pak Ardianto menemanimu Salman bermain di teras belakang. Kini hanya tinggal para lelaki yang melanjutkan obrolan mereka.
"Aku ada kabar baru dari pengacara" ungkap Refan.
Sontak Bimo dan Aril menatap Refan dengan serius.
"Kabar apa Fan?" tanya Bimo.
"Katanya penabrak mobil Bima sudah ditemukan. Kini dia sedang di interogasi polisi untuk memberi tahu siapa dalangnya" jawab Refan.
"Dimana dia di tahan?" tanya Bimo.
"Masih di kantor polisi Papua tapi akan segera dibawa ke sini karena kasus kecelakaannya kan di sini" ujar Refan.
"Syukurlah, aku juga bisa melihat pelakunya. Siapa tau dia orang yang aku kenal" balas Bimo.
"Besok kita akan temui pengacarku" ujar Refan.
"Aku berencana akan mencari rumah Fan" ujar Bimo.
"Untuk apa?" tanya Refan.
"Sekarang Bela juga akan tinggal di sini karena akan bekerja di perusahaan Aril. Lebih baik kami tinggal di rumah sendiri. Kami gak enak kalau terus - terusan tinggal di sini" jawab Bimo.
"Kalau aku sih gak masalah dan gak keberatan tapi kalau memang itu keinginan kalian aku juga tidak bisa melarangnya. Tapi bagaimana dengan tawaran Kinan kemarin. Kalian tinggal saja di rumah Bima dan Kinan yang lama. Rumah itu juga kosong gak ada yang nempati" ujar Refan.
"Nanti aku tanya sama teman aku Bim. Dia bekerja di kontraktor pembangunan rumah. Siapa tau ada perumahan atau rumah yang masih kosong di daerah sini" sambut Aril.
"Makasih Ril" balas Bimo.
"Jadi Dek Reni ditinggal donk?" goda Aril.
"Ah kamu Ril ada aja" elak Bimo.
Bimo masih sungkan kepada Refan karena Reni adalah adik kandung Refan. Lagian Bimo belum bisa memastikan perasaannya untuk membuka hatinya dan pintu masa depan.
Bimo masih ingin menyelesaikan semuanya agar tidak ada lagi bebannya untuk melangkah menuju masa depan. Jujur dia akui hatinya sudah mulai tertarik dengan Reni tapi Bimo belum bisa membuka pintu hatinya dengan lebar.
Bimo masih membuat pembatas di hatinya. Cukup dia merasa bersalah kepada Kinan, karenanya Bima meninggal.
Bimo tidak ingin ada korban lagi, apalagi itu wanita yang sudah dia cintai. Bimo tak ingin hatinya hancur lagi karena kehilangan orang yang sangat dia sayangi.
Refan pura - pura tidak mendengar obrolan Bimo dengan Aril.
"Kamu sampai kapan disini?" tanya Refan kepada Aril.
"Jadi kamu mengusirku? Tega banget kamu Fan?" sambut Aril.
"Kamu kan sudah seminggu keluar kota, baru sampai hari ini. Besok juga harus kerja kan. Mending kamu istirahat pulang dari pada terus disini" jawab Refan.
__ADS_1
Aril segera berdiri setelah mendengar jawaban Refan.
"Ya sudah aku pulang" ujar Aril.
"Cih laki - laki pakai acara ngambek. Baru digituin langsung pulang dia, cemeeen" ejek Refan
"Aku gak cemen bro tapi yang kamu katakan tadi memang benar. Aku sudah gerah pengen pulang dan istirahat di apartemen. Yuk Bim, kapan - kapan mampir di apartemenku. Atau kamu tinggal di apartemen dekatku saja. Nanti akan aku carikan yang kosong" ucap Aril menawarkan.
"Gak usah Ril. Aku gak suka tinggal di apartemen. Aku lebih suka rumah, ada halaman rumahnya dan lebih ramah dengan tetangga. Lagian nanti kalau Bapak dan Ibu datang kesini mereka pasti lebih betah kalau aku punya rumah daripada apartemen" jawab Bimo.
"Baiklah kalau begitu. Ya sudah aku balik ya. Besok pagi aku datang lagi" sambut Aril.
"Ngapain kamu datang lagi besok?" tanya Refan.
"Mau jemput sekretaris baruku" jawab Aril sambil tersenyum.
"Tumben penuh perhatian sama calon karyawan. Pasti ada maunya deh" sindir Refan.
"Aku rasa begitu juga" sambung Bimo.
"Hati - hati Bim adik kamu ditaksir Aril. Dia ini playboy" goda Refan.
"Hei.. mantan. Kamu kan tau aku sudah bertaubat. Bimo juga tau kok dan dia juga mau ikut kita bareng ke pengajian" sambut Aril.
"Oh ya?" tanya Refan.
"Iya Fan. Aku juga mau ikut pengajian kalian. Sudah banyak ilmu agama yang aku lupa. Saatnya aku belajar lagi dan menebus semua dosa - dosaku yang dulu" jawab Bimo.
"Langkah kamu benar Bim, semoga kamu istiqomah dan semangat" balas Refan.
"Aamiin... " jawab Bimo.
"Oke bro aku pergi dulu ya" pamit Aril.
"Makasih ya Ril, hati - hati di jalan" sambut Bimo.
Aril melangkah pergi meninggalkan Bimo dan Refan berdua di dalam rumahnya.
"Kalau kamu mau istirahat juga silahkan Bim. Aku mau cek keadaan Kinan dulu. Usia kandungannya yang terus bertambah seiring dengan besar perutnya. Maklum anak kembar, jadi dia sering merasa punggung dan kakinya pegal" ungkap Refan.
"Iya Fan, silahkan. Aku juga akan segera naik" balas Bimo.
Refan beranjak dari ruang keluarga masuk kedalam kamarnya untuk melihat istrinya.
Sedangkan Bimo melangkah menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Dia berganti baju dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Pikiran Bimo kembali melayang pada moment dia dan Reni di pesawat. Bimo meraba dadanya.
Kamu kah wanita yang tepat untuk mendampingiku kelak? Ya Allah kalau memang dia lancarkanlah langkahku menuju ikatan halal jangan KAU berikan jalan yang sangat sulit, dimana aku tidak sanggup untuk menjalaninya. Doa Bimo dalam hati.
Bimo kemudian menutup kedua matanya dan terlelap.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG