Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 327


__ADS_3

Hari ini Salman dan Jeta akan hadir dikantor Salman. Refan akan menyerahkan kepemimpinan Perusahaan dibawah pimpinan Salman. Sementara Jeta akan membantu Salman selama dia masih di Jakarta.


Refan, Salman, Jeta dan Naila pagi - pagi sudah bersiap hendak berangkat ke kantor. Kinan dibantu dengan para asisten rumah tangganya sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka semua.


Kini semua sudah berkumpul di meja makan. Khalid dan Khansa juga sudah siap hendak berangkat ke kampus.


"Pa aku ikut mobil Papa ya" ucap Naila.


"Lho kamu gak barang kami Nai?" tanya Salman.


"Males kak, ada kuman di mobil kakak" jawab Naila sambil melirik Jeta.


"Eh Naila, kuman itu ada juga lho yang bermanfaat untuk tubuh. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh" sambut Jeta.


"Ini bukan kuman bermanfaat tapi kuman penghancur" lawan Naila.


"Hei masih pagi udah bertengkar" tegur Refan.


Naila langsung diam dan melanjutkan makannya sedangkan Khansa dan Khalid saling lirik dan tersenyum.


"Bang Jeta sampai kapan di Jakarta?" tanya Khansa.


"Sampai misi Bang Jeta tercapai" jawab Jeta.


"Emangnya Bang Jeta punya misi apa sih?" tanya Khalid.


"Bang Jeta di utus Mama dan Papa pulang ke Indonesia untuk mencari jodoh. Kalau belum ketemu juga Bang Jeta gak dibolehin pulang" jawab Jeta.


Refan dan Kinan saling lirik.


"Ngebet amat mau kawin" sindir Naila.


"Ya iya donk, umur udah cukup, kerjaan juga sudah mapan. Apalagi coba yang mau di cari?" ujar Jeta.


"Bilang aja udah gatel" sambut Naila.


"Nailaaaa" ucap Kinan mengingatkan.


"Tau aja kamu, emang udah gatel minta di garuk" balas Jeta.


"Sini aku yang garuk" goda Salman sambil tertawa.

__ADS_1


"Najis" balas Jeta.


Khansa dan Khalid tertawa mendengar obrolan kakak - kakak mereka. Akhirnya acara sarapan pagi selesai. Sesuai permintaan Naila dia berangkat bersama Papanya sedangkan Salman dan Jeta naik mobil sendiri.


Tepat pukul delapan pagi rapat pimpinan dimulai. Secara resmi jabatan CEO kini di tempati Salman. Jeta diperkenalkan sebagai asisten pribadi Salman.


Para petinggi Perusahaan menyambut dengan baik. Mereka semua senang Salman kembali. Dulu sebelum kuliah S2 ke luar negeri Salman pernah bekerja di Perusahaan ini.


Salman adalah pemuda yang pintar, baik hati dan mudah bergaul. Sehingga para pegawai tidak ada yang iri dengan kedudukan yang Salman terima hari ini. Salman memang layak untuk mendapatkannya. Semua itu berkat didikan Refan dan Kinan yang menempah Salman menjadi anak yang hebat karena dia adalah anak paling besar yang kelak akan menjadi contoh yang baik bagi adik - adiknya.


Hari ini juga secara resmi Refan mundur dari jabatan CEOnya dan pensiun. Dia hanya menjadi penasehat perusahaan dan memantau jalannya perusahaan dari luar. Semua kekuasaan utuh diserahkan kepada Salman.


Setelah acara selesai mereka berkumpul di ruang kerja Refan yang sejak saat ini akan berganti menjadi ruang kerja Salman. Salman, Jeta dan Naila sedang ngobrol bareng sedangkan Refan sudah pulang sejak tadi.


"Ruangan kamu dimana Nai?" tanya Jeta.


"Mau tau aja apa mau tau banget?" sambut Naila dengan jutek.


"Mau tau banget laah.. Nanti kan aku mau sering - sering main ke ruangan kamu" jawab Jeta.


"Ih ngapain... aku gak mau terkontaminasi dan busuk karena kuman seperti Bang Jeta" elak Naila.


"Ajak Khalid aja" ujar Naila.


"Khalid kan kuliah. Nanti abang dimarahin Papa kamu karena akan menghambat Khalid wisuda" Bela Jeta.


"Kerjaku banyak, gak ada waktu buat temani Bang Jeta" elak Naila.


"Nanti abang bantuin deh biar cepat kelar" jawab Jeta.


"Bang Jeta gak akan ngerti kerjaan aku" bantah Naila.


"Weish.. kamu belum tau siapa aku Nai. Semua bisa aku selesaikan dengan cepat dan tepat dalam waktu sesingkat - singkatnya. Jakarta tujuh belas Agustus sembilan belas empat lima" goda Jeta.


"Udah kyak proklamasi aja" ledek Naila.


"Jeta itu serba bisa Nai, nanti kalau kamu lihat cara kerja Jeta kamu pasti terkejut. Siap - siapin aja kata - kata pujian buat dia" potong Salman.


"Males.. Bang Jeta ngapain juga di puji - puji. Bisa - bisa dia terbang melayang ke langit yang ketujuh" jawab Naila.


"Kalau aku terbang ke langit ketujuh aku pasti akan ajak kamu Nai. Biar kamu lihat indahnya dunia ini sama indahnya dengan hatiku" goda Jeta.

__ADS_1


Salman hanya tersenyum melihat Jeta ngegombal Naila.


"Gombal banget" ejek Naila.


"Aku serius Nai, namanya juga usaha. Syukur kamu bisa terima biar misiku di Jakarta segera selesai" jawab Jeta jujur.


Jeta sudah tidak malu - malu lagi dihadapan Salman. Karena tujuan Jeta ikut ke Jakarta sudah diketahui Salman dan Salman sangat mendukung asalkan adiknya Naila mau terima Jeta dengan baik tanpa paksaan. Yang terpenting Naila bahagia.


Walau Salman tau dia dan Naila adalah saudara tiri tapi rasa sayang Salman kepada Naila sangat besar sebagai adiknya sendiri. Sejak kecil mereka dibesarkan bersama - sama oleh Papa dan Mamanya tanpa ada perbedaan.


Kinan dan Refan selalu mengajarkan kepada Salman untuk menjaga, melindungi dan menyayangi adik - adiknya. Jadinya Salman sangat senang jika Naila kelak mendapatkan jodoh yang baik. Apalagi Salman sangat mengenal Jeta dengan baik sehingga dengan mudah Jeta mendapat restu dari Salman.


Salman tau walau Jeta sangat usil dan terkesan nakal, sebenarnya hatinya sangat baik dan kalau urusan masa depan Jeta tidak pernah main - main. Contohnya saat ini dia rela menjadi asisten pribadi Salman demi untuk berada dekat dengan Naila.


Padahal di luar negeri perusahaan Papanya sudah berjalan dengan besar dan Jeta sudah menjadi pemimpinnya. Tapi Jeta meminta waktu kepada Papa dan Mamanya untuk meninggalkan Perusahaan dalam beberapa waktu sampai dia bisa mewujudkan keinginannya untuk mendapatkan Naila.


Jeta adalah anak yang pekerjaan keras dan tak kenal lelah dalam mendapatkan semua keinginannya. Sehingga dengan mudahnya dia mendapatkan dukungan Salman untuk mendekati Naila.


Hanya saja niat Jeta ini belum sempat dibicarakan Salman kepada Papa dan Mamanya. Biarlah Jeta mendekati Naila dulu. Nanti kalau semua berjalan dengan baik baru Salman akan menyampaikan niat Jeta itu kepada orang tuanya.


Naila hanya diam setelah mendengar ucapan Jeta yang terakhir.


"Udah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang diluar aja. Yuk Nai.. bawa kami ke Restoran yang enak untuk makan siang kita" ajak Salman.


"Baiklah kalau begitu Kak, yul kita pergi sekarang" sambut Naila.


Naila ingin mengalihkan pembicaraan Jeta yang semakin ngawur tadi. Akhirnya mereka bertiga pergi keluar kantor untuk mencari tempat makan siang yang enak.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah Restoran yang Naila rekomendasikan. Mereka memilih tempat dan mulai memesan makan.


"Aisyah.... " panggil Salman


Seorang wanita cantik berhijab berbalik arah dan melihat kearah meja Salman dan para saudaranya.


"Salmaaan.... " ucap wanita itu.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2