
"Adek Naila" teriak Salman dari kamarnya sehingga membuat semua adik - adiknya bangun.
Si kembar jadi menangis karena mendengar suara teriakan Salman. Refan dan Kinan segera berjalan menuju kamar anak - anak mereka.
"Ada apa Salman? Mengapa semua si Kembar menangis?" tanya Refan.
"Adek Naila Pa. Ada adek Naila di sini? Kapan adek Naila datang?" tanya Salman antusias.
"Tadi malam, adek Naila datang bersama Papa" jawab Salman.
"Papa jemput adek Naila? Opa dan Oma mana?" tanya Salman.
"Opa dan Oma adek Naila sudah pergi sayang ke Surga" jawab Kinan lembut.
"Seperti Papa Bima ya Ma?" tanya Salman.
"Iya sayang.. Sekarang adek Naila tinggal bersama kita. Salman harus bisa jadi kakak yang baik ya sama adek Naila, adek Khalid dan adek Khansa" Kinan membelai lembut kepala Salman sambil menggendong Khansa sedangkan Khalid di gendong Refan.
Naila sendiri masih nyenyak tidur, mungkin karena kelelahan baru dari perjalanan jauh Labuhan Bajo - Jakarta.
"Yuk kita keluar, biarin adek Naila nya tidur. Kasihan dia masih capek sayang" ajak Refan.
Refan dan Kinan keluar dari kamar membawa anak - anak mereka.
"Lho Nailanya mana?" tanya Bu Suci.
"Masih tidur Ma, pasti dia kecapekan tadi malam juga lama tidurnya karena kelaperan. Kasihan sekali Naila" ujar Kinan.
"Ya sudah kita makan dulu, biar si kembar di mandiin Bibik" ujar Bu Suci.
"Iya Ma, Bik tolong mandikan Khalid dan Khansa ya" pinta Kinan.
Kinan menyerahkan si Kembar pada Bik Mar dan Bik Nah.
"Kakak Salman juga belum mandi" sambut Refan.
"Iya, Kakak Salman mandi dulu gih sama Bibik. Tapi jangan ribut ya sayang. Nanti adek Nailanya bangun" perintah Kinan.
"Iya Ma" jawab Salman.
"Setelah mandi langsung ke sini, biar kita makan bersama" sambung Kinan.
"Okey... " Salman langsung berlari menuju kamarnya.
Kinan dan Suci mempersiapkan hidangan sarapan pagi. Kinan menghidangkan kopi kesukaan Refan setiap pagi. Sudah dua hari Refan tidak merasakan kopi buatan istrinya.
"Nih kopinya Mas" ujar Kinan sambil menyerahkan secangkir kopi di hadapan Refan.
"Sruuup... aaah.. nikmatnya sayang. Alhamdulillah.. " puji Refan.
Kinan hanya tersenyum membalas ucapan Refan.
"Apa rencana kita kedepannya Mas?" tanya Kinan
"Naila kembali masuk ke dalam daftar anggota keluarga kita sayang di Kartu Keluarga. Hari ini Mas akan bertemu dengan pengacara Papa Reno" jawab Refan.
"Iya Mas tapi hati - hati ya. Aku takut, diluar sana kita tidak tau apakah motif penyerang itu. Takutnya seperti yang Mas Bimo katakan tadi malam. Mereka inginkan harta Om Reno. Dan karena sekarang kamu yang mengelolanya mereka jadi mengejar kamu Mas" ucap Kinan khawatir.
"Iya sayang Mas akan lebih hati - hati. Mas juga akan menambah keamanan di depan rumah kita. Mas tidak mau kalian semua orang - orang di rumah ini, orang - orang yang sangat berarti bagi Mas, yang sangat Mas sayangi. Mas tidak mau kalian dalam masalah bahkan celaka" sambut Refan.
"Iya Mas" balas Kinan.
__ADS_1
"Jangan keluar dulu ya sayang, kemanapun. Biar nanti aku suruh orang kepercayaan aku memberi apa yang kita perlukan di rumah ini. Untuk sementara sampai kasus kematian Papa Reno dan Mama Thalita jelas siapa dalang dari semuanya dan apa motifnya" pesan Refan.
"Iya Mas aku mengerti" sambut Kinan.
Tak lama Salman keluar dan sudah wangi karena baru saja mandi.
"Hemmm... anak Papa wangi sekali" puji Refan sambil mencium putra sulungnya.
"Adek Nailanya sudah bangun sayang?" tanya Kinan.
"Belum Ma... Adek Naila masih bobok" jawab Salman.
Tak lama kemudian terdengar suara dari depan rumah Refan.
"Assalamu'alaikum... " ucap mereka sambil masuk ke dalam rumah Refan. Mereka adalah Bimo dan Reni.
"Wa'alaikumsalam... " sambut Refan dan yang lainnya.
"Naila mana Mas?" tanya Reni.
"Di kamar masih tidur" jawab Refan.
Reni sepertinya ingin balik badan menuju kamar anak - anak.
"Ren, jangan di ganggu dulu Nailanya. Kasihan dia pasti capek sekali lagian dia baru keluar dari rumah sakit lho" ujar Bimo pada istrinya.
"Aku kangen Mas" sambut Reni.
"Nanti dulu kangen - kengannya setelah Naila bangun" bujuk Bimo.
"Maaas jangan dekat - dekat... aku mual setiap dekat Mas" protes Reni.
"Kamu kenapa Ren?" tanya Bu Suci khawatir.
"Paling juga hamil Ma" sambut Refan.
"Hamil?" tanya Bimo terkejut.
"Iya Mas, kalau hamil bisa jadi seperti tadi gejalanya. Reni gak suka cium wangi suaminya dan mual - mual kalau pagi hari" jawab Kinan.
"Benar Nan, itu yang dialami Reni pagi ini. Padahal aku sudah mandi dan memakai parfum yang biasanya dia suka. Malah dia sendiri yang memilih wangi parfumku itu" sambut Bimo.
"Sudah periksa?" tanya Refan.
"Belum, baru pagi ini Reni seperti ini" jawab Bimo.
"Tunggu sebentar sepertinya aku masih punya test pack di kamar" ujar Kinan.
Kinan segera berjalan ke kamarnya, tak lama kemudian dia keluar membawa alat tes kehamilan. Kinan memberikannya kepada Reni yang sudah duduk di depan meja makan.
"Nih Ren, coba kamu test di kamar mandi" perintah Kinan.
"Gimana caranya Mbak?" tanya Reni.
"Baca aja aturan pakainya di bungkus test packnya" jawab Kinan.
"Baik Mbak" Reni meraih alat test kehamilan yang diberikan Kinan dan berjalan menuju kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Reni keluar dengan membawa alat test kehamilan.
"Gimana yank?" tanya Bimo harap - harap cemas.
__ADS_1
Reni memberikan alat tes kehamilan kepada Bimo.
"Garis dua, apa artinya?" tanya Bimo bingung.
"Alhamdulillah... " sambut Bu Suci dan Kinan.
"Ka.. kamu ha.. mil?" tanya Bimo tak percaya.
Reni tersenyum menatap wajah suaminya.
"Alhamdulillah... " ucap Bimo dan langsung memeluk Reni
"Maaaaas... bauuuuk... " Reni langsung melepaskan pelukan Bimo dan lari kembali ke kamar mandi.
"Ueeeek... ueeeeek... " Reni kembali memuntahkan semua isi perutnya.
"Apa salahku...?" tanya Bimo pada Refan.
Refan tersenyum menatap wajah iparnya tersebut.
"Selamat menikmati" sambut Refan.
"Kalian sudah makan?" tanya Bu Suci.
"Belum Ma" jawab Bimo.
"Ya sudah yuk makan bareng kami" ajak Bu Suci.
Bu Suci dan Kinan menyiapkan peralatan makan untuk Reni dan Bimo.
"Sementara jaga jarak aja dulu Mas sama Reni. Kasihan dia mual terus. Bisa - bisa apa yang Reni makan habis terbuang karena muntah. Kasihan janinnya bisa kurang gizi. Kalian juga harus segera priksa ke dokter biar Reni dikasih vitamin dan obat mual" ucap Kinan.
Duh bagaimana aku bisa jaga jarak sama Reni, aku sudah terbiasa tidur sambil memeluknya. Bagaimana nanti aku bisa tidur nyenyak? Kemarin aja di Labuhan Bajo dua hari aku sangat tersiksa. Tangis Bimo dalam hati.
"Iya Nan, nanti sore kami akan langsung ke dokter" sambut Bimo.
Reni keluar sambil memegang perutnya.
"Gimana, sudah reda?" tanya Bimo khawatir.
"Aku lapar" jawab Reni.
"Sini duduk di sini.. " Bimo mempersilahkan Reni duduk disampingnya.
"Gak mau dekat - dekat Mas. Bauuuk... nanti aku mual lagi" sambut Reni.
"Hahaha.. kasihan banget kamu Bim" ledek Refan.
Bimo hanya bisa pasrah sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Akhirnya mereka sarapan pagi bersama pagi itu, walau dengan drama Reni bulak balik berlari ke kamar mandi karena mual.
Bimo benar - benar merasa kasihan melihat istrinya seperti itu. Sebenarnya dia sangat senang sekali mengetahui kalau Reni hamil. Dua kali menikah baru kali ini Bimo akhirnya berhasil mencetak gol.
Dia ingin sekali memeluk mesra tubuh istrinya tapi apa daya, sepertinya anak mereka tidak menginginkan seperti itu.
Apa salah Papa nak, sampai kamu tidak mau Papa peluk. Ucap Bimo sedih dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1