
Malam harinya saat Refan dan Kinan ingin menyantap makan malam tiba - tiba mereka kedatangan tamu yang tak di undang. Siapa dia? Dia tak lain adalah Mamanya Renita.
"Assalamu'alaikum" terdengar suara orang memanggil dari depan rumah.
"Siapa yang datang malam - malam begini?" tanya Kinan.
"Bik tolong lihat ke depan" perintah Refan.
"Baik Den" jawab Bik Mar.
Saat Bik Mar melihat ke depan alangkah terkejutnya dia melihat kedatangan mantan mertua Refa.
"Wa'alaikumsalam. Nyonyaaaaa" ucap Bik Mar terkejut.
"Kenapa Bik, kamu begitu terkejut dengan kedatanganku ke sini. Refan ada kan? Aku melihat mobilnya di luar, dia pasti ada di dalam" dengan penuh percaya diri Mamanya Renita masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di rumah keluarga Mama Renita melihat Naila sedang di gendong Bik Nah.
"Oh sayang Oma, kamu lagi ngapain sayang kok di tinggal berdua saja sama Bik Nah. Mana Papa kamu?" tanya Mama Renita sok berkuasa.
"Maaf Nyonya, Den Refan sedang makan di ruang makan bersama Non Kinan dan Salman" jawab Bik Nah.
"Cih mereka enak - enakan makan bersama. Cucuku di tinggal berdua saja sama pembantu. Apa Refan gak sayang pada anaknya lagi dan sudah tergoda dengan wanita dan anak tirinya itu sehingga menelantarkan cucuku" omel Mama Renita.
Bik Mar dan Bik Nah saling pandang.
Gawat bisa terjadi keributan kalau Nyonya ini datang. Ya wajar donk Naila di titip sama kami. Toh Naila juga belum bisa ikut makan malam bersama mereka. Naila kan belum bisa makan. Nih orang kaya aku rasa rada miring kali ya otaknya. Umpat Bik Nah dalam hati karena kesal mendengar ocehan Mamanya Renita.
"Sini cucuku. Aku mau kasih pelajaran kepada Refan. Enak saja cucuku di tinggal begini" Mamanya Renita segera mengambil Naila dari gendongan Bik Nah.
Dengan terpaksa Bik Nah pasrah menyerahkan Naila kepada Omanya dari almarhum Mamanya Naila.
Mamanya Renita berjalan ke arah dapur sambil menggendong Naila.
"Ooh enak ya kalian sedang makan bersama keluarga, sementara cucuku di tinggal sendirian sama pembantu" Omel Mamanya Renita.
Kinan yang sedang menyuguhkan makanan dalam piring ke hadapan Refan seketika terhenti dan terdiam kaku.
Refan yang sedang santai menikmati makan malam bersama istri tercintanya terkejut dengan kedatangan mantan mertuanya. Sesaat Refan dan Kinan saling pandang.
"Mama baru datang? Ayo Mama bergabung bersama kami makan malam" ajak Refan ramah.
__ADS_1
"Kenapa Naila di tinggal sama pembantu sih Refan?" tanya Mamanya Renita kembali.
"Maaf Bu, Naila kan belum bisa makan. Jadi kami tinggal sebentar saja untuk makan malam. Nanti setelah kami selesai makan baru kami akan bermain bersama Naila" jawab Kinan membela diri.
Cih... Mamanya Renita membuang muka dari tatapan Kinan.
"Iya Ma, Naila kan belum bisa makan. Nanti kalau dia sudah bisa duduk dengan kokoh dan bisa makan pasti akan kami ajak makan bersama kami. Cuma sebentar kok Ma" sambung Refan.
"Yok Bu kita makan malam bersama. Bik Mar tolong siapkan peralatan makan untuk Ibu" pinta Kinan lembut.
"Baik Non" jawab Bik Mar sigap.
"Sini Nyah Naila biar saya gendong kembali. Nyonya makan saja bersama Dengan Refan dan Non Kinan" pinta Bik Nah.
Mamanya Renita kembali menyerahkan Naila ke dalam gendongan Bik Nah lalu duduk tepat di samping Refan dan saling berhadapan dengan Kinan dan Salman.
"Silahkan makan Ma" ucap Refan.
Mamanya Renita mulai menyendok nasi dan yang lainnya ke dalam piringnya dan mulai ikut makan bersama.
"Lanjut Mas makannya" ujar Kinan kepada Kinan.
"Iya Nan" jawab Refan.
Dia merasa anaknya begitu dicintai Refan sehingga Refan memperlakukan Renita seperti ratu di rumahnya. Tapi kini Mamanya Renita melihat Kinan melayani suaminya dengan baik di depan meja makan. Memperhatikan setiap isi makanan yang ada di piring Refan dengan penuh kelembutan dan melayani suaminya dengan penuh kasih sayang.
Mamanya Refan dapat merasakan hubungan yang hangat antara Refan dan Kinan dari sikap mereka yang terlihat tidak canggung lagi seperti saat syukuran pernikahan mereka.
Secepat itu kamu melupakan putriku yang dulu kamu anggap ratu di rumah ini? Aku tidak bisa terima kalau putriku kamu perlakukan seperti itu. Hatiku sangat sakit sekali.
Mamanya Renita mulai menyantap makan malamnya dalam diam. Dia sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan di rumah ini. Saat dia mulai menyuap makanan kedalam mulutnya dan lalu menelannya.
"Sepertinya kemampuan masak kamu semakin bagus ya Bik Mar. Dulu aku rasa masakan kamu tidak seenak malam ini" puji Mamanya Renita.
"Maaf Nyonya semua hidangan ini dimasak oleh Non Kinan" jawab Bik Mar.
Sesaat Mamanya Renita terdiam.
Sial mengapa dia bisa pintar masak seperti ini. Jangankan putriku, aku saja rasanya tidak bisa membuat makanan seenak ini. Batin Mamanya Renita.
Mamanya Renita memakan bakwan jangung yang di hidangkan.
__ADS_1
"Tapi bakwannya terlalu asin, jagungnya juga udah ketuaan ini" Mamanya Renita mulai berkomentar jelek.
"Nggak kok Ma. Aku rasa tidak terlalu asin. Rasanya sangat pas di lidahku. Kalau menurut Mama terlalu asin lebih baik jangan di makan. Aku takut darah tinggi Mama kumat karena makan makanan yang asin" bela Refan.
Bik Mar tersenyum tipis mendengar perkataan Refan.
Bagus Den Refan kamu udah bela istri kamu. Tau rasa kamu Mak Lampir, putri kamu saja dulu jangankan membuat makanan seenak ini, masuk ke dapur aja bisa di hitung pakai jari. Oceh Bik Mar dalam hati.
Kinan melirik ke arah piringnya Mama Renita tapi tidak ada bakwan jagung yang diasingkannya di dalam piring, semua makanan habis tak bersisa di dalam piringnya.
"Sayang mubazir, berdosa kalau harus di buang" jawab Mamanya Renita.
Refan dan Bik Mar tersenyum tipis mendengar perkataan Mamanya Renita.
Refan dan Kinan sudah selesai makan. Kinan segera berdiri dan mengeluarkan dessert yang tadi dia buat di dalam kulkas untuk di nikmati setelah makan malam
"Ini Mas dessertnya" Kinan meletakkannya di hadapan Refan.
"Ibu mau?" tanya Kinan ramah.
"Buatan kamu?" Mamanya Renita melirik ke arah dessert yang ada di hadapan Refan.
"Iya" jawab Kinan.
"Boleh juga, aku mau icip bagaimana rasa masakan kamu yang lain" ujar Mamanya Renita.
Kinan tersenyum dan kembali mengambil dessert yang ada di kulkas.
Untung aja tadi aku buatnya agak banyak. Kinan bernafas lega.
"Silahkan di makan bu" Kinan mempersilahkan Mama Renita untuk menyicipi dessertnya.
Mmm.. puding buah mangga cantik sekali bentuknya. Apakah rasanya juga enak? Tanya Mama Renita dalam hati.
Mamanya Renita mulai memakan dessert yang di hidangkan Kinan.
Sial... ternyata rasanya sangat enak, aku tidak mempunyai celah untuk merendahkannya. Batin Mamanya Renita.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG