
"Mm... maaaas.. Bima" ucap Kinan tanpa sadar.
Sontak Refan terdiam, entah mengapa Refan kesal mendengar Kinan memanggil nama alm. suaminya.
Apakah dia sedang bermimpi bertemu dengan alm. suaminya? Atau dia masih merindukannya? Kalau dia masih mencintai suaminya dulu mengapa dia mau menerima pernikahan ini? tanya Refan dalam hati.
Handuk kecil yang dipegang Refan kini sudah dia remas dengan keras. Hatinya panas mendengar bukan nama dia yang disebut tapi dia bisa apa? Dia juga tidak memperlakukan Kinan dengan baik sebagai istrinya.
Refan kembali ke kamarnya dan berbaring di atas tempat tidur. Butuh beberapa menit untuk menetralkan gejolak jantungnya yang panas karena hal tadi.
Mengapa aku harus kesal seperti ini sih. ukh..... umpat Refan dalam hati.
Tengah malam Naila menangis, Refan segera bangun dan menggendong Naila tapi Naila tak kunjung reda tangisannya.
"Sayaaang diam ya, ada Papa di sini. Bobok lagi yuuuk udah malam sayang" bujuk Refan sambil bergoyang menggendong Naila.
Naila terus menangis membuat Refan panik padahal sudah lihat popok. Masih bagus.. bukan ini masalahnya. Refan membuatkan susu Naila tapi Naila hanya berhenti sesaat. Setelah dia selesai menyusul dia kembali menangis kencang.
Kinan terbangun karena suara tangisan Naila. Dan karena dia belum sembuh total di tambah dia juga sedang terkejut Kinan berjalan ke kamar Refan dengan terburu - buru tanpa memakai jilbabnya.
"Sini Mas... biar Naila aku gendong saja" pinta Kinan.
Refan terkejut melihat tampilan Kinan yang seperti ini. Kinan hanya memakai baju dasternya tanpa memakai jilbabnya. Rambut hitamnya ternyata panjang lurus dan sangat terawat.
Tidak seperti Renita dulu yang suka mengecat rambutnya dan dibuat dengan berbagai model. Kadang dibuat bergelombang, kadang dilurusin dan berbagai model dengan alasan bosan.
Lagi - lagi aku mencari perbedaan antar dia dengan Renita. Ucap Refan dalam hati karena tersadar.
"Kamu lagi sakit" tolak Refan.
"Aku sudah baikan Mas, sini Mas Nailanya" pinta Kinan lagi.
Karena kasihan melihat Naila yang terus menangis Refan akhirnya memberikan Naila kepada Kinan. Kinan menyambutnya dan langsung memeluk dan menggendong Naila.
"Cup.. cup.. sayaaaang.. kangen sama Mama ya. Maaf ya sayaaang Mama lagi sakit jadi dari kemarin belum sempat samperin kamu. Marah sama Mama ya naaak" bujuk Kinan.
Refan memperhatikan Kinan secara diam - diam. Setiap Kinan sedang menggendong Naila wajah Kinan selalu terlihat ceria. Senyum hangatnya seolah - olah sedang menghipnotis Naila sehingga seketika Naila terdiam
Naila mengajak Kinan bermain, mungkin benar dia kangen pada Kinan karena seharian merasa di cuekin. Naila menarik - narik rambut Kinan sehingga Kinan tersadar karena saat ini dia sedang tidak memakai jilbabnya.
Kinan memergoki Refan juga sedang menatap wajahnya dan melihat seluruh penampilannya.
__ADS_1
"Maaas.. bisa pegang Naila sebentar gak?" tanya Kinan.
"Kamu mau kemana?" tanya Refan.
"Aku mau ke kamarku dulu" jawab Kinan.
"Ngapain, mau pakai jilbab?" tanya Refan lagi.
Kinan kaget dan terdiam sambil menganggukkan kepalanya.
"Terlambat, aku juga sudah lihat. Lagian biarkan saja, apa kamu gak gerah seharian di rumah ini pakai jilbab terus. Bukannya rambut kamu butuh udara.. dilepas saja, jangan terus - terusan di ikat dan ditutupi terus? Aku juga kan sudah jadi suami kamu. Jadi tidak masalah kalau aku melihat aurat kamu" ungkap Refan
Kinan terlihat sedang berfikir keras dan akhirnya membiarkan rambutnya tetap tergerai dan akhirnya meneruskan kegiatannya menggendong Naila.
Kinan mulai bernyanyi melantunkan shalawat dan akhirnya Naila kembali tertidur. Perlahan - lahan Kinan meletakkan Naila kembali di dalam box bayinya.
Refan tak berhenti memandangi Kinan sehingga membuat Kinan merasa risih karena tatapan Refan.
"Aku balik ke kamar ya Mas" ucap Kinan.
Refan hanya terdiam, sesaat dia memang terpesona dengan penampilan Kinan tadi. Ini pertama kalinya dalam keadaan sadar Kinan tidak menutup rambutnya.
Refan kembali teringat kejadian saat dia melihat Kinan sebelum dia tidur tadi. Kinan masih menyebut nama alm. suami Kinan yang pertama.
Lagi - lagi Refan merasa emosi dan marah.
Akh... ada apa denganku, mengapa aku terus memikirkannya. Pernikahanku baru dua minggu tapi apakah secepat itu juga dia masuk ke dalam hatiku. Batin Refan.
Refan menatap foto dia sedang memeluk Renita yang terletak dia atas nakas disamping tempat tidur. Refan mengambilnya dan mengusap lembut foto itu.
Sayaaaang... aku kangen kamu. Apakah kamu sudah tenang disana? Maaf bukan maksud aku menduakan kamu tapi putri kita membutuhkan pengganti kamu. Dia butuh seorang Ibu. Aku sendiri tidak bisa menenangkannya saat terbangun di tengah malam seperti tadi. Dia juga membutuhkan kehangatan pelukan seorang Ibu yang tak bisa aku lakukan. Tapi yakinlah sayang cintaku hanya untukmu. Aku tidak bisa melupakan kamu sampai kapanpun.
Refan menangis dalam diam, seluruh kenangan dia bersama istrinya Renita dulu kembali terbayang dalam ingatannya. Semua impian - impian mereka tentang masa depan.
Flasback On
"Nanti kalau kita punya anak, aku tidak mau mengurus anak kita sendirian ya.. Mas harus bangun juga temani aku dan bergantian menggendong anak kita. Aku akan menggendongnya tapi Mas yang buatin susunya" ucap Renita sebelum tidur.
"Iya sayaaaang.. Aku akan selalu bangun setiap malam dan menemani kamu menggendong anak kita nanti" jawab Refan.
Refan mensejajarkan wajahnya ke perut istrinya dan membelai lembut perut Renita.
__ADS_1
Saat itu usia kehamilannya sudah memasuki usia tujuh bulan. Tendangan dan pergerakan bayi yang ada di dalam kandungannya sudah sangat terasa dan sangat aktif.
Refan mengelus lembut perut istrinya dan menciumnya.
"Sayang jangan nakal ya di dalam sana. Lihat kamu sudah menendang Mama kamu sayaaang" ucap Refan ke arah perut istrinya.
"Oke Papa" jawab Renita dengan suara anak kecil.
Refan tersenyum dan mencubit lembut pinggang istrinya.
"Mamanya yang genit" goda Refan.
"Hahaha... geli Mas geli... " tubuh Renita bergerak - gerak karena Refan berhasil menggelitiki pinggangnya.
Refan meraba pinggang dan ketika istrinya untuk memberikan sentuhan - sentuhan yang membuat istrinya tidak berhenti bergerak karena menahan rasa geli.
"Udah donk Maaaas nanti perutku kram" cegah Renita.
Refan menghentikan aksinya kemudian mengecup lembut pipi istrinya penuh cinta.
"Aku sangat mencintaimu kamu sayang" ucap Refan.
"Aku nggak tuh" goda Renita.
Refan kembali tersenyum melirik istrinya.
"Nakal lagi ya, mau aku gelitikin lagi?" tantang Refan.
"Hahaha... iya.. iya Mas.. Aku juga mencintai kamu" balas Renita.
Refan menyentuh lembut bibir istrinya dengan jarinya kemudian perlahan bibirnya menyentuh bibir istrinya. Mengecupnya dengan lembut.
Flashback Off
Refan memeluk bingkai foto itu di dalam dadanya. Tangannya menghapus air mata yang menetes di sudut matanya. Setelah itu dia kembali memejamkan matanya. Dia ingin bermimpi dan bertemu istrinya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1