
Satu minggu kemudian tibalah hari yang dinanti - nantikan oleh Refan. Sebelum ke Rumah Sakit untuk mengambil hasil tes DNA Naila, Refan berniat untuk singgah ke rumah orang tuanya terlebih dahulu.
Refan tiba di rumah Mamanya saat Suci sedang duduk santai di ruang TV sambil menonton tayangan film favoritnya. Suci sangat terkejut begitu melihat Refan sudah sampai di rumahnya.
Sejak Naila di rawat di rumah sakit Suci memang tidak pernah datang lagi untuk melihat Naila. Dia merasa sangat yakin kalau Naila memang bukan anak Refan. Dan entah mengapa dia sangat yakin kalau Renita telah mengkhianati anaknya.
Suci merasa sakit hati dan tidak suka melihat Naila lagi. Walaupun dia sadar Naila tidak salah dalam hal ini. Dia hanyalah korban dari keegoisan para orang dewasa. Tapi Suci sangat sulit untuk menerima Naila sebagai cucunya walaupun Refan tetap ingin mengasuhnya.
"Fan ada apa kamu datang ke sini? Mana Kinan?" tanya Suci.
"Kinan di rumah Ma" jawab Refan.
"Sini duduk" Suci mengajak putranya duduk di sampingnya. Refan adalah anak ke duanya tapi Refan adalah putra satu - satunya.
Refan mengambil posisi hendak duduk di samping Mamanya tapi dia malah berhenti tepat di depan Suci dan bersimpuh di lantai.
"Fan apa yang kamu lakukan?" tanya Suci terkejut.
"Ma.. maafkan aku. Ampuni segala salah dan khilafku Ma" pinta Refan sambil bersimpuh di depan Mamanya.
"Kamu salah apa Nak?" tanya Suci bingung.
"Aku sudah bersalah kepada Mama dan Almarhum Papa. Aku tidak mendengarkan perkataan kalian, aku melawan dan tidak menjalankan amanah terakhir Papa. Aku menolak Kinan dan memilih Renita. Aku sudah membuat Mama dan keluarga kita malu karena membatalkan pernikahan aku dengan Kinan dulu" ungkap Refan.
"Sudahlah Nak, semua sudah berlalu. Sekarang Kinan kan sudah menjadi istri kamu" sambut Suci.
"Tapi aku tetap salah Ma, sehingga aku mendapat hukuman seberat ini" ujar Refan.
Suci langsung terkejut dan teringat tentang tes DNA Naila.
"Bagaimana hasil tes DNA nya?" tanya Suci.
"Belum keluar Ma. Hari ini aku akan ke rumah sakit untuk mengambil hasilnya tapi tanpa melihat itupun aku sudah tau jawabnya Ma. Renita sudah mengkhianatiku Ma. Dia selingkuh dibelakangku sampai dia mengandung Naila" ungkap Refan.
"Astaghfirullah.. Benarkah nak?" Suci terlihat sedih dan menangis.
Dia tidak menyangka putra satu - satunya telah dibohongi sampai seperti ini. Reflek dia memukul bahu Refan sambil menangis.
"Kamu bodoh atau apa sih Fan.. Masak istri selingkuh kamu bisa gak tau, malah sampai hamil anak pria lain dan kamu dengan susah payah mengurusnya" ujar Suci.
"Maaf Ma.. aku salah pada kalian dan aku pantas mendapatkan hukuman seberat ini" Mereka menangis saling berpelukan.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa tau Nak? Hasil tes DNA nya kan belum keluar?" tanya Suci penasaran.
"Aku menemukan kejanggalan sejak tes DNA Naila kemarin. Aku menemukan jejak perselingkuhan Renita. Ada dua pria yang sering datang ke makamnya, aku penasaran dan menyelidikinya. Aku mencari bukti lain, laptop dan handphone Renita yang tak pernah aku buka sejak dia meninggal kini aku buka kembali Ma. Aku mencari barang - barang Renita di gudang dan aku juga menemukan bukti lain yaitu diary Renita. Aku membaca semuanya Ma, semuanya.. cerita tentang perselingkuhannya" jawab Refan.
"Kamu tau siapa pria itu?" tanya Suci.
Refan mengangguk kan kepalanya.
"Kamu mengenalnya?" tanya Suci lagi.
Lagi - lagi Refan mengangguk.
"Oh ya Tuhaaan.. " sambut Suci sambil menangis.
"Siapa nak?" tanya Suci penasaran.
"Bosnya Renita Ma" jawab Refan.
"Mama sudah menduganya Fan. Pria itu satu - satunya orang yang pantas di curigai. Karena Renita sering pergi bersamanya ke luar kota" sambut Suci.
"Iya Ma" balas Refan.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Suci.
"Lalu bagaimana dengan Naila?" tanya Suci.
"Aku akan menyerahkan semuanya kepada keluarga Renita Ma. Kalau mereka mau mengambil Naila ya silahkan, aku tidak bisa melarang nya toh Naila memang bukan anak kandungku. Tapi kalau mereka mengizinkan aku dan Kinan untuk merawat Naila, dengan tangan terbuka kami akan menerimanya Ma. Aku dan Kinan sudah menyayangi Naila dengan tulus Ma" jawab Refan.
"Jangan Faan. Lebih baik kalian serahkan saja Naila kepada keluarganya. Kamu lebih baik menjalani hidup rumah tangga yang baru bersama Kinan. Buka lembaran baru hidup kamu bersama Kinan Nak. Berbahagialah karena ridho Papa dan Mama menyertaimu" sambut Suci.
"Biarlah waktu yang menjawab Ma. Aku dan Kinan pasrah mengenai Naila. Kalau memang dia akan terus bersama kami, kami ikhlas merawatnya" tegas Refan.
Suci menatap wajah putranya itu. Dia sangat kasihan dan sedih melihat hidup putranya.
"Kamu akan pergi sekarang ke Rumah Sakit?" tanya Suci.
"Iya Ma baru setelahnya aku akan ke rumah orang tua Renita" jawab Refan.
"Mama ikut Nak" punya Suci.
"Jangan Ma biar aku yang akan menyelesaikan rumah tangga ku sendiri" cegah Refan.
__ADS_1
"Tidak Mama akan tetap ikut. Mama tau mau kamu sendirian melawan mereka. Mama juga ingin membungkam mulut manisnya si Talita yang selalu bangga dengan anaknya itu ternyata tukang selingkuh" ujar Suci emosi.
"Mama yakin mau ikut?" tanya Refan untuk memastikan.
Suci langsung berdiri dari tempat dia duduk semula.
"Kamu tunggu sebentar, Mama akan ganti pakaian ya" jawab Suci.
Suci segera berjalan menuju kamarnya, bahkan hampir berlari sangking terburu - burunga. Tidak memakan waktu lama akhirnya Suci keluar dari kamar dan segera menemui Refan
"Yuk kita pergi, Mama sudah siap" ajak Suci.
"Ya sudah Ma ayuuk" balas Refan.
Refan dan Mamanya segera keluar dari rumah Mamanya dan langsung masuk ke dalam mobil Refan. Setelah itu Refan menyalakan mobilnya kemudian melaju menuju Rumah Sakit tempat dilakukannya tes DNA Naila.
Mereka segera menuju administrasi tempat semula Refan meminta dilakukannya tes DNA untuk Naila.
"Bapak Refan, silahkan masuk" ujar pegawai administrasi.
Refan dan Suci masuk ke dalam ruangan itu.
"Silahkan duduk" perintah pria itu.
"Terimakasih" sambut Refan kemudian dia dan Mamanya duduk di sofa tepat di depan pria pegawai administrasi.
Pria itu berdiri dan mengambil amplop berwarna coklat yang masih tersegel rapat.
"Ini Pak hasil tes DNA anak Bapak. Kamu pastikan hasilnya sangat rahasia dan terjamin tidak ada rekayasa. Bapak bisa mencobanya lagi di Rumah Sakit lainnya" ujar pria itu.
Refan segera meraihnya.
"Terimakasih Pak" jawab Refan.
Refan membuka amplop tersebut, mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Secara perlahan - lahan Refan membacanya.
Sampai pada akhir kesimpulan..
Naila dan Refan tidak mempunyai hubungan darah...
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG