
Setelah selesai makan siang Refan mengajak Bimo mampir ke rumahnya. Sekarang Refan sudah sangat yakin kalau Bimo tidak memiliki maksud jahat kepada keluarganya.
Bimo memang sudah bertaubat dan ingin menebus kesalahannya kepada orang tua dan keluarganya termasuk kepada Kinan dan Salman.
"Kita mampir ke rumah ku yuk. Biar enak ngobrol bareng Ibu dan Bapak di rumah. Lagian juga Salman pengen ketemu kamu lagi katanya" ajak Refan.
"Boleh Fan?" tanya Bimo terkejut.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak?" Refan balik bertanya.
"Entah mengapa di awal pertemuan kita aku merasa kalau kamu mencurigai aku. Makanya aku bertanya seperti itu" jawab Bimo.
Refan tertawa mendengar jawaban Bimo.
"Kamu memang laki - laki yang ceplas ceplos ya. Tebakan kamu memang benar. Saat awal kehadiran kamu aku memang curiga dengan kamu. Curiga kamu akan merebut Kinan dan Salman dari aku dan akan mencelakan mereka tapi saat ini aku sudah tidak takut karena aku sudah tau kalau Kinan sudah mencintaiku" sambut Refan.
"Gila kamu, wanita hamil lima bulan, mana mungkin dia mau dihamili kalau dia tidak cinta sama kamu. Cinta kan bisa hadir dengan sendirinya karena interaksi yang intens dan juga cobaan dari luar yang menyerang rumah tangga kalian. Membuat kalian jadi saling melindungi, menyayangi dan akhirnya mencintai " ujar Bimo.
"Kamu benar Bim. Begitulau cinta kami bersemi" balas Refan.
Refan segera berdiri dari hadapan Bimo.
"Yuk kita ke rumahku" ajak Refan.
"Oke... " balas Bimo.
Mereka segera keluar dari Restoran dan masuk ke mobil masing - masing-masing setelah itu mereka menjalankan mobil menuju ke arah rumah Refan dan Kinan.
Sesampainya di sana mereka disambut gembira oleh seluruh keluarga. Terlebih Salman yang masih kangen dengan wajah almarhum Papanya dan dia juga sudah mulai nyaman berbincang-bincang dengan Bimo.
"Uncle Bimo... Mamaaaa Uncle Bimo dataaaang" teriak Salman kesenangan.
"Lho.. Mas Bimo datang sama siapa? Bagaimana dia tau alamat rumah ini?" tanya Kinan.
"Refan yang ajak dia Kinan" jawab Bu Suci.
"Yuk kita lihat. Mama penasaran dengan wajah Bima. Apa benar dia sangat mirip dengan Bima?" tanya Bu Dhisti.
Mereka semua menyambut kedatangan Refan dan Bimo di ruang tamu.
"Uncle Bimoooo... " Salman langsung berlari ke dalam pelukan Bimo.
"Uuuh anak pintaaaar" Bimo segera menyambut kedatangan Salman dan menggendongnya.
"Uncle aku masih kangen sama Uncle. Dari tadi aku tanyain Mama kapan aku bisa ketemu Uncle lagi. Tapi kata Mama belum tau kapan waktunya" ujar Salman bijak.
__ADS_1
"Sekarang lah waktunya. Saat ini kan kamu udah ketemu Uncle Bimo" sambut Refan.
"Iya.. Makasih Papa udah ajak Uncle Bimo main ke rumah kita" ucap Salman.
"Sama - sama sayang" Refan mengacak rambut Salman dengan gemas.
"MashaAllah.. Bim.... maaa" ucap Bu Dhisti terkejut.
"Bimo Maaaa" sambut Pak Ardianto.
"Maaaf.. Nak Bim.. mo.. wajah kamu mirip sekali dengan Bima" ujar Bu Dhisti.
"Tidak apa - apa Bu. Dulu memang banyak orang yang tidak bisa membedakan kami" jawab Bimo sopan.
"Silahkan duduk" ujar Kinan.
"Kita ke ruang keluarga aja yank biar lebih santai dan muat kumpul semuanya. Di sini kan lebih sempit" ajak Refan.
"Eh iya.. yuk ke ruang keluarga aja" sambut Kinan.
Mereka berjalan masuk ke bagian dalam rumah Refan dan Kinan. Dan duduk di sofa ruang keluarga yang sangat luas.
"Bagaimana tadi ke kantor pengacaranya?" tanya Pak Akarsana.
"Sudah Pak, sudah beres semua. Semua bukti - bukti sudah aku serahkan" jawab Bimo.
"Baik. Bapak siap demi untuk mencari kebenaran tentang kematian putra Bapak sekaligus Bapak juga ingin membersihkan nama putraku yang satu lagi. Dan melindungi semua anak - anakku" jawab Pak Akarsana tegas.
"Terimakasih Pak" sambut Refan.
"Bapak tidak lagi bertugas menjaga kami. Kami sudah besar terlebih aku. Aku yang akan menjaga kalian" balas Bimo.
"Setua apapun orang tua kalau kamu tanya hatinya Nak, walau tenaga sudah hampir habis pasti kami akan tetap memperjuangkan dan menjaga anak - anak kami sampai tetes terakhir. Bukan begitu Ardi?" ujar Pak Akarsana.
"Benar Mas" sambut Papanya Kinan.
Bimo merasa terharu mendengar perkataan Papanya.
"Terimakasih Pa, kita akan berjalan bersama - sama dan saling bergandengan tangan" balas Bimo.
"Jadi besok kita bisa bagi tugas ya. Aku, Bimo dan Bapak ke kantor polisi sedangkan Papa bisa kan Pa aku minta tolong jagain semua keluarga kita di rumah. Aku juga akan perketat penjagaan di pintu depan juga di depan perumahan. Orang asing tidak akan boleh masuk" ucap Refan.
"Bisa Fan, Papa akan jaga di rumah" sambut Pak Ardianto.
Tak lama Reni datang membawa nampan yang berisikan minuman untuk semua keluarga yang ada di ruang keluarga.
__ADS_1
"Lho siapa anak gadis cantik ini? Ibu baru melihatnya?" tanya Bu Akarsana.
Reni tersenyum ramah kepada Bu Akarsana.
"Saya Reni Bu, adiknya Mas Refan. Aku tadi baru datang dan langsung ke kamar Mama. Jadi belum sempat berkenalan dengan kalian semua" jawab Reni sopan.
Reni menjabat tangan Bapak dan Ibu Akarsana, kemudian menjabat tangan Bimo dan terakhir Bela.
"Hai aku Bela, adik iparnya Mbak Kinan. Sepertinya kita seumuran" ucap Bela ramah.
"Aku Reni adiknya Mas Refan" jawab Reni.
Reni dan Bela tampak berbincang - bincang dengan akrab dan sambil bermain bersama Salman.
Para lelaki sibuk membicarakan tentang rencana besok bagaimana mereka akan membuat laporan ke kantor polisi. Sesekali Bu Akarsana melihat sosok gadis cantik yang memakai jilbab duduk di samping Bela.
Gadis yang cantik dan sepertinya baik. Batin Bu Akarsana. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
Mereka berdiskusi hingga sampai menjelang senja.
"Sudah sore aku pamit mau kembali ke hotel" ujar Bimo.
"Nanggung Mas, nanti aja setelah makan malam bareng" cegah Kinan.
"Iya benar, sebentar lagi juga maghrib setelah itu baru kita bersiap - siap makan malam" sambut Refan.
"Iya Mo, kita shalat jamaah aja bareng - bareng di sini sekalian kirim doa buat Almarhum Bima" ujar Bu Akarsana.
"Baiklah Bu kalau begitu saya tunda kepulangan saya" jawab Bimo.
Tak lama adzan maghrib berkumandang mereka bersiap - siap untuk shalat berjamaah di rumah saja. Ruang keluarga dengan cepat di sulap menjadi tempat shalat seluruh keluarga.
Yang menjadi imamnya shalat kali ini adalah Pak Akarsana. Bimo merasa sangat terharu melihat bahkan ikut dalam bagian kehangatan keluarga ini. Sudah lama rasanya dia tidak berada dalam situasi seperti ini.
Di akhir shalat Bimo meneteskan airmata dan mengucap syukur ternyata Allah masih sayang kepadanya. Bimo mendapatkan kembali hidayah untuk kembali. Kembali seperti dulu, kumpul bersama keluarganya walau saudara kembarnya sudah tiada lagi.
Refan menepuk bahu Bimo yang sedang bergemuruh menahan tangis, dia mengerti apa yang saat ini Bimo rasakan.
"Kamu pria yang hebat bisa melewati semua cobaan hidup kamu ini dengan tegar dan kuat. Sesuai dengan janji Allah. DIA tidak akan memberikan hambanya cobaan jika memang tidak sanggup menghadapinya. Seandainya aku di posisi kamu aku mungkin tidak akan kuat. Kehilangan istri saja dulu sudah membuat duniaku rasanya hancur untung Allah kirimkan Kinan dalam hidupku. Tapi kamu.. kamu sudah kehilangan istri dan kehilangan saudara, kamu tetap kuat bahkan bisa kembali ke jalanNYA. Aku yakin Allah pasti akan mengirimkan kembali pada kamu wanita yang baik untuk pengganti istri kamu. Percaya dan bersabarlah... " pesan Refan lembut.
"Terimakasih Fan... " jawab Bimo.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG