
Setelah kepergian Naila semuanya jadi tidak bersemangat di rumah. Mereka semua tampak sedih dan larut dengan peristiwa perginya Naila dari rumah.
Suci kasihan melihat keluarga kecil putranya seperti ini. Pikiran mereka harus segera dialihkan agar mereka tidak bersedih terus.
"Fan katanya mau ajak Mama lihat rumah baru kamu?" tanya Suci.
"Eh iya Ma aku lupa. Maaf, karena larut dengan sedihnya Naila pergi dari rumah" jawab Refan.
"Sedih boleh Fan tapi jangan berlarut - larut" balas Suci.
"Iya Ma. Yuk Nan bersiap - siap. Ajak semuanya, Bibik juga kita ajak biar semua bisa lihat rumah kita yang baru" ujar Refan.
"Baik Mas, aku akan bilang sama Bibik ya, setelah itu bersiap - siap" jawab Kinan.
Kinan segera menghampiri kedua asisten rumah tangganya.
"Bik siap - siap ya, kita mau pergi lihat rumah baru kita" perintah Kinan.
"Kita mau pindah Non?" tanya Bik Mar terkejut.
"Iya, Mas Refan mau jual rumah ini" jawab Kinan.
Bik Nah dan Bik Mar saling pandang.
"Udah jangan diam aja, cepetan bersiap" desak Kinan.
"Iya Non" jawab mereka kompak.
Bik Nah dan Bik Mar berjalan menuju kamar mereka.
"Sepertinya Den Refan benar - benar ingin menghapus kenangan bersama Almarhumah Non Renita Mar" ucap Bik Nah.
"Iya, Naila di asuh sama orang tuanya Almarhumah Non Renita, terus rumah ini mau di jual dan kita pindah ke rumah yang baru. Itu artinya Den Refan ingin memulai hidup baru dengan Non Kinan dan meninggalkan masa lalu" sambut Bik Mar.
"Bagus itu, kalau bahasa modernnya sekarang Den Refan udah bisa move on" ujar Bik Nah.
"Semoga mereka bahagia dengan kehidupan yang baru ya dan tidak ada lagi pengganggu dalam rumah tangga mereka" doa Bik Mar.
"Dan semoga mereka segera dapat momongan. Kalau tidak aku takut di pecat karena gak ada kerja" sambut Bik Nah.
"Hahaha benar juga kamu Nah" balas Bik Mar.
Sementara Kinan menyiapkan Salman. Mengganti pakaian Salman, setelah itu baru dia mengganti pakaiannya sendiri.
Setengah jam kemudian mereka sudah berada di mobil Refan.
"Hari ini kita semua jalan - jalan ya, gak ada yang masak dan jangan ada yang sedih - sedih lagi. Kita lihat rumah baru kita dan semoga kalian semua suka" ujar Refan.
"Aamiin... " sambut mereka semua.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim... " ujar Refan.
Refan segera menyalakan mobilnya dan mulai menjalankannya. Tak jauh dari rumah dan kantor Kinan mereka berhenti di sebuah komplek perumahan mewah dengan bentuk rumah yang besar dan halaman rumah yang luas.
Mereka turun dari mobil, semuanya terpana dengan rumah baru mereka.
"Ini rumahnya Mas?" tanya Kinan.
Refan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya Nan" jawab Refan senang.
"Benar Pa? Cantik sekali rumah kita" ujar Salman senang.
"Besar sekali Mas? Apa gak salah nih Mas milihnya?" tanya Kinan.
"Nggak, nanti kan kita akan punya anak jadi butuh kamar yang banyak. Kalau Mama dan Mama kamu datang gak perlu lagi sempit - sempitan dan numpang di kamarnya Salman. Bik Nah dan Bik Mar juga kamarnya lebih besar dari kamar kita di rumah lama" jawab Refan.
"Bagus Fan" puji Suci.
"Kalian suka semuanya?" tanya Refan.
"Sukaaa" jawab Kinan dan yang lainnya.
Refan meraih kunci rumah dan membuka pintu utama. Mereka langsung masuk ke ruang tamu yang sudah lengkap dengan sofa dan furnitur yang lainnya.
"Semua sudah tersedia, kita tinggal pindah ke sini cuma bawa baju dan beberapa barang - barang yang kita butuhkan" ujar Refan menjelaskan.
Setelah itu mereka masuk ke ruang keluarga merangkap ruang TV yang lebih besar dari ruang tamu. Terdapat sofa keluarga yang sangat besar dan juga TV yang besar juga. Disamping itu terdapat ruang makan yang sudah berisi dengan meja dengan sepuluh kursi untuk makan. Mereka masuk ke dapur yang sudah lengkap dengan perlengkapan dapur lainnya.
Refan membawa Bik Nah dan Bik Mar ke kamar mereka.
"Nih Bik kamar kalian" ujar Refan.
"Besar Mar" ucap Bik Nah pada Bik Mar.
"Iya Nah, tempat tidurnya baru" sambut Bik Mar.
"Yuk kita ke kamar Salman" ajak Refan.
Mereka beralih ke kamar Refan. Kamarnya bernuansa anak laki - laki lengkap dengan tempat tidur, meja belajar dan beberapa mainan untuk Salman.
"Kamu suka sayang?" tanya Refan sambil mengelus kepala Salman.
"Suka Pa" jawab Salman senang.
"Sementara kamar Salman di sebelah kamar kita tapi nanti kalau Salman udah punya adek, Salman berani kan tidur di atas?" tanya Refan.
"Berani Pa" jawab Salman.
__ADS_1
"Di atas ada berapa kamar Mas?" tanya Kinan.
"Ada tiga kamar. Aku buat khusus untuk kamar anak - anak kita. Aku pengen punya anak tiga. Sementara biar kamarnya jadi kamar tamu aja. Nanti kalau anak - anak kita sudah banyak kamar yang anak yang di bawah kita jadikan kamar tamu" ungkap Refan.
Suci tersenyum mendengar impian Refan tentang anak. Mudah - mudahan kalian segera mendapatkan anak. Doa Suci.
"Yuk ke kamar Mama" ajak Refan.
"Kamar Mama juga ada?" tanya Suci.
"Ada donk, jadi kalau Mama mau menginap di rumahku atau kalau mau tinggal di rumahku juga tidak masalah. Ya kan Nan" ucap Refan.
"Iya Ma, tidak masalah. Malah kami lebih senang, rumah jari rame" sambut Kinan.
Mereka masuk ke kamar untuk Mamanya kalau datang ke rumahnya di sampingnya juga ada kamar kosong.
"Ini kamar untuk siapa Mas?" tanya Kinan.
"Kamar orang tua kamu. Harus adil donk, aku tidak mau dibilang gak adil" jawab Refan.
"Bagus itu" puji Suci.
"Nah yang terakhir kita ke kamar utama, yuk" ajak Refan.
Mereka berjalan menuju kamar utama. Refan membuka kamar yang paling luas diantara kamar - kamar lainnya.
"Besar sekali kamarnya Mas?" ucap Kinan.
"Iya biar kamu bebas menata isi kamar kita. Khusus kamar kita masih kosong. Aku sengaja buat seperti ini agar kamu yang isi dalamnya" jawab Refan.
"Tinggal seminggu lagi. Apa sempat?" tanya Kinan.
"Sempat donk Nan, kan tinggal lihat brosur dan tinggal pilih" jawab Suci.
"Ah Mama" sambut Kinan malu.
Kali ini Refan tak tanggung - tanggung membeli rumah masa depannya. Sangat jauh berbeda dengan rumahnya dengan Renita dulu. Rumah ini hampir tiga kali lipat lebih luas dari rumah lamanya.
"Di belakang ada kolam renang, biar nanti anak - anak kita bisa bebas dan puas berenang di rumah" ujar Refan.
Wajah Kinan merah dan malu setiap Refan bicara tentang anak - anak. Apalagi ada mertuanya bersama mereka. Sebenarnya jauh di lubuk hati Kinan dia juga menginginkan secepatnya hamil karena dia tau Refan sudah sangat lama menginginkan anak. Tapi sampai sekarang belum juga terkabul.
"Santai saja Fan, nikmati saja dulu pernikahan kalian. Kan sudah ada Salman, jangan buru - buru. Bila perlu kalian honeymoon sana keluar negeri biar Salman Mama dan Mama Kinan yang jaga seperti saat kalian honeymoon dulu" Ujar Suci.
"Benar juga tuh usul Mama, bisa kita pikirkan setelah kita pindah" sambut Refan.
Kinan jadi semakin malu mengingat pengalamannya pertama tidur bersama Refan. Walau ada eksiden sedikit saat malam pertama mereka tidur bersama tapi perlahan - lahan semua berjalan seperti seharusnya bahkan saat ini rumah tangga mereka terasa semakin indah.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG