Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 166


__ADS_3

Kinan


Mas aku dan Salman ke rumah yang lama ya


Refan


Rumah lama siapa Nan?


Kinan


Rumah lama kami


Refan


Naik apa? jangan nyetir sendiri?


Kinan


Iya, kami diantar supir


Refan


Oke deh, hati - hati ya. Nanti pulangnya tunggu ya, biar aku jemput.


Kinan


Iya Mas. Mas juga hati - hati ya. Assalamu'alaikum


Refan


Wa'alaikumsalam


Hari ini Refan memang ada keperluan kantor, bertemu dengan relasi bisnis di luar. Walau hari ini adalah hari Sabtu tapi Refan sudah punya janji untuk bertemu rekan bisnisnya.


Sementara Kinan ingin ke rumah lamanya, selain untuk mengambil beberapa barangnya dan barang Salman dulu saat baru lahir. Kinan juga ingin membawa Salman lepas kangen dengan rumah lama mereka.


Refan memberikan mereka izin berkunjung ke rumah lama mereka karena setiap bulan Kinan memang selalu datang ke rumah lamanya untuk membayar gaji Bik Ijah yang ditugaskan Kinan untuk menjaga dan membersihkan rumah lama mereka.


Siang ini Kinan sengaja membawa Salman ikut serta bersamanya. Biasanya setiap dia kembali ke rumah lamanya dia selalu ditemani oleh Refan setelah pulang dari kantor.


Kinan sudah memesan taxi online melalui aplikasi. Tak lama kemudian mobil yang di pesan Kinan sudah menunggu di depan rumah mereka.


Kinan dan Salman masuk ke dalam mobil dan mereka langsung menuju rumah lama Kinan dulu bersama almarhum suaminya Bima.


Satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah tersebut dan sudah di tunggu oleh Bik Ijah.


"Salmaaaan... Bibik kangen banget. Udah lama gak ketemu Salman" ucap Bik Ijah sambil memeluk Salman penuh kasih sayang.


Tentu saja Bik Ijah kangen karena dia yang menjaga Salman sejak kecil saat Kinan pergi kerja. Setelah Kinan menikah lagi dan pindah rumah, Kinan tak pernah membawa Salman kembali ke rumah ini.


"Aku juga kangen Bibik. Bibik sehat?" tanya Salman dengan rasa haru. Salman sudah menyayangi Bik Ijah seperti keluarga sendiri.

__ADS_1


"Salman sudah sekolah belum?" tanya Bik Ijah.


"Udah donk, aku kan sudah masuk TK B Bik. Aku sudah besar, sebentar lagi aku akan mempunyai dua adik" curhat Salman.


"Benarkah? Beneran Non, Non lagi hamil anak kembar?" tanya Bik Ijah tak percaya.


Biasanya dia dan Kinan tidak pernah bisa bercerita panjang lagi karena Kinan selalu datang terburu-buru dan di tunggu oleh suaminya di mobil.


"Iya Bik, alhamdulillah" jawab Kinan sambil tersenyum.


"Oh ya Allah rezeki banget ya Non bisa hamil anak kembar" ungkap Bik Ijah.


"Iya Bik" balas Kinan.


Kinan masuk ke kamar Salman dulu dan menyusun beberapa barang - barang yang ingin dia ambil.


"Bik tolong bantuin aku untuk packing barang - barang ini" pinta Kinan.


"Non yakin mau bawa barang - barang ini? Non kan sudah menikah lagi dan suami Non sepertinya kaya. Masak masih mau pakai barang - barang ini?" tanya Bik Ijah.


"Iya Bik dia bisa kasih apa yang aku mau. Tapi barang - barang ini adalah barang - barang kesayangan aku milik Salman dulu yang masih mempunyai kenangan lama. Sayang kan kalau hanya di jadikan barang museum cuma untuk di pajang dan dikenang? Mubazir, berdosa. Mending dipakai lagi, bermanfaat dan berpahala" jawab Kinan.


"Iya juga sih, pantas saja masih disimpan dengan baik" ujar Bik Ijah.


Bik Ijah segera menyusun barang - barang yang ingin Kinan bawa.


Salman tampak sedang asik bermain dengan mainannya di kamar dia dulu. Mungkin Salman ingin bernostalgia dengan kenangannya bersama almarhum Papanya.


"Non Kinan bawain barang ini emang beneran mau di pakai atau nyicil barang untuk di habisin?" tangan Bik Ijah.


"Beneran mau di pakai Bik. Emang kenapa Bibik tanya gitu?" Kinan balik bertanya.


"Ya siapa tau rumahnya pelan - pelan mau dikosongin dan di jual?" tanya Bik Ijah lagi.


Kinan terdiam mendengar pertanyaan Bik Ijah.


"Jangan atuh Non di jual? Nanti Bibik gak kerja lagi. Kasihan sama Bibik Non" ucap Bik Ijah memelas.


Kinan menarik nafas panjang.


"Nggak Bik, rumah ini tidak akan saya jual. Ini adalah rumahnya Salman. Semua ini peninggalan Papanya Salman biarlah kelak dia yang akan memiliki tempat ini. Bagaimanapun rumah ini mempunyai kenangan saya bersama Mas Bima" jawab Kinan.


"Eh iya Non beberapa bulan belakangan ini saya sering melihat seseorang datang ke rumah ini" curhat Bik Ijah.


"Siapa Bik? Laki - laki atau perempuan?" tanya Kinan curiga


"Laki - laki Non. Saya pernah melihatnya sekali tapi pria itu memakai kaca mata hitam dan pakai topi" jawab Bik Ijah.


"Ciri - cirinya?" selidik Kinan.


"Tinggi seperti Den Bima. Walau saya belum pernah melihat jelas wajahnya tapi postur dan bentuk tubuh juga badannya mirip Den Bima" ungkap Bik Ijah.

__ADS_1


Seeeer... jantung Kinan berdesir. Dia sudah melihat pria seperti itu dua kali, Salman satu kali dan ternyata Bik Ijah juga pernah melihatnya.


"Tapi Bibik bilang tadi pria itu sering datang ke sini tapi mengapa Bik Ijah gak pernah melihat wajahnya secara jelas?" tanya Kinan penasaran.


"Saat itu saya datang dan melihat dia berdiri di depan pagar sambil melihat ke arah rumah Non. Begitu saya sampai dia buru - buru menutupi wajahnya dan segera naik ke dalam mobil. Setelah itu saya sering melihat mobilnya berhenti di depan rumah tapi setiap saya sampai di rumah dia langsung pergi" jawab Bik Ijah.


"Bibik kok baru cerita pada saya sekarang?" tanya Kinan.


"Maaf Non setiap kita ketemu selalu sebentar, tidak ada waktu untuk ngobrol panjang seperti ini. Lagian karena rumah selalu aman saya tidak merasa dia ingin mengambil sesuatu di rumah ini" ungkap Bik Ijah.


"Lain kali laporin pada saya Bik atau satpam komplek siapa tau dia memang berniat jahat" ujar Kinan.


"Iya Non saya akan sampein ke Non dan Satpam lain waktu" sambut Bik Ijah.


Tak lama kemudian ponsel Kinan berbunyi tanda panggilan masuk.


"Assalamu'alaikum Mas" ucap Kinan.


"Wa'alaikumsalam. Aku sudah dekat rumah, kamu keluar ya.. " jawab Refan.


"Eh iya Mas, aku dan Salman akan siap - siap" jawab Kinan.


Telepon terputus. Kinan berpamitan pada Bik Ijah dan mengajak Salman pulang.


"Mas Refan sebentar lagi sampai Bik. Tolong bawain barang - barangnya ke depan ya" pinta Kinan.


"Baik Non" sambut Bik Ijah.


"Sayang udahan mainnya ya, kita pulang yuk" ajak Kinan.


"Oke Mama" jawab Salman.


Salman dan Kinan berjalan menuju pintu keluar. Pas bertepatan dengan kedatangan mobil Refan di depan pagar rumah lamanya Kinan.


"Papa... Papa... " teriak Salman.


"Iya sayang sebentar Papa baru juga sampai" jawab Kinan.


Refan keluar dari mobil ingin menyambut Kinan dan Salman yang baru keluar dari rumah.


"Papa Ma.. Papa.. Papa Bimaaaaaa" teriak Salman kencang.


.


.


BERSAMBUNG


Hai readers setia... tak bosan - bosannya aku mengucapkan terimakasih kepada kalian karena masih setia membaca novel saya ini.


Jangan lupa dukungannya setiap kalian membacanya ya.. beri like, vote, komentar dan hadiah (Sebanyak - banyaknya 😀😁). Agar aku terus semangat untuk menulis.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2