Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 318


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian..


"Mas kamu masih lama pulangnya?" tanya Reni kepada Bimo lewat panggilan telepon.


"Nggak sebentar lagi kok sampai di rumah Refan" jawab Bimo.


Menjelang persalinan Reni, Bimo dan Reni memilih untuk tinggal di rumah Refan. Maklum ini adalah kehamilan anak pertama mereka. Reni yang belum punya pengalaman sama sekali memutuskan tinggal bersama keluarga dekatnya agar dia merasa lebih tenang dalam menunggu hari - hari kelahiran anak mereka.


"Cepetan ya Mas" rengek Reni.


"Iya sayang.. kamu gimana keadaannya?" tanya Bimo dengan penuh perhatian.


"Pinggangku udah pegel banget, kakiku juga berulang kali naik betis" lapor Reni.


"Ya sudah kamu istirahat aja di kamar ya, sebentar lagi Mas sampai. Nanti sampai di rumah Mas akan pijit kaki kamu ya" bujuk Bimo penuh kasih sayang.


"Iya Mas, hati - hati ya" balas Reni.


"Iya sayang.. Assalamu'alaikum.. " putus Bimo


"Wa'alaikumsalam" jawab Reni.


Reni segera berbaring diatas tempat tidur, pinggangnya terasa semakin pegal. Ingin tidur tapi rasanya semakin tidak nyaman dengan keadaan hamil besar seperti ini.


Tiba - tiba pintu kamar dibuka dan yang masuk adalah Salman dan Naila.


"Tanteee... " panggil Salman.


"Anteeee" sambut Naila.


Mereka lari dan langsung naik ke atas tempat tidur Reni.


"Ante mau cium dedek" pinta Naila yang semakin lancar berbicara.


Reni tersenyum melihat dia ponakannya itu memang sangat antusias setiap kali melihat perut besarnya. Mungkin mereka sangat takjub dan entah apa yang mereka bayangkan setiap kali mereka tau di dalam perut Reni ada anak bayi.


"Sini sayang" panggil Reni.


Salman dan Naila perlahan-lahan mencium perut Reni dengan lembut.


"Kapan adeknya keluar?" tanya Salman.


"Sebentar lagi, sabar ya.. nanti adik kalian akan bertambah" jawab Reni.


"Waaah pasti rame tante" ujar Salman yang lebih mengerti karena usianya yang sudah semakin besar.


"Kamu suka punya adek?" tanya Reni.


"Suka donk, sekarang aku punya tiga adek dan sebentar lagi akan tambah satu" balas Salman.


Reni mengacak lembut kepala Salman.


"Salman memang kakak yang baik dan soleh ya nak.. Sayang banget sama adek - adeknya" puji Reni.


Salman tersenyum mendengar pujian Reni. Tiba - tiba wajah Reni berubah pucat dan kesakitan.


"Aaaw... aaaw... ya Allah" Ucap Reni sambil memegang perutnya.


Salman dan Naila saling pandang.

__ADS_1


"Tante kenapa?" tanya Salman mulai panik.


"Duuuh perut Tante sakit banget Salmaaan. Oh ya Allah.. " jawab Reni meringis.


Salman langsung berlari keluar dari kamar Reni.


"Mama.... Oma.... Mamaaaaaa... Bibiiiiik... toloooooong" teriak Salman.


Sontak semua orang yang ada di rumah langsung berlari menghampiri Salman.


"Salmaaan.. ada apa sayang? Kenapa teriak - teriak minta tolong?" tanya Kinan khawatir.


"Mama Tante Reni... tolong" jawab Salman.


"Tante Reni kenapa Salman?" tanya Bu Suci mulai panik.


"Tante Reni Oma... Perut Tante Reni sakit katanya. Aku rasa adik bayinya mau lahir. Seperti Mama dulu waktu si kembar mau lahir" ungkap Salman.


"Oh ya.. Mari kita lihat" ajak Kinan.


Kinan dan Bu Suci langsung berlari menuju kamar Reni dan Bimo selama tinggal di rumah Refan.


"Reni.. sayaaaang... " panggil Bu Suci.


"Mama... perutku sakit sekali" jawab Reni mulai menangis.


Perutnya semakin terasa sakit.


"Apa kamu sudah mau lahiran?" tanya Bu Suci.


"Bisa jadi Ma" sambut Kinan.


"Ren mana ponsel kamu?" pinta Kinan.


"Ini Mbak" ucap Reni.


Kinan langsung menghubungi Bimo.


"Assalamu'alaikum Mas, ini Kinan" ucap Kinan langsung.


"Wa'alaikumsalam ya Nan, ada apa?" tanya Bimo khawatir.


Perasaannya langsung tidak enak karena Kinan menghubunginya dengan menggunakan ponsel Reni.


"Reni sepertinya mau lahiran Mas. Perutnya sudah sakit banget katanya. Mas masih jauh?" tanya Kinan.


"Sudah dekat Nan, mungkin lima menit lagi aku sampai rumah. Tunggu ya aku akan segera sampai" jawab Bimo.


"Ya sudah Mas kami siap - siapin barang - barang Reni dan bayinya" sambut Kinan.


"Makasih ya Nan" balas Bimo.


"Iya Mas, udah dulu ya Mas" tutup Kinan.


"Gimana Nan?" tanya Bu Suci menunggu.


"Mas Bimo sudah dekat Ma. Lebih baik kita siap - siapin barang - barang Reni. Begitu Mas Bimo sampai kita langsung bawa Reni ke Rumah Sakit" ucap Kinan.


"Ya sudah yuk kalau begitu" balas Bu Suci.

__ADS_1


"Salman bawa Naila ke luar ya sayang. Kalian bareng bibik di rumah ya. Mama sama Oma mau bawa Tante Reni ke Rumah Sakit" perintah Kinan.


"Iya Ma, yuk dek Naila kita keluar aja yuk" ajak Salman.


"Oke Kaaak" jawab Naila.


Salman menggenggam tangan Naila dan membawanya keluar. Sedangkan Bu Suci sedang membantu Reni turun dari tempat tidur.


Kinan meraih koper Reni yang berisi perlengkapan dia lahiran. Kemudian Kinan menghubungi suaminya.


"Assalamu'alaikum Mas" ucap Kinan.


"Wa'alaikumsalam.. sayang.. kamu kok pakai ponsel Reni?" tanya Refan langsung.


"Iya Mas, kami lagi bantuin Reni nih dan sebentar lagi akan bawa dia ke rumah sakit. Sepertinya dia sudah mau lahiran. Mas dimana?" Kinan balik bertanya.


"Mas baru keluar kantor menuju pulang" jawab Refan.


"Ya sudah kalau begitu kita ketemu di Rumah Sakit aja Mas. Mas Bimo sebentar lagi akan sampai. Aku, Mama dan Reni bareng Mas Bimo ke Rumah Sakitnya" ujar Kinan.


"Baik kalau begitu sayang. Kalian hati - hati ya" balas Refan.


"Iya Mas. Assalamu'alaikum" tutup Kinan.


"Wa'alaikumsalam" jawab Refan.


Mereka berjalan perlahan - lahan menuju pintu depan rumah Kinan. Kinan menyempatkan sebentar masuk ke kamar untuk mengambil tasnya dan menitipkan anak - anaknya kepada Bik Nah dan Bik Mar.


"Bik tolong jaga anak - anak ya... kami bawa Reni ke Rumah Sakit dulu" pamit Kinan.


"Baik Non Kinan" sahut Bik Nah.


Tak lama Bimo datang. Reni, Kinan dan Bu Suci langsung masuk ke mobil Bimo. Mereka segera bergerak menuju Rumah Sakit tempat Kinan melahirkan dulu. Ketepatan dokter kandungan mereka juga sama jadi sekalian aja tempat melahirkannya juga sama.


Tak memakan waktu lama, karena Bimo mengendarai mobilnya juga dengan kecepatan kencang. Mereka segera sampai ke tempat tujuan.


Reni langsung dibawa ke UGD untuk melakukan pemeriksaan awal. Setelah dipastikan pemeriksaan Reni hasilnya bagus, Reni sudah bukaan enam. Dokter dengan sabar memberikan semangat dan dukungan kepada Reni agar tetap kuat.


"Ya Allah Maaaaaas" teriak Reni ketika rasa sakitnya semakin bertambah.


"Sabar sayaang.. sabar ya.. sebentar lagi kita akan bisa melihat anak kita. Kamu yang kuat ya" ucap Bimo memberi semangat.


Reni sudah dipersiapkan untuk pindah ke ruangan bersalin. Hanya Bimo yang boleh dan diizinkan masuk.


Pembukaan Reni semakin sempurna. Para dokter memberikan semangat dan menuntun Reni agar lebih semangat.


"Ayo buk.. lanjut ngedennya" ucap dokter.


Reni menarik nafas panjang dan mulai mengikuti intruksi dokter.


"Bismillah.. ayo sayang" ujar Bimo.


"Ya Allah.... " ucap Reni.


"Oeeeek... oeeeeek.. "


"Alhamdulillah... "


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2