Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 24


__ADS_3

"Mama harus segera pulang ya, mau mengurus semua keperluan acara syukuran pernikahan kalian. Minggu depan saja kita laksanakan toh surat - surat pernikahan kalian juga sudah lengkah" ucap Suci.


"Ha... iya Maaa" jawab Kinan segera.


Sebenarnya dia masih merasa ragu, apakah pernikahan ini memang akan berlangsung lama. Karena melihat Refan yang sedikitpun tidak ada perubahan membuat hatinya lelah.


Bagaimana pun wanita pasti akan mengharapkan perhatian dan kasih sayang. Tapi berbeda dengan rumah tangga mereka. Jangan kan bermanja - manja untuk ngobrol saja di rumah jarang sekali.


Setiap pulang kerja Refan lebih banyak berada di kamarnya bersama Naila. Paling keluar kalau diajak makan oleh Kinan. Mereka juga ngobrol pada saat di meja makan atau pada saat mengurus Naila. Itu pun tidak pernah membicarakan tentang hubungan mereka.


Selalu bertanya tentang Naila. Walau memang hal itu wajah mengingat Naila adalah anak Refan pasti Refan ingin tau terhadap perkembangan Naila.


Suci memeluk menantunya itu sebelum dia beranjak pergi.


"Kamu yang sabar ya menghadapi Refan. Kalau belum terlalu dekat dia memang tipe pendiam dan dingin. Tapi setelah hati kalian bertemu yakinlah dia akan berubah menjadi pria yang hangat dan perhatian" ucap Suci.


Suci seperti tau apa yang saat ini sedang Kinan fikirkan. Suci yakin pasti anak lelakinya itu masih belum bisa menerima Kinan mengingat bahwa Refan sangat mencintai almh. istrinya, Renita.


Tadi dia hanya ingin menggoda Kinan sedikit dengan bertanya dan menyinggung soal kehamilan.


Tapi seandainya memang itu yang terjadi Suci sangat bahagia sekali. Itu artinya Kinan dan Refan sudah bersatu dalam rumah tangga yang utuh dan tidak ada lagi yang perlu di khawatir kan. Karena anak adalah jalan pengikat kedua orang tuanya.


Banyak rumah tangga yang bertahan karena mereka memikirkan nasib anak - anaknya sehingga mereka tidak begitu mengutamakan kebahagiaan mereka.


Tapi di zaman sekarang ini juga sudah semakin banyak manusia yang hanya memikirkan kebahagiaan mereka sendiri. Dengan alasan mereka tidak mau menyiksa diri sendiri dan munafik kemudian memilih bercerai. Korbannya adalah anak - anak.


Di pengadilan kasus perceraian menduduki urutan tertaras saat ini. Sepertinya kesabaran manusia sangat pendek, sebentar saja mereka akan kalah dengan bisikan setan.


Mereka tidak tau dalam hubungan berumah tangga bujuk rayu setanlah yang paling besar. Setan akan terus menggoda sepasang pasutri untuk bertengkar, saling tuduh, membuat tidak percaya dan akhirnya bercerai.


Bukan tidak banyak perceraian terjadi dengan alasan sudah tidak ada lagi kecocokan diantara mereka. Bukannya pernikahan itu memang menyatukan dua hati yang berbeda. Menyatukan dua keluarga yang berbeda dan menyatukan dua fikiran yang berbeda.


Semua berbeda, tidak ada di dunia ini yang sama bahkan anak kembar sekali pun mempunyai sifat yang berbeda. Apalagi sepasang suami istri.


"Iya Ma" jawab Kinan.


Kinan mengantar Mama mertuanya sampai pintu depan dan kembali bermain bersama Salman dan Naila.


"Non hari ini mau masak apa?" tanya Bik Mar.

__ADS_1


"Biar aku saja yang masak Bik" jawab Kinan.


"Tapi non Kinan kan masih sakit" tolak Bik Mar.


"Gak apa - apa Bik, udah baikan kok. Bik Nah tolong jagain anak - anak ya. Aku mau siapin makan siang kita" ucap Kinan pada Bik Nah.


Kinan memeriksa isi kulkas dan memasak makanan dari stok ikan dan sayur yang ada. Ketepatan ada ikan gurami, Kinan ingin memasai ikan gurami goreng tepung dan di siram pakai saus asam manis. Di tambah sayur cah kangkung.


"Heemmmmm... pasti enak banget nih" jawab Kinan setelah selesai memasak.


Kinan sedang asik di dapur sehingga tidak menyadari kalau Refan sudah pulang. Hari ini dia ingin cepat pulang ke rumahnya.


"Kinan mana Bik?" tanya Refan di ruang TV. Dia melihat anak - anak bermain bersama Bik Nah.


"Non Kinan lagi di dapur Den sama Bik Mar" jawab Bik Nah.


'"Ngapain dia di dapur?" selidik Refan.


"Mm.. anu, memasak kali Den" jawab Bik Nah ragu.


Refan berjalan menuju dapur dan dia langsung duduk di meja makan.


"Bik Mar, tolong siapkan makan siang. Aku mau makan" panggil Refan.


"Den Refan Non" ucap Bik Mar


"Untung sudah siap Bik, sudah Bik hidangkan semua masakan ini di meja" perintah Kinan.


"Baik Non" jawab Bik Mar.


Kinan segera menyambut suaminya di meja makan.


"Lho Mas udah pulang tumben cepat" ucap Kinan.


"Kenapa? Emangnya aku gak boleh pulang jam segini?" tanya Refan.


"Boleh.. siapa yang larang. Aku cuma terkejut saja, biasanya kan Mas Refan pulangnya malam" jawab Kinan.


Duh nih cowok apa lagi PMS ya, di tanya bagus - bagus jawabnya langsung ngegas. Batin Kinan.

__ADS_1


"Tadi aku ketemu client di luar ketepatan sudah dekat ke rumah jadi aku pulang saja, malas balik ke kantor lagi" ungkap Refan.


"Oooh gitu, kok gak sekalian makan siang di luar sama clientnya?" selidik Kinan.


"Kamu keberatan kalau aku makan di rumah?" tanya Refan dengan suara yang sedikit meninggi.


Aku pulang untuk melihat keadaan kamu kok malah dapat pertanyaan seperti ini? Ini kan rumahku, suka - suka aku donk mau pulang kapan saja dan kalau aku mau makan di rumah kok kamu seperti keberatan? Aku yang kasih uang untuk belanja, kamu kok keberatan juga? Batin Refan.


"Nggak Mas.. gitu aja marah. Aku kan cuma bertanya. Ya sudah Bik Mar udah siap kok masaknya. Barusan aja, enak banget Mas pasti suka" ucap Kinan sambil tersenyum.


Bik Mar selesai menyajikan semua hidangan makan siang. Kinan mulai menyiapkan makanan Refan.


"Bik tolong panggilkan Salman ke sini ya, biar aku suapin makan" perintah Kinan.


"Baik Non" jawab Bik Mar.


"Ayo Mas di mulai makannya, mumpung semuanya baru di masak masih panas" ajak Kinan.


Refan mulai menyantap makan siangnya.


Enak sekali makanan ini, seingatku Bik Mar gak pernah masak makanan begini.


Gak biasanya Bik Mar masak seperti ini. Apa ini permintaan Kinan untuk masak seperti ini? Atau Kian yang masak semua masakan ini?


Bik Mar datang bersama Salman dan mendudukkan Salman di depan meja makan tepat di sebelah Kinan.


Salman yang melihat makanan di meja makan langsung bersorak senang.


"Waaah Mama masak ikan gurami, aku sukaaaa" teriak Salman senang.


Refan terdiam memperhatikan semua sikap Salman. Terlihat dia semakin curiga dengan masakan yang ada di hadapannya.


Setelah dia ingat - ingat sejak Kinan tinggal di rumah ini dia jadi rajin makan di rumah. Makanan di rumah juga semakin enak, biasanya masakan Bik Mar tidak seperti itu.


Refan melirik ke arah Bik Mar kemudian melirik ke tangan Kinan, dia melihat di jari Kinan ada luka dan tangannya terlihat tidak mulus. Sepertinya Kinan sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah.


"Semua makanan ini kamu yang masak?"


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2