Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 341


__ADS_3

Naila sedang duduk di gazebo sendirian sambil merenung. Apa yang harus dia ucapkan kalau seandainya di lain waktu dia bertemu kembali dengan Febri. Mantan istri Papa kandungnya.


Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri Naila sampai tidak sadar bahwa saat ini dia sedang tidak sendirian. Sudah lima menit Jeta duduk disampingnya tanpa menyapa. Jeta hanya memandangi wajah cantik Naila yang sedang melamun.


"Naai..... " panggil Jeta akhirnya.


Tapi sepertinya Naila tidak mendengar. Akhirnya Jeta menyenggol lengan Naila.


"Hei... di panggil dari tadi tapi tak dengar" sapa Jeta.


"Eeeh Bang Jeta. Ada apa bang?" tanya Naila terkejut, mengapa tiba - tiba Jeta sudah duduk disampingnya. Kapan dia datang? tanya Naila dalam hati.


"Kamu kok melamun aja. Cerita donk.. mungkin aku bisa bantu kamu" ujar Jeta penuh perhatian.


Naila menarik nafas panjang. Yaaa... dia butuh tempat untuk bertukar pikiran saat ini. Terlalu banyak pertanyaan dikepalanya yang membutuhkan jawaban untuk saat ini.


"Bang Jeta ingat wanita yang tak sengaja aku tabrak di Restoran tadi siang?" tanya Naila.


"Ingat.. aku ingat" jawab Jeta sambil menganggukkan kepalanya.


Dengan tatapan teduh Jeta bertujuan membuat Naila merasa nyaman untuk mengeluarkan semua isi hatinya. Agar tidak ada yang dia pendam yang bisa berdampak buruk pada keadaan fisik dan hati Naila.


Naila menarik nafas panjang, mencoba untuk mencari kekuatan.


"Ternyata dia adalah istri dari Papa kandungku Bang" ungkap Naila dengan wajah sedih.


"Terus... ?" tanya Jeta.


Naila menatap Jeta dengan tatapan bingung.


"Kok terus sih?" tanya Naila kesal.


"Iya.. teruuuus? Terus kenapa kalau dia itu istrinya Papa kandung kamu? Dia mau marah sama kamu? Mau nyumpahin kamu? Mau maki - maki atau nyakitin kamu? Ingat Naila.. kamu tidak minta dilahirkan oleh mereka dengan cara yang salah dan dalam hubungan yang salah. Bukan hanya dia korban di sini. Benar dia pasti sakit hati karena telah dikhianati suaminya yang ketepatan adalah Papa kandung kamu. Terus apa itu salah kamu? Tidak Nai.. kamu tidak salah.. Kamu juga korban di sini. Dia dan Om Refan kini sudah sama - sama menikah dan punya keluarga baru. Luka dia sudah sembuh, dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Lantas apakah dia tidak memikirkan luka kamu yang tidak tau kapan sembuhnya. Kalau dia marah sama kamu, bawa aku bersama kamu. Aku akan hadapi dia, aku akan bela kamu" ucap Jeta.


Naila terharu mendengar kata - kata Jeta.


"Di sini kamu yang akan terus terluka Nai. Setiap kamu bertemu dengan orang - orang yang mengenal Papa dan Mama kandung kamu, kamu akan merasakan hal yang sama. Kamu akan bersedih, merasa bersalah, malu dan tidak percaya diri. Ikut aku Nai.. aku akan bawa kamu pergi dari sini. Kita keluar negeri, disana tidak akan ada orang yang mengenal kamu dan mereka tidak akan peduli dengan kehidupan orang lain. Aku janji akan menyembuhkan luka kamu, aku akan menjaga kamu dan menyayangi kamu. Aku akan membahagiakan kamu" ungkap Jeta.


Naila menatap kedalam mata Jeta. Saat ini Jeta tidak sedang bercanda. Dia benar - benar serius dengan ucapannya.

__ADS_1


"A.. aku tau Bang Jeta bisa menerima aku tapi apakah Tante dan Om juga bisa menerima keadaanku yang seperti ini?" tanya Naila.


Air mata Naila menetes di pipinya.


"Kalau mereka tidak bisa menerima kamu mana mungkin aku datang ke sini Nai. Papa dan Mama tau tujuan aku datang ke Indonesia dan mereka memberi restu. Mereka kan tau siapa kamu. Siapa yang membesarkan dan mendidik kamu dan bagaimana kamu hidup selama ini. Lagian Mama dan Papa orang yang terbuka.. Yaaah mungkin karena kami sudah sangat lama tinggal di luar negeri jadi tidak mempermasalahkan hal - hal yang seperti itu. Yang penting aku suka dan aku bahagia selama tidak keluar dari norma - norma agama, aku bebas memilih siapa saja yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku" jawab Jeta.


Ada kelegaan dihati Naila. Naila teringat pesan Bik Mar yang juga mengatakan kalau dia lebih jika bersama Jeta. Mungkin kalau Naila bersama pria lain pasti semua akan jadi lebih sulit.


"Tolong kamu pikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku tau dan sangat mengerti. Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk kamu menjawabnya. Aku akan beri kamu waktu, sampai kamu benar - benar siap untuk menjawab. Aku akan bersabar demi untuk kamu" ujar Jeta.


Lagi - lagi Naila kembali menarik nafas panjang.


"Baaang... " ucap Naila.


"Ya" jawab Jeta.


"Abang mau gak temani aku menemui Tante itu?" pinta Naila.


"Untuk apa?" tanya Jeta.


"Ada yang harus aku bicarakan dengannya. Tapi a.. aku tidak punya kekuatan datang sendiri. Tolong bantu aku, temani aku untuk menemuinya" jawab Naila dengan wajah memohon.


Naila menganggukkan kepalanya dengan sungguh - sungguh.


"Ada yang harus diselesaikan Bang. Aku tidak mau lari dari masalah" jawab Naila.


"Masalah? Kamu tidak punya masalah dengan dia atau dengan siapapun yang pernah terlibat dengan Mama dan Papa kandung kamu di masa lalu Naila" ujar Jeta.


"Baaang... saat aku menatap mata wanita itu a.. aku.. aku merasa ada hal yang harus aku bicarakan dengan dia. Aku hanya ingin hidup dengan tenang Bang" ungkap Naila.


Jeta tampak sedang berpikir sejenak.


"Baiklah kalau begitu aku akan cari tau dimana kantornya. Aku akan atur jadwal pertemuan kalian. Aku akan temani kamu bertemu dengannya" jawab Jeta.


"Tapi biarkan aku dan dia bicara berdua ya bang.. Aku ingin bicara empat mata saja dengannya. Maaf bukan aku bermaksud ada yang rahasia. Hanya saja aku akan merasa lebih lega dan tenang jika kami hanya bicara berdua saja" pinta Naila.


Lagi - lagi Jeta berpikir kembali.


"Oke apapun yang kamu mau Nai. Besok kita akan bertemu dengannya. Siapkan diri kamu, ingat aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan kamu dan wanita itu. Kita membawa nama baik Om Refan Nai" ucap Jeta mengingatkan.

__ADS_1


"Iya Bang, aku mengerti. Terimakasih ya Bang" balas Naila.


******


Keesokan harinya di ruang kerja Febri


Tok... tok.. tok..


"Maaf Bu, ada tamu yang ingin bertemu" ucap seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris Febri.


"Siapa?" tanya Febri.


"Bapak Jeta dari Perusahaan Adinata" jawab sekretarisnya.


"Adinata?" tiba - tiba Febri ingat kalau itu adalah perusahaan Refan. Apakah Refan yang datang menemuinya? Tanya Febri dalam hati.


"Silahkan masuk" perintah Febri.


"Baik Bu" jawab wanita yang ada di hadapannya.


Tak lama setelah sang sekretaris pergi meninggalkan ruang kantornya pintu ruang kerja Febri kembali terbuka.


Alangkah terkejutnya Febri melihat siapa yang dia lihat.


"Maaf Tante kalau saya lancang datang menemui Tante" ucap Naila.


"Ka.. kamu?" ucap Febri terkejut.


.


.


BERSAMBUNG


Hai para readers tercinta.. Terimakasih atas dukungan kalian dan kesetiaan kalian yang masih terus membaca dan mengikuti novel saya ini.


Jangan lupa tinggalkan komentar kalian agar aku lebih semangat lagi untuk menulis. Boleh kasih jempol, kembang dan kopi juga.


So pasti aku akan lebih semangat lagi berkarya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2