
Saat sedang dalam perjalanan menuju Bandara, mobil yang dinaiki Refan dan teman - temannya sepet diikuti dari belakang.
"Bim coba kamu perhatikan mobil di belakang. Sepertinya mereka mengikuti kita" ujar Refan yang masih memeluk Naila dalam pelukannya.
Riko melirik ke arah belakang juga.
"Iya Bim, perasaan aku juga mengatakan seperti itu. Aku sudah merasakannya sejak kita berangkat dari rumah Om Reno" sambut Riko.
Bimo melirik ke arah kaca spion.
"Hati - hati Pak dan percepat lajunya" perintah Bimo kepada supir.
"Baik Pak" jawab sang supir.
Bimo segera menghubungi anak buahnya.
"Tolong kalian keluarkan tiga mobil yang sama seperti yang saya pakai sekarang. Satu mobil menunggu di perempatan jalan xxx, satu lagi di pintu tol menuju Bandara dan satunya lagi menunggu di parkiran keberangkatan dalam negeri" perintah Bimo kepada anak buahnya.
Setelah itu Bimo menutup teleponnya.
"Apa rencana kamu Bim?" tanya Refan.
"Kita coba mengecoh kan mereka di perempatan jalan XXX kalau mereka tetap mengejar kita terpaksa kita pindah mobil di pintu tol Bandara. Nanti sesampainya di Bandara kita kecohkan lagi mereka dengan mobil yang sudah menunggu di sana. Agar mereka tidak tahu kita datang dari arah mana" jawab Bimo.
"Mudah - mudahan rencana kamu berhasil" sambut Riko.
"Pegangan yang kuat aku tidak mau kejadian Pak Reno akan kita alami juga" perintah Bimo.
"Kita lupa tadi membawa car seat untuk Naila" ujar Riko.
"Aku akan memeluk Naila dengan erat" balas Refan.
Untung saja Naila baik budi, saat ini dia sedang tidur dengan nyenyaknya dalam pangkuan Refan.
"Sudah dekat di perempatan Pak" ucap sang supir.
Bimo meraih ponselnya lagi dan menghubungi seseorang.
"Kalian datang dari arah timur kita berputar di bundaran dan kalian kembali ke arah selatan menuju rumak Pak Reno Subrata. Mobil kami akan melaju menuju Bandara" perintah Bimo.
Sang Supir mulai bersiap untuk mengikuti rencana Bimo. Mobil mereka dan mobil yang satu lagi beriring melewati bundaran. Bimo mengambil ponselnya.
"Rencana berubah, kalian yang bergerak menuju Bandara kami akan balik arah" perintah Bimo.
Sang Supir yang mendengar perintah Bimo saat menelepon tadi langsung mengerti langsung mengambil arah kembali menuju arah rumah Pak Reno.
Mobil yang mengikuti mereka kini berada di belakang mobil yang menuju ke Bandara. Dan mobil mereka terlepas dari kejaran.
"Gila rencana kamu Bim" puji Riko.
"Dua tahun kerjaku lari dari pengejaran, aku jadi jago siasat" jawab Bimo
Lima belas menit kemudian.
"Pak putar balik, kita kembali menuju tol" perintah Bimo.
"Baik Pak" jawab Supir.
__ADS_1
Mobil balik arah dan melaju menuju kearah tol menuju Bandara. Sesampainya di dekat pintu tol sudah menunggu mobil yang sama dengan mobil mereka.
"Ayo kita pindah mobil. Aku takut mereka sudah mencatat plat mobil kita" ujar Bimo.
Kini mereka berpindah mobil.
"Bapak kembali saja ke Hotel" perintah Bimo kepada supir sebelumnya.
"Baik Pak" jawab pria itu.
Refan bersama Riko, Bimo dan Naila kini sudah berada di mobil yang berbeda dan sedang dalam perjalanan menuju Bandara.
Bimo kembali menghubungi seseorang.
"Kamu sudah Bandara? apa masih tetap di buntuti?" tanya Bimo.
"Baik, kalian tunggu di pintu masuk ke dalam Bandara" sambung Bimo.
Setelah itu Bimo menghubungi yang lainnya.
"Kalian berada di parkiran mana? Bersiap - siap untuk dampingin Refan masuk ke Bandara" perintah Bimo.
Telepon terputus.
"Fan, nanti kamu masuk ke mobil yang satu lagi, para pengawalku akan melindungi kamu. Kita harus berpencar untuk mengecohkan mereka. Nanti kalian akan masuk duluan, kami pantai dari belakang. Setelah kalian lolos baru kami masuk. Kalau sudah di dalam ruang tunggu InsyaAllah aman, mereka tidak akan bisa masuk" perintah Bimo.
"Baik Bim" jawab Refan.
Refan mulai bersiap mengencangkan gendongan Naila dan memeluk Naila erat.
"Biar aku yang bawa semua barang - barang kamu" potong Riko.
"Makasih Ko" balas Refan.
Mereka bertemu di parkiran mobil, Refan pindah ke mobil yang satu lagi dan berjalan menuju pintu masuk Bandara. Tak jauh dari mereka mobil Bimo menyusul.
Refan hanya fokus menggendong Naila, semua barang - barang bawaannya sudah dipegang Riko. Refan keluar dari mobil dan berusaha menutupi tubuh Naila dengan jaketnya agar tidak terlihat mencolok.
Dengan jalan tergesa-gesa Refan dikawal beberapa pengawal suruhan Bimo berjalan menuju pintu masuk Bandara. Refan melakukan check-in dan berhasil masuk.
"Ayo Ko, Refan sudah bisa masuk. Giliran kita" perintah Bimo.
Bimo dan Riko berjalan menuju pintu masuk Bandara. Saat melihat Bimo dan Riko, orang yang mengejar mereka tadi tampak ingin mencegah mereka tetapi pengawal Bimo lebih banyak berkumpul menghalangi.
Sang penyerang mundur karena jumlah mereka kalah banyak dari pengawal Bimo. Ditambah lagi mereka tak ingin ketahuan siapa dalang dari pengejaran ini.
Bimo dan Riko sudah berhasil masuk ke dalam Bandara dan masuk ke ruang tunggu bergabung dengan Refan dan Naila.
"Bagaimana di luar?" tanya Refan.
"Mereka tadi sempat melihat kami dan berusaha ingin menghalangi tapi mereka mundur karena pengawalku lebih banyak" jawab Bimo.
"Ini sudah jelas sebuah rencana besar Fan untuk mengincar Naila. Aku yakin mereka mengincar Naila dan aku semakin curiga dengan Arga" sambut Riko.
Refan segera menghubungi Romi.
"Halo Rom, bagaimana kabar Arga?" tanya Refan.
__ADS_1
"Arga masih di Jakarta. Kami sudah memantaunya sejak kalian pergi, tidak ada yang mencurigakan" jawab Romi.
"Begitu ya... aneh.. jadi siapa yang mengejar kami di sini?" ujar Refan.
"Kalian dimana sekarang?" tanya Romi.
"Aku, Bimo dan Riko sedang di bandara kami akan berangkat ke Jakarta membawa Naila. Tolong kalian jemput kami ya" perintah Refan.
"Baik.. baik.. tapi bagaimana keadaan Om Reno dan Tante Thalita?" tanya Romi penasaran.
"Mereka berdua sudah meninggal dunia kemarin malam dan tadi pagi sudah dimakamkan di Labuhan Bajo" jawab Refan.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un..." sambut Romi.
Refan terdiam.
"Fan ini pembunuh berencana Fan, bahkan kalian saja sedang dalam pengejaran. Pasti targetnya Naila, Om Reno dan Tante Thalita juga dikejar juga pasti karena itu" sambung Romi.
"Kami juga berpikiran seperti Rom. Makanya karena itu juga kami minta tolong dijemput kalian di Bandara" sahut Refan.
"Iya Fan, aku akan kabari Bagus dan Aril. Kami bertiga akan jemput kalian. Oh iya Naila gimana keadaannya?" tanya Romi.
"Naila hanya luka ringan makanya bisa langsung kami bawa ke Jakarta" jawab Refan.
"Hati - hati Fan. Kalau ada apa - apa kabari kami segera" balas Romi.
"Oke Rom, terimakasih. Udah dulu ya, sebentar lagi kami akan berangkat. Assalamu'alaikum" ujar Refan.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Romi.
Refan menutup teleponnya. Naila terlihat resah di dalam gendongan Riko.
"Ko, tolong buatin susu Naila" pinta Refan.
"Gimana caranya Fan?" tanya Riko bingung.
"Kamu baca takarannya di kotak susu" perintah Refan.
Riko mengikuti intruksi dari Refan, dia membaca cara membuat susu dan takarannya kemudian memasukkan susu ke dalam botol dot dan mencampurkannya dengan air. Setelah selesai Riko memberikannya kepada Refan.
Kalau orang lain melihat tiga pria gagah sibuk mengurus seorang gadis kecil pasti terlihat sangat lucu tapi dibalik itu semua sebenarnya mereka sedang dalam misi penyelamatan hidup gadis kecil itu.
Ting.. Tong...
"Perhatian.. perhatian... "
"Yuk Fan kita masuk ke pesawat" ajak Bimo.
Refan dan Riko bisa menarik nafas lega karena mereka bisa meninggalkan kota ini dengan selamat walau dengan perjuangan yang cukup menegangkan tadi ketika menuju Bandara.
Mereka berjalan masuk ke dalam pesawat dan siap untuk terbang ke Jakarta.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1