
Malam harinya di rumah Refan.
"Sal, Aisyah cantik lho. Kamu gak mau deketin dia? Tante lihat dia gadis yang baik?" tanya Jeta saat mereka sedang duduk santai di ruang keluarga sehabis makan malam.
"Siapa Aisyah sayang?" tanya Tagor.
"Teman Salman Pa, dia perancang busana. Dia yang bantuin untuk buatin baju seragaman kita untuk pesta Jeta dan Naila nanti" jawab Jelita.
"Besok Papa juga akan lihat orangnya. Kan besok giliran Papa, Om Refan, Khalid dan Khansa ukur badan" sambut Jeta.
"Bah suka kali lah aku ketemu cewek cantik" ujar Tagor.
"Ingat umur Pa.. ingat penyakit.. " potong Jelita.
"Ya maksudku untuk Salman sayang.. kalau aku lihat cewek itu cantik udah pasti cantik lah itu. Soalnya aku sulit bisa lihat cewek yang cantik kecuali kau" jawab Tagor.
"Duh Om Tagor bisa romantis juga" goda Salman.
"Udah belajar aku dari si Aril" sambut Tagor.
"Om Aril mah emang juaranya Pa" sahut Jeta.
"Nah kalau begitu kau perlu belajar sama Aril, Salman.. biar bisa kau gaet cewek. Masak kau kalau sama Jeta dan Naila" pesan Tagor.
"Bahaya Om, Om Aril suka ngajarin yang nggak - nggak. Bahkan terkesan lebay.. heran kok bisa Tante Bela betah" elak Salman.
"Itulah namanya cinta.. berjuta rasanya.." ujar Tagor.
"Dengar Sal, tiap laki - laki akan punya trik masing - masing dalam menggaet wanita yang mereka inginkan. Terkadang ada yang kesampaian tapi kadang ada juga yang kalah karena trik bahkan malah gagal gara - gara triknya sendiri. Tapi begitupun semuanya berpulang kepada jodoh. Papa dulu sama Mama kamu gak punya trik apa - apa. Kami di jodohkan dan menikah. Tapi Papa tetap harus belajar trik - trik itu agar Papa bisa merayu Mama kamu kalau lagi ngambek" ungkap Refan.
"Cieeeeh Papa uuuu so sweeet" sambut Khansa dan Khalid.
"Husss.. kalian masih kecil" protes Naila.
"Ih umur kita juga cuma beda beberapa tahun Kak. Siapa tau jodoh aku lebih cepat dari pada kak Salman" ujar Kahsa.
"Tuh kamu mau dilangkahin adik kamu?" tanya Refan.
"Janganlah Salmaaan... Papa kau udah pengen punya cucu katanya. Ayo kalian berlomba siapa duluan yang bisa menyumbang cucu lebih dulu. Kau apa Naila dan Jeta" sambut Tagor.
"Weish tentu kami donk Pa" jawab Jeta.
"Eh belum Tentu.. Kau harus isi dulu pelurumu banyak - banyak biar nanti sesudah nikah Naila langsung isi. Baru aku akui kau lah pemenangnya" ujar Tagor pada Jeta.
__ADS_1
Naila hanya tersenyum malu mendengar ucapan Papa mertuanya. Yah sejak hari ini Naila resmi memanggil Tagor dan Jelita dengan panggilan Papa dan Mama.
*****
Keesokan harinya Salman kembali ke Ai - Ai Butik untuk menjemput Aisyah dan mereka berangkat menuju Butik Rahma. Disana ternyata sudah menunggu Tagor, Jelita, Refan, Kinan, Khalid dan Khansa.
"Senang bertemu Om lagi" sapa Aisyah ketika bertemu Refan.
"Om juga senang melihat kamu lagi Aisyah" balas Refan.
"Kenalkan ini suami Tante Aisyah" ujar Jelita memperkenalkan suaminya.
"Tagor. Orang batak aku jadi maaf kalau cara bicaraku sepet preman" ucap Tagor.
Aisyah tersenyum mendengar perkataan Tagor.
"Iya Om, saya Aisyah" sambut Aisyah.
"Cantik Salmaaaan... udah gas teroooos" ujar Tagor pada Salman.
Sontak wajah Salman jadi memerah karena malu.
"Maaf Aisyah suami Tante memang suka bercanda" potong Jelita.
Mereka bertemu Rahma lagi untuk mengukur badan. Rahma menunjukkan konsep pola pakaian yang akan dia rancang. Semua setuju dan sangat puas atas gambaran Rahma.
"Terimakasih Rahma udah bersedia membantu kami. Maaf ya kalau permintaan kami sedikit merepotkan" ucap Kinan.
"Tidak apa - apa Tante saya sudah perhitungkan semuanya. Kalau memang saya gak bisa pasti saya tolak" sambut Rahma.
"Nanti datang ya ke pesta Naila dan Jeta, jangan lupa bawa pasangan kamu" undang Kinan.
"Saya belum punya pasangan Tante" jawab Jelita.
"Nah kau pun masih single? Mau aku kenalkan sama ponkanku? Namanya Putra, wajahnya gak jauh beda sama Salman" sahut Tagor langsung.
Rahma tersenyum ramah, walau baru mengenal keluarga ini tapi dia menyukai mereka semua. Mereka sangat kompak dan lucu. Terlebih mereka keluarga yang terpandang tapi tetap sederhana.
"Boleh Om kapan - kapan kenalin saya ya sama ponakannya" jawab Rahma.
"Nah gitu laaah, kan suka aku. Kalau kau Aisyah sudah punya calon?" tanya Tagor.
"Belum Om, saya juga masih single" jawab Aisyah malu - malu.
__ADS_1
"Mau kau sama Salman? Salman juga single lho... Apalagi kalian sudah saling kenal, teman sekolah. Sudah lebih gampang mencocokkan hati. Aku rasa Salman juga tidak keberatan, ya kan Sal?" samber Tagor langsung.
Salman sangat terkejut dan tidak menyangka Tagor akan berkata seperti itu di depan Aisyah dan seluruh keluarganya.
"Tidak Om" jawab Salman akhirnya.
Salman dan Aisyah saling lirik malu - malu.
"Nah malu - malu kalian. Sudah aku buka jalan selanjutnya kalian lah yang berjalan sendiri. Kalau niatnya baik pasti akan berakhir dengan kebaikan itu. Itu dulu kata opungku" ucap Tagor.
"Hahahaha.... " Refan dan yang lainnya tertawa mendengar ucapan Tagor. Mereka menganggap itu semua cuma candaan agar suasana tidak tegang karena sikap Aisyah dan Salman yang canggung.
"Sudah selesai kan sayang, sudah bisalah kita pulang. Sudah lapar aku" ajak Tagor.
"Sudah Baaang.. abang kalau laper rewel banget. Tuh lihat Aisyah dan Salman jadi salah tingkah karena Abang" potong Jelita.
"Kami pamit ya Rahma. Maaf kalau kedatangan kami kali ini membuat keributan di Butik kamu" pamit Kinan.
"Tidak apa - apa Tante, saya senang kok. Om Tagor ini lucu dan suka bercanda" jawab Rahma.
Mereka semua berpamitan untuk pulang.
"Sampai ketemu lagi ya Rahma, nanti aku kenalkan kau sama si Putra. Ingatkan aku jika aku lupa" ucap Tagor sebelum mereka pulang.
Salman kembali mengantar Aisyah pulang ke Butiknya. Suasana canggung terus terjadi dengan Aisyah dan Salman. Sehingga mereka lebih banyak diam di perjalanan kali ini.
"Ai... maaf ya kalau tadi omongan Om Tagor kelewatan" ucap Salman membuka pembicaraan.
"Eh gak apa - apa Kok Sal, aku mengerti. Seperti kata Rahma tadi, Om Tagor lucu dengan logat Bataknya yang masih kental. Padahal dia sudah lama tinggal di luar negeri" sambut Aisyah.
"Kalau dia berbahas Inggris tidak terlihat tapi kalau sudah berbahasa Indonesia baru terlihat logat Bataknya" jawab Salman
"Ooo... " balas Aisyah.
"Tapi Ai sebenarnya memang ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kamu. Tapi aku tidak tau kapan waktu yang pas. Setelah pembicaraan Om Tagor tadi aku jadi kepikiran terus. Aku rasa saran Om Tagor tidak salah. Kalau kamu berkenan boleh tidak aku mengajak kamu ta'aruf. Aku ingin bertemu dan berkenalan dengan orang tua kamu. Kalau kamu dan keluarga kamu setuju aku serius ingin melamar kamu" ungkap Salman.
Deg... rasanya jantung Aisyah seketika berhenti.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1